
Shun Land menatap telak ke wajah Dewi Lasmini lalu berkata. "Putri Sanja tolong bacakan hukuman apa yang pantas untuk seorang yang menyusahkan seorang raja dan berani memerintah raja".
"Paduka hukuman untuk yang berbuat seperti itu ada dua hukuman, 1. Di hukum penjara tanpa boleh bertemu siapapun selama seumur hidup, hukuman kedua yang lebih ringan harus menjadi pelayan prajurit laut selama 20 tahun". Putri Sanja berkata seperti sangat serius.
Dewi Lasmini mendengar peraturan dari putri Sanja jantungnya seperti berhenti, air matanya perlahan menetes. Nyai Gora Sindula yang lebih tua dan mengerti apa yang terjadi tersenyum tapi di tahannya.
"Putri Sanja hukuman itu terlalu kejam, tapi baiklah aku akan memberikan pilihan untuk hukuman mu, 1. Hukuman mengurus istal istana selama 15 tahun, pilihan kedua menjadi pelayan raja seumur hidup, kau boleh memilih yang hukuman yang pertama atau kedua". Shun Land memberi pilihan sudah tidak tahan melihat istrinya yang terlihat sangat menderita.
"Paduka raja saya memilih hukuman yang kedua menjadi pelayan paduka selama seumur hidup, tapi saya ini istri paduka". Dewi Lasmini kekeh berkata bahwa dia adalah istrinya.
"Baik aku ringankan hukuman mu, karena kau istri seorang raja, hukuman mu di tambah kau tidak boleh ngomel-ngomel di depan umum, ini hukuman sudah di putuskan bila kau protes lagi hukuman istana akan berlaku seperti yang di sebutkan putri Sanja, sekarang cepat layani raja ingin makan dengan masakanmu yang paling enak". Shun Land dalam hati tertawa melihat wajah istinya walaupun terlihat menangis tetapi sorot matanya terlihat ada ancaman.
Dewi Lasmini pergi ke dapur untuk memasak, nyai Gora Sindula menghibur. "Sabar ya nak". Di balas Dewi Lasmini hanya dengan anggukan.
Dalam kesempatan itu Shun Land menceritakan laku Ritual Topongrame yang menjadi alasannya mengapa dirinya tidak mengakui bahwa dirinya raja Shun Land, Shun Land pun tetap akan menggunakan nama Jaya Sempurna untuk selamanya. Nama pemberian guru Batiniahnya Sanghyang Triloka.
"Pangeran Sanjaya triloka pun melaporkan bahwa di kawasan sekitar daratan luas Sunda Dwiva bagian timur sampai ke Bali Dwipa dalam keadaan aman, kematian Raja tengkorak membuat para bandit kecil tidak berani keluar dari persembunyiannya".
Pangeran Sanjaya triloka berhenti bicara untuk minum membasmi tenggorokannya yang kering. Kemudian melanjutkan bicaranya.
"Kakak putri Dian Prameswari dwibuana juga memberi kabar bahwa keadaan istana dalam keadaan baik, hanya keaman lautan yang sedikit ada masalah, pangeran Shan Land meminta kepada permaisuri Sari tungga dewi untuk tidak berpatroli ke laut Sunda Dwiva bagian Utara dari semenanjung Malaya sampai laut polres dengan alasan Kuatai telah memiliki armada yang lebih kuat, dan yang terakhir kitab salinan Bayu sejagat sudah bagikan kepada setiap perguruan yang mau ambil bagian bila mana ada serangan terhadap kerajaan, itulah yang bisa saya sampaikan".
__ADS_1
Lamsijam, Pataya, Delay dan yang lainnya yang tidak pernah menjabat sebagai pejabat kerajaan hanya melongo merasa kagum terhadap pangeran Sanjaya triloka yang sangat cakap melaporkan seluruh keadaan kerajaan.
"Pangeran Sanjaya bagai mana perkembangan kemampuan murid di setiap perguruan" Shun Land bertanya lebih lanjut.
