
Pagi harinya Shun Land setelah mandi dan berpakaian rapi siap untuk melanjutkan perjalanan menuju ibukota kerajaan Tarumanegara.
Dari semenjak bangun perasaan hati Shun Land merasa gelisah tidak tahu penyebabnya. Hal ini di ketahui oleh Lasmini yang hatinya sedang berbunga-bunga apalagi bila mengingat kejadian semalam jantungnya berdebar dengan cepat ingin rasanya malam cepat datang.
Shun Land yang sedang merapikan barang bawaan di atas kuda di perhatikan oleh Lasmini dengan teliti, terlihat jelas cara kerja Shun Land yang biasa cepat tanpa banyak berpikir tetapi rapi sekarang Shun Land banyak pekerjaan yang salah walau pun hanya menaikan barang bawaan yang tidak seberapa.
Lasmini menghampiri sambil membawa seorang laki-laki setengah baya untuk mengemas barang bawaan dan menaikan ke atas kuda mereka.
"Kakang sebaiknya istirahat biar paman yang meneruskan pekerjaan". Lasmini menarik tangan Shun Land untuk duduk di bangku pinggir istal kedai makan.
Shun Land menurut saja setelah duduk Lasmini mendahului bicara "Ada apa sepertinya kakang sedang memikirkan sesuatu, apa kakang merasa menyesal bersama saya...?".
Sebelum menjawab Shun Land menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya baru setelah menguasai dirinya Shun Land berkata.
"Kakang tidak mempunyai masalah atau pun merasa menyesal tetapi sejak bangun hati kakang gelisah tidak tahu apa penyebabnya tau mungkin akang terlalu menikmati kesenangan bersama Neng Lasmini semalam". Jawab Shun Land di akhiri dengan menggoda Lasmini.
Lasmini tersenyum malu wajahnya memerah hatinya merasa bahagia dan dia sekarang sudah tidak malu di tempat umum menggelayut di tangan Shun Land.
Mereka berdua berjalan mendekati kuda yang sudah siap berangkat, pelayan kedai yang mengemas barang bawaan segera pergi setelah mendapatkan upah dari Lasmini.
Shun Land menuntun kudanya bersama Lasmini keluar dari area kedai mereka berdua melewati beberapa orang yang sedang duduk di pinggir jalan membiarkan sesuatu.
"Aku merasa kecewa dengan raja kita yang menghilang setelah terbunuh gurunya seperti ketakutan, dulu aku sangat mengagumi dan menghormatinya tetapi setelah kenyataannya dia seorang penakut jadi sangat kecewa". Seorang yang paling besar badannya bicara pada ketiga temannya.
"Aku juga begitu sangat kecewa dengan Raja Shun Land yang kaya anak kecil sembunyi dari para musuhnya". Yang berperawakan kurus menimpali.
"Hai kalian berdua jangan berkata begitu, walaupun begitu dia masih tetap raja kita yang paling berjasa semenjak ada kerajaan kehidupan kita sehari-hari kita jadi lebih tentram dan sejahtera buktinya kedai ini jadi rame banyak pengunjung dan kita pun bisa mendapatkan rezeki walaupun hanya sebagai pengurus kuda". Yang duduk paling ujung berkata membela raja Shun Land.
__ADS_1
Shun Land mendengar semua percakapan itu hatinya panas membara di hina oleh rakyatnya sendiri tetapi dia segera menguasai emosinya. Shun Land melewati mereka sambil membungkuk hormat.
"Mungkin ini salah satu inti penting melaksanakan Ritual Topongrame melatih kesabaran mendapatkan penghinaan dan ejekan yang bila aku membantahnya tidak mendapatkan paedah apa-apa". Shun Land berkata dalam hati.
Shun Land dan Lasmini menaiki kudanya masing-masing kuda berjalan pelan-pelan karena banyak yang lalu lalang orang pulang dari pasar. Di pedukuhan Rawagempol pasar hanya buka 2 hari di setiap minggunya.
Hingga bila pasar buka, di hari itu sangat rame sampai pagi menjelang kedatangan Shun Land dan Lasmini di hari itu bertepatan dengan pasar malam buka.
-----------------------
Di dalam istana sedang berlangsung sidang tertutup di sana telah duduk di singgasana permaisuri Sari tungga dewi di apit kedua permaisuri lainnya Putri Dewi Sumayi dan Putri May Lien.
Putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Makkamaru yang menjabat sebagai pelaksana pemerintah telah duduk di kursinya.
Panglima Tarpa, panglima laut Sarpa dan Laksamana Komalahayati juga telah duduk di posisinya. Panglima pasukan senyap Ki Bajul pakel dan wakilnya pangeran Sanjaya triloka dan istri putri Sanja juga sudah hadir.
Sebelum sidang tertutup di mulai satu orang prajurit penjaga istana masuk memberikan laporan. "Paduka permaisuri ada serombongan pasukan yang datang dari tanah sebrang Swarna bumi dari kerajaan Rijang Renah Selawi datang ingin menemui paduka, rombongan itu di pimpin langsung oleh sang putri Serindang bulan".
"Suruh mereka masuk, dan beri jamuan untuk pasukannya yang menunggu di luar". Permaisuri Sari tungga dewi menjawab.
Tetapi permaisuri Dewi Sumayi berdiri lalu berkata "kak Sari aku izin akan menyambut adik Serindang bulan". Permaisuri Sari tungga dewi menganggukkan kepala.
