LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
156. berpisah dengan Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis


__ADS_3

"Manis sekali enak banget lagi dong'' Shun land ketagihan


"Ngupas sendiri" Ayu Sondari tersenyum lepas sambil menyodorkan keranjang berisi rambutan.


Nyai Geuntis kembali membawakan minuman hangat dan rebusan singkong.


"Mengapa kalian pagi-pagi makan rambutan, itu untuk bekal di perjalan kalian". Nyai Geuntis menyalakan keduanya makan rambutan pagi-pagi.


"Habis rambutannya manis cuma pemudanya aseeem" Ayu Sondari bicara sambil tertawa renyah.


"Aku itu tampan dan masih ya buuuu", Shun land menjawab.


"Sudah-sudah kalian ini kaya adik kakak pagi-pagi sudah ribut". Nyai Geuntis melerai.


"Aku punya adik kaya dia aduuuuuh...!!!"


Shun land berkata sambil menggelengkan kepala.


Ki Rangga Wisesa datang menghampiri mereka. "Nak mas Satria bila ada waktu mampirlah di daerah gunung Tangkuban perahu"


"Baik sepuh dalam perjalanan ini saya berniat untuk mengunjungi perguruan-kecil untuk mengajak mereka bergabung memerangi tidak kejahatan dan keangkara murkaan'.


Setelah semua beres Shun land berpamitan pada ketua perguruan Cimaya Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis.


Mereka berdua di antara oleh Purnama sampai ke jalan besar.


Kuda di pacu dengan lari yang tidak begitu kencang Shun land merasa tidak terlalu terburu kompetisi pendekar muda persilatan di perguruan Gelap ngampar masih sebulan lagi.


Shun land masih menunggu kabar dari sang Rajawali Api yang sedang pergi ke kerajaan Kutai khal di daratan Kalimantan.

__ADS_1


Dia sudah mencoba untuk berkomunikasi dengan mata batinnya tapi belum bisa tersambung mungkin karena jarak yang terlalu jauh kecuali Shun sambil bersemedi menggunakan seluruh kekuatan batinnya, itu pun belum menjamin bisa berkomunikasi dengan sang Rajawali Api.


Penanda jiwa hanya bisa merasakan sahabatnya hidup atau mati, akhirnya Pangeran Shun Land memutuskan untuk menghubungi naga bumi Sabui.


Shun Land menghentikan kudanya, Ayu Sondari pun mengikuti berhenti serta bertanya, "Ada apa kakak Shun berhenti bukan lebih baik kita berhenti di depan dekat penyebrangan mungkin di sana ada kedai makan untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan".


Mendengar ucapan Ayu Sondari Shun land membenarkannya dia pun meneruskan langkah kudanya dengan pelan sambil menjawab sekenanya. "Kadang kau ini cerdas juga yaaaa kita istirahat di sana".


Sesampainya di penyebrangan di sana ada dua jalur penyeberangan, satu untuk perjalanan kaki, yang satu lagi untuk yang membawa kuda atau gerobak dagangan yang di tarik oleh kerbau atau sapi.


Penyebrangan untuk perjalan kaki penyebrangan memakai perahu kecil sedangkan untuk yang membawa kuda atau gerobak memakai rakit yang besar terbuat dari kayu yang di susun lebar dan atasnya di beri papan supaya rata.


Shun Land dan Ayu Sondari menambatkan kuda di depan sebuah kedai kecil di pinggir jalan menuju penyebrangan.


Di sana hanya ada empat meja, setiap meja untuk makan empat orang, dua meja telah terisi satu ada tiga pelanggan dan yang satu sendirian di lihat dari pakaiannya dia seorang pendekar wanita dengan senjata panah.


Shun land dan Ayu Sondari memilih meja yang ke tiga di hitung dari ujung. Bersebelahan ketiga pendekar bersenjata golok semua pakaian mereka berwarna hitam celana sebatas pertengahan betis.


"Baik Nyonya dan tuan tunggu sebentar kami segera menyiapkan pesanan tuan dan nyonya". Pelayan menjawab lalu pergi ke dalam.


