
Shun Land akhirnya berpamitan pada Raja wilayah Majakarta Wisnu Wardana dan Kepala Bangsawan Osing Lembu Marunda, Bersama Pangeran Makkamaru Shun Land berangkat menunggang Sang Legenda Rajawali Api menuju pulau Garam atau Madura(jaman dahulu bernama Pulau Madu Ara).
Sedangkan Pangeran Sanjaya triloka berdiam di sana untuk membantu pembangunan benteng pertahanan dan pengungsian ruang bawah tanah di Pelabuhan Hujung Galuh dan pelabuhan Labuhan, selain itu pangeran Sanjaya triloka juga akan mengontrol pembangunan benteng pertahanan dan pengungsian ruang bawah tanah di pelabuhan Tuban.
Kepergian Shun Land di iringi lambaian penduduk yang sangat berterima kasih karena pendekar Legenda Rajawali Api mereka terbebas dari tekanan dan tindasan kekuasaan Mara Deva yang di wakili oleh Niraya Sura pada waktu itu.
Pangeran Makkamaru merasa rendah di hadapan Shun Land, kebesaran dan kemuliaan Shun Land begitu tinggi tetapi sikap dan tindak tanduknya tidak menunjukkan sikap seorang yang tinggi ilmu dan besar derajat, malah bila di lihat dan di teliti dari dekat seperti manusia bisa malah cenderung seperti orang sangat lemah.
______________
Di tepi hutan belantara sebuah gubuk berdiri, gubuk itu sangat sederhana dinding dan atapnya terbuat dari daun-daunan di dalamnya hanya ada satu dipan sedikit besar muat untuk tidur bertiga.
Gubuk itu lebih dekat ke pantai dari pada ke dalam hutan Sore itu Seorang gadis cantik berusia 20 tahunan dan seorang pemuda berusia 18 tahunan berjalan menuju pantai di pinggangnya terikat Kisa(tempat ikan terbuat dari anyaman bambu).
Mereka berdua hendak berburu ikan di laut di tangan mereka berdua sebuah tombak terbuat dari dahan pohon yang ujungnya diruncingkan. Dari pakaian mereka yang di kenakan terlihat bukan dari kalangan penduduk biasa.
Di depan gubuk duduk sepasang suami istri dari usia mereka jelas terlihat bahwa keduanya adalah ibu dan bapak kedua pasangan pemuda dan pemudi yang berburu ikan.
"Maafkan Kakang nyai Ilempe karena kakang yang terlalu kukuh mempertahankan pendirian akan arti kebenaran sebagai pejabat tinggi kerajaan, mengakibatkan Nyai dan anak-anak menjadi menderita seperti ini, andaikan kakang mengikuti arus mungkin kejadiannya tidak seperti ini, tetapi itu sangat menyiksa batin kakang karena bertentangan dengan hati nurani kakang". Laki-laki itu berkata menyebut wanita di sampingnya dengan nama Nyai Ilempe.
__ADS_1
"Tidak kakang nyai malah bangga terhadap kakang yang telah memberikan pendidikan pada putra dan putri yang nyata, kakang telah memberikan contoh yang sangat berguna bagi putra putri kita bahwa hidup yang kita jalani harus di atas kebenaran aturan Sang Maha Pencipta apapun resikonya walaupun harus nyawa taruhannya, terima kasih kakang telah menjadi pemimpin yang baik untuk diri ku dan anak-anak". Nyai Ilempe menyandarkan kepalanya di bahu kanan Bangsawan Labusa.
Mereka adalah kedua orang tua pangeran Makkamaru dan yang berburu ikan adalah kedua adiknya Putri Ambon dale dan pangeran Isogi, mereka adalah Bangsawan Andi Bugis dari daratan luas Sula.
Mereka menghindari kejaran kekejaman pangeran Shan land Atau pangeran Jaya Lelana, tujuan dari Kepala Bangsawan Andi Bugis adalah pulau Balidwipa.
(Sedikit catatan tentang pulau Bali:
Nama Bali Dwipa ("pulau Bali") telah ditemukan dari berbagai prasasti, termasuk pilar prasasti Blanjong yang ditulis oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 914 Masehi yang menyebutkan "Walidwipa".
