LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
327. Jaya Sempurna 60. bertemu dengan pangeran Sanjaya triloka.


__ADS_3

Lamsijam bangun dan memasang kuda-kuda dari sudutnya mengalir darah segar setelah dadanya terkena Jurus Cakar singa lodra.


"Hanya segitu kekuatan mantan wakil Raja tengkorak sungguh memalukan" pendekar Kilat Pati mencemooh Lamsijam. Sementara itu pertarungan sengit 4 lawan 2 antara Aji Wisesa dan Aji Wijaya melawan anak buah pendekar Kilat Pati.


Aji Wisesa melawan Anggada dan Sarpatinaka dan Aji Wijaya melawan Anta Kusuma dan Kinayung. Mereka saling serang dan saling bertahan, Awal pertarungan Aji Wisesa dan Aji Wijaya masih bisa mengimbangi walau pun di keroyok berdua.


Tetapi lama-kelamaan keduanya terlihat mulai terpojok kekuatan Anak buah pendekar Kilat Pati hanya terpaut sedikit dengan kekuatan Aji Wisesa dan Aji Wijaya, andaikan satu lawan satu mereka jelas di atas angin tetapi mereka mengahadapi keempatnya sekaligus.


"Kakang Anggada kita satukan kekuatan menyerang bersamaan ketika aku memberi tanda". Sarpatinaka berbisik Anggada mengangguk tanda mengerti.


Ketika Aji Wisesa sehabis membendung serangan Anggada dengan cakar Singa Lodra Aji Wisesa kuda-kudanya tidak stabil. Saat itu juga Sarpatinaka memberi isyarat.


Dua Cakar Singa Lodra melesat cepat ke arah Aji Wisesa bagian dada atas dan bagian perut.


Aji Wisesa yang tidak keadaan bersiap matanya terbelalak tidak ada kesempatan untuk menghindari dengan kekuatan yang tersisa Aji Wisesa membuat pertahan dengan tombak miliknya dan tameng tenaga dalam.


"Duuuaaaaarrr...... Bentrok tiga kekuatan tak seimbang terjadi akibatnya Aji Wisesa terpental jauh sampai 6 depa sedangkan Anggada dan Sarpatinaka terpundur hanya 2 langkah. Darah mengalir dari sudut bibir Aji Wisesa. Aji Wijaya mendengar ledakan benturan tenaga dalam melirik ke arah Aji Wisesa ini membuatnya kurang waspada kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Kinayung dan Anta Kusuma, dua buah cakar memdarat di dada kiri dan kanan membuat Tubuh Aji Wijaya melayang ke belakang dan jatuh tersungkur darah menyembur dari mulutnya pertanda luka dalam sukup parah.


Sementara itu Pendekar Kilat Pati melihat Lamsijam terpojok tanpa Ragu-ragu mengeluarkan Jurus Cakar singa lodra tingkat akhir untuk mengakhiri perlawanan Lamsijam.


Tubuh Pendekar Kilat Pati melayang sangat cepat dengan bobot tubuh di depan dan kedua tangannya membentuk Cakar di lihat sepintas seperti Singa menerkam mangsa.

__ADS_1


Lamsijam hanya bisa bertahan dengan sisa tenaga dalamnya membentuk tameng untuk membendung serangan Jurus Cakar singa lodra. Beberapa detik lagi Jurus Cakar singa lodra membentur Lamsijam Sebuah Cakar lebih cepat menghadang. Dentuman sedik keras terjadi.


"Duuuaaaaarrr.......". Aaaahggg....!!!.


Jeritan suara Pramuja alias pendekar Kilat Pati tubuhnya melayang dan Jatuh dan Ambruk bersimbah darah dari mulut yang berhamburan.


"Pramuja apa yang kau lakukan menyerang orang yang tidak bersalah, apa kau bosan hidup atau kau ingin mempermalukan ayah Birawa". Ternyata yang menghadang jurus Cakar singa lodra adalah Pangeran Sanjaya triloka dengan Jurus yang sama tetapi Pangeran Sanjaya yang memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi dan penguasaan Jurus yang lebih sempurna membuat Pendekar Kilat Pati tidak berdaya.


"Maaf Kakang Sanjaya ini terpaksa saya lakukan demi sesuatu hal". Pramuja menjawab sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya.


