LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
95. Memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh 10


__ADS_3

"Begitulah tuan-tuan ke jadiannya" pak Kalur memungkas ceritanya.


"Kita harus menolong penduduk ini, aku sesama gadis merasa sangat di lecehkan, apa kakang Satria Nusa kencana dan adik Sanjaya setuju kita bermalam beberapa hari di sini, untuk membatu penduduk kampung ini".


Bicara putri Dian Prameswari dwibuana berapi-api merasa sangat marah.


Boma bangkit dan berkata bersungut-sungut.


"Putri Dian kamu harus ingat kepala rombongan di sini aku pangeran Boma, minta persetujuannya pada ku dong", Boma berlagak bagai pangeran sungguhan


"Tuan pangeran Boma saya mohon, kita menolong penduduk kampung ini, setelah itu kita lanjutkan perjalanan", putri Dian Prameswari dwibuana bicara sambil di gaya-gaya.


Pangeran Shun Land tersenyum lucu melihat gadis anggun bicara di gaya-gaya seperti pelayan.


"Nah begitu kan enak di dengar" Boma sambil bicara lalu rebahan lagi, jelas saja kalau tidak ada pak Kalur dan pak Karba sudah di tendang pantat Boma saking kesalnya.


"Pak Kalur, apa kepala kampung dan keamanan di sini tidak berupa mencari penculik itu", pangeran Shun Land bertanya


"Sudah nak Satria, tapi pak Sardi, kepala kampung dan beserta anak buahnya pernah berusaha mengejar penculik bercadar itu yang masuk hutan, tapi mereka kembali dengan tangan kosong malah anak buah pak kepala kampung ada terluka, badannya di penuhi luka lebam".


Pak Kalur memberi keterangan yang jelas.


"Pak Kalur kampung ini masuk ke kerajaan mana, apa sudah pernah meminta bantuannya" pangeran Shun Land bertanya lebih lanjut.


"Kampung ini sebenarnya masuk wilayah kerajaan Kutai khal yang baru berdiri beberapa tahun yang lalu, tapi jarang kami sangat tidak memungkinkan untuk ke sana karena jauh, adapun perwakilan keamanan, yang berada di kota pelabuhan, kami berusaha beberapakali menemuinya, kami tidak menjumpainya, karena mereka sedang mengamankan daerah Utara dari kota pelabuhan"


Mendengar ucapan pak Kalur ini, darah pangeran Shun Land berdesir sedikit cepat, bagai mana pun, ini adalah wilayahnya, ini tanggung jawabnya, bagai mana dia bisa tidur dengan nyenyak sementara Rakyatnya sedang mengalami teror dan rasa ketakutan.


"Kita akan mengurus persoalan ini sampai tuntas, kita akan menangkap dalang di balik ini, pak Kalur kedua gadis yang pulang dari kota pelabuhan, apa rumahnya jauh dari sini",


Pangeran Shun Land memutuskan untuk singgah, menyelesaikan persoalan kampung itu, dia merasa mempunyai kewajiban membantu dan mengamankan kampung tersebut yang masuk dalam wilayahnya.


Andaikan pak Kalur dan penunjuk jalan Karba tahu bahwa pangeran Shun Land ini, Raja mereka tentu mereka akan bersujud dan merasa sangat senang rumahnya di kunjungi seorang Raja.


"pak Kalur untuk bulan ini, baru seorang gadis, mereka masih membutuhkan seorang anak laki-laki, ini menjadi kesempatan kita untuk menjebak mereka....

__ADS_1


"tuan pangeran Boma tolong jemput gadis cantik adik dari korban yang baru pulang dari kota pelabuhan, pak Kalur bisa antar pangeran Boma, karena kalau yang menjemput pangeran gadis itu tidak akan curiga".


pangeran Shun Land membuat rencana dan memerintahkan Boma dengan alasan yang halus, agar penyamarannya tidak terbongkar.


tapi sebelum Boma berdiri, pangeran Sanjaya triloka mendahului berdiri.


"biarlah saya menemani pak Kalur menjemput nona ipeng".


keduanya keluar menjemput ipeng yang Rumah berjarak sedikit jauh dari Rumah pak Kalur.


"kalian mendekatkan" pangeran Shun Land menyuruh ketiganya untuk mendekat.


Boma bangkit dari berbaringnya, dan duduk dekat pangeran Shun Land, begitu pun putri Dian Prameswari dwibuana dan penunjuk jalan Karba.


"paman Karba, saya mohon paman bisa di percaya", sebelum melanjutkan pangeran Shun Land melirik ke arah Karba, Karba mengangguk, tanda mengerti apa yang di maksud pangeran Shun Land.


"aku merasa peristiwa ini ada orang kampung yang terlibat, aku mencurigai kepala kampung ikut terlibat masalah ini...


"Kejadian pengejaran kepala kampung sampai ke hutan, dan kembali dengan salah satu anak buahnya yang tidak terbunuh, hanya luka Lebam, di beberapa bagian ini sangat mencurigakan....


