
Burung dara hitam terbang mendekati sebuah istana dengan gapura istana berhiaskan Seekor Naga hitam di kanan dan kiri.
Deva Putta sedang berdiri di halaman taman kediaman di sekitar istana Naga hitam di temani dua wanita pelayannya yang masih muda-muda.
Pelayan yang satu memegang cangkir keramik sedang satunya lagi memegang poci kecil tempat minuman.
Pakai kedua pelayan itu sungguh kekurangan bahan, yang tertutup hanya bagian bagian penting dalam tubuhnya selebihnya di biarkan terbuka, terpampang pemandangan indah yang meningkat kan gairah seorang lelaki yang normal.
"Tuan jangan terlalu tegang menghadapi hidup ini, minumlah dulu biar tuan rileks".
Salah satu pelayan menyodorkan cangkir keramik dari samping sambil menempelkan bagian dadanya yang menonjol di punggung sebelah kanan Deva Putta.
Deva Putta menerimanya dengan tersenyum.
"Kau memang pelayan terbaik ku mengerti apa yang ku inginkan".
Deva Putta langsung menenggak sampai habis, seorang pelayan langsung menuangkan lagi tapi belum sampai cangkir itu sampai ke bibir Deva Putta seekor burung dara hitam terbang dan hinggap di meja pendopo taman.
Deva Putta memberikan cangkir pada pelayannya segera mengambil kertas di kaki burung dara tersebut.
Setelah membaca Deva Putta segera masuk ke kedalam kediamannya dan keluar membawa 2 gulungan kecil, gulungan itu di ikatkan pada kaki burung dara lalu melepaskan nya.
"Kalian berdua siapkan pakaian ku, aku akan menghadap pada junjungan Mara Deva". Kedua pelayan itu tidak banyak bertanya langsung mempersiapkan pakaian Deva Putta.
"Junjungan agung kita akan segera bergerak menyerang Tarumanagara dari lautan, kapal kita siap menyerang dengan kekuatan penuh kita akan membunuh seluruh keturunan Jati Purwa".
Deva Putta bicara menjelaskan secara rinci,
Menurut Deva Putta untuk mengalahkan orang sakti seperti Shun land harus menjatuhkan dulu mentalnya dengan membunuh orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
Deva Putta sengaja mengirimkan isu bahwa istana Naga hitam bergerak ke timur untuk menyerang Tarumanegara dari daratan, itu adalah sebuah jebakan untuk menarik Shun land jauh dari istana kerajaan.
"Deva Putta kau adalah pengikut dan keturunan ku yang paling jenius, aku sudah tidak sabar melihat orang pilihan Sanghyang Triloka menangis meratapi orang-orang tercinta mati dengan mengenaskan". Mara Deva bicara di akhiri dengan gelak tawa.
"Junjungan agung semua pendekar sekutu kita sudah berada di ibukota Sundapura mengepung di setiap sudut kota, sementara setengah pasukan Shun land dan pasukan koalisi para pendekar telah jauh dari ibukota Sundapura kita akan ratakan dengan tanah kerajaan Tarumanagara, paduka saya akan bersiap berangkat bersama pasukan darat yang sudah menunggu di pelabuhan".
Deva Putta menerangkan kondisi saat ini.
"Bagus Deva Putta setelah kita menghabisi seluruh kerabat dan orang-orang tercinta Raja muda Shun land baru aku akan membunuhnya biarkan dia merasakan di tinggal orang-orang tercintanya, pergilah aku segera menyusul".
Mara Deva seakan yakin akan berhasil seluruh rencana yang di susun oleh Deva Putta.
Shun land tidak menyadari akan taktik Deva Putta dalam menaklukkan sebuah kerajaan atau kelompok-kelompok yang memusuhi istana Naga hitam.
Sementara itu sang legenda Rajawali Api sedang bermeditasi menstabilkan kekuatan barunya dengan tubuhnya dia tidak akan bisa bisa mendengar panggilan Shun land atau pun Naga bumi Sabui.
