
Tiga hari kemudian sore itu Shun Land dan Lasmini duduk di taman istana Sundapura untuk menikmati keindahan senja.
Sedang asiiik bercengkrama mereka berdua di datangi dua permaisuri, permaisuri Dewi Sumayi dan permaisuri May Lien. Permaisuri Dewi Sumayi duduk di samping Lasmini dan permaisuri May Lien duduk di samping Shun Land.
"Selamat datang kedua permaisuri ku yang cantik ada apa gerangan mengunjungi kami berdua, apa kalian ingin menjadi pendekar tampan ini mengantikan suami kalian di dalam kamar hahahaha". Shun Land berkata tanpa melihat mereka berdua.
"Jaga bicaramu pendekar kami berdua bukan wanita murahan yang gampang tergoda oleh ketampanan walaupun ketampanan itu sangat mirip dengan suami kami". Permaisuri Dewi Sumayi bicara sedikit tinggi merasa tersinggung dengan ucapan Shun Land yang sekarang menyamar jadi Pendekar Jaya Sempurna.
"Maaf permaisuri atas kelancangan suami saya, kakang Lasmini mohon hormati mereka mereka juga sama seperti saya sama-sama memiliki perasaan yang halus". Lasmini berkata dengan melotot ke arah Shun Land.
"Tidak apa-apa nona Lasmini kami menemui kalian berdua karena ada sesuatu yang perlu di bicarakan, saya sendiri ingin berbicara dengan tuan pendekar Jaya Sempurna berdua dan kakak Dewi ingin bicara berdua dengan nona Lasmini jangan khawatir kami hanya ingin membicarakan tentang beberapa acara kerajaan, saya harap kalian berdua memberikan sedikit waktu pada kami". Permaisuri May Lien berkata dengan sopan tapi ada ketegasan di sana.
"Mari nona Lasmini kita pergi kekediaman saya, saya juga ingin memberikan sesuatu hadiah untuk kenang-kenangan bahwa nona pernah tinggal di istana Sundapura kota yang kita cintai ini". Permaisuri Dewi Sumayi tidak memberikan ruang untuk Lasmini berpikir.
Tanpa pikir panjang Lasmini menuruti permintaan permaisuri Dewi Sumayi bagaikan terkena Tenung. Lasmini berjalan beriringan dengan permaisuri Dewi Sumayi menuju ke kediamannya permaisuri Dewi Sumayi.
"Saya ingin bicara dengan tuan pendekar jaya Sempurna empat mata di ruangan tertutup agar tidak ada yang melihat". Permaisuri May Lien.
"Baik kita ke kediaman saya". Shun Land berjalan tanpa menunggu jawaban melangkah ke kediamannya di ikuti permaisuri May Lien.
Begitu masuk ke ruangan pribadi yang di siapkan permaisuri Sari tungga dewi untuk para tamu kerajaan, permaisuri May Lien langsung mendorong Shun Land ke dinding menatap wajah Shun Land dengan tajam.
"Tatap mata ku jangan kau menunduk, aku tahu kau adalah suamiku bagaimana pun kau berpura-pura menjadi orang lain sekarang mengaku lah". Suara permaisuri May Lien pelan tapi tandas.
__ADS_1
Shun Land di perlakukan seperti itu hatinya sedikit goyang tetapi pemikirannya berjalan tidak mungkin menggagalkan Topongramenya hanya karena hal sepele seperti ini.
"Apa yang harus akui aku ya aku, Jaya Sempurna pendekar Air panca warna apa perlu aku mengeluarkan kekuatan ku".
Seketika ruangan itu mengembun tetes-tetes air jatuh dari atap tubuh Shun Land di selimut udara sangat dingin permaisuri May Lien menggigil kedinginan bibir bergerak mengeluarkan suara lirih.
"Keluarkan seluruh kekuatan mu aku tidak takut kau membunuh ku karena aku yakin suamiku tidak akan tega melihat ku terluka". Anggapan permaisuri May Lien Shun Land tidak akan bertindak lebih jauh.