"Sedangkan di kejadian sebelumnya para penculik sangat kejam bila bertemu dengan penduduk, bila malam ini kita tidak bisa menangkap, malam besok kita paksa dengan cara kita"


Pangeran Sanjaya triloka masuk, di ikuti ipeng, begitu terkejutnya ipeng melihat pangeran Shun Land, yang telah memberikan uang begitu banyak tapi uang tersebut tidak bisa dia jaga.


Ipeng langsung bersujud di depan Pangeran Shun land, "maaf tuan saya tidak bisa memanfaatkan dengan baik pemberian tuan, malah kakak Isah pun di culik mereka, di pinggir hutan dekat pintu masuk kampung"


"Sudahlah jangan di pikirkan masalah uang, sekarang tenangkan dirimu kami akan berusaha, menemukan kakak mu, duduk lah".


Hati pengeran Shun Land, bagai teriris sembilu menyaksikan dengan mata sendiri penderitaan rakyatnya.


Semua masuk ke Rumah pak Kalur, ruangan itu jadi penuh, ibu Karyi istri pak Kalur dan kasjo anaknya, datang menyuguhkan air hangat dan rebusan ubi.


"Pak Kalur di sini yang mempunyai, anak laki-laki seumuran kasjo ada berapa" pangeran Shun Land bertanya.


"Ada dua lagi tuan, Dacing anaknya Tasman dan Dau cucunya Asman, hanya itu tuan Satria Nusa kencana" pak kasjo sangat hapal teman teman sebaya Kasjo anaknya.

__ADS_1


"Kita bagi dua, saya dan putri Dian Prameswari dwibuana serta adik kasjo, untuk menunjukkan rumahnya, mengintai rumahnya pak Tasman, pangeran Sanjaya triloka dan Boma di temani pak Kalur mengintai rumahnya ki Tasman, paman Karba di sini menjaga rumah".


Mereka membentuk dua kelompok, satu kelompok di pimpin pangeran Shun Land, sendiri, dan kelopak lainnya di pimpin oleh pangeran Sanjaya triloka.


Mereka keluar melalui pintu belakang, pangeran Shun Land berjalan di belakang Kasjo menuju rumah Tasman yang berada di ujung kampung dekat hutan sebelah selatan.


Sedangkan rombongan pangeran Sanjaya triloka menuju rumah Ki Asman yang berada di timur dekat rumahnya ipeng.


Di udara terdengar suara sang Rajawali api berteriak, dan meluncur ke rumah Kalur dan bertengkar di atas atap yang terbuat dari papan kayu besi.


Mereka membentuk dua kelompok, satu kelompok di pimpin pangeran Shun Land, sendiri, dan kelopak lainnya di pimpin oleh pangeran Sanjaya triloka.


Mereka keluar melalui pintu belakang, pangeran Shun Land berjalan di belakang Kasjo menuju rumah Tasman yang berada di ujung kampung dekat hutan sebelah selatan.


Sedangkan rombongan pangeran Sanjaya triloka menuju rumah Ki Asman yang berada di timur dekat rumahnya ipeng.


Di udara terdengar suara sang Rajawali api berteriak, dan meluncur ke rumah Kalur dan bertengkar di atas atap yang terbuat dari papan kayu besi.


Tapi sampai Pajar menjelang tidak ada kejadian yang di harapkan, para penculik itu sepertinya tahu ada yang mengintai mangsanya.


Pangeran Sanjaya triloka dan Boma kembali lebih dulu, setelah sampai ke dalam rumah Boma langsung tergeletak di ruangan tengah, tidak butuh waktu lama dengkuran sudah terdengar. Pangeran Sanjaya triloka hanya menggelengkan kepala.


Pangeran Shun Land dan putri Dian Prameswari dwibuana kembali dengan wajah kecewa, kasjo yang menunjukkan rumah pak Tasman langsung di suruh kembali.


Ada dua kamar yang kosong, dua lagi di pakai ipeng dan yang satu lagi di pakai ibunya ma Turmi.


Pangeran Shun Land menyuruh putri Dian Prameswari dwibuana membangunkan pangeran Sanjaya triloka, dan menyuruh masuk ke kamarnya yang di masukinya bersama putri Dian Prameswari dwibuana.


Sesampainya di dalam, mereka duduk di tepi bale kayu tempat tidur, putri Dian Prameswari dwibuana di sebelah kanan dan pangeran Sanjaya triloka di sebelah kiri, mereka menyuruh mendekatkan wajahnya mereka.


Pangeran Shun Land berbicara pelan sekali hingga hanya mereka berdua yang mendengarnya.


...****************...


Like dan supportnya serta komentar dari sahabat-sahabat NOVELTOON, sangat membantu perkembangan tulisan ini. terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


SALAM NUSANTARA


SALAM GARUDA PERKASA


__ADS_2