Naga bumi Sabui yang berada di rawa cibuaya dirinya merasa gelisah tanpa tau penyebabnya.
Dua kapal berlayar menyusuri perairan selatan dataran luas Dwipa, yang satu kapal perang yang di lengkapi peralatan perang dan senjata siap di tembakan, kapal perang itu cukup besar mengawal sebuah kapal sedikit kecil tapi terlihat mewah.
Kapal mewah itu adalah kapal kerajaan Tarumanagara berlayar menuju pelabuhan kerajaan Tarumanagara, mengantar permaisuri Dewi sumayi dan nyai Iseng.
Di kamar mewah dalam kapal tersebut Nyai Iseng sedang duduk berdua menceritakan Shun land dan menceritakan permaisuri May Lien.
"Putri ceritakan lah permaisuri May Lien pada hamba, hamba sungguh sangat ingin segera mengetahui permaisuri May Lien itu benar anak ku atau bukan".
Nyai Iseng mendesak permaisuri Dewi sumayi untuk menceritakan tentang permaisuri May Lien.
"Nyai adik May itu orangnya sangat baik saling baiknya dia rela berbagi suami dengan saya dan kakak Sari Tungga Dewi, di antara kami bertiga adik May Lien lah orang yang paling kakak Shun land cintai,....
__ADS_1
...nyai melihat dari wajah dan tubuh saya yakin asik May Lien adalah anak nyai Iseng hanya tubuh adik May Lien sedikit lebih tinggi dari Nyai, tapi melihat cara bicara dan tatapan mata Nyai percis sekali dengan adik May Lien, tapi Nyai jangan khawatir walau pun nanti Nyai bukan ibu kandung adik May Lien nyai akan kami anggap keluarga".
Permaisuri Dewi sumayi menerangkan permaisuri May Lien di akhiri dengan kalimat merangkul.
"Apakah permaisuri May Lien masih mempunyai ayah". Nyai Iseng bertanya lebih lanjut.
"Masih nyai paman tabib Lau Lien masih ada tinggal bersama dengan kami, di lingkungan istana dia mengajar ilmu ketabiban di istana".
Permaisuri Dewi Sumayi menjawab pertanyaan Nyai Iseng dengan sabar dia mengetahui perasaan tidak sabar setelah puluhan tahun tidak bertemu dengan anaknya.
"Apakah tabib Lau Lien mempunyai istri". Nyai Iseng bertanya sedikit malu-malu.
"Nyai sangat beruntung bila benar tabib Lau Lien adalah suami Nyai dia sangat setia dengan Nyai sampai sekarang paman tabib tidak beristri, pernah saya beri candaan untuk menikah lagi dia berkata 'saya sudah tua saya telah berjanji kepada mendiang ibu May hanya mempunyai satu istri' sungguh pria idaman setiap wanita".
Sambil bicara permaisuri Dewi Sumayi merebahkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Nyai Iseng.
Walau baru beberapa hari permaisuri Dewi Sumayi sangat dekat dengan Nyai Iseng yang mempunyai perangai lemah lembut dan sangat sopan.
Di luar kamar tempat nya di geladak kapal sang kapten sedang meneropong ke arah Utara.
Setelah meneropong dan yakin akan di lihatnya sang kapten memberi kan isarat pada kapal di belakangnya untuk melihat ke arah Utara dengan teropong.
Sang panglima Tarpa yang kebenaran berada di geladak depan segera meminta anak buahnya untuk mengambilkan teropong.
Mata panglima Sarpa melongo melihat iringi-iringan kapal begitu besar lengkap dengan senjata perang di depan dan di sisi kiri-kanan.
Betapa kagetnya panglima Sarpa melihat ukiran di depan kapal, sebuah ukiran yang sama di kapal perangnya tetapi berbeda warna, ukiran itu berwarna hitam pekat.
Panglima Sarpa mengambil kesimpulan setelah melihat koordinat arah kapal yang menuju pelabuhan Tarumanagara.
__ADS_1
Sarpa sangat yakin kapal perang tersebut akan menyerang kerajaan Tarumanagara.
--------------------*****--------------------