LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
202. Shun Land menuju puncak gunung Krakatau.


__ADS_3

Seluruh tubuh banteng endan bermata merah hancur jadi seonggok arang terbang tertiup angin.


Shun land memasukan pedang Naga Bergola pada warangkanya, Leluhur Ki Bagus Atma turun di samping Shun Land.


"Selama hidup ku baru ku menyaksikan kemampuan manusia melewati batas kodrat sebagai manusia". Leluhur Ki Bagus Atma berdecak kagum dia masih tak bisa mencerna dalam pikirannya kejadian yang baru saja terjadi.


"Eyang saya ingin melihat sejauh mana kekuatan tubuh ku menerima beban kekuatan alam tadi baru kurang 50% dari kekuatan Pedang Naga Bergola di padukan dengan kekuatan api abadi ku dari mustika api merah delima, saya tak bisa membayangkan kekuatan asli sang Rajawali Api ketika bertarung dengan Naga Api Hitam tunggangan Mara Deva, saya masih menghawatirkan bila bentrok dengan Mara Deva dan tunggangannya Naga Api hitam sekarang ini Sang Rajawali Api belum pulih kekuatan sejatinya, itulah yang membuat saya ingin segera mengingkatkan kekuatan tenaga dalam saya minimal setara dengan Mara Deva". Shun land bicara tentang beban di hatinya.


"Cucuku kita hanya berusaha sebaik mungkin sisanya kita pasrah pada sang maha Pencipta, dan menurut eyang sebaiknya Naga bumi Sabui dan sang Rajawali Api bersama menyerap hawa murni dari panas bumi, ini juga sebagai latihan engkau untuk menerima kekuatan Bumi Karena sejatinya kekuatan bumi adalah kekuatan panas yang terbungkus kekuatan dingin air". Leluhur Ki Bagus Atma memberi masukan.


"Eyang saya sudah mengirim pesan pada Sang Garuda Perkasa dan Naga bumi Sabui untuk bersama meningkatkan kekuatan karena perang besar tidak bisa lagi di hindari". Shun land menimpali.


Mereka berdua melanjutkan perjalan mendaki gunung Krakatau dengan cara meloncat dari batu satu ke batu yang lain kadang kala dari pohon besar satu ke pohon besar yang lainnya.


Hingga tibalah di tanah agak datar dengan pohon pohon yang semakin tinggi dan besar.


Shun land berhenti sebentar hanya untuk minum air dari pusaka kendi manik astagina, setelah meminum tiga tegukan dia memberikan kendi manik astagina kepada leluhur Ki Bagus Atma, sambil bicara.


"Minumlah eyang tiga tegukan saja tenaga dan kondisi eyang akan menjadi stabil kembali".


Leluhur Ki Bagus Atma melihat dengan mengerutkan keningnya entah hal apa yang lagi yang di miliki sang cucunya ini, dengan penasar dia pun menerima dan menenggak tiga tegukan.


Seketika rasa dingin meresap dari tenggorokan hingga keseluruhan tubuh sampai ke sumsum, rasa dahaga dan lapar hilang seketika.

__ADS_1


"Cucuku pusaka dari mana lagi engkau dapat kan kendi manik astagina ini". Leluhur Ki Bagus Atma penasaran.


"Susah untuk di ceritakan eyang cucu dapat ketika tersesat di alam Roh iblis hati, pusaka kendi manik astagina pemberian Leluhur agung Sang Hyang Triloka". Shun land berkata apa adanya.


Mendengar ini leluhur Ki Bagus Atma semakin sesak nafasnya ternyata dia yang berumur ratusan tahun kalah oleh keturunannya yang masih berumur sangat muda dalam hal ilmu kebatinan.


Leluhur Ki Bagus Atma semakin sadar bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun atas keberhasilan seseorang dalam menguasai suatu ilmu, bila sang maha Pencipta menghendaki waktu tidak bisa menjadi ukuran untuk menentukan tinggi rendahnya pencapaian penguasaan ilmu.


Dia sudah ratusan tahun bahkan sudah melewati enam generasi mempelajari ilmu saipi tetapi kenyataannya kalah oleh Shun land yang hanya mempelajari beberapa tahun, bukan hanya sekedar masalah tubuh empat lintang kelima pancer tetapi cara berpikir dan memahami serta memutuskan sesuatu, itu suatu kelebihan yang di berikan sang maha Pencipta alam semesta pada Shun land tanpa susah payah.


