
Antaka tak menunggu jawaban langsung berlalu.
"Kakang apa perlu kita memberi tahu guru kita, bahwa kakang tapak Geni telah melanggar aturan padepokan" pendekar tapak Bayu meminta pendapat kepada kakak seperguruannya
"Aku sendiri bingung adik, kita tau biaya padepokan kita dari hasil bayaran hasil Jasa penyewaan pembunuhan"
Pendekar tapak besi menjawab penuh kebingungan, apa yang harus Dia lakukan.
"Tapi kakang dalam peraturan kita tidak boleh membunuh anggota kerajaan, tadinya juga kita merasa bahwa peraturan guru tidak beralasan, tetapi setelah mengetahui kejadian ini, aku baru paham bahwa peraturan yang guru keluarkan sangat besar dampaknya"
"Benar juga perkataan adik, ini terbukti setelah kakang tapak Geni, membunuh ibu angkat putra mahkota pangeran Shun Land, banyak kejadian yang tidak wajar...
"Pertama terbunuhnya para jagoan pasar, kedua terbunuhnya pendekar Antang, secara misterius, kau tau dia yang menghubungi kita dan kakang tapak Geni.
Dia juga yang memberikan target pembunuhan tersebut dengan imbalan yang sukar di tolak"
Pendekar tapak besi, tertegun sejenak dan menyadari sesuatu
"Adik jangan-jangan kita juga sudah jadi target salah satu pihak yang bertikai, atau mungkin juga ke dua pihak raksasa ini, sudah menargetkan kita, yang satu ingin menghilangkan jejak, yang satunya lagi membalas dendam, Adik kita harus segera keluar dari kota ini secepatnya mungkin"
Pendekar tapak besi, setelah menganalisa badannya gemetar, tidak ada yang lain di pikiran nya, selain menghindari masalah ini,
Orang lain yang membuat masalah, orang lain juga yang menikmati hasilnya, kenapa dia harus ikut menanggung akibatnya.
Ketika sedang serius membicarakan kakak seperguruannya yang telah melanggar aturan gurunya, yang melarang menerima target dari pihak para keluarga besar istana, keduanya di kagetkan oleh kedatangan kedua sosok tinggi besar dan seorang lagi sedikit pendek dan gemuk.
"Analisa mu benar, kau sudah menjadi target kami, bila kalian tak mengatakan di mana persembunyiannya tapak geni berada, kalian berdua akan menemui sang raja kematian, jawab lah dengan jelas dan cepat, kami berdua bukan orang yang yang sabar menunggu" murka dewa mengancam.
Mereka berdua, murka dewa dan asur Pati, mengeluarkan aura hitam pekat, membuat udara di sekitar seakan hampa oksigen.
Dua pendekar tapak dari perguruan tapak maut, sukar bernapas, merekapun mengeluarkan aura tapak mautnya mengurangi efek atau lawan.
Melihat tingkah tenaga dalam lawan, berada lebih tinggi darinya, kedua pendekar tapak besi dan tapak Bayu, menyodorkan ungkapan merendah dan tawaran kerjasama.
"Tuan pendekar kami memang satu perguruan, tapi kami mempunyai mempunyai jalan sendiri, kami tidak tau keberadaan, saudara tertua kami, kami pun berusaha mencarinya, karena tindakan menerima target keluarga istana sangat mengancam keberadaan perguruan kami, bagai mana kalau kita bersama-sama mencarinya"
Pendekar tapak besi bicara seolah-olah, mendukung pendekar Murka dewa dan Asur Pati.
__ADS_1
"Hahahaha tapak besi kau anggap aku ini, anak yang baru belajar berjalan, cepat katakan keberadaan tapak Geni, atau aku harus musnahkan perguruan tapak maut"
Usai berkata, murka dewa melayangkan tendangan kaki bayangan, berkecepatan tinggi.
Pendekar tapak besi yang sudah bersiap, tapi tetap saja tidak bisa menghindar, hanya satu-satunya jalan, agar nyawanya selamat, menahan tendangan kaki bayangan, dengan jurus tapak besi nya.
Bentrokan dua kekuatan tak seimbang terjadi. Ledakan kecil terdengar menghempaskan tubuh pendekar tapak besi.
Darah menyembur dari mulutnya, luka dalam tidak ringan mendera pendekar tapak besi, tubuhnya tidak bisa bangun lagi.
