
Di istana Galuh Purba kota Medangdili panglima Ki Bajul pakel sedang mengadakan rapat mengenai banyak kerusuhan akhir-akhir ini. Di sana juga ada panglima Tarpa, Dewi Darmawati istri panglima Ki Bajul Pakel Selain itu ada juga Lamsijam, ke empat Adik seperguruan pangeran Sanjaya triloka Anggada, Sarpatinaka, Anta Kusuma dan Kinayung, mereka berempat sekarang menjadi bawahan panglima Ki Bajul Pakel.
Selain itu Aji Wisesa dan Aji Wijaya hadir di sana, atas petunjuk gurunya Ki Agus Kalamerta Aji Wisesa dan Aji Wijaya mengabdikan diri di kerajaan Galuh Purba atau Galuh Sindula,
Panglima Ki Bajul pakel yang telah menerima berita dari telik sandi, telik sandi menceritakan bahwa di bagian barat wilayah Sunda Dwiva banyak keributan dan banyak perampokan, dalam hal ini para pembuat onar sangat sulit untuk di lacak karena modus operandi mereka yang selalu berpindah pindah secara acak.
Dalam kesempatan itu panglima Ki Bajul pakel mengutus Jatniko untuk menghubungi Ki Aria Natanagara ketua perguruan Cimande di Tarik kolot Bogor.
"Jatniko atas nama sang prabu Jaya Sempurna saya meminta untuk pergi ke Perguruan Cimande, sampaikan surat ini pada guru besar di sana Ki Aria Natanagara, dan saudara Aji Wisesa tolong pergi ke perguruan Ciomas di lereng gunung Karang". Panglima Ki Bajul pakel mengatas namakan perintah sang prabu Jaya Sempurna.
Ketika Ki Bajul pakel memberikan perintah seorang pelayan laki-laki datang membawakan makan dan minum hingga selesai panglima Ki Bajul Pakel bicara.
Jatniko menerima surat perintah itu lalu keluar bersama adik seperguruannya Santaka. Begitu pula Aji Wisesa menerima surat perintah dari panglima Ki Bajul pakel setelah itu Aji Wisesa dan Aji Wijaya keluar untuk melaksanakan perintah itu menuju perguruan Ciomas. Sedangkan Jatniko dan Santaka menuju ke perguruan Cimande.
Dalam surat tersebut tertulis panglima Ki Bajul pakel meminta Ki Aria Natanagara dan Ki Mahisa Taka untuk membantu dan menyelidiki pembuat onar serta pembuatan kejahatan lainnya di wilayah tersebut.
Selain itu dalam pembicaraan ini di putuskan panglima Tarpa untuk terjun langsung menumpas para pembuat onar.
____________
Dua orang berkuda melintas di jalan hutan alas kalongan(Pekalongan). Mereka berdua adalah Jatniko dan Santaka yang sedang melaksanakan perintah menuju perguruan Cimande.
Kuda mereka berdua berhenti tiba-tiba ketika ada batang pohon roboh di depan jalan yang mereka lalui. Sebelas orang turun dari dahan pohon di sekitar jalan tersebut.
__ADS_1
Mereka langsung membuat pormasi menyerang, Jatnika dan Santaka langsung turun dari kudanya dan mencabut senjata masing-masing. "Santaka hati-hati mereka sepertinya para pasukan terlatih". Jatniko memperingati adik seperguruannya.
Tanpa bicara empat orang menyerang Jatniko dan Santaka dengan pedang mereka.
Untuk serangan pertama satu orang menyerang bagian bawah dan satu orang menyerang bagian atas. Jatniko dan Santaka dapat menghindari serangan tersebut dengan mudah.
Tetapi belum sempat Jatniko dan Santaka memperbaiki kuda-kudanya dua orang menyerang dengan senjata Tombak ke arah perut mereka berdua. Jatniko menangkis dengan pedangnya begitu pula dengan Santaka.
Pertarungan begitu sengit dua lawan delapan, sesekali Jatniko dan Santaka bisa menyeng balik ke lawannya tapi serangan itu dapat di patahkan dengan mudah. Sementara itu ketiga orang penyerang tidak ikut menyerang, tetapi dua orang bersiap-siap dengan senjata Sumpit beracun.
Sedangkan pemimpin mereka hanya berdiri dengan bersidekap kedua tangannya melihat pertarungan tersebut. Dalam hal tenaga dalam Jatniko dan Santaka lebih unggul beberapa ribu lingkaran. Andai kan bertarung satu lawan satu pastinya Jatniko berada di atas angin.
