LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
436. Sang Garuda 37. Pertarungan.


__ADS_3

Sepuluh orang turun dari pohon berbaris di hadapan Aji Wisesa dan Aji Wijaya, Pataya yang di belakang diam saja, Pataya ingin mengetahui pormasi musuh, Pataya sendiri mengetahui berbagai pormasi dalam pertarungan berkelompok, dalam hal ini anak buah Pataya memiliki tehnik capit urang\udang.


Kelompok menyerang di pimpin oleh Sakri anak buah kapten Rawedeng dalam ilmu Kanuragan cukup tinggi, tenaga dalam Sakri telah mencapai tingkatan menengah 80ribu lingkaran lebih, sedangkan anak buahnya semuanya di atas 60ribu lingkaran, tetapi anak buah Sakri memiliki tehnik bertarung kelompok yang sangat di takuti, tehnik Trisula.


Pormasi dua orang di tengah sebagai ujung tombak dua di belakang kanan dan kiri, dua orang lagi di posisi luar Kakan kiri. Dua orang di tengah menyerang sedangkan empat orang di belang kanan kiri membendung serangan. Puncaknya dua orang kanan kiri sebagai eksekutor.


Sepuluh orang telah bersiap membuat pormasi menghadapi Aji Wisesa dan Aji Wijaya. Begitu mereka membuat pormasi tiga orang dari dalam kereta keluar dan kusir kereta bergabung membuat pormasi.


Tidak jauh dari arena tiga orang mengawasi. "Kalian berdua bersiaplah gunakan keahlian Sumpit kalian untuk menyerang di saat yang tepat, ingat musuh kita kali ini adalah orang penting istana Galuh Purba". Sakri memerintahkan kedua anaknya yang khusus mempunyai tehnik bertarung jarak jauh dengan sumpit yang beracun.


Pataya memperhatikan ketiga orang tersebut, dengan sekali lirik Pataya dapat membaca ketiga orang tersebut, "Bajingan mereka membuat pormasi yang sangat tidak satria dengan dua eksekutor bersenjata sumpit yang pastinya beracun ganas".


Pataya langsung meloncat kedepan di samping Aji Wisesa dan Aji Wijaya lalu berkata. "Aji Wisesa dan Aji Wijaya kalian jangan ikut bertempur di sini tapi serang ketiga orang yang berdiri di bawah pohon itu, mereka lebih berbahaya dari kesepuluh penyerang ini".


Aji Wisesa dan Aji Wijaya yang mendapat perintah langsung melesat ke arah Sakri dan dua anak buahnya yang sudah bersiap-siap dengan senjata Sumpit mereka.


Dua anak sumpit melesat menghadang Aji Wisesa dan Aji Wijaya yang menerjang mereka dengan senjata tongkat dan pedang.


Dengan mudah Aji Wisesa dan Aji Wijaya.


Tongkat Aji Wisesa mengarah ke kepala salah satu menyerang senjata Sumpit dengan kecepatan yang sulit di hindari, karena seyogianya mereka berdua tidak memiliki keahlian bertarung jarak dekat.

__ADS_1


Begitu pula Aji Wijaya menyerang tanpa Ragu-ragu ke arah pemegang senjata Sumpit pedang Aji Wijaya mengarah ke bahu kiri. Kedua pemegang senjata Sumpit sudah memejamkan matanya pasrah harus menerima serangan ini.


Tapi sejengkal lagi senjata Aji Wisesa dan Aji Wijaya mengenai sasaran dua buah tongkat besi menghadang laju tongkat Aji Wisesa dan pedang Aji Wijaya.


"Duaaaar.......!!!


Ledakan kedua senjata yang di lambari tenaga dalam yang tinggi terdengar. Aji Wisesa dan Aji Wijaya Terpental sejauh empat tombak dan terjatuh dengan posisi terduduk dari sudut mulut keduanya rembes darah segar menandakan luka dalam yang cukup parah.


Sakri sengaja tidak menahan kekuatannya ingin segera membuat kedua utusan panglima Ki Bajul pakel segera tumbang karena bila di biarkan pormasi Trisula akan mengalami kesulitan untuk mengalahkan lima musuh yang mengetahui tehnik bertarung kelompok. Karena sesungguhnya serangan inti tehnik Trisula adalah Sumpit beracun.


