LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
101. Memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh 16


__ADS_3

Pagi menjelang, burung mulai berkicau, terbang memulai mencari sesuatu untuk bertahan hidup


Mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan, derap suara kaki kuda berlari membelah tengah belantara.


Mereka tiba di sebuah jurang yang cukup dalam, pengalaman Karba tidak di ragukan lagi sebagai penunjuk jalan, dia hapal seluk beluk di hutan tersebut. Dia menunjuk kearah kanan, semuanya mengikuti Karba yang percaya diri.


Sebuah cekungan landai nampak, di jurang itu. "Hati-hati jalan ini sangat licin sebaiknya kita turun berjalan kaki" Karba turun dari kudanya dan menuruni jurang tersebut dengan menuntun kudanya.


Sampai lah di sebuah pedukuhan, pedukuhan ini lebih besar dan ramai dari perkampungan santui.


Karba bertanya kepada pangeran gadungan Boma, tuan Boma apa kita mampir dulu untuk makan, apa langsung melanjutkan perjalanan.


Boma melirik ke arah pangeran Shun Land.


"Paman Karba perjalan dari sini berapa lama lagi ke padepokan tapak maut" pangeran Shun Land bertanya.


"Kalau dari sini sudah dekat, jalannya pun sudah lebar, sekitar tiga kali waktu menanak nasi tuan Satria" jawab Karba dengan pasti


"Kalau begitu kita mampir dulu disini, kita harus mencari tahu dulu berapa kekuatan musuh, berganti baju dengan baju seorang pendekar, bila ada yang bertanya, kita akan berguru ke padepokan tapak maut, agar tidak ada yang curiga....


"Paman kita mampir di sebuah kedai makan".


Karba berjalan dengan pelan, sampailah di sebuah kedai paling besar di pedukuhan tersebut.


Kuda kuda mereka di titipkan ke jasa pelayan mengurus kuda dengan bayaran lima puluh keping perak atau setengah keping emas, Boma membayar tiga keping emas, kembaliannya buat tip pelayan tersebut.


Kedai tersebut ada depan meja panjang, setiap meja muat untuk makan enam orang.


Tiga meja sudah terisi, pangeran Shun Land memilih meja yang paling ujung dekat jendela.


Pelayanan wanita paruh baya datang, memberi kan minuman air teh selamat datang.


"Tuan-tuan mau pesan apa" pelayan itu bertanya dengan sopan.


"Sediakan makanan paling terkenal di kedai ini untuk 5 porsi besar" Boma menjawab dengan cepat, masalah makanan Boma yang paling gesit.


Baik tuan mohon tunggu sebentar, tidak berapa lama tiga pelayan membawa nampan besar penuh dengan makanan.


Meja itu penuh dengan beraneka jenis makanan dari sayuran dan dendeng ikan laut, walau jauh dari pantai.


Melihat ini pangeran Shun Land menggelengkan kepala siapa yang akan menghabiskan makanan sebegitu banyak.


"Di antara kalian adakah yang mau makan bersama kami, untuk menghabiskan makanan ini" pangeran Shun Land bertanya ke tiga pelayan.


"Tenang saja saya akan beri tiv" pangeran Shun Land bicara lagi melihat mereka bertiga ragu-ragu.


Mendengar mendapatkan tiv, pelayan yang berumur tiga puluhan langsung duduk tanpa ragu-ragu. Pikirnya makan enak dapat duit, kesempatan yang jarang.

__ADS_1


Boma makan dengan lahapnya, bagai tidak makan beberapa minggu saja.


"Tuan tuan ini hendak ke mana, sepertinya tuan tuan bukan penduduk sini".


Mendapatkan pertanyaan dari pelayan pangeran Shun Land, segera menjawab untuk bicara lebih jauh mencari informasi.


"Kami ini sedang dalam perjalanan, menuju padepokan tapak maut, untuk menimba ilmu Kanuragan, nona tau tentang padepokan tapak maut" pangeran Shun Land mencoba mencari tahu dari pelayan ini.


"Ooh masalah padepokan tapak maut, kalau saya kurang tau tapi teman saya ada yang tau karena dia berasal daerah saya" pelayan itu jawabannya meyakinkan.


.


"Apakah nona bisa meminta dia untuk datang kemari, jangn khawatir saya akan membayar dengan pantas" pangeran Shun Land menawari dengan uang.


Pangeran Shun Land segera mengeluarkan dua keping emas.


"Ini untuk nona dan teman nona, nanti saya akan tambah lagi bila jawabannya memuaskan" sambil bicara memberikan dua keping emas.


Pelayanan itu berdiri hendak menuju kedalam, baru saja dua langkah badannya tertabrak laki-laki berbadan kekar, pelayan itu terjatuh ke badan Boma yang sedang makan.


Makanan yang hendak di suapkan ke mulutnya, mengenai wajahnya.


Boma berdiri dan berkata sedikit keras.


"Kalau bicara pakai mata, ini bukan hutan milik moyang lu" Boma berapi-api.


