
Dua penunggang kuda berjalan keluar dari gerbang istana iringan-iringan pasukan berkuda mengiringinya.
Setelah keluar dari gerbang kota Sundapura para pengiring kepergian Shun land dan Boma kembali ke barak masing-masing.
Shun land dan Boma memacu kudanya dengan santai, Shun land dalam perjalanan ini ingin tahu perkembangan keamanan pelosok wilayah kekuasaan Kerajaannya.
Dalam perjalan ini pemikiran Shun Land masih memikirkan bagai mana caranya mengalahkan Mara Deva dan Pancasiksa yang mempunyai Ajian Rawarontek.
Shun Land menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Mara Deva yang terbelah menjadi tiga kembali lagi menyatu, bayangan itu selalu terbayang di pikiran Shun Land.
Di dalam menghadapi masalah ini Shun Land sangat ingin menemui guru batinnya hyang Triloka tetapi untuk saat ini tidak mungkin itu terjadi.
Dalam pemikiran Shun Land Ajian Rawarontek adalah pengembangan ilmu saipi, sedangkan ilmu saipi di ciptakan oleh Hyang Triloka Shun Land menyimpulkan yang mengetahui kelemahan ajian Rawarontek Hyang Triloka.
Shun Land mengetahui salah satu kelemahan ajian Rawarontek yaitu agar semua tubuhnya jangan menyentuh tanah tetapi bagai mana bisa dia melakukan nya.
Dalam pertarungan itu pun Shun Land sangat bersusah payah untuk bisa Menang hanya melawan Mara Deva belum lagi jika melawan dengan keduanya.
Dalam hal ini Shun Land merasa harus berlatih lagi menyempurnakan jurus dalam kitab Tarian Rajawali Api dia baru menguasai jurus ketiga belum mencapai jurus yang ke empat dan jurus pamungkas jurus Rajawali menyapu angkasa.
Shun land mempunyai kesimpulan bila seluruh tubuh Mara Deva terbakar jadi abu mungkin dia tidak akan sempat untuk menggunakan Ajian Rawarontek.
Setelah dua hari dua malam berkuda ke esokan harinya Shun land dan Boma sampai di perguruan Ciomas di kaki gunung karang.
Shun land di sambut langsung oleh ketua dan guru besar perguruan Ciomas Ki Mahisa Taka, dan empat murid utama yang selamat dari pembantai pendekar tapak sakti atas perintah Kama Deva beberapa tahun yang lalu.
Kusuma dan Ajitama sekarang jadi perwakilan Ki Mahisataka sedangkan Dirga dan Tanu wakilnya.
"Silahkan paduka masuk". Ki Mahisataka mempersilahkan Shun land dan Boma.
Kusuma dan Ajitama menuntun kuda mereka untuk di beri makan dan di rawat setelah dua hari dua malam dalam perjalanan.
Shun Land melihat perkembangan yang sangat pesat di perguruan Ciomas murid perguruan pun telah banyak separuh dari murid Ki Mahisataka adalah bekas anak buah Panca Braja yang di pimpin Colet.
Shun land memberi salinan kitab saipi angin, Shun land ingin ilmu ini menjadi banyak yang menguasainya hingga di masa depan tidak punah.
Selain itu Shun land pun telah menyalin pokok ajaran yang terkandung dalam ilmu saipi bukan saja ilmu Kanuragan tetapi pokok ajaran yang menyangkut isi ilmu saipi yang menyangkut ilmu etika dan ilmu bersyukur kepada Sang maha Pencipta.
__ADS_1
Shun land berpesan agar semua murid mempelajarinya ilmu saipi yang pokok ajarannya adalah agar manusia banyak bersyukur terhadap sang maha Pencipta.
Shun land ke esokan harinya melanjutkan perjalanan menuju ke labuan hanya butuh setengah hari Shun Land dan Boma sampai di perguruan Badak liar.
Di sana Shun Land di sambut anak buah Antaka yang menduduki bekas perguruan Badak liar yang sekarang menjadi markas pasukan khusus senyap.
Di dermaga labuan beberapa kapal perang Naga biru bersandar pasukan tersebut bawahan laksamana Sarpa yang mendapat tugas mengamankan perairan Krakatau.
Salah satu kapal perang mengantarkan Shun Land dan Boma kedua kudanya pun di angkut hingga sampai di pelabuhan kalianda.
Dua kakak beradik menyambut Shun land dan Boma, kakak putri Serindang bulan Geto dan Tago mereka berdua mendapatkan informasi dari telik sandi pasukan khusus senyap.
Kedai Nyai Iseng menjadi markas informasi hingga keberangkatan Shun Land bisa di ketahui Dengan cepat.
"Silahkan paduka ruangan istirahat telah kami sediakan". Empat pelayan perempuan dan dua pelayan laki-laki menuntun kuda menuju istana di belakang penginapan.
