LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
416. Sang Garuda 17. Harapan Sang Legenda Rajawali Api.


__ADS_3

Mereka semua masuk ke ruangan utama, mereka berhadapan, Shun Land duduk di apit pangeran Sanjaya triloka dan pangeran Makkamaru, dan Ki Lembu Marunda dengan anaknya Bima Koncar duduk berdampingan, sedangkan Menak Pentor menuju dapur utama memerintahkan Pelayanan untuk menyiapkan jamuan. Tidak lama duduk di samping Kakaknya Bima Koncar.


"Terima kasih sang prabu Jaya Sempurna Sudi kiranya mampir di tempat yang kurang layak di duduki oleh seorang Raja pilihan Sang Maha Pencipta alam semesta ini". Ki Lembu Marunda memulai pembicaraan. Di teruskan oleh Boma Koncar.


"Sang prabu sebenarnya kami semua merasa kaget, ada keperluan paduka singgah ke perguruan Osing ini". Bima Koncar bertanya dengan wajah serius. Ada rasa ketakutan di hatinya karena tidak bisa melakukan tugas memimpin pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh sungai Brantas.


Ki Lembu Marunda dan kedua anaknya mengalah memberikan kepemimpinan membangun benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh sungai Brantas kepada ketua wilayah majakarta(sekarang Mojokerto) untuk menghindari bentrokan dengan saudara sendiri.


"Tenang paman Lembu Marunda kakang Boma Koncar kakang Menak Pentor, saya ke sini hanya berkunjung untuk berterima kasih karena dulu pendekar Bulan merah Nyai Sri Tanjung telah membantu saya menemukan musuh utama saya dan musuh bangsa ini yaitu Niraya Sura Bawahan Mara Deva,...." Shun Land berhenti bicara karena tiga Pelayan menyodorkan jamuan untuk mereka bertiga dan kepala perguruan Osing dan kedua anaknya.


Lalu Shun Land melanjutkan bicaranya setelah ketiga pelayan pergi. "Saya juga tidak menyalahkan paman Lembu Marunda karena tidak bisa memenuhi tugas untuk memimpin pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh, tetapi saya ingin mengetahui bagai mana ini terjadi, karena kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana yang ingin memimpin pembangunan ini tidak pernah meminta atau menyatakan bergabung dengan Galuh Sindula,....


"Itulah yang saya ketahui dari pangeran Sanjaya triloka yang saya tunjuk sebagai kepala seluruh pembangunan benteng dan tempat pengungsian bawah tanah di setiap lingkungan yang banyak berpenduduk".


Wajah Ki Lembu Marunda hilang ketegangan kerena Shun Land tidak menyalahkan dirinya atas pengambilan kepemimpinan pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh, dengan hati-hati Ki Lembu Marunda menjelaskan.


"Begini sang prabu Jaya Sempurna, ketika saya kesana meninjau pelabuhan itu, kepala Wilayah Majakarta Wisnu Wardana datang memberikan keterangan bahwa dia ingin pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh di pindahkan ke pelabuhan baru yang di beri nama pelabuhan Canggu, saya telah menjelaskan bahwa ini adalah perintah Sang Prabu tetapi Kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana ngotot meminta mengambil alih pembangunan benteng pertahanan dan seluruh dananya dan dia memindahkan lokasi pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Canggu, saya tidak ingin bertikai hingga menyerahkan pada Wisnu Wardana, begitulah Kejadiannya sang prabu Jaya Sempurna".

__ADS_1


Ki Lembu Marunda mengakhiri ceritanya, Shun Land terdiam mencoba memahami persoalannya akhirnya Shun Land memutuskan sesuatu lalu bicara.


"Paman jadi di pelabuhan Hujung Galuh tidak di bangun benteng pertahanan dan pengungsian ruang bawah tanah". Shun Land bertanya untuk memastikan keputusannya.


"Benar Sang Prabu karena saya tidak mempunyai uang untuk membangunnya". Kepala perguruan Osing Ki Lembu Marunda menjawab singkat.