Terdengar suara ketiga pendekar di sebelah meja Shun land sedang mengobrol.


""Guru sepertinya kita terlalu awal untuk datang perguruan gelap ngampar seharusnya jalur ini sudah banyak para pendekar muda yang lalu lalang". Seorang pendekar muda berkata pada pendekar tua.


"Benar apa yang kau katakan Kusuma kita salah seharusnya setelah mendapatkan undangan kita tidak langsung berangkat". Pendekar tua membenarkan ucapan ucapan muridnya yang bernama Ki Kusuma.


Shun land walau membelakangi mereka tapi mendengarkan dengan baik, Shun land menengok mereka sambil berkata dengan pertanyaan.


"Sepuh kalau boleh tahu apa sepuh dan kedua murid sepuh ini akan mendatangi perguruan gelap ngampar".

__ADS_1


"Benar pendekar muda kami akan pergi ke sana untuk mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan, kami ingin mencari pengalaman bertarung untuk kedua murid kami ini". Pendekar tua itu tidak menutupi niat mereka.


"Kalau boleh tahu dari perguruan mana sepuh ini berasal". Shun land Bertanya lebih jauh.


"Kami dari perguruan golok Ciomas di gunung karang ujung barat daratan luas Dwipa". Pendekar tua menjawab apa adanya.


"Perkenalkan saya Satria Nusa kencana dan dia adik saya Ayu Sondari dari perguruan singa perbangsa kerajaan Tarumanagara tujuan kita sama menuju perguruan Gelap ngampar". Shun land memperkenalkan diri.


"Bagai mana kabarnya Aria Wirasaba, dulu waktu muda dia teman seperjuangan ku di dunia persilatan, kenalkan nak Satria aku Mahisa Taka, dia Kusuma dan Aji Tama muridku".


Ternyata guru besar golok Ciomas Mahisa Taka adalah sahabat Ki Aria Wirasaba pada masa masih muda.


Di saat mereka sedang berbincang-bincang di luar kedai makan terjadi keributan.


Seorang pendekar perempuan bersama tiga gadis dan satu pemuda, sedang mengahadapi tiga pendekar berpakaian serba putih


Ki Mahisa Taka menengok dari jendela lalu berkata. "Si nenek pedang setan dari Cipari kaki gunung ceremai dan Ki Wirantaka ketua perguruan Macan putih dari lembah begawan solo mereka dari dulu tidak pernah akur, nak Satria sebaiknya kita menghindari berurusan dengan mereka terutama dengan Dewi Andita si pedang setan dia sangat kejam walau dia seorang wanita, yang paling bahaya darinya adalah pedangnya di sembunyikan jarum sangat kecil beracun yang bisa membunuh dalam hitungan tarikan napas". Ki Mahisa Taka memberikan keterangan siapa yang berselisih di luar.


"Bila kau ingin mencari siapa yang lebih unggul kita akan buktikan di kompetisi, murid siapa yang lebih unggul aku tidak ada waktu meladeni mu nenek tua, Santaka, Jatmiko kita makan dulu". Ki Wirantaka berlalu meninggalkan nenek si pedang setan masuk ke dalam kedai makan.


"Kau takut Wirantaka bertarung dengan ku hahahahaaaaaa". Dewi Andita menertawakan kepergian Pendekar macan putih Wirantaka.


Pendekar macan putih Wirantaka menghindari pertarungan bukan karena takut dia mempertimbangkan keselamatan kedua muridnya kare pendekar pedang setan memiliki tehnik jarum beracun yang di simpang di gagang pedang dan warangka pedangnya.


Shun land dan Ayu Sondari mengalah berpindah tempat ke meja paling ujung bersama pendekar perempuan yang berbaju serba merah dengan topi menutupi sebagian wajahnya.


"Mohon izin bergabung di meja Nyai biarkan saya yang membayar tagihan Nyai pendekar"


Shun land bicara dengan sopan.

__ADS_1


"Silahkan ki sanak" pendekar wanita berbaju serba merah menjawab tanpa ekspresi.


**********************************


__ADS_2