
Seluruh pasukan Niraya Sura yang menyerah di pisahkan dan di jaga oleh pasukan Khusus senyap.
Dua bayangan turun dari dinding arena, Antaka ketua pasukan khusus senyap menenteng kepala Niraya Sura dan Ki Bajul pakel mengikuti.
"Paduka saya telah menumpas Niraya Sura, andai dia tidak melawan saya bisa membawanya hidup-hidup."
Antaka berkata sambil meletakan kepala Niraya Sura tanpa badan di atas meja jamuan para peserta kompetisi pendekar muda persilatan.
Sebenarnya ini hanya ucapan alasan Antaka untuk menghindari pertanyaan.
Semua bergidik melihat kepala tanpa tubuh, Maasiak melihat kepala bapaknya di penggal dan jadi tontonan sangat marah tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya menundukkan kepalanya tidak tega melihatnya.
"Inilah hukuman bagi orang yang telah berbuat kerusakan di muka bumi, ini sebagai contoh orang yang berbuat keangkara murkaan dan kejahatan terhadap sesama, semoga ini menjadi pelajaran bagi seluruh rakyat kerajaan Tarumanagara."
Shun land berkata dengan keras dan tegas.
Para tawanan di masukan ke penjara yang ada di perguruan Gelap ngampar.
Shun land dan rombongan berjalan memasuki bangunan yang paling besar, Ki Saron yang kekuatan tenaga dalamnya terkunci berjalan paling depan menjadi petunjuk jalan dan keterangan tentang berbagi bangunan dan fungsinya.
Ki Kartolo si Golok iblis di lepaskan karena dia sebenarnya hanya korban dari ucapan Niraya Sura yang menjanjikan akan memberikan kitab ilmu saipi angin.
Mereka duduk melingkar di ruangan utama perguruan gelap ngampar Shun land duduk di Apit Antaka dan Dewi bulan merah.
Ki Aria natanagara duduk berbaris bersama Ki Mahisa taka dan Ki Wirantaka, Ki Saron sebagai pemilik perguruan duduk di depan Shun land dan murid-muridnya.
Dua murid Ki Wirantaka dan empat murid Ki Mahisa taka duduk di sebelah kiri berlawan dengan duduknya guru mereka.
Seluruh pasukan khusus senyap mengatur keamanan dan mengatur bekas pasukan Niraya Sura.
"Saya mempunyai tawaran buat Ki Saron itu pun bila Ki Saron mau bila tidak saya tidak akan memaksa." Shun land memulai bicara.
"Silahkan paduka sampaikan pada saya semoga saya sanggup untuk menerimanya". Jawab Ki Saron.
__ADS_1
"Bila Ki Saron sanggup melakukan ikrar janji dan sumpah darah ke bumi untuk setia kepada saya dan seluruh rakyat kerajaan, saya mengajak Ki Saron untuk bergabung dengan kami, silahkan mempertimbangkan pertimbangan ini".
Shun land mempunyai pemikiran ingin perguruan gelap ngampar menjadi markas pasukan khusus senyap di daratan luas Dwipa di samarkan dengan perguruan gelap ngampar.
Kerena bagai mana pun pasukan khusus senyap ini sebagai kartu joker yang tersembunyi hingga musuh tidak bisa membaca kekuatan yang sebenarnya dari kekuatan pasukannya.
Ki Saron yang tidak mempunyai pilihan lain tidak ingin melepaskan kesempatan baik ini.
"Saya sanggup melakukannya." Ki Saron lalu mengucapkan ikrar janji dan sumpah setia tanpa ragu-ragu.
Ki Saron si pendekar gelap ngampar sebenarnya mempunyai sifat setia dan sangat welas asih tetapi sejak kedatangan Niraya Sura lambat laun sifatnya berubah karena godaan harta yang berlimpah yang di tawarkan oleh Niraya Sura.
Shun land walau pun telah melihat dan mendengar ikrar janji dan sumpah darah setia Ki Saron dia tidak langsung membuka kunci tenaga dalam Ki Saron, dia lebih hati-hati untuk masalah ini karena seluruh kehormatan dan keamanan kerajaan jadi taruhannya.
"Terima kasih paman Saron yang mau bergabung dengan kami, tapi saya belum bisa melepas kunci tenaga dalam paman, karena saya sudah sepenuhnya memberi wewenang paman Antaka dalam masalah ini." Shun land beralasan.