Bali telah dihuni oleh bangsa Austronesia sekitar tahun 2000 sebelum Masehi yang bermigrasi dan berasal dari Taiwan melalui Maritime Asia Tenggara. Budaya dan bahasa dari Orang Bali demikian erat kaitannya dengan orang-orang dari kepulauan Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Oseania. Alat-alat batu yang berasal dari saat itu telah ditemukan di dekat desa Cekik di sebelah barat pulau Bali.
Tetapi perjalanan tuan Labusa harus berakhir di pulau Maduara karena kapal mereka terdampar karena ombak besar, selain itu kapal Tuan Labusa menggunakan kapal yang tidak layak berlayar, tetapi karena tuan Labusa sendiri mengalir darah seorang pelau ulung yang di turunkan dari Leluhurnya hingga akhirnya bisa sampai sejauh ini dengan kapal yang sangat sederhana.
Pada saat yang sama Sang Legenda Rajawali Api sedang terbang rendah dari arah barat tapi sayang sang Legenda Rajawali Api mengambil daerah selatan hingga tidak menemukan keberadaan tuan Labusa dan keluarganya.
"Sang Garuda Kita telusuri wilayah pantai Utara Pulau Maduara ini". Shun Land memerintahkan Sang Legenda Rajawali untuk berbalik arah karena sudah sampai di ujung timur Pulau Maduara.
"Baik Raja Mata jereng awas kau bila bertemu adik Pangeran Makkamaru jangan tebar pesona atau aku akan laporkan pada Nyai Ratu Galuh Sindula, Api mu tidak akan berdaya melawannya, walau pun dia tidak bisa menyerang tapi sampai habis tenaga dalam mu kau tidak bisa melukainya, ku tahu kelemahan mu sekarang Hahahaha". Jawab Sang Legenda Rajawali Api di akhiri dengan tertawa.
__ADS_1
Sang Legenda Rajawali Api mengetahui ini ketika Shun Land mati suri di istana Rijang Renah Selawi kala itu tubuh Shun Land di jaga oleh Api Abdi tetapi Api abadi tidak bisa melukai Nyai Ratu Galuh Sindula.
Sang Legenda Rajawali Api berbelok arah terbang menyusuri pantai Utara Pulau Maduara dan akhirnya melintas di atas gubuk Tuan Labusa. Tetapi gubug itu tidak terlihat dari timbulnya pepohonan.
Ketika itu Putri Ambo Dale dan pangeran Isogi pulang dari berburu ikan di pantai dengan hasil yang lumayan. "Kakak lihat di atas ada seekor burung besar". Pangeran Isogi berteriak.
Putri Ambo Dale langsung mendongak terlihat jelas dari celah rerimbunan pohon bayangan Sang Legenda Rajawali Api oleh mata putri Ambo Dale.
"Itu tunggangan Raja Shun Land". Putri Ambo Dale berkata sambil cepat menaruh tombak dan Kisa tempat ikan lalu berlari mengejar Burung tersebut sambil berteriak berharap sang Legenda Rajawali Api sedang di tungguin Raja Shun Land.
"Paduka Raja Shun Lannnnnd.....!!!".
Putri Ambo Dale berteriak mengunakan tenaga dalamnya sambil berlari mengejar sang Legenda Rajawali Api, tetapi sayang Shun Land dan pangeran Makkamaru serta Sang Legenda Rajawali tidak mendengar teriakan Putri Ambo Dale.
Di atas punggung sang Legenda Rajawali Api hati pangeran Makkamaru tiba-tiba merasa gelisah tidak tahu apa sebabnya mungkin ini adalah insting seorang anak terhadap ibu Bapaknya dan seorang kakak terhadap adik-adiknya.
"Paduka saya ingin turun di sini entah kenapa hati saya berdebar tanpa sebab". Pangeran Makkamaru berkata pada Shun Land. Sang Legenda Rajawali Api yang ikut mendengar ucapan pangeran Makkamaru tanpa di perintah oleh Shun Land langsung menukik turun dan hinggap di pantai.
_______*****_______
__ADS_1