"Andaikan tuan Jaya tidak membiarkan kalian untuk hidup dalam satu tarikan nafas kalian berlima sudah menjadi mayat, cepat lah berterima kasih pada tuan Jaya nyawamu masih di tubuh mu, setelah itu jelaskan padaku jawaban mu salah dan tidak masuk akal, aku sendiri akan memotong lehermu tidak usah Ayah Leluhur Birawa yang mengadili. Tuan Jaya mohon berbelas kasih pada adik ipar saya ini dan 4 adik seperguruan lainnya". Pangeran Sanjaya triloka memohon pada Shun Land.


Ke empat Adik seperguruan pangeran Sanjaya triloka berdiri terpaku tidak menyangka akan bertemu kakak seperguruannya sekaligus anak dari gurunya sendiri leluhur Ki Birawa.


Pangeran Sanjaya triloka dadanya berdegup kencang mendengar jawaban Shun Land dengan nada bicara sangat serius dan mimik wajah yang terlihat tidak senang.


"Cepat bersiaplah sebelum menyesal" Shun Land menambahkan membuat pangeran Sanjaya triloka semakin panik. Tetapi pangeran Sanjaya triloka bukan pendekar yang mentalnya tipis dengan menarik nafas dalam-dalam dirinya harus berusaha untuk mencoba melawan walaupun kemungkinan menangnya 0 persen.


Pangeran Sanjaya triloka mencabut pedang singa lodra untuk di gabungkan dengan jurus Cakar singa lodra, serangan cakar tangan kosong di ganti dengan ujung pedang yang tajam.


"Aku memberikan kesempatan kau menyerang, karena bila aku yang menyerang kau tak akan mendapatkan kesempatan menyerang gunakan kesempatan ini dengan baik". Shun Land berkata dengan wajah yang serius.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada arena pertarungan tidak terkecuali putri Sanja istri dari pangeran Sanjaya triloka air matanya mengalir menghawatirkan suaminya dirinya hanya meminta keajaiban dan belas kasih Shun Land agar tidak membunuh suaminya.


Pangeran Sanjaya triloka menyerang Shun Land tanpa ragu-ragu dengan segenap kekuatannya. Pedang menari dengan sangat cepat menusuk, menyabet, dan memotong tapi semuanya menghantam tempat kosong Shun Land menghindari dengan mudah.


Pangeran Sanjaya triloka tidak putus asa terus meningkat serangannya sampai jurus pamungkas Cakar singa menyapu alam tetapi tetap saja tidak bisa menyentuh tubuh Shun Land.


Di satu kesempatan Shun Land memasukan jurus Tapak harimau kumbang tingkat pertama dengan kekuatan yang setara dengan kekuatan pangeran Sanjaya triloka pada dada pangeran Sanjaya triloka.


Pangeran Sanjaya triloka terpundur kebelakang beberapa langkah Akhirnya Pangeran Sanjaya triloka memasukan pedangnya dan memutuskan untuk mengunakan Jurus lebih tinggi yaitu Jurus Panca Braja.


Pangeran Sanjaya triloka membuat kuda-kuda kokoh dan dengan segenap kekuatannya mengunakan jurus panca braja dari tingkat satu sampai tingkat keempat tetapi semua serangannya tidak membuahkan hasil, Shun Land menghindari dengan mudah.


"Aku harus menggunakannya jurus pamungkas panca braja dengan kekuatan ku yang sekarang tidak ada masalah dengan tubuh ku". Pangeran Sanjaya triloka bergumam dalam hati.


Dengan sekali hentakan pangeran Sanjaya melesat ke udara lalu menukik ke arah Shun Land dua telapak tangan memerah berada di depan. Shun Land tidak menghindar hanya diam saja menunggu serangan itu datang.


Semua mata tidak berkedip apalagi putri Sanja dirinya menahan nafas melihat suaminya bertarung dalam hatinya tidak putus-putusnya berdoa untuk keselamatan sang suami.


Begitu serangan pangeran Sanjaya triloka sampai di depan wajahnya Shun Land dengan cepat mengangkat tangan kanannya menahan serangan itu dengan sebelah tangan terjadilah benturan kekuatan besar membuahkan suara yang keras.


"Duuuuummmm......

__ADS_1


Bersamaan suara berdentum debu dan kerikil kecil berterbangan hingga menutup pandangan mata kedua petarung. Tidak ada suara semuanya menatap ke arah arena pertarungan, debu dan kerikil kecil mulai menghilang terlihat pangeran Sanjaya triloka duduk berlutut dengan darah mengalir dari sudut bibirnya sedangkan Shun Land berdiri tersenyum puas.


*******************


__ADS_2