Shun Land lalu berkata. "Sekarang paman Lembu Marunda Memulai pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh masalah dana pangeran Sanjaya triloka akan segera ke istana Rijang Renah Selawi untuk mengambilnya, sementara kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana nanti saya akan menanyakannya apa maksud semua ini, bila kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana ingin mendirikan kekuasaannya saya tidak akan segan-segan akan menghadapinya".


Shun Land mengambil keputusan lalu melanjutkan bicaranya pada pangeran Sanjaya triloka. "Pangeran Sanjaya sekarang pergi ke istana Rijang Renah Selawi untuk mengambil kotak kotak keping koin emas ke Ratu Serindang Bulan secukupnya Bawa lencana ku ini, Naiklah Sang Garuda agar cepat perjalanannya".


Pangeran Sanjaya triloka langsung pergi tanpa banyak bicara. Sesampainya di halaman terlihat sang Legenda Rajawali Api sedang di kelilingi para murid-murid perguruan Osing dan para penduduk setempat.


Sang Legenda Rajawali Api di lihat orang banyak bergaya melebarkan sayapnya dan menaikan dadanya dengan bangga ketika sedang enak bergaya di ruang batin sang legenda terdengar suara Shun Land.


"Sudah jangan banyak gaya di depan banyak orang burung emprit yaaa tetap saja burung emprit doyan pamer kaya dulu Naga Bergola pada jamannya, sekarang antarkan pangeran Sanjaya triloka ke istana Rijang Renah Selawi menemui istri ku jangan protes kalau proses kau ku suruh menemani permaisuri Dewi Sumayi atau Ratu Galuh Sindula Api mu tidak akan berarti baginya, mau biar bulu mu di cabuti olehnya".


"Kau tak boleh aku senang sedikit sedikit-sedikit mengancam seperti aku ini bukan sahabat ku saja" Sang Legenda Rajawali Api merajuk.

__ADS_1


"Sudah jangan merajuk nanti ku akan bawa kau ke leluhur Sanghyang Tunggal yang menyelamatkan mu dari para manusia serakah dan ambisius menunggangi mu". Shun Land menjawab dengan nada menyakinkan.


"Siap Boss saya laksanakan" mendengar Shun Land menjanjikan pertemuan dengan orang yang sangat di kenang, di kaguminya, dan di paling berjasa pada hidupnya hatinya sangat gembira.


Pangeran Sanjaya triloka meloncat ke punggung sang Legenda Rajawali Api dengan gagahnya sang Legenda Rajawali Api melesat ke angkasa meliuk-liuk menghindari pepohonan yang menjulang tinggi, setelah tinggi meluncur cepat.


"Sahabat Garuda antarkan aku ke istana Rijang Renah Selawi untuk menemui Ratu Serindang Bulan tugas dari Sang prabu Jaya Sempurna tuan mu" pangeran Sanjaya triloka berkata sambil mendekatkan Wajahnya ke leher sang Legenda Rajawali Api. Sang Legenda Rajawali Api hanya mengangguk tanda mengerti.


Di halaman depan perguruan Osing para penduduk kembali ke kediaman masing-masing setelah melihat sang Legenda Rajawali Api pergi bersama pangeran Sanjaya triloka. Banyak di antara penduduk yang datang terlambat, mereka merasa sangat menyesal tidak datang lebih awal.


Sementara itu Shun Land dan Ki Lembu Marunda mengobrol lepas setelah pembicaraan penting selesai. Shun Land bertanya tentang pulau garam Madura.


Ki Lembu Marunda menjelaskan bahwa pulau tersebut belum berpenghuni. Shun Land merasa keputusan Bangsawan Andi pergi kesana karena mungkin kapal yang berangkat ke daratan luas Sunda Dwiva sangat di jaga ketat oleh pihak kerajaan.


Pada waktu itu pangeran Makkamaru hanya diam saja pikirannya sangat tidak tenang memikirkan keluarga besarnya.


Ke khawatiran pangeran Makkamaru sangat berdasar karena mengetahui kekejaman pangeran Jaya Lelana atau pangeran Shan land sangat di luar perikemanusiaan, yang di anggap mengganggu jalannya pemerintahan langsung di eksekusi dengan pasukan bayangan hingga tidak terlihat kekejamannya di muka publik.

__ADS_1


_______*****______


__ADS_2