Kedai Saloka setelah di renovasi dan di sebelahnya di bangun penginapan yang besar dan murah menjadi ramai pengunjung terutama para pedagang dari berbagai penjuru untuk mencari keberuntungan di daratan luas Swarnabumi.
Keadaan keamanan sangat terkendali kepemimpinan Bangsawan Rijang Renah Selawi sangat baik, pos-pos keamanan di bangun di setiap penjuru negri.
Boma jadi sedikit nakal setelah mengetahui kedai dan penginapan milik kerajaan secara tidak langsung kedai dan penginapan tersebut milik Shun Land.
Saat Shun Land pergi ke tempat istirahat untuk bermeditasi Boma memanggil 2 pelayan perempuan untuk memesan makan yang paling enak yang di miliki kedai tersebut.
"Apa di sini ada pelayan yang bisa menemani makan dan memijat badan aku sangat capek sekali". Boma berkata pada salah satu pelayan yang masih muda.
"Bagai mana kalau aku saja tuan asal tuan memberi sedikit uang lebih aku siap memijit luar dan dalam kayanya kakak ku juga tidak keberatan". Pelayan itu menjawab sambil tersenyum genit dan melirik temanya.
Pelayan yang satunya pun menimpali.
"Kami berdua masih singel alis janda suami kami pergi di paksa jadi prajurit oleh penguasa yang terdahulu, kami akan melayani tuan dengan sepenuh hati".
Boma mengeluarkan sekantong koin emas di letakkan di atas meja, padahal uang tersebut dapat meminta dari kepala kedai dan penginapan melalui Geto dan Tago kakak putri Serindang bulan.
Dalam pemikiran Boma kapan lagi kalau tidak sekarang untuk bersenang-senang, dasar Boma otak ngeres nya keluar melihat ada kesempatan.
Dua pelayan itu pergi tidak lama kemudian kembali dengan membawa berbagai makanan istimewa yang di milik kedai Saloka.
__ADS_1
Boma makan di layani dua pelayan cantik di kiri dan kanan bak seorang raja, biasa aji mumpung karena dekat dengan penguasa ini jaman dulu loooh mungkin jaman sekarang tidak ada.
Setelah makan Boma merebahkan tubuhnya di pembaringan dua pelayan yang sudah berganti pakaian kurang bahan naik di sisi kiri-kanan mereka membawa minyak khusus untuk memijat dengan aroma yang mengundang jaguar para lelaki bangkit dari tidur panjang.
Tanpa terasa Boma tertidur pulas tanpa menyentuh dan meraba kedua pelayan tersebut.
Kedua pelayan itu cekikikan tertawa setelah menyimpan satu kantong uang emas, dengan tanpa malu-malu kedua pelayan itu tidur di samping Boma.
Pagi-pagi sekali Shun Land masuk ke kamar Boma yang masih tertidur di temani dua pelayan yang berbusana sangat minim hanya menutupi beda kecil dan dua pegunungan.
"Tuan banguun...!!! paduka raja datang". Salah satu pelayan membangun kan Boma.
"Tenang sang raja semprul tidak akan mengetahui dia sedang bersemedi sudah tidur lagi". Boma berkata seenaknya.
"Ehmm.....ehmm...ehmm....!!!
Shun land berdeheem Boma yang mengenal suara Shun land langsung bangun dan berkata.
"Adik ku yang baik aku hanya di pijat saja tidak lebih tanyakan saja pada kedua pelayan ini, adik ku akan melakukan apa saja asal jangan kau katakan pada Mawinei dan Wisanggeni aku bisa habis". Boma berkata dengan mendekati Shun Land dengan mimik yang sangat mengharukan.
Kedua pelayan itu mendengar Boma memanggil adik pada sang raja Shun Land mereka jadi mengerti, 'pantas saja uang Boma sangat banyak ternyata si gendut ini kakak sang raja'. Kata hati pelayan itu.
Kedua pelayan itu Segera memberi hormat dan buru-buru keluar dari kamar Boma.
"Tenang aku tidak akan mengatakannya di sini cepat berkemas kita akan melanjutkan perjalanan". Shun land berkata kemudian melangkah keluar sambil berkata pelan.
"Tidak mengatakan di sini tapi nanti di istana".
Ucapan itu pelan tapi cukup jelas terdengar oleh Boma yang jadi panik.
Lima kuda berjalan meninggalkan pelabuhan kalianda empat penunggang kuda, Shun Land, Boma, Geto dan Tago dan satu kuda lagi membawa perbekalan.
Mereka berempat menuju arah barat dengan penunjuk jalan Geto dan Tago dalam perjalan tidak banyak yang mereka bicarakan.
Geto dan Tago mempunyai kebiasaan tidak banyak bicara mereka berdua bicara seperlunya saja.
_____*****_____
__ADS_1