Semula mata yang di dalam kedai menuju kearah meja pangeran Shun Land.


"Apa yang kau katakan, kau tidak mengenal ku, berani bicara lancang di depan ku, bajing** busuk" pendekar berwajah brewok membalas, sambil mengeluarkan aura membunuh.


"Maaf tuan saya tidak apa tolong maafkan kami" pelayan bicara maksudnya ingin melerai agar tidak terjadi keributan.


Boma berdiri dia tidak takut walau lawannya berbadan besar kekar.


"Siapa pun kamu aku tidak perduli, kau telah mengganggu makan ku, kau berjalan seenak jidat mu" Boma bicara tanpa rasa takut.


Para tamu pengunjung lainnya keluar, takut terkena imbas pertarungan.


Hanya meja dekat pintu yang tidak keluar, empat pendekar berpakaian serba hitam tenang-tenang saja.


Pendekar brewok memegang gagang golok panjangnya, tapi sebelum di cabut dari warangkanya, sebuah suara dengan tenaga dalam tinggi menggema.


"Brewok hentikan jangan membuat ribut di sini, ini tempat makan dan istirahat".


Pangeran Shun Land menengok kebelakang.


Pandangan mereka bertemu, hati pangeran Shun Land bergetar, dengan cepat pangeran Shun Land menguasai diri.

__ADS_1


Pendekar yang bicara tadi adalah Kama Deva, dengan tiga anak buahnya, akan menuju kampung Santui, ingin mencari info pendekar Legenda Rajawali api, yang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini.


Kama Deva tidak tau pendekar yang di carinya berada di dekatnya hanya terhalang satu meja.


"Awas kau, urusan kita belum selesai". Brewok mengancam.


Brewok dan Sarja berlalu, melangkah menuju meja ki Kama Deva, dan ke empat anak buahnya.


"Bagai mana kuda yang aku pesan apa sudah ada" Ki Kama Deva bertanya pada Brewok. Yang di tugaskan untuk membi empat ekor kuda, untuk menempuh ke perkampungan santui.


"Maaf tuan di rumah penjual kuda sedang kosong, saya telah mencari lebih jauh sampai ke bukit mawar tidak ada yang menjual kuda". Brewok meminta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan Ki Kama Deva.


"Sarja coba kau tanyakan pada pengurus kedai ini, siapa yang tadi berlima menunggang kuda dan masuk kemari". Ki Kama Deva memerintahkan Sarja.


Tanpa bicara Sarja pergi, tidak lama kembali lagi, "tuan yang memiliki kuda kuda tersebut adalah orang yang tadi ribut dengan kakang Brewok" Sarja memberi laporan.


"Tuan biar saya yang meminta kepada cecunguk itu". Brewok yang masih kesal ingin membeli kuda kuda tersebut untuk mencari jalan keributan dengan Boma.


"Tidak kau dan Sarja kembali saja, tugas mu telah selesai, biar aku yang akan bicara dengan pendekar itu" Ki Kama Deva melarang Brewok dan menyuruh keduanya kembali ke padepokan tapak maut.


Brewok berjalan keluar sambil menatap tajam kearah Boma, sambil meletakan tangannya di leher dan menariknya, memperagakan gerakan menyembelih.


Ki Kama Depa berdiri, melangkah ke arah pangeran Shun Land.


"Salam tuan pendekar, maaf anak buah saya tadi yang berbuat lancang terhadap tuan pendekar", ki Kama Deva membungkuk memberi hormat, dan meminta maaf atas kekasaran Brewok dan Sarja.


Pangeran Shun Land berdiri membalas hormat lantas berkata, "tidak apa-apa tuan itu hal biasa terjadi, ada perlu apa tuan sepuh ini menghampiri saya".


"Saya membutuhkan empat ekor kuda untuk melanjutkan perjalanan saya, semoga tuan ini berbaik hati, untuk menjual kuda kuda tersebut pada saya, saya akan kan harga yang bagus untuk tuan". Ki Kama Deva, langsung ke tujuannya.


Pangeran Shun Land, berpikir sebentar lalu bicara, "silahkan tuan memberi penawaran, kami pun sudah tidak memerlukan kuda kuda tersebut".


Dalam pemikiran pangeran Shun Land, kuda tersebut sudah tidak di perlukan, jika kembali dia akan menunggangi sang Rajawali api, melihat kemarin kuat menerbangkan empat orang.


Ki Kama Deva memberikan harga tiga kali lipat, dari harga pembelian, pangeran Shun Land langsung menyetujuinya.


Setelah membayar empat kuda pangeran Shun Land, Ki Kama Deva keluar dengan ke tiga bawahannya, seraya berkata.


"Semoga kita berjumpa lagi, dan bukan sebagai musuh". Ki Kama Deva berlalu.


...****************...


maaf jika ada salah ketikan.


terima kasih yang telah mendukung tulisan ini 🙏🙏🙏


SALAM NUSANTARA

__ADS_1


SALAM GARUDA PERKASA


__ADS_2