
Leluhur Ki Birawa melanjutkan kisahnya.
,.......Raja manusia purba menghampiri sepasang burung yang sedang memandangi telur semata wayangnya yang akan meneruskan generasi selanjutnya.
"Kalian berdua adalah bagian dari keluarga ku aku mengetahui kalian berdua telah mempraktekkan penelitian ku dan mempunyai keberhasilan, tapi satu kesalahan kalian kenapa tidak menceritakan padaku aku tidak melarang kalian terlibat dalam keilmuan ku tentang api, perlu kalian ketahui kalian mempunyai jenis yang berbeda, kau adalah jenis Na dan kau adalah jenis ci, praktek ku gagal karena aku tidak mempunya kekuatan air dalam tubuh ku kekuatan ku murni Na, sedangkan kau mempunyai kedua kekuatan Na dan Ci walaupun kekuatan Ci mu sedikit hingga bisa menyetabilkan kekuatan Na di dalam tubuh organ dalamku,.....
,...... janin mu memiliki dua kekuatan Na yang besar dan ci yang besar perpaduan kekuatan kalian berdua yang turun langsung dari kalian berdua. Ilmu yang aku teliti memang kekuatan api tapi dalam prinsipnya bisa di praktekkan ke kuatan air. Pada waktu kalian tidur kekuatan kalian keluar begitu besar bila kekuatan Na terlalu besar kekuatan Ci menyerapnya dan begitu seterusnya. Janin Mu memerlukan kekuatan api yang besar untuk menembus cangkangnya dan bayi agar bayi kalian menggeliat mengeluarkan kekuatan sendiri untuk menghancurkan cangkangnya,....
Saranku keluarkan lah kekuatan api mu yang besar dan bila berlebihan kau yang mempunyai air harus menyerapnya karena bisa membunuh janin mu, tapi kau pun akan mempunyai resiko tubuh kalian berdua akan meledak karena menanggung beban yang melebihi batasnya itu terserah kalian".
Sepasang burung besar itu saling pandang dan akhirnya mereka sepakat untuk mengambil resiko walaupun harus mengorbankan nyawa mereka asal keturunan mereka lahir dan meneruskan jejak mereka.
Malam berikutnya burung besar jantan mengeluarkan seluruh kekuatannya dan burung besar betina pun sama demi untuk menyerap kelebihan kekuatan api jantannya.
Di ujung malam telur itu bergerak burung jantan dan betina sangat senang tetapi cangkang itu hanya ada retakan kecil sang jantan semakin semangat dan dengan seluruh kekuatan api yang ada pada dirinya mengalirkan ke telur tersebut sang betina pun sama mengeluarkan kekuatan airnya untuk menyetabilkan tubuh pejantannya.
Hingga akhirnya sebuah paruh menjebol jangkang tersebut keluarlah kepala Burung Nengok kanan kiri, sang jantan dan betina sangat senang bayinya telah lahir dan kekuda pasang mata memandang dengan bahagia, tapi sayang rasa kebahagiaan ini membuat mereka tidak kontrol kekuatan yang sedang mereka keluarkan ini berakibat patal sesat kemudian di dalam tubuh mereka terdengar letupan beberapa kali dan tubuh keduanya ambruk.
Ternyata organ dalam kedua pasangan burung besar itu hancur. Seekor anak burung sebesar angsa dengan lucunya berjalan kesana kemari kadang mematuk-matuk kepala kedua burung besar yang sudah mati.
__ADS_1
Dengan perasaan sangat sedih raja manusia purba menguburkan mayat kedua burung besar itu dan sejak saat itu pula nama na dan ci di gunakan.
Tannpa sepengetahuan raja manusia purba kedua roh burung itu menjadi roh Api Na dan roh Air Ci, ini adalah hadiah dari sang maha Pencipta kepada kedua pasang burung besar yang rela berkorban jiwa demi kelangsungan hidup suatu ras.
