LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
374. Jaya Sempurna 107. Perjalan Indah bersama istri.


__ADS_3

Permaisuri Sari Tungga Dewi merasa kaget tiba-tiba Shun Land duduk dan bengong lalu berkata sambil memeluk dari belakang sedangkan Permaisuri Dewi Sumayi terlelap tidur di sebelahnya.


"Ada apa Adik Jaya apa ada yang mengganggu pemikiran adik". Shun Land yang selalu di panggil adik kadang kala mereka kikuk lalu menjawab "kakak Sari aku ini sudah menjadi suami kakak dan menjadi raja juga, kakak masih saja panggil aku Adik".


"Adik jadi raja kalau di istana dan di depan rakyat tetapi bila berdua tetap saja adik ini adik tersayang kakak yang ingin selalu kakak peluk dan kakak manja". Permaisuri Sari Tungga Dewi menjawab sambil memeluk lebih erat dari belakang.


Shun Land melepaskan pelukan Permaisuri Sari Tungga Dewi lalu berbalik mendekatkan wajahnya ke dada permaisuri Sari tungga dewi. "Tuh apa yang kakak bilang sudah gede juga masih suka nen....... sudah malu nanti adik Dewi iri dan ingin di perlakukan yang sama dasar nakal".


Dalam ucapan seperti menolak tetapi dalam tindakan Permaisuri Sari Tungga Dewi malah mengangkat wajah sang suami tercinta lalu tanpa ragu-ragu mengecup bibir Shun Land dengan lembut.


Mereka berdua saling bermesraan dan berbagi kasih yang sekian lama tidak pernah mereka lakukan walaupun hanya sebatas cumbuan.


---------------&&&&&&--------------


Dalam hubungan mereka bertiga lebih mirip hubungan kekeluargaan yang erat dari pada hubungan seorang kekasih kepada kekasihnya, mereka bertiga adalah sepupu yang paling tua permaisuri Sari Tungga Dewi Shun Land lalu permaisuri Dewi Sumay yang paling muda.


"Adik masih bingung untuk menentukan hukum pada Nyai Ratu Galuh Sindula tolong pendapat kakak Sari Tungga Dewi agar menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga untuk kedepannya". Shun Land meminta pendapat pada permaisurinya.


"Menurut kakak Hukum yang tepat adalah buat dia selalu patuh pada kakak nanti kakak dan permaisuri May Lien yang mengajari tata tertib dan politik kerajaan, adik permaisuri May Lien yang mengajari tingkah laku dan peraturan tatak rama istana dan kakak sendiri yang mengajari politik dan bersikap kepada para bangsawan dan pejabat tinggi kerajaan, agar tidak terpengaruh oleh ucapan pujian yang bertujuan ingin mencari keuntungan dalam istana". Permaisuri Sari tungga dewi memberikan saran.

__ADS_1


"Baik lah kakak Sari nanti adik akan bersandiwara seakan marah besar dan tidak mau perduli, di sana kakak pura-pura membela sedangkan yang doyan tidur seperti menjadi penengah, Ayo jangan pura pura tidur". Shun Land mendekatkan wajahnya pada Permaisuri Dewi Sumayi tangannya merangkul pendudukannya.


"Kakang jahat sekali Dewi mau duduk tapi pangku" permaisuri Dewi Sumayi mau tidur lagi tetapi di bopong oleh Shun Land dan di dudukan di pangkuannya. Permaisuri Sari Tungga Dewi menjenggut kepala permaisuri Dewi Sumayi dengan pelan.


"Manjanya kaya Pertiwi anaknya kak Boma minta di pangku". Mendengar ini permaisuri Dewi Sumayi malah menjulurkan lidahnya pada kakak sepupunya.


"Andai kan kita berperang melawan kakak Shan land kalian berdua harus menekankan pada hati kalian bahwa peperangan ini landasannya bukan kekuasaan atau pun martabat tetapi landasan peperangan ini karena membela kebenaran dan melawan Angkara murka,.....