Tetapi kali ini situasinya berbeda mereka melawan 4 orang sekaligus dengan kemampuan bertarung berkelompok yang sangat terlatih dua orang menyeng dan dua orang melindungi kadang mereka menyerang susul menyusul ini sungguh merepotkan Jatniko dan Santaka.
Di suatu kesempatan mereka berempat menyerang bersamaan hingga untuk menghindari serangan ini Jatniko dan Santaka harus melompat dan bersalto, ketika mereka berdua bersalto dua buah anak sumpit meluncur ke arah mereka anak sumpit itu begitu kecil hingga begitu sulit untuk di hindari oleh Jatniko dan Santaka.
"Santaka cepat potong lengan mu senjata rahasia mereka beracun sangat ganas". Jatniko memberikan perintah agar nyawa Santaka dapat selamat.
Santaka tanpa pikir panjang mengayunkan pedangnya memotong lengan dengan cepat.
Sementara itu Jatniko merasa tidak akan selamat, langsung mengeluarkan semua sisa tenaga dalamnya untuk menyerang mereka semuanya.
Jatniko melenting ke atas sambil berkata keras. "Santaka tangkap ini, dan selamatkan dirimu". Tangan kiri Jatniko melempar sebuah gulungan ke arah Santaka. Sedangkan tangan kanannya mengayunkan pedang dengan seluruh kekuatannya.
__ADS_1
Tapi sayang sebelum gulungan itu sampai ke tangan Santana sebuah bayangan melesat dan menangkap gulungan tersebut yang melayang di udara.
Santana melihat gulungan itu di ambil oleh salah satu dari mereka dan ke delapan penyerang sedang menghalau serangan terkahir Jatniko memberikan kesempatan dirinya melarikan diri.
Dengan sekuat tenaga Santana melesat ke luar arena pertandingan, sambil melesat Santana juga menotok jalan darahnya yang kelengan kirinya agar pendarahan berhenti.
Tapi sayang dua buah anak sumpit melesat kearah badan dan kaki, yang kearah badan dapat di hindari tetapi yang ke arah kaki tidak dapat di hindari dan tepat mengenai betis bagian bawah, Santana masih bisa melesat dengan cepat dan hilang ke dalam hutan.
Jatniko setalah menyerang dengan seluruh kekuatannya terduduk dengan satu lutut dan kaki satunya di tekuk, tangan kanan menancapkan pedang untuk menopang tubuh sedangkan tangan kirinya menahan di pahanya.
Dengan nafas tersengal-sengal Jatnika berusaha menghimpun tenaga dalam, tetapi hal tersebut tidak bisa di lakukan karena racun ganas telah menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
Dua orang mengayunkan pedangnya kearah leher dan yang satunya kearah pinggang. Jatniko hanya bisa memejamkan matanya menerima kenyataan harus telas dalam pertarungan. Dalam hati Jatniko merasa menyesal mengapa dulu tidak berlatih giat menghimpun tenaga dalam di masa mudanya.
Kepala Jatniko menggelinding badannya pun terpisah menjadi dua, pemimpin mereka langsung memerintahkan anak buahnya untuk menghilangkan jejak dengan sempurna.
Tubuh Jatnika segera di bakat dengan sangat cepat bercak darah di hilangkan. Dua kudanya pun di bunuh dan bangkainya di buang ke tengah hutan.
Salah satu dari mereka berkata pada pimpinannya. "Tuan Cokro apakah harus kita kejar yang melarikan diri". Ternyata mereka adalah anak buah kapten Rawedeng yang di pimpin oleh Cokro.
Yang di panggil Cokro langsung mengeluarkan pedang dan mengayunkan dengan sangat cepat ke arah leher anak buahnya, hingga anak buahnya tidak bisa menghindar atau pun menangkis walhasil kepalanya lepas dari tubuhnya.
Cokro berkata dengan sangat tegas. "Aku sudah memberikan peraturan jangan memanggil Nama kalian mengerti, bersihkan dan ingat peraturan cara kerja kita, bila kalian melanggar akan bernasib seperti ini, kita pulang dan yang melarikan diri biarkan saja dia tidak akan selamat dari racun Raja kala".
__ADS_1
Kesembilan anak buah Cokro langsung membersihkan tempat itu dan membakar jasad temannya di dalam Hutan. Setelah selesai semuanya mereka semua melesat ke dalam hutan, jalan pun lengang kembali seperti tidak ada peristiwa yang terjadi.
______*****______