
"Benar Dewi itu adalah suruhan kakang, tapi untuk Dewi Sukma dan Dewi angin-angin besok atau lusa akan kakang suruh untuk menjadi guru di perguruan Kanoman sumur Pitu, sekarang kakang sedang membangun perguruan tetapi kakang juga ingin bertukar pendapat dengan leluhur Birawa tentang kakang Jatniko dan kakang Santaka dan ke dua puluh adik seperguruannya" Shun Land menjawab dan menjelaskan apa yang sedang dia lakukan, Shun Land pun menambahkan nama perguruan dengan sumur Pitu, Shun Land menginginkan ritual mandi kembang sumur Pitu menjadi salah satu ritual pokok di perguruan barunya itu dirinya ingin penyelarasan Aji Saipi Banyu/air yang di kembangkan Dewi Darmawati dan Dewi Sukma selaras dengan ritualnya.
"Kakang menurut saya kakang Jatniko dan kakang Santaka lebih baik di tempatkan di perguruan yang kakang bangun karena sangat tidak enak bila berpergian terlalu banyak orang, paman Delay dan paman Pataya serta anak buahnya sudah 7 orang belum lagi pangeran Sanjaya dan kakang Pramuja dan 4 adik seperguruannya ingin tetap ikut bersama kita ada pula paman Lamsijam dan kedua anak angkatnya Basara dan Bisiri semuanya berjumlah 18 orang dengan putri Sanja belum lagi putri Dyah Prameswari dwibuana yang ingin ikut bersama suami andai di tambah rombongan kakang Jatniko 24 orang semuanya berjumlah 45 orang dengan kita". Dewi Lasmini mengemukakan pendapat.
Shun Land terdiam yang di katakan istrinya memang benar tetapi ini perlu di diskusikan dengan yang lain karena Shun Land tidak ingin mengambil keputusan yang salah lagi.
"Dewi kakang ingin menemui Leluhur Birawa dan nyai Dewi Sukma dan nyai Dewi Darmawati apa Dewi Lasmini akan ikut". Shun Land setelah bicara bangun dari rebahannya, Dewi Lasmini langsung menjawab.
"Tidak kakang saya ingin tiduran saja seharian berkeliling ke penduduk sekitar dan beberapa pedukuhan yang dekat sangat Cape tapi Lasmini sangat senang dulu Lasmini yang mengharap di beri sekarang Lasmini yang memberi semuanya berkat Kakang, terima kasih kakang". Lasmini yang merasa derajatnya di angkat oleh Shun Land bagaikan seorang Ratu langsung bangkit dan dan sujud dan mencium kakinya Shun Land sebagai bakti seorang istri terhadap suaminya.
Shun Land jadi kaget oleh sikap Lasmini yang demikian dirinya langsung meraih Lasmini dengan kedua tangannya. "Cepat bangun apa-apaan kakang tidak senang di sembah tapi kakang lebih senang bila Dewi mencintai dan welas asih ke sesama".
Lasmini bangun dengan derai air mata kebahagiaan dan haru akan nasibnya sendiri.
"Tidak kakang Lasmini benar-benar pantas mencium suami yang Lasmini cintai dan yang mengangkat derajat Lasmini bagaikan seorang ratu, leluhur Birawa dan ibu Ratu Prameswari Dwibuana pun sangat hormat pada Lasmini ini semua karena kakang jangan bersujud dengan nyawa pun belum sebanding sesuatu yang kakang berikan kepada Lasmini". Sambil bicara Lasmini wajahnya berada di pangkuan Shun Land.
__ADS_1
"Sudah kakang mau menemui leluhur Birawa" Shun Land bangkit dari duduknya. Sebenarnya di luar sudah menunggu leluhur Ki Birawa yang mondar mandir di depan pintu kamar Shun Land mau mengetuk tapi takut mengganggu mau pergi takut tidak ada kesempatan untuk bicara.
Begitu pintu terbuka leluhur Ki Birawa langsung menoleh, "kebetulan sekali leluhur lewat kesini saya ingin menemui Leluhur ada yang ingin saya bicarakan". Shun Land padahal sudah mengetahui keberadaan leluhur Ki Birawa dengan merasakan aura kehadirannya tapi untuk menutupi rasa malu leluhur Shun Land mendahului bicara.
"Iya saya kebetulan lewat habis mengontrol para penjaga, bagai mana bila kita bicara di ruangan pribadi saya terus ada yang ingin saya tunjukan pada Nak Jaya". Leluhur Ki Birawa mengundang secara sopan.
