
Deva Putta menyusun angkatan daratnya untuk menyusup ke setiap pelabuhan kerajaan Galuh Sindula dari semenanjung Malaka sampai timur daratan luas Sunda Dwiva.
Deva Putta merencanakan serangan mendadak di setiap kota besar dan di setiap istana yang di bawah kekuasaan prabu Jaya Sempurna di seluruh wilayah kekuasaannya.
Sementara armada laut Tombak Perak yang di pimpin langsung oleh Mara Deva dan Pancasiksa menggempur langsung ke arah daratan luas Sunda Dwiva tepatnya pelabuhan Sundapura di kerajaan Tarumanegara.
Sedangkan pangeran Shan land akan menyerang melalui udara menggempur dengan kekuatan api Naga Api Hitam di setiap kota sekaligus memancing Shun Land untuk mengejarnya hingga konsentrasi Shun Land terpecah, ini adalah trategis Deva Putta untuk menghancurkan seluruh kekuatan Kerajaan Galuh Sindula yang di pimpin oleh raja yanga sangat Sakti.
Deva Putta menggunakan pengalaman yang terdahulu hingga susunan strategi kali ini lebih matang dan lebih rapih, kegagalan penyerangan pada waktu menyerang ibukota kerajaan Tarumanegara kota Sundapura yang gagal total menjadi suatu pelajaran penting, untuk menyusun rencana yang lebih sempurna tidak hanya mengandalkan kekuatan tetapi lebih mengandalkan kekuatan kekompakan di segala lini.
Serangan kali ini di rancang dengan teliti tiga kekuatan Angkatan darat, Armada Laut Tombak Perak dan kekuatan udara dengan mengandalkan kekuatan Api dari Naga Api Hitam akan mempunyai daya gedor yang sangat kuat untuk memojokkan pihak Shun Land untuk menyerah karena bila tidak akan terjadi pembantaian di setiap penjuru Negri Sundaland.
Pangeran Shan land atau Pangeran Jaya Lelana merasa sangat puas mendengar susunan strategi Deva Putta karena dirinya sendiri mempunyai rencana untuk menghabisi kekuasaan sang Adik Shun Land dengan cara memancingnya untuk bertempur 1 lawan 3. Dalam rencana ini Pangeran Jaya Lelana akan memancing Shun Land ke suatu tempat yang di sana telah menunggu Mara Deva dan gurunya sendiri Pancasiksa, dengan demikian kemenangan yang hanya 45% menjadi 75%, maka kekhawatiran akan tingginya ilmu Shun Land yang di dukung oleh kekuatan Pusaka tanpa tanding pedang Naga Bergola dan jurus pedang tarian Rajawali api bisa di minimalkan.
Selain itu Deva Putta pun merencanakan akan mengorbankan armada laut Tombak Perak untuk mengalihkan perhatian Naga Bumi Sabui, maka jika terjadi pertempuran Shun Land di melawan pangeran Jaya Lelana, Mara Deva dan Pancasiksa di bantu Naga Api Hitam, Naga Bumi Sabui ikut membantunya.
__ADS_1
Pangeran Jaya Lelana saat ini merasa sangat puas dan merasa sangat tidak sabar ingin segera menguasai seluruh wilayah bekas kerajaan Sundaland warisan Sang Raja Agung Sundaland Jatiraga.
Dalam waktu ini Pangeran Jaya Lelana atau pangeran Shan land hanya membutuhkan beberapa tahapan lagi untuk mencapai kekuatan tenaga dalam 200ribu lingkaran yang menjadi sarat mutlak untuk kesempurnaan Ajian Rawarontek, karena dengan begitu Ajian Rawarontek bisa di gunakan sampai lima kali, dengan kekuatan tenaga dalam sampai 200ribu lingkaran regenerasi sel tubuh akan sangat cepat asal ada unsur kekuatan tanah yang bisa di hisapannya walau pun hanya sedikit.
____________
Sang Legenda Rajawali Api akhirnya menukik ke bawah dan hinggap di atas suatu lembah di salah satu sisi lembah ada sebuah tebing yang tinggi, pangeran Makkamaru menunjuk ke arah tebing.
