
Pangeran Shan Land menjalankan rencana menyingkirkan pangeran Sanjaya triloka di bantu pangeran khal Sugal dengan mulus.
Pangeran Sanjaya triloka dan istrinya mengetahui ada kejanggalan tetapi mereka tidak bisa melawan karena yang setia hanya tinggal beberapa orang saja.
Pangeran Sanjaya triloka pernah meminta pendapat pada pendekar tiga Dewi kematian yaitu Dewi Lerna akan tetapi Dewi Lerna tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan langkah gontai pangeran Sanjaya triloka pulang dengan tangan hampa, hanya istrinya yang selalu memberi nasehat agar jangan terpancing oleh politik pangeran Shan Land hingga Mereka berdua di anggap pemberontakan karena tidak mematuhi titah Raja walaupun hanya Raja perwakilan,
Akan tetapi Pangeran Shan Land secara sah jadi seorang karena di tunjuk langsung oleh Raja Shun Land.
Akhirnya pangeran Sanjaya triloka dan istrinya putri Sanja dengan berat hati berlayar ke daratan Sunda dwiva tepatnya ke ibukota Sunda pura di kerajaan Tarumanagara mematuhi perintah pangeran Shan Land untuk melaporkan kejadian di kerajaan Kutai Martadipura.
Satu kapal besar memasuki pelabuhan besar Sunda pura di muara sungai Citarum salah satu sungai purba buatan sang maha pencipta.
"Cepat sandarkan kapal yang dekat dengan pusat ibukota". Pangeran Sanjaya triloka biacara keras kepala sang kapten kapal dia sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan Sang Raja Shun Land dan adiknya sendiri putri Dian Prameswari dwibuana dan sahabat lainnya.
Sang istri putri Sanja sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang adik pangeran Dehen yang sudah resmi beristri pendekar Selendang merah Dewi Bulan merah atau Nyai Sri Tanjung dari perguruan Osing daratan timur Sunda dwiva.
Pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja di iringi beberapa pengikut setia melangkah menuju pusat kota yang di sana berdiri sebuah istana Sunda pura pusat pemerintahan kerajaan Tarumanegara.
Mata pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja sangat takjub dengan tatanan kota yang rapih mata mereka di manjakan bangunan yang indah berjejer di sisi kanan-kiri jalan.
Walaupun kota Martapura di kerajaan Kutai sangat indah, tetapi pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja di paksa alam pemikirannya untuk mengakui bahwa kota Sunda pura lebih indah dan lebih rapih.
Saking asiknya menikmati keindahan kota pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja tidak menyadari bahwa mereka sedang di perhatikan oleh dua pasang mata.
"Kakang kita buat kejutan di depan istana untuk tamu yang tidak di undang". salah satu pasang mata berkata.
"Baik adik kakang setuju, cepat kita jalan jangan sampai mereka mendahului", pasang mata lainnya yang memperlihatkan pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja menjawab dan bergegas pergi di ikuti temannya.
Baru saja pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja berserta para pengikut setianya sampai di gerbang istana Sunda pura, lima puluh prajurit dari sisi kiri kanan dan dari belakang 100 prajurit menghadang jika berbalik arah.
__ADS_1
Betapa kagetnya hati pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja beserta pengikutnya mendapatkan perlakuan dari pihak pasukan Sundapura, dalam hati mereka mengharapkan sambutan hangat penuh suka cita, tetapi kenyataannya mereka di sambut bagaikan seorang pembelot ataupun pemberontak kerajaan.
Hati pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja beserta pengikutnya merasa sedih dan mereka menduga-duga bahwa Raja Kutai pangeran Shan land telah memprovokasi atau memfitnah mereka hingga Raja Shun Land ingin menangkap mereka.
Sedang menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi terdengar suara keras memerintahkan untuk menyerah dan melucuti senjata mereka.
"Sebaiknya kalian menyerah dan meletakkan senjata kalian agar hukuman kalian lebih ringan". Suara panglima Tarpa menggelegar karena di lambari tenaga dalam.
