
Shun Land sangat terpukul melihat jasad jasad yang membusuk mereka adalah yang mengelu-elukannya pada waktu datang kesana kematian raja Damanik Naraya dalam pertapaannya hampir membuahkan perpecahan tetapi dengan bijak bisa di luluinya tapi sekarang sia sia belaka.
Kekejaman Kama Deva tidak bisa di tolelir Shun Land mengeratkan rahangnya dalam hatinya berkata. "Kama Deva.... aku membunuh Asvaghosa dengan cepat tapi untuk mu akan ku buat kau mati seperti ibu anak ini yang menahan sakit perlahan kehilangan darah demi anaknya agar bisa bertahan hidup, tapi kau akan ku beri lebih, akan ku buat setiap detiknya kau merasa ingin cepat mati".
Shun Land tidak pernah mempunyai niat yang kejam sekalipun pada musuhnya tetapi melihat kekejaman terhadap rakyatnya hatinya membatu hingga keluar niat meminta keadilan darah di balas dengan darah kesakitan di balas kesakitan.
Shun Land melayang dengan mengendong bayi laki-laki ini, melihat setiap sudut kota di harapkan masih ada yang selamat tetapi tidak ada satu orangpun yang tinggal mungkin ada yang selamat pun mereka meninggalkan kota yang hanya tinggal kenangan bagi mereka.
Shun Land tengak-tengok mencari tempat yang aman untuk manaruh bayi dirinya ingin membakar semua agar mayat mayat yang membengkak menimbulkan bau busuk karena sudah seminggu lebih tergeletak bahkan yang di pinggir kota ada yang bekas di makan binatang buas.
Sebelum niatnya di laksanakan dari arah barat datang sang Legenda Rajawali Api di punggungnya ada Boma. Shun Land melihat sang sahabat datang langsung melayang ke pinggir hutan dekat ibu kota yang tinggal kenangan.
Sang Legenda Rajawali Api turun dan hinggap di hadapan Shun Land, Boma turun lalu berkata. "Adik Jaya aku kesini di utus leluhur Harsa bahwa kapal-kapal yang bersimbol ukiran perempuan sedah di temukan sebanyak 17 kapal dan di sana banyak harta benda Mara Deva yang di sembunyikan Asvaghosa". Boma langsung ke pokok permasahan.
Shun Land langsung menjawab. "Kalau begitu kak Boma kembali lagi ke istana Naga hitam katakan pada leluhur Harsa untuk memberikan 6 peti koin emas untuk di berikan pada pangeran Agam".
"Baiklah aku akan kembali". Timpal Boma sebelum Boma naik ke punggung sang Legenda Rajawali Api Shun Land berkata.
__ADS_1
"Kakak Boma bawalah Bayi ini yang kuberi Nama Banyu Nagura dan berikan pada pak Sardi yang menginginkan anak laki-laki".
Boma yang dari pertama turun dari punggung sang Legenda Rajawali Api tidak melihat seorang bayi laki-laki bertanya penasaran dari mana bayi tersebut. "Hai hai jangan kau katakan ini bayi dari selingkuh mu katakan dari mana bayi ini".
"Ini bayi aku temukan dari tengah reruntuhan istana aku selamat mungkin bayi ini sebagai saksi kekejaman Kama Deva dan bawahannya yang perlu kita ingat, setelah ini kita akan bertemu di pulau Samosir bersama tuan Uanggara dan pangeran Agam".
Boma menerima Bayi yang di beri nama Banyu Nagura lantas naik ke punggung sang Legenda Rajawali Api. Tidak butuh waktu lama sang Legenda Rajawali Api sudah Rahib dari pandangan Shun Land.
Shun Land mengeluarkan kekuatan api nya dengan sekali gerakan tangan di dorong ke depan, seluruh puing-puing bangunan berkobar begitu juga mayat-mayat yang membusuk tiada yang tersisa.