Di saat keduanya sedang asik dengan pemikiran mereka sendiri dari atas terdengar suara gemuruh dedaunan dan batang pohon yang patah di terjang sesuatu yang besar.


Belum sempat mereka berdua menoleh ke atas seekor monyet besar berbulu hitam pekat tetapi ada bulu putih melingkar di leher bagian bawah seperti kerah baju.


Monyet berkerah putih menyeringai sangat marah wilayahnya ada yang berani menyambangi tanpa izin darinya.


"Eyang izinkan saya yang menghadapi monyet berkerah putih ini, sekaligus cucu ingin menguji jurus-jurus ilmu saipi yang lama tidak saya latih". Shun land meminta izin tanda hormat terhadap leluhurnya.


"Silahkan cucu ku memang sudah sepantasnya yang tua ini beristirahat". Sambil berkata Leluhur Ki Bagus Atma menjauh dan duduk di bawah pohon yang rindang.


Sang monyet berkerah putih seakan mengerti yang di ucapkan Shun land dia mengeratkan giginya sambil menatap tajam merasa di hinakan oleh Shun land.


Shun land sudah bersiap melawan monyet berkerah putih dengan ilmu saipi angin dia ingin mempelajari hukum angin lebih mendalam.

__ADS_1


Monyet berkerah putih tanpa aba-aba menyerang dengan ganasnya ke arah dada dan wajah Shun land dengan cepat.


Shun land meladeni dengan meloncat kesana kemari menghindari serangan cakaran monyet berkerah putih yang setara dengan serangan pendekar berkekuatan dua puluh ribu lingkaran tenaga dalam.


Shun mencoba menghadapi dengan hukum angin tapi tidak mempunyai efek apapun pada monyet besar berkerah putih, akhirnya Shun land memutuskan untuk mengunakan hukum air, hukum api dan hukum bumi, tapi tatap saja monyet besar berkerah putih sangat kebal hukum duniawi.


Tapi di saat keraguan untuk menggunakan Pedang Naga Bergola terdengar di ruang batinnya suara Roh Sumpit raja neraka.


"Tuan ku siluman monyet berkerah putih memang kebal hukum duniawi sebaiknya tuanku menggunakan hukum Raja Neraka gunakan hamba ingin sekali ******* isi kepalanya yang selalu berpikir untuk merugikan yang lain bahkan bangsanya sendiri hingga sekarang pun dia tidak mempunyai teman". Suara Roh Sumpit Raja Neraka yang sangat kesal dengan kepribadian siluman monyet berkerah putih.


"Baiklah Raja Neraka aku berikan dia pada mu". Shun land menjawab lalu mengeluarkan sumpit Raja Neraka yang langsung di genggaman tangan kanannya.


Tanpa berpikir panjang Shun land menempelkan Sumpit Raja Neraka ke bibirnya dengan kekuatan api yang besar, puluhan bahkan ratusan sinar kuning kemerahan keluar dari ujung Sumpit Raja Neraka menerjang tubuh monyet besar berkerah putih.


Satu dua sinar kuning kemerahan dapat di halau oleh sang monyet besar berkerah putih tetap sisanya masuk ke dalam tubuhnya tanpa tembus ke belakang.


Lama-lama tubuh monyet berkerah putih setengah siluman tubuhnya penuh dengan Sumpit Raja Neraka yang mengandung kekuatan api abadi Shun land dan pada akhirnya tubuh monyet besar berkerah putih meledak hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil bagai debu dan hilang di tiup angin.


Leluhur Ki Bagus Atma melihat Sumpit Raja Neraka dia mengenali senjata pusaka tersebut, senjata milik panglima Sumpit dari dataran luas Kalimantan milik Bangsawan Dayak.


"Cucu ku ini banyak mempunyai misteri yang sungguh sukar di tebak baru sehari aku menemaninya tapi dia telah menunjukkan hampir puluhan kali kejutan yang di luar nalar".


Leluhur Ki Bagus Atma merasa semakin kecil saja di hadapan Shun land yang notabene keturunan dia sendiri yang ke enam.

__ADS_1


----------------------*****-------------------


__ADS_2