
Di lereng gunung Gora yang dulunya hutan belantara dalam beberapa bulan telah menjadi sebuah ibukota kerajaan yang besar, kota di tata dengan tertib.
Di sebelah kiri istana di bangun beberapa bangunan besar di antaranya, Bangunan arena latih tanding serta bangunan tempat tinggal para peserta puluhan kamar di sediakan.
Selain itu sebelah kanan berbaris rumah untuk para pejabat tinggi kerajaan berjejer selain itu ada juga barak para prajurit yang sangat luas, pasar di tempatkan di tengah-tengah kota. Di depan istana ada alun-alun yang luas di hiasi berbagai bunga dan pepohonan yang rindang dan indah.
Jalan-jalan di bangun dengan bagus dan teratur, jalan besar terobosan ke berbagai kota sekitar di bangun dengan cepat, terciptanya ibukota megah yang di beri nama kota Medangdili ibukota kerajaan Galuh Sindula atau Galuh Purba, tidak lepas dari jasa para Manusia purba raksasa rakyat raja Taksaka.
Mereka bekerja pada malam hari bila siang mereka beristirahat di dalam hutan belantara untuk menghindari tontonan manusia biasa. Tiga ratus orang manusia purba raksasa yang di pimpin oleh mertuanya Boma bernama Maruta selalu siap siaga membantu setiap di butuhkan.
Pembangunan benteng pertahanan di setiap pelabuhan yang berada di pesisir Utara juga cepat selesai atas bantuan Maruta dan bawahannya. Ini adalah perwujudan rasa terima kasih dari bangsa manusia purba raksasa kepada manusia biasa khususnya pada Prabu Jaya Sempurna.
Kompetisi di dunia persilatan juga di adakan setiap dua bulan sekali untuk meningkatkan generasi muda yang kuat. Kepiawaian permaisuri Sari Tungga Dewi dan putri Dian Prameswari Dwibuana mengatur jalannya pemerintahan kerajaan tidak di ragukan lagi.
Sang Legenda Rajawali Api meluncur turun ke halaman depan istana Galuh Purba dan hinggap dengan gagahnya. Shun Land berjalan memasuki istana, semua yang berjaga langsung berlutut dan menghaturkan salam bakti Shun Land hanya melambaikan tangannya.
Pada saat itu di dalam istana sedang di adakan musyawarah menyangkut masalah di muara Brantas ujung timur daratan luas Sunda Dwiva. Ketiga permaisuri Shun Land duduk di kursi utama sedangkan Ratu Galuh Sindula duduk di singgasana ratu.
Di sana hadir pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja ada juga kepala pemerintahan yang di pegang oleh putri Dian Prameswari Dwibuana, panglima Tarpa dan Tiga Dewi Kematian yang di pimpin Dewi Lerna juga hadir, selain itu tetua Sri khal dan sang paman Shun Land panglima Shu Khal, tetua Khal San dan istri Dewi Iswari ibunda permaisuri Sari Tungga Dewi juga hadir.
Shun Land datang langsung di hadang oleh panglima Shu Khal sang paman yang lama tidak berjumpa. "Sepertinya paman ingin menjajal keponakan kecil ini, sebaik kalian semua keluar kita menuju ruang latihan tanding" Shun Land berkata dan langsung berbalik.
Semua yang hadir berdiri dan mengikuti Shun Land yang berjalan ke bangunan latih tanding. Setelah sampai Shun Land langsung meloncat tinggi memasuki arena yang luas seukuran setengah lapangan bola.
__ADS_1
Sang paman panglima Shu Khal mengikuti, mereka berhadapan berjarak tiga depa. "Lama tidak jumpa anak kecil paman sudah menjadi dan tangguh kata orang, paman belum percaya kalau belum menjajalnya". Panglima Shu Khal berkata.
"Paman hampir 8 tahun kita tidak bertemu paman masih tetap gagah, sepertinya masih pantas untuk menambah beristri satu atau dua istri, saya akan mencarikan asal paman bisa membuat saya melangkah mundur satu langkah dalam tiga serangan".
"Menantu jangan kau mengalah hingga pamanmu membuat kau terpental kebelakang yang membuat mertua mu ini menderita" Ibu permaisuri Dewi Sumayi berkata dengan keras sambil mengacungkan kepalan tangan tanda mengancam.
Membuat yang melihat jadi tersenyum-senyum melihat tingkah tetua Sri khal istri panglima Shu Khal. "Tenang bibi kejujuran saya bisa di pertanggung jawabkan". Shun Land menjawab dengan keras.