"Tunggu dulu pendekar aku, akan mengatakannya, tapi tolong jangan bunuh kami berdua"
"Banyak bicara" murka dewa hendak melayangkan tendangan kaki bayangan.
Suara angin menderu kencang bersamaan dengan bait bait syair menggetarkan jiwa.
"Gaung mu bagaikan malaikat kematian
Tapi Nyali mu bagaikan malam kesiangan
"Teriakan mu seolah badai angin besar
"Ku pastikan teriakan mu jadi tangisan
Karena aku adalah badai angin yang sebenarnya.
Murka dewa dan Asur Pati, mentalnya jatuh nyalinya hilang keringat dingin bercucuran, mereka berdua kalah sebelum bertanding.
Dari sini jelas berbeda, hasil didikan kebenaran, dan hasil didikan iblis berjasad manusia.
Sepuluh pasukan khusus senyap berdatangan dari atas, bagai terjatuh dari langit.
"Kalian ringkus dua pendekar tapak maut, biarkan kedua cucunguk ini bagianku"
Selesai berkata
Tubuh ketua pasukan khusus senyap antaka, tubuhnya di selimuti badai angin, dan menerjang pendekar murka dewa dan asur Pati.
__ADS_1
Setelah badai angin berlalu debu-debu pun kembali ke tanah terlihat dua tubuh tergeletak tak bernyawa.
Jasad itu matanya melotot dari seluruh lubang yang ada di tubuhnya mengalir darah segar tanpa henti, salah satu dari jasad itu tubuhnya masih kejang-kejang bagai seekor ayam yang disembelih.
"Gantung kepala kedua pendekar, murka dewa dan Asur pati di gapura masuk kediaman juragan pasar tuan Upiak arai, dan
Bawa kedua pendekar tapak maut ke markas, bunuh yang melawan" Antara pendekar syair kematian memberi perintah kepada sepuluh anak buahnya.
Pendekar tapak besi yang sudah terluka parah tidak melawan, dan adik seperguruannya pendekar tapak Bayu pun menyerah, atas perintah pendekar tapak besi.
-----------------++-------------
Keesokan harinya di kediaman juragan pasar tuan Upiak arai, heboh pelayan wanita yang baru saja datang sehabis pulang kampung, berteriak histeris, sambil berlari masuk.
Kedua pengawal penjaga gapura pintu masuk, keduanya dalam keadaan pingsan.
Tuan Upiak arai bertanya kepada pelayan yang berteriak.
"Ada apa pagi-pagi baru datang sudah bikin kegaduhan" tuan Upiak arai, bertanya dengan marah.
"Tuan di pintu gapura ada dua kepala tanpa badan di gantung" jawab pelayan itu dengan gemetar ketakutan, dan menunjuk ke arah gapura depan.
Tuan Upiak arai langsung menuju gapura depan.
Mata tuan Upiak arai seakan keluar dari tempatnya, melihat kepala tanpa tubuh, tergantung di tengah-tengah gapura pintu masuk kediamannya.
Kedua kepala itu sangat familiar sekali, wajah murka dewa dan asur pati, melotot dan darah pun belum kering dari lehernya.
Tuan Upiak arai memanggil pengawal lainnya untuk menurunkan dua kepala itu, dan menyadarkan dua pengawal yang tadi malam berjaga.
Setelah mengatur itu semua, Tuan Upiak arai masuk ke dalam untuk menemui tetua Niraya sura.
Tetua Niraya Sura wajahnya merah padam setelah mendengar laporan dari tuan Upiak arai, yang menyebutkan bahwa Murka dewa dan Asur Pati dibunuh secara sadis dan kepalanya digantung di depan gapura pintu masuk.
Kemarahan tetua Niraya sura semakin meledak, ketika melihat dua kepala bawahannya yang paling setia dan sudah lama mengabdi pada dirinya.
"Upiak arai kejadian ini semua karena tindakan bodoh anakmu, sebagai hukuman di manapun dia berada jangan sekali-kali lagi di ikut sertakan dalam jajaran kelompok kita" tetua Niraya Sura berhenti sejenak, meneruskan bicaranya
__ADS_1
"Kuburkan kedua kepala ini, Upiak arai berkemas lah bawa saja barang-barang yang penting saja, kita mundur dulu, malam nanti kita berlayar ke daratan luas Swarna bumi kita akan mengatur ulang rencana penaklukan Kerajaan Kutai khal ini"
...****************...