"Maafkan aku May aku tidak akan menggagalkan Topongrame ku karena kau, aku sanggup kehilangan ibu ku dan ayah ku tidak ada alasan aku tidak tega terhadap mu, kau harus mengerti rakyat ku lebih penting jika aku gagal seluruh rakyat dan orang-orang terdekat ku akan menjadi Budak atau Babu di tanah sendiri yang ironis di jajah oleh bangsa sendiri maaf kan aku May".
Shun Land tanpa ragu-ragu mendorong tangan kanannya menghantam keras ke dada atas dekat bahu.
Tubuh permaisuri May Lien melayang membentur dinding dan ambruk ke lantai dari bibirnya rembes darah segar mengalir di sudut bibirnya yang pecah.
"Aku akan mengalirkan hawa murni agar kau tidak mati dan aku akan menikmati tubuh putih mulus mu sesuka hati terima kasih kalian bertiga telah mempunyai rencana yang sempurna istriku pun di ajak jauh dariku". Shun Land menempel telapak tangan kanannya ke punggung permaisuri May Lien sambil mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuh permaisuri May Lien.
Permaisuri May Lien sangat kaget karena orang yang di hadapannya berbuat kejam dan tak punya perasaan, keyakinan bahwa orang yang di hadapannya suaminya hilang seketika berganti rasa penyesalan dan rasa takut.
Shun Land menatap permaisuri May Lien dengan menyeringai pancaran mata biru bagaikan mata ular menatap mangsanya. Shun Land mengangkat tubuh permaisuri May Lien dan melemparkannya ke pembaringan.
Shun Land mendekati pelan-pelan. Terdengar suara dari mulut permaisuri May Lien. "Sebelum kau menikmati tubuh ku beranikan kau bertaruh dengan ku". Sorot mata permaisuri May Lien tajam ke arah Shun Land.
Shun Land mendekatkan wajahnya sambil menjawab "Aku bukan pengecut aku penuhi tantangan mu sebutkan".
__ADS_1
"Baik kau harus ikrar sumpah darah melaksanakan bila kau kalah" permaisuri May Lien melanjutkan.
"Baik... bumi menyaksikan aku akan melakukan apa yang katan bila aku kalah taruhan dengan mu" Shun Land menusuk lengan kirinya dengan kukunya mengalir darah ke bumi.
"Bila keyakinan ku benar bahwa kau suamiku di suatu hari nanti dan aku masih bisa bernapas maka kau berkewajiban membawaku ke negri di mana aku di lahirkan bila aku kalah aku akan menjadi Budak nafsu mu seumur hidup".
Permaisuri May Lien berkata dengan mata yang berapi-api hatinya berkata, "bila aku kalah aku akan menjadi Budak nafsu mu setelah tubuh ini menjadi bangkai".
"Hahahaha berapa lama taruhan ini berjangka waktu". Shun Land bertanya serius karena ikrar sumpah darah bukan tindakan main-main.
"Lima tahun dari sekarang". Permaisuri May Lien berkata dengan keras. Shun Land tertawa sambil berkata. "Aku sekarang tidak jadi menikmati tubuh mu, aku akan sabar menanti waktunya kau datang padaku dengan kemolekan tubuh mu tanpa penghalang sehelai benangpun bersiaplah lima tahun lagi akan keganasan ku, cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran".
Shun Land menarik tangan permaisuri May Lien dari atas ranjang dan menampar pinggul sambil tidak berhenti tertawa.
Permaisuri May Lien dengan cepat berjalan tertatih karena luka dalam yang cukup parah.
Setelah kepergian permaisuri May Lien Shun Land menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dalam hatinya tidak berhenti berkata. "Marka. Aku May, maafkan aku May, maafkan aku May....!!!".
Matahari sudah hampir meninggalkan siang permaisuri Dewi Sumayi dan Lasmini datang dari wajahnya terlihat Lasmini sangat senang mungkin mendapatkan sesuatu yang sangat bagus dari permaisuri Dewi Sumayi.
Permaisuri Dewi Sumayi tidak lama singgah setelah mengetahui permaisuri May Lien telah pulang dia langsung kembali ingin segera menemui permaisuri May Lien dan mengetahui hasil yang di lakukannya.
*************
__ADS_1