
Pangeran Shun land dan ketiga permaisurinya tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Burung ku.... Burung kuuuu...". Pangeran Shun land menirukan ucapan Boma sambil terpingkal-pingkal.
Boma melotot ke arah Pangeran Shun Land, walau dia seorang Raja pangeran berani karena secara persaudaraan pangeran Shun land adalah adik angkatnya, yang selalu dia bela sejak dari kecil.
"Kau andai ibu masih ada akan ku laporan perbuatan mu padaku, kau pasti akan di hukum berat". Boma tertunduk dia menyesali ucapannya, niatnya hanya ingin menakuti dalam bercanda tapi dia malah terjebak dalam sendiri rasa kehilangan seorang ibu.
"Aku akan mencari sampai ke ujung dunia, keberadaan Maasiak, akan ku serahkan pada mu, untuk menghukumnya, aku tidak akan nyenyak tidur dan berhenti belajar ilmu olah Kanuragan dan ilmu kebatinan, sebelum menyeret Maasiak ke hadapanmu otak dari kejahatan ini".
Pangeran Shun land bicara seolah dia lebih tegar padahal dia merasakan sesuatu yang membuat nafasnya sesak dan rasa menyereset di dalam dadanya.
"Tidak kita akan bersama mencarinya, aku tidak ingin di cap sebagai putra yang tidak berbakti". Boma menyahuti ucapan pangeran Shun land.
"Aku selalu mendukung mu suamiku karena kepedihan mu kepedihan ku, kesakitan mu kesakitan ku, kesenangan mu, kesenangan ku," permaisuri May lien berkata di samping pangeran Shun land yang memandang ke arah danau dengan tatapan kosong.
Kedua permaisuri, putri Dewi sumayi dan Putri Sari Tungga Dewi menghampiri dan mereka pun sama memberikan dukungan kepada pangeran Shun land.
"Maaf kan aku kakang membuat burung mu kesakitan dan kau mengingat kembali sang bunda mu". Mawinei bicara sangat polos.
Mendengar ucapan Mawinei ketiga permaisuri pangeran Shun land tertawa yang di tahan, membuat roman wajah pangeran Shun land ceria kembali.
"Istriku kau adalah tabib muda yang mengerti cara mengobati burung yang kesakitan coba kau periksa, bila parah potong saja". Pangeran bicara dengan wajah serius.
Boma yang mendengar ini jadi panik, "tidak usah permaisuri May lien kini sudah membaik, kau dasar adik angkat sempruuul".
Melihat roman Boma yang panik semuanya tertawa, Mawinei pun ikut tertawa terbahak-bahak.
"Kau juga ikutan pangeran sempruul itu juga". Boma menatap tajam Mawinei sambil berjalan mendekati Mawinei.
Mawinei sudah hapal akal bulus suaminya, dia hanya diam, setelah dekat Boma menyodorkan bibinya ke pipi Mawinei, tapi Mawinei mengelak dan berlari kecil kearah pangeran Shun land dan ketiga istrinya.
Semua tertawa melihat Boma yang gagal mencium istrinya.
Saat itu benar-benar di penuhi canda tawa kebahagiaan mereka semua, tapi tiba-tiba Lodaya sang harimau besar melompat ke tepian danau dan menggeram.
__ADS_1
"Grrrrrrr........
Tidak lama kepala ular hijau yang di lihat Mawinei kembali memperlihatkan wajahnya.
Ular hijau itu keluar dari air dengan kepala berdiri, kedua hewan besar setengah siluman itu saling berhadapan.
Tapi sang Rajawali api cuma melirik sebentar tidak memperlihatkan respon apapun, seolah-olah tidak melihat apa-apa.
"Lodaya tahan dia sahabat ku". Permaisuri May lien berlari takut keduanya bertarung, dan jelas kemenangan berada di Lodaya karena berbeda kekuatan.
Ular hijau ini mungkin leluhur ular NABAU dan Ular TANGKALALUK, yang menurut para ahli serumpun dengan ular Boa atau lebih lengkapnya titanaboa, yang di bunuh sang Rajawali api, pada waktu di hutan Pinus di dekat perkampungan Santui yang sekarang jadi kota provinsi Santui.
Lodaya sang harimau besar kembali lagi ke tempat tadi berbaring di dekat sang Rajawali api.