Tehnik ini pula yang membuat Jatniko tidak berdaya dan sampai menemui ajalnya sedangkan nasib Santaka tidak di ketahui apa bisa bertahan atau sudah tewas.


Sementara itu pertarungan Pataya dengan anak buahnya mengahadapi 10 anak buah Sakri yang mengunakan tehnik Trisula di lawan oleh Pataya dan ke empat anak buahnya dengan pormasi Tehnik Capit urang.


"Matilah kalian berdua antek-antek Raja Galuh yang sombong". Terdengar suara keras dari Sakri yang melesat dengan kedua tongkat besi ke arah Aji Wisesa dan Aji Wijaya yang sedang berusaha menyetabilkan posisinya.


Aji Wisesa dan Aji Wijaya seluruh tenaga dalamnya menghadang serangan tongkat pendek Sakri yang aslinya dia adalah murid dari Ki Braja Geni, Adik seperguruan Panca Braja yang berbeda paham dengan gurunya hingga Sakri dengan seluruh hatinya menjadi bawahan Mara Deva yang penuh dengan gelimang kepingan koin emas.


Aji Wisesa dan Aji Wijaya yang sudah terluka dalam terpental sampai enam Depa dengan jeritan yang keras.


"Aaaaaah.......!!!.

__ADS_1


Suara Aji Wisesa dan Aji Wijaya membuat konsentrasi Pataya sedikit terbelah, matanya melirik ke arah Aji Wisesa dan Aji Wijaya yang melayang bagai buah yang jatuh dari pohonnya.


Kesempatan ini di gunakan oleh dua orang di sisi kiri menyerang Maskur dan Batuah yang sedang menyerang ujung tombak pormasi Tehnik trisula. Pataya yang tugasnya sebagai penyetabil dan menghadang serangan menjadi sedikit terlambat menghadang kedua serangan tersebut.


Lengan atas Maskur terluka cukup dalam karena serangan tersebut andai Pataya lambat dua detik saja pastinya leher Maskur menjadi lintas pedang lawan.


Aji Saka tergeletak tidak berdaya darah menyembur dari mulutnya begitu juga dengan Aji Wijaya tidak jauh berbeda, walaupun serangan Sakri dapat di bendungan tetapi efek benturan tenaga dalam yang tidak seimbang membuat keduanya me dapat luka dalam yang parah hingga tidak bisa lagi membuat kuda-kuda hanya terduduk dengan darah menyembur dari mulutnya.


Sakri yang sudah tertular kejam saat latihan dengan Kama Deva tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menghabisi Aji Wisesa dan Aji Wijaya dan segera merampas Surat yang di tujukan kepada ketua perguruan Ciomas.


Sakri melayang di udara mengayunkan kedua tongkatnya kearah kepala Aji Wisesa dan Aji Wijaya yang sudah tidak berdaya.


Tetapi sebuah bayangan menyambar keduanya hingga serangan tongkat Sakri mengenai tanah.


Lamsijam segera mengeluarkan dua pil dan memasukan kedalam mulut Aji Wisesa dan Aji Wijaya untuk menyelamatkan nyawanya dari luka dalam yang sangat parah.


"Aku di takdirkan untuk bertemu lagi dengan murid Ki Braja Geni, untuk kali ini kau tidak akan melunak karena jelas Ki Braja Geni telah bersebrangan dengan ku. Kala itu aku melepaskan Panca Braja karena memberi wajah pada Ki Braja Geni tetapi kali ini situasinya berbeda". Lamsijam berkata sambil menatap wajah Sakri dengan intimidasi aura yang sangat besar.


Pataya terbengong baru kali ini melihat asli dari kekuatan Lamsijam yang hampir mencapai pendekar kelas tinggi. Sakri yang melihat lawannya mengetahui gurunya hatinya menjadi kecil.


Lamsijam melesat menyerang kerah Sakri tetapi serangan itu berbelok tiba-tiba ke arah kedua anak buah Sakri yang memakai senjata Sumpit beracun.

__ADS_1


Kepala kedua pendekar anak buah Sakri hancur bagai semangka yang di banting ke lantai dengan keras darah berhamburan ke sekitar. Sakri menahan amarahnya melihat anak buahnya yang paling penting di posisi pasukan kecilnya.


____*****____


__ADS_2