"Silahkan paman menyerang duluan". Saya tidak akan menghalau serangan paman, jangan sungkan serang dengan seluruh kekuatan paman". Shun Land melanjutkan bicaranya.
Panglima Shu Khal langsung memasang kuda-kuda dengan jurus andalannya dan seluruh kekuatan tenaga dalam bersiap menyerang. Tubuh panglima Shu Khal meluncur dengan cepat, kepalan kedua tangan di dorong ke depan kekuatan tenaga dalam di kerahkan pada titik tertinggi, serangan itu terarah ke dada atas dan ulu hati Shun Land.
Shun Land tidak bergerak sedikitpun menunggu serangan datang, tidak ayal lagi dua kepalan tangan panglima Shu Khal menghantam dada atas dan ulu hati Shun Land.
Suara ledakan bentrok dua kekuatan tenaga dalam berbenturan. Tapi sayang tubuh Shun Land tetap berdiri kokoh jangankan terpundur bergerak pun7 tidak. Shun Land mendorong sedikit dadanya seketika panglima Shu Khal merasakan dorongan kuat menghantam ke tubuhnya.
Panglima Shu Khal terpental ke belakang dan mendarat dengan kedua kaki yang langsung membuat kuda-kuda. Bersiap melakukan serang yang kedua. Tapi sebelum menyerang panglima Shu Khal berkata.
"Ponakan berikanlah muka pada paman mu ini sedikit pura-pura kesakitan". Tentu saja ucapan ini membuat sang istri Tetua Sri khal naik pitam.
"Benar-benar ingin mencari keuntungan, jelas ingin menambah istri satu saja sudah loyo, menantu buat dia babak belur agar jangan jadi liat pemikirannya". Teriak tetua Sri khal.
"Tenang bibi paman ini sebenarnya pura-pura mengalah karena tidak ingin mendapatkan istri baru, tadi berbisik 'satu saja sangat tersiksa karena selalu merepet, apalagi dua atau tiga biasa pingsan' begitu katanya bibi".
__ADS_1
Shun Land menjawab mengompori mertua perempuannya membuat kening panglima Shu Khal berkerut karena tidak merasa bicara apa-apa. "Dasar ponakan kurang ajar" panglima Shu Khal menggerutu.
"Paman kalau serangan kali ini tidak bisa membuat saya terpundur maka maafkan saya karena harus membuat paman babak belur ini perintah Mertua saya, saya tidak mau di sebut menantu yang tidak berbakti". Shun Land berkelakar.
Panglima Shu Khal semakin senewen karena Shun Land pintar bermain kata-kata, dengan kekuatan yang tersisa panglima Shu Khal melesat ke atas lalu menukik ke arah Shun Land, kali ini panglima Shu Khal menggunakan jurus Cakar elang.
Sama seperti semula Shun Land tidak bergerak sedikitpun menunggu serangan itu datang, dua cakar yang mengeluarkan kilatan cahaya kemerahan menghantam kepala Shun Land.
"Duuuaaaaarrr........".
Suara benturan tenaga dalam memekakkan telinga, kali ini panglima Shu Khal terpental beberapa depa, wajah nya agak sedikit bengkak.
"Ibu mertua saya telah melaksanakan perintah, membuat paman babak belur". Shun Land berkata keras. Membuat panglima Shu Khal sangat dongkol dirinya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Bagus menantu itu mungkin bisa menghilangkan ingatan tawaran di carikan calon istri hilang dari kepalanya". Istri panglima Shu Khal membalas ucapan Shun Land.
Shun Land langsung berlutut, "Salam dan sembah bakti pada paman semoga paman tidak dendam sekali lagi saya cuma Ingin menjadi menantu yang berbakti".
"Tidak apa-apa ponakan kecil memang kita sebagai laki-laki kadang harus rela menjadi bahan hiburan bagi mereka". Panglima Shu Khal bicara sambil berjalan menghampiri Shun Land yang sudah kembali berdiri.
Mereka pun berpelukan melepas kerinduan sekian lama tidak berjumpa, "Paman sangat bangga padamu". Hanya itu yang keluar dari mulut sang paman yang matanya berkaca-kaca teringat kakak perempuannya Ratu Shi khal yang seibu dan sebapak telah mendahuluinya menghadap Sang pencipta.
"Maafkan saya paman karena tidak bisa menjaga Kakak perempuan paman satu-satunya saya sungguh menyesal, ibunda dan ayahanda di bunuh Mara Deva, tapi saya akan memberikan keadilan untuk mereka". Shun Land menimpali.
__ADS_1
_______*****_______