LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
96. Memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh 11


__ADS_3

"Besok kita berpura-pura kembali melanjutkan perjalanan, ini untuk menjebak mereka, kalian berdua mengawasi rumah kepala kampung di bagian belakang, aku dan Boma yang mengawasi di permukiman kampung", pangeran telah memiliki rencana cadangan yang bagus.


"Baik pangeran, aku juga merasa janggal, mereka tidak beroperasi ketika di sekitar kampung ada tamu, yang kedua aku sedikit curiga dengan pak Kalur, kita datang kesini sudah hampir gelap, dan tidak ada yang tahu, rencana kita hanya yang ada di sini, pada waktu saya menjemput ipeng, untuk di mintai ciri orang yang membegalnya, pak Kalur meninggalkan saya di rumah ipeng, dengan alasan pergi buang air besar, tapi sedikit lama", pangeran Sanjaya memberikan argumen mencurigai bahwa mengintainya, telah bocor.


Putri Dian Prameswari dwibuana keluar dan kembali ke kamarnya, begitu juga pangeran Sanjaya kembali istirahat di samping Boma yang sedang bermimpi indah.


Pangeran Shun Land tidak langsung tidur dia bermeditasi meningkatkan tenaga dalamnya.


Keluarga ipeng kembali kerumahnya sejak pagi, dia tidak mau merepotkan keluarga pak Kalur dan mengganggu istirahat para tamu, sehabis mengintai tadi malam.


Hari berlalu dengan cepat, matahari hampir berada di atas kepala, Boma sudah membayar uang sewa, sepuluh keping emas, itu sebenarnya sudah terlalu banyak.


Pak Kalur kelihatan sangat kecewa, karena mereka tidak bisa membantu persoalan kampungnya.


Pangeran Shun Land datang dari rumah ipeng, untuk memberi uang untuk mengganti uang yang di rampas para penculik bercadar,


Dia pun berjanji akan berusaha menemukan kakak perempuannya Isah yang di bawa penculik bercadar.


Penunjuk jalan Karba berjalan di depan, pangeran Shun Land, memberi tahu Pangeran Sanjaya letak dan ciri-ciri rumah kepala kampung.


Setelah melewati batas kampung itu, pangeran Shun Land bertanya kepada Karba.


"Paman Karba apa ada tempat buat peristirahatan yang dekat dari sini, dan bisa menyembunyikan kuda hingga tidak di ketahui penduduk kampung ini"


Penunjuk jalan Karba tidak langsung menjawab dia berpikir sejenak.


"Ada tuan melewati Padang rumput ini kita memasuki hutan belantara lagi, tapi tidak selebar hutan Pinus", jawab Karba.


Mereka memacu kuda, agar lebih cepat. Pangeran Shun Land memanggil sang Rajawali api dengan batinnya.


Burung besar merentangkan sayapnya hingga mereka tidak kepanasan. Oleh bayangan sang Rajawali api.

__ADS_1


Mereka berhenti di pinggir hutan kuda mereka di ikat di balik pohon besar, sang Rajawali api turun tidak jauh, dari mereka yang duduk beristirahat.


"Putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Sanjaya triloka, naik Rajawali api, sedangkan saya dan Boma bisa berlari cepat, paman Karba, paman di sini menjaga kuda kuda kita" pangeran Shun Land membagi tugas.


Pangeran Shun Land mengetahui pangeran tidak mempunyai ilmu saipi angin, walaupun mempunyai ilmu meringankan tubuh, akan sulit mengimbangi dirinya dan Boma yang telah menguasai ilmu saipi angin.


Hari mulai sore, setelah cukup beristirahat, pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, mendekati burung besar sang Rajawali api.


Burung Rajawali telah tumbuh lebih besar, sejalan dengan pulihnya kekuatan apinya, badannya hampir mendekati pada masa saat bersama leluhur agung dulu.


Sang Rajawali api merendahkan badannya, pertama putri Dian Prameswari dwibuana meloncat dan duduk di depan, pangeran Sanjaya triloka mengikuti meloncat dan duduk di atas punggung sang Rajawali api.