Ular hijau itu merendahkan kepalanya permaisuri May lien mengusap-usap kepala ular itu, lalu mengeluarkan sebuah guci dari keramik sebesar gelas kecil.
Gelas itu di dekatkan ke mulut sang ular hijau itu, keluar lah cairan hitam kekuningan dari mulut sela-sela mulut ular.
Setelah penuh permaisuri May lien menutup rapat dan menyimpan guci itu ke balik bajunya.
Ular hijau itu ngeloyor ke dalam danau biru dan hilang dari pandangan.
Permaisuri May lien kembali ke dekat pangeran Shun land dan kedua permaisuri lainnya yang duduk di bawah pohon besar.
"Adik May lien ceritakanlah bagai mana kau bisa dekat dengan ular sebesar itu". Permaisuri Sari Tungga Dewi bertanya sangat ingin tahu.
"Jadi begini ceritanya......
Permaisuri May lien menceritakan semua,
Dulu dia berlayar dari negri tirai bambu, bersama kedua orang tuanya untuk meneliti obat-obatan untuk menyembuhkan orang-orang di negerinya yang di landa penyakit berkepanjangan.
Dia bersama ibu dan ayahnya berlayar dengan sepuluh para tabib istana lainnya, dengan di biayai oleh pihak kerajaan.
Dia pada waktu itu berusia sekitar sepuluh tahun, tapi sayang kapal laut yang dia tumpangi di terjang badai dan tenggelam ke dasar samudera.
__ADS_1
Dia tak mengetahui persisnya yang dia tahu dia bersama ayahnya bersama ayahnya berada di sebuah pantai, di samping ayahnya ibunya terbujur kaku tak bernyawa.
Setelah menguburkan mayatnya mereka berdua masuk kedalam hutan ini dan menemukan beberapa rumah, yang di sana sedang di landa penyakit buang air besar terus menerus dan muntah-muntah.
Sudah ada dua korban yang meninggal, ayah May lien mencoba mengobati dan berhasil menyelamatkan para penduduk itu.
Akhirnya kami di beri penghormatan dan di buat kan rumah kediaman yang cukup besar dan nyaman.
Seminggu kemudian permaisuri May lien bermain sampailah di danau ini, ketika hendak duduk di batu itu di sampingnya ada seekor ular hijau sebesar jempol kaki sedang terluka, ekornya terputus entah apa penyebabnya.
Permaisuri May lien mengobati ular hijau tersebut sampai sembuh, kain bekas mengelap darah ular itu di bawa pulang dan bercampur dengan baju yang hendak cuci.
Pada saat itu ayah sedang mengobati yang terkena racun pada kakinya yang membusuk.
Orang tersebut mencuci kakinya dengan kain tersebut untuk membersihkan lukanya.
Besoknya orang tersebut mengalami kemajuan, lukanya yang membusuk mulai membaik dan menuju kesembuhan.
Sejak itulah kami mengetahui darah ular hijau itu mengandung racun dan bisa menawarkan racun di campur dengan beberapa ramuan.
Seiring waktu ular itu pun tumbuh besar, dan bila permaisuri May lien membutuhkan bahan pokok untuk membuat penawar racun maka permaisuri May lien meminta darah ular tersebut.
Permaisuri May lien mengakhiri kisahnya.
"Dimana letak kampung adik May lien". Permaisuri Dewi sumayi bertanya
Permaisuri May lien segera menjawab, "Kampung itu ada di seberang danau ini di balik hutan itu". Permaisuri May lien menunju kearah sebrang danau tersebut.
"Kakak permaisuri Sari dan adik Dewi sumayi aku ingin pendapat kalian, aku ingin adik May lien tinggal di kediaman ku, aku melihat kediamanku sangat tidak terawat karena para pelayan kerajaan tidak ada yang berani masuk, ketika aku tidak ada di istana,....
"Apa bila kakak permaisuri Sari dan adik Dewi sumayi, sehabis mengadakan persidangan di istana kerajaan, bila malas untuk kembali kalian berdua bisa istirahat di sana, Bagai mana pendapat kalian". Pangeran Shun land mengakhiri bicara dengan pertanyaan.
"Aku setuju paduka tapi bagai mana dengan adik Dewi sumayi". Permaisuri Sari Tungga Dewi bicara dan bertanya pada permaisuri Dewi sumayi.
...****************...
__ADS_1