Shun land mengatur semuanya, Ki Aria natanagara di angkat menjadi ketua aliansi perguruan aliran putih.
Posisi Ki Saron tetap menjadi guru besar perguruan gelap ngampar tetapi di bawah komando Antaka sebagai pemimpin tertinggi pasukan khusus senyap.
Ki Bajul pakel menjadi wakil ketua pasukan khusus senyap sekaligus menjadi guru besar pasukan khusus senyap karena ilmu kanuragan Ki Bajul pakel lebih tinggi dari Antaka adik seperguruannya.
Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati sebagai wakil dari ketua aliansi perguruan aliran putih sekaligus penghubung antara perguruan dan kerajaan.
Setelah selesai mengatur semuanya dan tidak ada pembicaraan lagi tetapi sebelum bubar Ki Mahisa taka berkata.
"Paduka raja perguruan saya telah musnah bagai mana menurut paduka raja untuk kedepannya." Ki Mahisa taka meminta pendapat Shun land.
"Sepuh sebaiknya untuk sementara waktu sepuh dan murid sepuh bersama sepuh Aria natanagara membantu terbentuknya aliansi perguruan aliran putih setelah di adakan pertemuan kita akan menyerang ke daratan luas Swarnabumi sebagai markas Mara Deva."
Shun land memberikan jawaban, dan di iyakan oleh Ki Aria natanagara.
Akhirnya mereka membubarkan diri, Ki Aria natanagara bersama dengan Ki Mahisa taka kembali ke perkampungan Tarikolot di gunung Salak.
__ADS_1
Dewi bulan merah dan Ki Wirantaka kembali ke timur untuk menyampaikan kepada perguruan-perguruan untuk bergabung dengan aliansi di bagian timur dataran luas Dwipa.
Setelah semuanya bubar Shun land memberikan sebuah gulungan pada Antaka si pendekar syair kematian.
Setelah itu Shun land pergi ke hutan tempat persembunyian kakak seperguruannya Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati, yang di sana sudah ada sang Rajawali Api dan Naga bumi Sabui.
"Bagai mana Naga bumi Sabui apa kau sudah menemukan tempat peta pedang Naga bergola". Shun lan bertanya pada Naga bumi Sabui.
"Sudah tuan tapi kami tidak mengerti peta itu." Jawab sang Naga bumi Sabui.
"Bagai mana dia mengerti kerjanya tidur melulu sepanjang waktu." Sang Rajawali Api nyerobot bicara.
"Jangan menyalahkan orang lain, tapi ingat tugas mu bagai mana apa kau sebuah menemukan gunung yang ada api murninya." Shun land bertanya pada sang Rajawali Api.
"Jangan khawatir tugas itu sangat mudah lokasinya tidak jauh dari sini."
Jawab sang Rajawali Api, dia menjawab sambil berjalan mondar mandir dengan membusungkan dada.
"Sekarang kita ke peta pedang Naga bergola aku ingin segera mempelajari jurus tarian Rajawali Api untuk mengimbangi kekuatan Mara Deva dengan cepat, sepertinya pertempuran besar akan segera meledak". Shun land memberikan keputusan.
-----------------*****---------------
Sementara itu di perguruan Badak liar di labuhan ujung barat daratan luas Dwipa.
Kama Deva sedang duduk bersama Ki Arya Teja dan Ki Tapak sakti, Kayan dan Saprol tangan kanan Kama Deva juga ada di sana.
"Saprol kau pergi menemui Kakang Asvaghosa untuk mengarahkan seluruh kekuatan armadanya ke daratan luas Kalimantan ke pusat kerajaan Kutai khal kita ratakan seluruh istana kerajaannya dan kita bunuh seluruh keluarga bocah pemilik tubuh empat lintang kelima pancer, untuk menekan mentalnya." Kama Deva memerintahkan anak buahnya.
"Bagai mana Ki Tapak sakti Ciomas apa sudah di musnahkan". Tanya Kama Deva.
"Sudah Kama Deva tapi sayang guru besar Ki Mahisa taka tidak ada di tempat kami memusnahkan seluruh perguruan itu tanpa sisa". Jawab Ki Tapak sakti.
------------------*****------------------
__ADS_1