LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
337. Jaya Sempurna 70. Kisah Pataya dan pedukuhan Prawata.


__ADS_3

Shun Land mengangguk kan kepala pantas saja Pataya tidak bisa menghubungi Roh Ruyi Jingu Bang karena Pataya belum membuka mata batinnya.


"Sekarang apakah paman menyesal tongkat itu lepas dari tangan paman" Shun Land bertanya dengan mata tajam memandang wajah Pataya. Dengan sedikit ragu-ragu Pataya menjawab.


"Sebenarnya saya merasa sedih karena sudah 20 tahun tongkat sakti itu melindungi saya, sepuluh tahun yang lalu saya jadi incaran para pembunuh bayaran kelas tinggi tetapi karena tongkat sakti emas itu melindungi setiap serangan saya bisa lolos dan tidak ada satupun yang mampu mengambilnya walaupun saya tidak bisa menyerang balik maaf tuan saya berkata apa yang ada di hati saya"


"Inilah yang saya suka dari paman Pataya berani berkata jujur, paman ketahuilah bukan saya yang menginginkan tongkat sakti emas itu tetapi tongkat itu yang ingin mengikuti saya, untuk membuat paman percaya saya akan mengeluarkan tongkat itu dan saya akan menyuruh tongkat itu untuk memilih Kepada Paman atau kepada saya".


Setelah berucap Shun Land mencabut pedang Naga Bergola dengan kekuatan Batinnya Shun Land menyuruh Naga Bergola agar memerintahkan Roh Ruyi Jingu Bang untuk keluar.


Roh Naga Bergola berkata dengan keras "bangun pemalas tuanku ingin bicara padamu". Roh Ruyi Jingu Bang menjawab dengan santai.


"Aku pun mendengar jangan berteriak Naga suka pamer, eeeh aku ingat dulu kau di usir Raja Naga di ikuti Naga bumi Sabui yang sangat sayang pada kakaknya yang sombong, kemana dia sekarang".


"Sudah ngobrolnya nanti saja cepat keluar" Shun Land menyela pembicaraan mereka berdua. "Maaf tuan Shun Land". Roh Ruyi Jingu Bang berkata dengan lembut.


Dari gagang pedang Naga Bergola keluar Tongkat Sakti emas membesar dan melayang di depan Shun Land dan Pataya.


"Ruyi Jingu Bang kau pilihlah di antara kami, memiliki mengikuti ku atau Paman Pataya yang sudah lama bersama mu".


Shun Land bicara sedikit keras agar Pataya mendengar, Tongkat sakti Ruyi Jingu Bang melayang ke arah Pataya, jelas saja Pataya sangat gembira tetapi kegembiraan itu hilang saat tongkat itu sudah dekat, tidak di sangka Pataya Tongkat sakti Ruyi Jingu Bang memukul kepalanya beberapa kali dan kembali ke hadapan Shun Land lalu menghilang.

__ADS_1


Shun Land mencabut pedang Naga Bergola dan memasukan kembali ke warangkanya lalu berkata dengan lemah lembut menghibur Pataya. "Paman tongkat sakti emas tetap memilihku tapi tenang saja paman akan mendapatkan pusaka yang lain karena pusaka Tongkat sakti emas ini tidak berjodoh dengan paman".


"Iya tuan pantas saja pusaka tongkat sakti emas itu tidak mau menuruti keinginan ku ternyata Tongkat sakti emas itu menunggu tuannya datang, sekarang saya yakin bahwa suatu pusaka kelas Bintang tingkat tinggi benar-benar akan memilih sendiri tuannya". Pataya berkata pasrah dan ikhlas melepaskan tongkat sakti Ruyi Jingu Bang.


Akhirnya mereka berdua kembali dari dalam hutan di sana mereka semuanya sudah siap berangkat, Shun Land memerintahkan untuk berangkat dirinya sendiri dan Pataya menunggang kuda yang sudah di siapkan Delay.


Rombongan juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini sampai di pedukuhan Prawata me jelang senja karena Medang yang sangat sulit sering kali roda kereta slip garus di bantu dorong hingga bisa berjalan lagi.


Rombongan yang berjumlah 18 orang termasuk Shun Land berhenti di gerbang pedukuhan yang di tandai dengan baru besar di kanan dan kiri jalan. Mereka pun berjalan pelan-pelan Pangeran Sanjaya triloka dan putri Pramuja berjalan di depan di ikuti dua kembar Basara dan Bisiri sedangkan yang lainnya di belakang gerobak.