"Ini di luar dugaan paduka setelah menerima kitab Bayu sejagat dalam jangka waktu setahun banyak para murid yang masuk ke pendekar kelas menengah, bahkan di antara para ketua perguruan meningkat hampir mendekati pendekar kelas tinggi, paduka bisa melihat di sini yang paling tinggi tenaga dalamnya paman Lamsijam yang tadinya hanya mencapai 60ribu lingkaran tenaga dalam sekarang telah mencapai 90ribu lingkaran tenaga dalam". Pangeran Sanjaya triloka memberikan informasi yang terperinci.
Pataya yang dalam kehidupannya banyak di dalam hutan dan berkecimpung di dunia hitam sangat kebingungan dari mana pangeran Sanjaya triloka mendapatkan informasi selengkap ini. Pataya tidak mengetahui setiap tiga bulan sekali pangeran Sanjaya triloka menemui Telik sandi kerajaan.
Dewi Lasmini datang dengan membawa makanan di belakangnya nyai Karmia dan Kasmia juga beberapa wanita penduduk baru membantu memasak. Setelah menata makanan Lasmini duduk di sebelah nyai Gora Sindula.
"Kau duduklah dekat ku katanya aku istriku tapi kenapa kau duduk menjauh jangan-jangan sudah ada yang lain". Shun Land menggoda istrinya.
Dengan malu-malu Lasmini menggeser duduknya lantas bicara. "Saya malu paduka".
Mereka pun makan bersama siang itu, akhirnya pendopo hanya tinggal mereka bertiga Shun Land, Dewi Lasmini dan nyai Gora Sindula.
"Ibu apakah ibu bisa mengantar saya menemui ratu malam ini" Shun Land bertanya.
"Iya paduka raja nanti malam kita berangkat Ke puncak meru bertiga". Nyai Gora Sindula menjawab singkat. Shun Land lantas menimpalinya.
"Ibu saya mohon jangan panggil paduka tetap panggil saja Saya Jaya Sempurna seperti yang lalu". Shun Land berkata demikian di sahuti Dewi Lasmini.
__ADS_1
"Paduka dulu memang kami tidak tahu jadi memanggil seperti orang biasa tetapi sekarang kami tahu paduka adalah seorang Raja keturunan bangsawan".
Shun Land menempelkan jarinya di bibir Dewi Lasmini lalu bicara, "Dewi juga tetap panggil kakang saja seperti biasa kecuali di dalam keraton karena itu adalah tatak rama istana kita harus menaatinya".
"Kakang tidak marah pada saya Lasmini" Dewi Lasmini mendongak menatap sendu, Shun Land tersenyum lalu menjawab, "mana ada seorang suami yang marah pada istrinya yang menunggu dengan setia di tinggal tanpa kata".
Shun Land pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Dewi Lasmini dan nyai Gora Sindula pergi ke dapur bersama membantu memasak untuk makan bersama nanti malam bersama warga.
Shun Land keluar rumah menuju hutan setelah berjalan sedikit kedalam hutan terlihat sang Legenda Rajawali Api sedang duduk tertidur.
"Benar juga kata istriku sahabatku ini sedang berpenyakit bengek siang siang tidur dengan pulasnya". Shun Land berkata sambil duduk di dekat kaki sang Garuda.
"Hay Hay haaaay jaga ucapan mu, aku kelelaha selamat 15 bulan tidak tidur menjagamu semakin lama mulut mu semakin seperti perempuan". Sang Legenda Rajawali Api berkata sambil menyenggol-nyenggol kepala Shun Land dengan paruhnya.
"Sudah aku ingin bicara serius dengan mu, bagai mana apa kau sudah memeriksa perguruan yang membuat bunda ratu dan ayahanda ku meninggal". Shun Land bicara serius.
"Sudah aku sehari semalam bahkan aku memanggil Naga Bai tanah untuk membantu menyakinkan dugaan ku, ternyata Naga Bumi Sabui juga sama merasakan aura api Naga api hitam yang sekarang mempunyai kekuatan api yang hampir sempurna seperti dulu bahkan bertambah dua kali lipat". Sang Garuda menjawab dengan tegas.
Shun Land termenung dalam hatinya bertanya-tanya di mana persembunyian Mara Deva berada.
***********
__ADS_1
Maaf kemarin ada kesibukan jadi tak sempat up, 🙏🙏🙏🙏