"Silahkan Leluhur berjalan di depan saya akan mengikuti" jawab Shun Land singkat. Leluhur Ki Birawa berjalan di depan menuju taman istana kebangsawanan Wajak yang berada di belakang karena ruang pribadi keluarga berada di samping taman bersebelahan dengan kediaman keluarga.
Hanya Beberapa waktu untuk berjalan sampailah pada sebuah pintu yang ukuran sedang leluhur Ki Birawa membuka pintu dan masuk sebelumnya mempersilahkan Shun Land untuk masuk bersama.
Begitu masuk terlihat kursi yang terbuat dari batu hitam yang mengkilap memutari meja yang terbuat dari bahan yang sama, tetapi leluhur Ki Birawa tidak berhenti masih masuk kedalam dan belok kiri lalu ada pintu lagi untuk masuk ke lebih dalam.
Jaman dahulu kala Bangsa Manusia purba raksasa menguasai bumi di suatu masa ada sepasang anak burung yang sangat besar mereka pun memeliharanya hingga besar burung ini mempunyai kelebihan seperti mengerti bahasa manusia.
Kala itu yang memelihara adalah kepala ras manusia purba raksasa yang memiliki pemikiran yang cerdas dari yang lainnya. Raja manusia purba ini sedang mempelajari seluruh unsur yang ada alam ini dan penelitian pertama adalah untuk api, raja manusia purba tidak menyadari setiap sedang mempelajari unsur api kedua burung besar itu melihat dan mendengar yang dia ucapkan pada saat itu belum ada tulisan hanya sebatas ingatan.
__ADS_1
Ternyata kedua pasang burung besar itu ingatannya lebih kuat dari Raja manusia purba setelah setiap meneliti dan menyimpulkan Raja manusia purba selalu banyak yang terlupa, setelah 250 lamanya kedua pasang burung besar itu mulai mempraktekkan hasil penelitian raja manusia purba.
Manusia purba pun sama mempraktekkan hasil penelitiannya ternyata mengalami kegagalan dan selalu gagal jelas saja setiap kesimpulan tiap tahapan Raja manusia purba banyak yang lupa.
Dalam mempraktekkan sepasang burung besar itu mempunyai hasil yang berbeda dengan sang raja manusia purba yang selalu gagal, setiap tahapan di lakukan dengan hati-hati dan penuh kesabaran mempraktekkan hasil penelitian tidak cukup satu kali dua kali tetapi ratusan kali dengan sendirinya sepasang burung ini mengasah otaknya secara terus menerus menjadi semakin cerdas.
Dalam praktek ini sepasang burung ini mempunyai hasil yang berbeda sang jantan mempunyai hasil yang sangat bagus bahkan bisa sampai tubuhnya keluar asap dan bulunya Sampai terbakar tetapi seluruh tubuhnya tidak terbakar, dan sang betina hasil tertingginya hanya sampai tubuhnya hangat lalu dingin lagi. Merdeka pun berhenti mempraktekkan hasil belajar dan penelitian sang raja manusia purba.
50 tahun telah berlalu sang jantan pun telah tumbuh bulu lagi seperti sedia kala dan sampailah waktu 350 tahun masanya sepasang burung besar itu kawin dalam masa seratus tahun sepasang burung itu kerjaannya hanya kawin.
Dan pada akhirnya sang betina bertelur dan hanya mempunyai satu telur, setelah itu sang betina selalu mengerami telurnya tetapi selama 40 tahun telur itu tetap tidak ada perubahan akhir sang betina putus asa dan bersedih, dan secara tidak sengaja sang jantan tidur di sarang sang betina yang ada telurnya.
Keesokannya ternyata telur besar itu ada perubahan sang jantan memberikan kabar gembira pada sang pembina dan raja manusia purba. Sejak saat itu sang jantan selalu tidur di sarang betina dengan telur di bawahnya, tanpa di sadari ketika sang jantan tidur berdua dengan betina hasil belajar mempraktekkan penelitian sang raja manusia purba mempunyai hasil, tubuh sang jantan mulai mengeluarkan asap dan mulai panas tetapi ketika tubuh sang jantan mulai tidak sanggup menanggung beban panas, panas itu di hisap sang betina dan peristiwa ini terus berulang.
Tanpa di ketahui kedua pasang burung tersebut sang raja manusia purba memperhatikan dengan seksama. Setiap malam selalu mengawasi kedua burung besar itu.
__ADS_1
Sepuh tahun berlalu tetapi tetap saja telur itu tidak menetas, kedua burung tersebut akhirnya merasa sia-sia dan putus asa.
*********************