Permaisuri Dewi Sumayi bergegas berjalan menyusul prajurit yang menjemput putri Serindang bulan baru saja keluar dari gerbang istana permaisuri Dewi Sumayi langsung melihat putri Serindang bulan yang di kawal panglima Demagog dan panglima Durjana dan bawahan mereka berdua Karma, Udacca, Banaspati dan Durga Pati. Mereka adalah mantan bawahan Asvaghosa yang setelah Mara Deva kalah mereka bergabung dan di tempat oleh Shun Land di kerajaan Rijang Renah Selawi yang di pimpin oleh putri Serindang bulan.
Permaisuri Dewi Sumayi melihat putri Serindang bulan dia berlari kecil menyongsongnya setelah dekat keduanya berpelukan, putri Serindang bulan berkata sambil memeluk erat permaisuri Dewi Sumayi.
"Kakak permaisuri apakah benar paduka raja sudah tiada...?". Hanya itu yang keluar dari mulut putri Serindang bulan sambil menahan Isak tangisnya.
__ADS_1
Dalam hal ini putri Serindang bulan mendapatkan informasi bahwa Shun Land telah terbunuh oleh pembuluh bayaran yang sama yang telah membunuh sang gurunya.
"Tenangkan hati adik Bulan jangan percayai berita yang tidak benar percayalah kekasih kita adalah orang kuat tidak ada yang bisa membunuhnya, Mara Deva penguasa ribuan tahun saja bisa di kalahkan olehnya". Permaisuri Dewi Sumayi memberikan keyakinan pada putri Serindang bulan yang sebenarnya hatinya sendiri sedang sedih.
Mereka berdua masuk istana di ikuti oleh panglima Demagog dan panglima Durjana beserta anak buahnya, Putri Serindang bulan hendak berlutut memberikan penghormatan kepada Permaisuri Sari tungga dewi sebagai Ratu pengganti Raja Shun Land akan tetapi permaisuri Sari tungga dewi langsung berdiri meraih kedua pundaknya dan menarik ke pelukannya.
"Berikan saya waktu sebentar sebelum sidang di mulai". Ucap permaisuri Sari tungga dewi sambil berjalan membawa putri Serindang bulan ke belakang menuju ruang pribadi raja.
Sesampainya di dalam putri Serindang bulan duduk berdampingan tangan putri Serindang bulan di pegang permaisuri Sari tungga dewi, lalu permaisuri Sari tungga dewi bicara sambil menatap putri Serindang bulan yang tak hentinya air matanya mengalir karena di istana Shun Land memang tidak ada putri Serindang bulan membuat kesimpulan bahwa berita beredar memang benar bahwa Shun Land telah meninggal.
"Dengarkan baik-baik aku, Dewi Sumayi, dan May Lien kami juga sama merasa kehilangan tapi ingat kita jangan termakan dan percaya dengan isu yang beredar bahwa sang raja yang kita cintai telah terbunuh pendekar pembunuh bayaran, aku yakin kakang Shun Land sedang mengatur siasat untuk mengalahkan musuh besar kerajaan yaitu Mara Deva dan gurunya".
Permaisuri Sari tungga dewi berhenti sejenak memperhatikan wajah putri Serindang bulan lalu melanjutkan bicaranya.
"Putri dan aku adalah orang yang di percaya kakang Shun Land untuk memimpin kerajaan jaga wibawa kerajaan dengan menjaga perasaan kita di depan rakyat dan bawahan kita, kita tidak boleh mengecewakannya, putri jangan menunjukkan kesedihan sedikitpun atau menunjukkan rasa khawatir bahwa Raja dan kekasih kita sudah terbunuh di depan rakyat, itu akan membahayakan keamanan kerajaan, ingat musuh sedang mengintai kelemahan kita apa putri Serindang bulan mengerti".
Permaisuri Sari tungga dewi setelah bicara memeluk Putri Serindang bulan walaupun berbicara dengan tegas air mata permaisuri Sari tungga dewi jatuh juga menetes.
"Kakak permaisuri saya sedih banget, kakak permaisuri istri yang sudah sah sedangkan Bulan hanya masih calon istrinya". Putri Serindang bulan bicara sambil memeluk erat.
Mereka berdua berpelukan mengungkap rasa kesedihan kehilangan orang yang sangat mereka cintai.
"Bagai mana aku harus bersikap kakak permaisuri". Putri Serindang bulan bertanya setelah menguasai diri.
"Adik putri harus yakin bahwa kakak Shun Land masih hidup sedang melaksanakan siasat untuk mengalahkan musuh, sikap yang kedua adik putri harus menyakinkan segenap bawahan kita bahwa raja kita masih hidup dan yang ketiga jangan keluarkan kesedihan kita di depan rakyat dan bawahan kita itu akan berdampak pada mental mereka, putri harus kuat melalui ini suatu masa kita akan berkumpul bersama dan berjaya". Permaisuri Sari tungga dewi yang sudah matang dalam pemerintahan dan berpolitik memberi arahan pada putri Serindang bulan.
Setelah mendapatkan nasehat dari permaisuri Sari tungga dewi putri Serindang bulan membersihkan wajahnya hingga berseri-seri lagi tidak nampak kesedihan di raut wajahnya. Kulit putih mirip permaisuri May Lien menambah bersinar kecantikan putri dari Kerajaan Rijang Renah Selawi tidak kalah dengan ketiga permaisuri yang lainnya.
__ADS_1
-----------&&&&-----------