Pangeran Sanjaya triloka terlihat wajahnya sedikit pucat karena ini pertama kalinya menaiki burung besar dan akan di bawa terbang.


Sang Rajawali api menghentakkan kakinya, dan mengembangkan sayapnya, dengan sekali hentakan burung itu terbang meluncur dengan cepat.


Pangeran Shun Land dan Boma melesat mengikuti bayangan sang Rajawali.


Dua bayangan berkelebat melewati sisi selatan, yang di tuju bayangan itu rumah ipeng, pangeran Shun Land mempunyai insting bahwa tiga penculik bercadar akan menyatroni rumah ipeng.


Pangeran Shun Land dan Boma bersembunyi di atas pohon yang sedikit tinggi, hingga bisa melihat kebawah dengan jangkauan yang lebih luas.


Perkampungan santui tidak begu padat, di sana hanya ada sekitar lima puluhan rumah.


Bulan menyinari perkampungan itu hingga pemandangan cukup jelas.


Benar saja insting dan dugaan pangeran Shun Land, selain insting, perhitungan pangeran Shun Land, di rumah itu tidak ada laki-laki nya maka akan sedikit mudah para penculik bercadar melakukan aksinya.


Tiga kali waktu memasak nasi, tiga orang keluar dari hutan, berkelebat cepat menuju belakang rumah ipeng.


Yang satu berjaga di halaman depan yang dua melingkar ke samping menuju pintu belakang.

__ADS_1


Pangeran Shun Land dan Boma tidak akan melepaskan kesempatan ini. Mereka berdua turun dari pohon seakan turun dari langit, tepat di hadapan dua penculik bercadar itu.


"Siapa kalian, apa kalian sama di tugaskan tuan Sotang", dari kedua penculik bercadar itu, melihat pakaian mereka sama, menduga pangeran Shun Land dan Boma, sama-sama di tugaskan Sotang kepala kampung tersebut.


Pangeran Shun Land tidak menjawab tapi langsung menyerang titik Fital, kecepatan pangeran Shun Land tidak bisa di imbangi penculik bercadar, hanya teriakan keras mengaduh keluar dari mulutnya lantas ambruk.


Boma pun sama, hanya beberapa gerakan dapat melumpuhkan lawannya. Mendengar ada teriakan. Yang berjaga di depan melesat mendekati, melihat dua temannya dapat di lumpuhkan dengan mudah, dia segera melarikan diri.


Pangeran Shun Land sengaja membiarkan salah satu penculik bercadar itu kabur.


"Ringkus mereka berdua dan bangunkan ipeng", pangeran Shun Land memerintahkan Boma untu mengikat mereka berdua.


Pangeran Shun Land melesat mengejar penculik bercadar yang kabur, tapi pangeran Shun Land hanya mengimbangi tidak terlalu jauh.


Penculik bercadar berlari menuju rumah agak besar milik kepala kampung. Dan menghilang di belakang rumah tersebut.


Pangeran Shun Land, tersenyum siasatnya berhasil menggiring ke pelaku utama.


Pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, menghampiri pangeran Shun Land, dan menganggukkan kepala tanda mengerti isyarat yang di berikan pangeran Shun Land.


Pangeran Shun Land melesat ke pintu depan rumah kepala kampung, sedangkan pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana menunggu di pintu belakang.


"Kepala kampung keluarlah sebelum aku hancurkan rumah ini" pangeran Shun Land berteriak keras.


Kepala kampung keluar, lantas bagai tanpa dosa lantas berkata, "ada pada pendekar muda, siapa nama mu dan mengapa malam malam begini teriak-teriak di dapan rumah orang, bagai orang tak ada tatak rama".


Para penduduk di sekitar tidak berani keluar walau mereka mendengar keributan di rumah kepala kampung mereka.


"Aku adalah Satria Nusa kencana, kesini di tugaskan raja kerajaan Kutai khal, untuk menghentikan teror di kampung sini, dan kau biang kerok dari semua ini" pangeran menjawab dengan tegas.


"Mana buktinya bahwa aku dalang dari semua teror di kampung ini, mana mungkin aku meneror Lampung sendiri". Kepala kampung Sotang membela diri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2