Bayi Burung besar itu di pelihara dengan penuh kasih sayang dan menjadi teman bermain anak laki-laki raja manusia purba. Di suatu saat terjadilah suatu petaka pada raja manusia purba anak laki-laki semata wayangnya sakit tak seorang pun bisa menyembuhkan penyakitnya.
Sang anak burung besar yang belum bisa terbang itu selalu menemaninya, di atas punggungnya bila anak raja mau buang hajat atau pun buang air selalu mengantar.
Di dalam hati sang anak raja sangat ingin terbang bersama sang burung di kemudian hari tetapi keinginan ini tidak sampai tercapai karena penyakit yang menggerogotinya.
Dalam keadaan yang sudah menjelang ajal sang anak raja memeluk wajah sang anak burung besar dan berdoa.
Sang anak berkata sambil terengah-engah kare nafasnya semakin pendek saat menjelang nafas terakhirnya sang anak burung itu mengeluarkan satu tetes air mata di kedua matanya dan jatuh di Cakra mahkota sahabatnya yang sedang sekaratul maut.
Dengan kekuasan welas asihnya sang maha Pencipta roh anak raja keluar dari Cakra mahkotanya dan mengenali air mata itu lalu menelusuri jalan air mata itu dan masuklah ke tubuh sang anak burung besar itu.
Dengan izin sang maha Pencipta roh anak raja menyatu dengan roh hewani anak burung besar, sejak saat itu sang anak burung besar mempunyai rasa dan perasaan, mempunyai pikiran mempunyai hati mempunyai batin semuanya seperti manusia.
Seiring berjalannya waktu sang anak burung semakin pintar dan cerdas hingga bisa mempraktekkan ilmu api yang teliti pelajari oleh raja manusia purba.
__ADS_1
Sang anak burung besar tumbuh lebih besar dari kedua orang tuanya tubuhnya yang mempunyai dua kekuatan Api dan air yang seimbang menjadikannya dapat meregenerasi setiap sel tubuh yang rusak hingga dapat hidup ribuan tahun.
Tetapi keunikannya dan kekuatannya menjadi rebutan semua bangsa manusia purba menjadikannya ketakutan untuk hidup bersama manusia purba yang selalu memperhitungkannya.
Sang burung besar itu menghilang selama-lamanya dan sampailah di jaman kedatangan sepasang ras manusia biasa sang raja bermimpi melihat sang burung besar terbang bersama ras manusia biasa, dan bisa mengeluarkan api di kedua sayapnya.
Sang raja manusia Purba menceritakan mimpinya dari generasi ke generasi hingga mimpi tersebut menjadi kenyataan sang burung besar menjadi tunggangan sang raja agung Sunda Land Jatiraga dan di beri nama sang Garuda sampai sekarang.
Tetapi perjalanan sang burung besar akhirnya menghilang lagi hingga sampailah di jaman sang pangeran Cakrawala dan pangeran Cakrawala dalam meditasinya melihat sang burung di tunggangi seseorang yang mempunyai keistimewaan tubuh 4 lintang ke5 pancer sambil mencengkram tengkorak Naga di kakinya.
Pangeran Cakrawala pun mengukir penglihatan batinnya di meja ini, sang burung besar mencengkram tengkorak Naga dan simbul dua bintang di atas setiap sayapnya sebagai simbol manusia pilihan sang maha Pencipta menjadi penunggang sang burung besar yang abadi,......
Selain itu pangeran Cakrawala juga memberikan titipan pada keturunannya jika suatu jaman atau suatu masa menjumpai manusia pilihan bertubuh istimewa 4 lintas ke5 pancer untuk memberikan dua buah gulungan peta menuju suatu tempat, kami sendiri tidak berani untuk mengunjungi dua lokasi yang ada di dalam peta hingga tidak tahu ada apa di lokasi tempat itu,.....
,.... Begitulah tuan Jaya cerita meja ini berukiran sang Legenda Rajawali Api dan titipan dua gulungan untuk saudara tuan Jaya sempurna raja Shun Land".
Leluhur Ki Birawa menyebutkan raja Shun Land dengan bahasa kiasan.
****************
__ADS_1