Shun Land merasa lega karena di jalur ini tidak ada lagi begal atau pun Rampok yang beroperasi ternyata benar yang di katakan Delay bahwa jalur ini hanya ada kelompok Danau emas setelah Ketua mereka dan anak buahnya di takutkan tidak ada lagi penyakit masyarakat yang meresahkan.


"Maaf adik bolehkah saya menganggu sebentar saya ingin bertanya sedikit".


"Silahkan kakak saya akan menjawab bila saya bisa" pemuda itu membalas membungkukkan badannya tanda memberi hormat.


"Adik saya ingin ke rumah Kepala pedukuhan dan mencari kedai makanan apakah adik bisa membantu". Pangeran Sanjaya triloka yang memang dari golongan bangsawan gaya bahasanya sangat sopan dan enak di dengar.


"Kebetulan sekali saya adalah pegawai pak kepala pedukuhan, kalau kedai makanan nanti juga kelewatan bila kakang menuju ke rumah Kepala pedukuhan".


"Apakah adik bisa mengantarkan kami ke rumah Kepala pedukuhan" Pangeran Sanjaya triloka lanjut bertanya. Pemuda itu tidak langsung menjawab seperti berpikir dulu setelah beberapa saat kemudian baru kata.

__ADS_1


"Baiklah kakak tapi saya akan mengikat sampan saya tadi tidak di ikat dengan kencang karena akan saya gunakan, tunggu sebentar kakak". Pemuda itu tidak menunggu jawaban langsung menuju pinggir danau yang di sana banyak sampan untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian penduduk pedukuhan Prawata.


Tidak lama kemudian pemuda itu datang lagi dan mempersilahkan pangeran Sanjaya triloka dan rombongan untuk mengikutinya. Di sepanjang jalan banyak warga yang melihat dengan pandangan keheranan dan rasa takut karena di dalam rombongan ada ketua Kelompok Danau emas Pataya dan ke empat anak buahnya.


Pataya sendiri sepanjang jalan menundukkan kepalanya begitu juga ke empat anak buahnya mereka semua merasa malu sendiri di hari-hari yang lalu sering memalak pedukuhan walaupun hanya sekedarnya.


Rumah Kepala pedukuhan berada di tengah pedukuhan persis berselang 3 rumah ada kedai makan kecil, Shun Land memerintahkan Delay untuk memesan makanan 30 porsi, Delay tadinya akan protes karena jumlah rombongan hanya 18 orang tapi niatnya di urungkan karena takut di anggap tidak sopan. Delay berhenti di kedai itu dan yang lainnya terus berjalan mengikuti si pemuda.


Si pemuda berhenti berjalan setelah sampai di gerbang yang terbuat dari bambu yang di ikat di balik gerbang itu ada rumah sang paling besar di antara rumah lainya selain itu di depan rumah ada pendopo yang cukup luas sepertinya bangunan itu tempat bermusyawarah para penduduk bersama kepala pedukuhan.


"Kakak tolong tunggu di sini sebentar saya akan melapor kepada kepala pedukuhan Ki Bantara di dalam" pemuda itu yang bernama Taruno setelah memberi hormat berjalan pergi untuk menemui Ki Bantara.


Setelah beberapa saat Taruno datang bersama seorang laki-laki paruh baya yang berpostur tinggi besar. "Selamat datang tuan-tuan pendekar perkenalkan saya Bantara kepala pedukuhan Prawata silahkan tuan-tuan pendekar untuk masuk nanti setelah di dalam baru tuan-tuan pendekar membicarakan kepentingan ingin bertemu saya, Taruno panggil Caksono untuk membantu mengikat kuda dan memasukan kereta tamu kita ini".


Ternyata laki-laki paruh baya berpostur tinggi besar itu sangat sopan dia adalah kepala pedukuhan Ki Bantara sendiri. Pangeran Sanjaya triloka melirik Shun Land meminta pendapat Shun Land mengangguk tanda setuju, setelah ada persetujuan Shun Land pangeran Sanjaya triloka berkata dengan lembut khas para bangsawan.


"Terima kasih pak Bantara maaf mengganggu tapi kami terpaksa melakukannya kami dalam perjalanan kemalaman". Setelah itu pangeran Sanjaya triloka dan Rombongan memasuki halaman kedua kereta di berjejer dengan satu gerobak dan beberapa kuda di ikat di sana Taruno kembali dengan Caksono membantu mengikat kuda barang.


Lasmini, putri Sanja dan nyai Karmia Kasmia keluar dari kereta, Lasmini berjalan di depan menuju pendopo yang berlantai panggung Shun Land dan yang lainnya berjalan di depan.


*****************

__ADS_1


__ADS_2