LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
181. Perguruan panca Braja.


__ADS_3

Shun land memegang Pedang Naga bergola lalu dia pun turun dari batu tersebut berjalan menuju keluar.


Saat sudah berada di luar gua Shun land melihat dua sahabatnya sedang seperti tertidur, mereka berdua segera berdiri mendengar langkah kaki sang tuan mudanya.


Mereka berdua loncat kegirangan melihat tuannya menjinjing sebuah pedang yang mereka sangat kenal, karena mereka berdua yang ikut membantu ketika sang empu leluhur agung Hyang Triloka menempa pedang tersebut.


"Cepat lah tuan muda membuat ikatan dengan pedang Naga bergola". Naga bumi Sabui berseru.


Sang Rajawali Api seakan tak sabar dia mematuk tangan Shun land hingga berdarah,


Darah tersebut mengalir ke gagang pedang Naga bergola, tiba-tiba pedang tersebut bergetar dan kedua batu permata di gagang pedang tersebut bersinar memancarkan dua sinar merah dan biru tapi itu tidak lama.


Shun land merobek bagian bawah bajunya dia membuat sebuah tali lalu diikatkan di kedua ujung warangka pedang tersebut sebagai ikatan untuk menggantungkan di atas bahunya.


Sang Rajawali Api merasa gelisah perasaannya dia merasa ada sesuatu hal buruk yang menimpanya.


Benar saja prasangka sang Rajawali Api tiga orang turun dari atas tebing tinggi itu mereka bertiga memakai cadar yang terlihat hanya matanya.


"Serahkan pedang itu kau akan selamat".


Salah satu dari mereka berkata sambil memberi tekanan Aura yang di tidak bisa di anggap enteng.


Naga bumi Sabui melihat tuannya di ancam dia tidak tinggal diam ekor besar menyapu ketiga orang bercadar hitam.


Mendapatkan serangan tiba-tiba dua orang pendekar dapat menghindar sedangkan satu orang telah terkena dadanya membuat tubuh tersebut terpental cukup jauh dan jatuh di aliran sungai.


Dua orang tersisa saling pandang dan menganggukkan kepala yang satu membuat kuda-kuda dan mengeluarkan golok panjang, yang satu lagi menyiapkan busur dengan anak panahnya, ujung anak panah terdapat kain yang di lumuri getah kau damar.


Panah meluncur ke atas sangat tinggi dengan ujung yang menyala.


Shun land mengeluarkan sumpit raja neraka untuk meladeni kedua orang penyerang yang tersisa.


Tanpa ragu-ragu Shun land meniup Sumpit raja neraka "bunuh mereka berdua" dua buah sinar kuning kemerahan melesat kearah dua orang penyerang.


Tanpa bisa mengelak keduanya tumbang dengan dada kiri yang berlubang tembus sampai ke belakang.

__ADS_1


Sang Rajawali terbang mengitari wilayah tersebut, dengan mata yang tajam melihat lebih dari 200 bayangan menuju arah tuan mudanya.


Dia segera menukik kebawah, "tuan muda segera kita pergi dari sini belum saatnya kita berperang melawan mereka".


Mendengar ucapan sang Rajawali Api Shun land segera melompat ke punggung sang Rajawali Api.


Sang Rajawali Api melesat ke atas di ikuti oleh sang Naga bumi Sabui dalam sekejap mata mereka telah hilang dari pandangan.


Tidak lama lima sosok datang dengan pimpinan yang paling besar dan tinggi badannya. "Braja Denta kau masuk ke dalam gua itu periksa pusaka itu masih ada atau sudah di bawa pemuda itu".


"Baik Ki Braja Geni". Yang di sebut Braja Denta masuk ke celah kecil itu, tidak lama berselang Braja Denta telah kembali.


"Ki Braja Geni pusaka itu telah tiada ada di tempatnya". Braja Denta memberi laporan.


"Kakang Braja musti terlalu sembrono menyuruh orang dungu untuk menjaga pusaka yang kita tunggu sejak Leluhur kita".