Pangeran Sanjaya triloka hanya menarik nafas dalam-dalam dalam hatinya memutuskan untuk menyerah, pertimbangan pangeran Sanjaya triloka Raja Shun Land, sang adik putri Dian Prameswari Dwi buana dan sahabat lainnya akan membela atas fitnah yang di tuduhkan padanya.
Sambil melirik dan mengangguk-anggukkan kepalanya pangeran Sanjaya triloka memberi isyarat kepada istri dan pengikutnya untuk meletakkan senjata.
Pangeran Sanjaya triloka melempar senjatanya ke depan para prajurit di ikuti oleh putri Sanja dan pengikutnya.
"Tuan panglima saya harap senjata kami jangan di buang, sebelum terbukti kesalahan kami". Pangeran Sanjaya triloka bicara dengan tenang.
"Jangan khawatir tuan senjata kalian semuanya akan aman saya menjamin itu, para prajurit giring mereka masuk istana bila ada yang mencoba melawan eksekusi di tempat". Panglima Tarpa menjawab ucapan pangeran Sanjaya triloka dan memerintahkan para prajurit untuk menggiring mereka masuk ke istana.
Pintu terbuka sedikit demi sedikit, terbelalak mata pangeran Sanjaya triloka dan pengikutnya setelah pintu terbuka lebar terlihat dalam istana sangat megah dan indah.
Tapi istana Sunda pura kosong tidak seorang pun nampak istana bagaikan gedung tua.
Pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja beserta pengikutnya hanya menuruti perintah panglima Tarpa.
"Kalian duduklah..... Jangan banyak tingkah".
Panglima Tarpa bicara tanpa ada rasa simpati sama sekali.
Pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja dan pengikutnya duduk dengan rasa heran dalam hatinya 'apa gerangan yang terjadi di istana Sunda pura ini'.
Beberapa saat kemudian pintu samping terbuka pelan-pelan, terlihat para emban istana masuk berbaris sambil membawa makanan dan minuman.
__ADS_1
Beberapa prajurit datang menyiapkan meja besar di tengah istana dan beberapa kursi mereka bekerja sangat cepat dan gesit hingga dalam beberapa saat ruang tengah istana yang biasanya untuk sidang di sulap menjadi sebuah ruangan makan yang mewah.
Terdengar suara kepala pengawal istana tak lain mertua Boma.
"Hormat kepada paduka Raja segera memasuki istana".
Seluruh isi istana tak terkecuali pangeran Sanjaya triloka dan pengikutnya beserta istri segera berlutut hormat.
Masuklah seorang berpakaian Raja dengan jubah hijau daun berbadan besar tidak seperti pangeran Shun Land di iring dua pelayan istana wanita.
Jalan sang Raja sangat congkak tangan kirinya menggenggam paha ayam, dia tidak memandang sebelah mata pun pada pangeran Sanjaya triloka dan istri.
Belum sampai sang Raja sampai ke singgasana seorang anak laki-laki berlari dan berkata setelah sampai di depan sang Raja sambil bertolak pinggang.
"Ayah mana penghianat kerajaan yang akan di sidang, biar Wisanggeni yang menghukum".
"Hahahaha.... Baik jagoan, tapi biarkan ayah sidang dulu karena hukum harus di tegakkan seadil-adilnya". Sang raja menjawab sambil makan paha ayam dengan lahapnya.
Setelah dekat pangeran Sanjaya triloka terperangah karena yang menjadi raja adalah Boma dan secara spontan berkata.
"Boma apa yang terjadi...!!!"
Boma yang berpakaian seorang raja akan duduk di singgasana menoleh mimik wajahnya sangat marah lalu berkata dengan keras.
"Jaga bicaramu penghianat kerajaan panglima kasih tau agar berkata dengan sopan".
"Kau bicaralah dengan sopan". Sang panglima bicara pelan sambil mendekatkan wajahnya pada pangeran Sanjaya triloka.
------------&&&&------------
Maaf untuk sahabat NT baru bisa update lagi terkendala kesehatan dan kesibukan lainnya.
__ADS_1
Mudah-mudahan kedepannya bisa rutin lagi Aamiiin....