"Sang prabu di sana gua Leang Tedongnge berada". Pangeran Makkamaru berkata menunjukkan mulut gua yang terlihat. Shun Land dan pangeran Makkamaru berjalan menuju mulut gua tersebut jalannya sangat sulit dan menanjak.
Begitu sudah di dalam gua kedua pasang mata mereka berdua terbelalak melihat sebuah lukisan sekelompok orang yang sedang berburu, mata Shun Land mencari benda warisan ke tempat lain tetapi tidak menemukan benda apa-apa yang ada hanya lukisan orang berburu hewan.
Terlihat dari guratan lukisan itu di buat oleh tangan manusia, dari warna dan garis-garis lukisan itu nampak jelas bahwa lukisan tersebut di buat puluhan ribu tahun yang lalu.
Akhirnya Shun Land memutuskan untuk bermeditasi di dalam gua ingin mengungkapkan warisan apa yang sebenarnya ingin di berikan pada dirinya oleh Sanghyang Tunggal, Shun Land lalu berkata pada pangeran Makkamaru.
__ADS_1
"Pangeran Makkamaru saya sangat kebingungan, menurut pangeran Cakrawala yang memberikan peta ini saya harus mencari lokasi gua ini dan mengambil sebuah warisan dari leluhur Sanghyang Tunggal tetapi di gua ini tidak ada apa-apa yang ada hanya lukisan orang berburu hewan babi, tetapi saya mempunyai pemikiran mungkin Leluhur Sanghyang Tunggal ingin mewariskan sesuatu yang bukan berbentuk benda tetapi sebuah ilmu atau pesan yang tersembunyi dalam lukisan tersebut, maka dari itu saya akan bermeditasi di dalam gua ini untuk mencari petunjuk tentang makna warisan yang tersembunyi di balik lukisan ini".
"Baik sang Prabu. . saya akan menunggu sang prabu bermeditasi di luar gua bersama sang Legenda Rajawali Api". Pangeran Makkamaru menjawab dengan singkat. Lalu pangeran Makkamaru keluar dari gua tersebut, tindakan ini di ambil agar tidak mau mengganggu meditasi Shun Land.
Shun Land mencari tempat pas untuk tempat bermeditasi, akhirnya dia menemukan sebuah batu yang permukaannya rata, pas posisi batu tersebut tidak jauh dari lukisan tersebut.
Shun Land duduk bersila di atas batu tersebut lalu memejamkan matanya, tahap demi tahap Shun Land memulai bermeditasi.
________*****_________
(NB: Pada bulan Desember 2019, lukisan gua yang menggambarkan perburuan babi di kawasan karst Maros-Pangkep di Sulawesi ditemukan berusia lebih tua, dengan perkiraan usia setidaknya 43.900 tahun. Temuan luar biasa ini diakui sebagai "penggambaran cerita tertua yang diketahui dan contoh seni figuratif paling awal dalam sejarah manusia."
Leang Tedongnge adalah sebuah leang atau gua di daerah kawasan karst Maros-Pangkep, di Sulawesi Selatan. Leang ini menjadi masyhur dengan segera karena temuan Adam Brumm, Adhi Agus Oktaviana, dkk., yang dipublikasikan di Science Advances menyebut ada lukisan babi berusia 45.500 tahun lalu dalam gua ini. Temuan ini menjadikan lukisan misterius itu jauh lebih tua daripada hasil temuan di Lukisan Gua Leang Bulu' Sipong 4 yang berusia 43.900 tahun silam.[1]
Sehingga, dikatakanlah bahwa lukisan gua ini adalah lukisan hewan tertua di dunia.[2]
__ADS_1
Menurut laporan daripada New York Times, leang ini sesungguhnya telah mulai diteliti sejak 2017. Leang ini letaknya 40 mil dari Kota Makassar dan untuk jalan masuk ke leang ini begitu sulit, jalannya sempit. Kata Dr. Brumm, sebagai salah seorang peneliti, ancaman atas seni lukisan ini ialah pengelupasan kulit gua yang dikhuatirkan terjadi.)