Sementara itu di ruangan utama kediaman Bangsawan Samosir tuan Bungaran, pangeran Agam, Dewi Langit dan kedua adik pangeran Agam. Mereka sedang membicarakan siapa yang akan pergi ke kota Sundapura yang berada di daratan Sunda Dwipa.
Baru saja tuan Bungaran akan memulai bicara satu pelayan laki-laki datang tergopoh-gopoh datang dan langsung bicara. "Tuan Bungaran di depan gerbang ada paduka raja Galuh Sindula yang menuju kemari". Setelah bicara pelayan laki-laki itu kembali menyambut Shun Land yang di antar 3 orang penduduk yang kebetulan ada keperluan dengan tuan Bungaran.
Tuan Bungaran, pangeran Agam putri Dewi langit dan yang lainnya berdiri lalu keluar menyambut Shun Land yang sudah memasuki halaman depan.
"Selamat datang paduka raja silahkan masuk". Tuan Bungaran mengucapkan salam.
__ADS_1
"Terima kasih tuan Bungaran maaf datang secara tiba-tiba tidak memberitahu kabar terlebih dahulu" Shun Land menjawab sambil berjalan beriringan dengan tuan Bungaran dan pangeran Agam, Dewi Langit sang adik langsung menggandeng tangan Shun Land. Dua putri adik pangeran Agam mengikuti dari belakang beserta para pelayan dan ketiga penduduk.
Shun Land duduk di lantai yang terbuat dari balok-balok kayu lebar, tuan Ungaran duduk berhadap di sisi kanan kiri pangeran Agam dan kedua adiknya putri Anggiat dan putri Tritiasa. Sedangkan Dewi Langit duduk tidak mau jauh dari Shun Land.
"Paduka saya Merasa terhormat atas kedatangan paduka tetapi apa gerangan yang membuat paduka rela berkorban waktu untuk berkunjung". Tuan Bungaran memulai pembicaraan dengan basa-basi.
Berbeda dengan Shun Land yang langsung bicara pada pokok permasalahan. "Tuan Bungaran pangeran Agam dan yang ada di sini, kita ketahui bersama pihak pangeran Shan land atau pangeran Jaya Lelana telah terang-terangan ingin berperang dengan kerajaan yang saya pimpin, salah satunya buktinya adalah penyerangan Armada Tombak Perak ke ibukota kerajaan Nagur dan membantai semua yang ada sampai ke para penduduk biasa pun di bantai tanpa ada rasa kemanusiaan,...... Shun Land menaik nafas dengan berat, tiba-tiba dadanya sesak bila mengingat kekejaman Pasukan armada Tombak Perak. Lalu meneruskan bicaranya.
"Kunjungan saya ke sini adalah ingin memberi tahu pada tuan Bungaran untuk mengehentikan pembangunan benteng di setiap pelabuhan, dan di ganti dengan pembangunan ruang bawah tanah yang cukup untuk seluruh rakyat di pulau Samosir ini, kegunaan ruang bawah tanah ini untuk mengungsikan para penduduk sipil bila perang besar terjadi". Shun Land mengakhiri bicaranya.
Tuan Bungaran pangeran Agam saling bertatapan mereka berdua jadi tidak mengerti apa tujuan sebenarnya dari Shun Land kenapa baru saja di mulai pembangunan benteng harus di hentikan dan mendapatkan perintah yang jauh berbeda, hingga pangeran Agam memberanikan diri bertanya kepada Shun Land.
"Paduka apa sebenarnya terjadi saya jadi tidak mengerti tujuan yang sebenarnya dari paduka ini....?". Shun Land mengangguk pelan sangat paham dengan kebingungan pangeran Agam dan tuan Bungaran, Shun Land lantas memberikan keterangan.
Shun Land tidak langsung menjawab karena ingin memilih bahasa yang tepat hingga tidak salah pengertian pada tuan Bungaran dan pangeran Agam. Semua pandangan yang hadir tertuju pada Shun Land karena ingin mendengar alasan utama
-------------"********"-------------
__ADS_1