Salah satu dari mereka menyalahkan pimpinan mereka.


"Diam kau Braja wikalpa kau pun tidak mau mendapat tugas untuk menunggu gua tersebut". Braja musti membentak adik seperguruannya.


Guru besar perguruan Braja Hitam di daratan luas Celebes memerintahkan kelima muridnya menjaga gua di bawah punden berundak gunung Padang Cianjur dia mengetahui keberadaan Pedang naga bergola dari catatan leluhurnya.


Sudah beberapa generasi perguruan Braja hitam menunggu orang yang bisa mencabut pedang tersebut.


Leluhur mereka telah mencoba untuk mencabut pedang Naga bergola tetapi mereka semua gagal bahkan pernah hendak menghancurkan batu yang menghimpit pedang tersebut tetapi batu tersebut sama kuatnya seperti pedang naga bergola yang ada di sana.


Akhirnya Braja Geni memilih untuk membuat perguruan di daratan luas Dwipa, tepatnya di balik air terjun panas diantara gunung Gede dan gunung Pangrango.


Tapi dia tidak menerima murid, dia hanya membawa lima muridnya yang dia beri nama Panca Braja.


Kelima muridnya ini dia rawat dari kecil umur mereka tidak terpaut jauh dari yang tertua Baraja musti dan adik-adiknya ilmu mereka pun hampir seimbang.


Ilmu panca Braja di ciptakan oleh leluhur Braja Geni mengembangkan dari ilmu saipi Geni yang di padukan dengan kekuatan Braja atau meteor yang jatuh, kekuatan Braja/meteor yang jatuh di serap dan di satukan dengan ilmu saipi Geni.


Batu Braja/meteor itu di tempa menjadi senjata lima tongkat sebesar lengan anak-anak dan panjang 2jengkal setengah.

__ADS_1


Walau pun senjata ini terbilang kecil tetapi mempunyai kekuatan senjata Langit tingkat tiga karena sang empu hanya mampu menempa di kelas tiga.


Senjata di bagi tiga.



Senjata Bumi, tingkat-3, tingkat-2, dan tingkat-1.


2.Senjata langit, sama mempunyai tiga tingkat.


3.Senjata Bintang, sama mempunyai tiga tingkat.



Tingkatan senjata ini bagai mana tinggi rendahnya si empu yang menempanya.


Dalam hal ini senjata yang tercatat sebagai senjata Bintang hanya dua, satu Pedagang Naga bergola dan Tombak trisula, milik sang Raja agung Jatiraga murid Hyang Triloka, itu pun hanya mampu menempa di senjata Bintang kelas-2.


Lima orang yang di juluki panca Braja merasa kecewa mereka sangat kebingungan bagai mana harus melapor pada gurunya Ki Braja Geni.


"Bagai mana dengan para pengikut kita yang menuju kemari kakang Braja musti." Braja Denta bertanya.


"Suruh mereka kembali ke markas." Braja musti memutuskan, tidak menunggu jawaban Braja Musti melesat pergi di ikuti ketiga adiknya.


Sedangkan braja Denta bersiul nyanyi sekali dengan dedaunan, lalu melesat mengikuti keempat saudaranya arah.


Perguruan Braja Hitam walau tidak merekrut murid tetapi Ki Braja Geni merekrut anak buah dengan status pengikut, mereka di ajari ilmu Kanuragan tetapi tidak di berikan ilmu panca Braja.


Ilmu Panca Braja hanya di wariskan pada keturunan mereka saja seperti lima lima sekawan, Braja Musti dan adik-adiknya.


Di air terjun panas di antara gunung Gede dan gunung Pangrango, empat bayangan masuk ke balik air terjun tersebut di sana ada pintu yang terbuat dari lempengan batu lebar satu depa dan tinggi satu depa setengah.


Tidak lama satu bayangan di ikuti 200san orang mengikutinya masuk ke balik air terjun tersebut.


-----------------*****------------------

__ADS_1


__ADS_2