,....Aku mendengar kakang Shan land memerintah kerajaan seperti robot tidak mempunyai rasa dan perasaan rakyat, mengambil pajak sewenang-wenang dan yang mencoba memperingati atau menasehati malah di kucilkan dan akhirnya di buang". Shun Land menceritakan apa yang di dengar dari telik sandi.


"Adik Jaya aku sudah mengirim surat ke ayah dan bunda untuk berlayar ke sini bersama tiga Dewi Kematian Dewi lerna semoga adik Jaya Sempurna tidak keberatan, itupun atas permintaan ibunda yang ingin segera bertemu dengan Adiknya Nyai Ratu Prameswari Dwibuana di istana Kebangsawanan Wajak". Permaisuri Sari Tungga Dewi memberitahukan tentang rencananya.


25 tahun yang lalu keturunan trah Raja Agung Sundalan Jatiraga ada yang berani muncul mereka hidup dalam persembunyian karena kalau ada yang muncul akan di habisi oleh Mara Deva dan anak buahnya kejadian seperti ini berlangsung selama ribuan tahun.


Setelah Shun Land mampu bertarung melawan Mara Deva dan di arena pertarungan Shun Land menang walau pun tidak bisa membunuh Mara Deva dan Pancasiksa tetapi dominasi Mara Deva runtuh di daratan luas Sundaland ini.


Barulah setelah itu banyak pendekar dari keturunan Raja Agung Sundaland Jatiraga keluar dari persembunyiannya seperti Bangsawan Wajak, perguruan Osing Banyuwangi, perguruan Langit dan lainya.


Sejak saat itu juga berjamur perguruan kecil yang baru atau pun yang lama muncul kembali seperti perguruan Cimande perguruan Ciomas perguruan Cimaya perguruan Pagaruyung dan perguruan lainnya di daratan pokok Sunda Dwiva.

__ADS_1


Shun Land memerintahkan kepada kusir untuk istirahat di wilayah Kali Sewo daerah Pusakanagara Subang.


Sang kusir berjalan pelan-pelan mencari halaman luas untuk beristirahat setelah menemukannya berkata. "paduka raja apa di sini cocok untuk berhenti".


Shun Land menyingkapkan tirai jendela memeriksa tempat itu lalu menjawab. "Iya paman di sini cukup luas dan bersih". Kereta berjalan kepinggir jalan di ikuti kereta kecil pembawa kotak-kotak koin emas.


Paman kusir mencari dedaunan yang lebar untuk alas duduk Shun Land dan kedua permaisurinya, Shun Land keluar beserta kedua permaisurinya dan duduk di tempat yang telah beralaskan dedaunan.


Permaisuri Dewi Sumayi mengambil perbekalan dan membagikan kepada kedua kusir, Mereka pun makan dengan lahapnya. Makan pun selesai permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi Sumayi membereskan bekas makan.


Dari atas suara dedaunan dan ranting patah bergemuruh seekor binatang purba turun dan hinggap di hadapan Shun Land dan rombongan, dari punggung Sang Legenda Rajawali Api turun ketiga orang, pertama Nyai Gora Sindula yang duduk di belakang lalu permaisuri May Lien dan Dewi Pakuan.


Dewi Pakuan berjalan mendekati Shun Land sambil menunduk di sampingnya permaisuri May Lien. Setelah dekat Dewi Pakuan langsung berlutut dan berkata dengan wajah tunduk.


"Salam dan sembah bakti pada paduka raja, paduka yang bodoh ini telah berbuat salah telah melanggar tatakrama dan adat istiadat mohon ampunan dari paduka, andaikan harus mendapatkan hukuman apapun akan saya terima walau nyawa saya taruhannya". Dewi Pakuan berkata dengan wajah dan suara penuh penyesalan. Di timpali oleh permaisuri May Lien.


"Paduka kesalahan ini bersumber dari saya yang tidak bisa mencegahnya, hukum pula saya bila Nyai Ratu Galuh Sindula di hukum". Permaisuri melakukan pembelaan.


***********************

__ADS_1


__ADS_2