LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
245. Rencana licik Mara Deva yang sebenarnya di mulai.


__ADS_3

Deva Putta dan Kama Deva mengatur keberangkatan mereka semua ke daratan Sula, Deva Putta pun menghubungi Ki Braja Geni melalui sisa-sisa telik sandi yang masih setia padanya.


Untuk menunggu persiapan keberangkatan ke daratan luas Sula, kesempatan ini di gunakan Mara Deva untuk memulihkan diri.


Mara Deva masuk keruangan yang telah di sediakan nyai Andita si pedang setan untuk bermeditasi memulihkan kondisinya karena setelah bertarung dengan Shun Land kekuatan tenaga dalamnya turun beberapa tingkat.


Tiga hari berlalu pintu kamar Mara Deva terbuka, dengan tergesa-gesa Mara Deva berjalan keluar menemui empat orang gadis murid Nyai Andita si pedang yang menjaga kamar tersebut.


"Nona tolong panggilkan Asvaghosa untuk menemui saya di ruang utama perguruan dan beritahukan pada nyai Andita aku ingin makan enak kalau Nona tidak keberatan nona berempat boleh menemani saya makan". Mara Deva Deva berkata sopan santun pada ke empat pelayan itu wajah tampan yang tak pernah menua karena Ajian Rawarontek sangat menggoda para gadis.


Walau pun Mara Deva hidupnya selalu mengumbar Nafsu dan amarah hatinya penuh dengan dendam kesumat pada keturunan Raja agung Jatiraga tetapi sikap dan tindak tanduk Mara Deva selalu lemah lembut, tidak ada dalam catatan Mara Deva bertindak atau berkata kasar pada para wanita.


Padahal di balik lemah lembut dan kata-kata yang santun tersembunyi sifat kejam dan bengis yang tega membunuh sesama dengan tersenyum bahkan tega membunuh anak kandungnya sendiri bila tidak sesuai dengan keinginannya.


Asvaghosa menghadap ke hadapan Mara Deva dengan menundukan kepalanya.


"Ada apakah Junjungan memanggil hamba".


"Asvaghosa ada tugas penting yang harus kau lakukan, Bunuh panglima Antaka dan putri Dian Prameswari dwibuana dan suaminya, tiga orang ini yang membuat kerajaan Tarumanagara setabil gunakan strategi umpan agar kau bisa bertarung dengan panglima itu satu lawan satu, ku rasa kau akan memenangkan nya dengan mudah".


Mara Deva memberikan perintah, dengan tegas Asvaghosa menjawab.


"Baik Junjungan dalam dua minggu dari ketiganya akan saya habisi dengan rapih".


"Kau utamakan Antaka dulu setelah itu baru kedua putri Bangsawan Wajak dan pangeran Makkamaru". Mara Deva memberi petunjuk lebih lanjut.


Walau pun Mara Deva tidak begitu cerdas tetapi karena pengalaman ribuan tahun hidup dia mengetahui harus dari mana menyusun suatu rencana.


Asvaghosa keluar di ikuti salah satu murid Nyai Andita dari gerak gerik keduanya terlihat ada hubungan khusus antara mereka berdua.

__ADS_1


"Junjungan makanan telah siap sedia di ruang makan Nyai Andita dan tuan Kama Deva telah menunggu, tuan Deva Putta tidak bisa makan bersama karena sedang berada di luar perguruan".


Salah satu murid Nyai Andita memberitahukan Junjungan Mara Deva untuk segera menuju ruang makan.


Mara Deva di iring dua murid Nyai Andita tetapi waktu sampai pintu Mara Deva memberi perintah.


"Nona sudah cukup mengantar ku sampai di sini, tapi tolong panggilkan empat murid yang menjaga pintu kamar ku, saya telah berjanji padanya akan makan bersama ku".


Keduanya dengan segera melaksanakan tugas yang di berikan junjungan Mara Deva sambil berjalan keduanya membicarakan tentang Mara Deva.


"Aku tidak menyangka Junjungan Mara Deva orangnya sangat sopan santun". Salah satu murid berkata di timpali temannya.


"Hay bukan itu saja junjungan Mara Deva juga sangat tampan aku juga mau kalau di suruh menemani tidurnya".


Murid yang pertama bicara tertawa sambil menyenggol dengan bahunya mereka pun berlalu sambil cekikikan.


Mara Deva yang mempunyai telinga sangat tajam hanya tersenyu mendengar kedua murid yang membicarakan tentangnya.


Mara Deva datang langsung duduk di samping Nyai Andita tidak lama kemudian datang empat orang murid penjaga kamar Mara Deva.


Nyai Andita mengerutkan keningnya tetapi Mara Deva langsung memberi penjelasan bahwa mereka berempat dia yang mengajak makan bersama.


"Mereka berempat aku yang mengajak makan bersama nyai Andita, Kama Deva sebaiknya kamu makan bersama pasangan mu, aku ingin menghibur Nyai Andita dan ke empat muridnya yang terlihat lelah melayani segala keperluan kita". Mara Deva mengusir Kama Deva secara halus.


Kama Deva yang mengerti ucapan Mara Deva segera pergi karena sudah hapal apa yang di lakukan junjungannya ingin menyalurkan hasrat lelakinya pada kelima wanita yang di dalam ruangan makan tersebut.


"Nyai Andita bolehkah malam ini saya menghibur Nyai bersama ke empat murid nyai, saya jamin kalian akan merasa senang dan kerutan di wajah nyai akan memudar dengan sendirinya".


Sambil berkata Mara Deva menyuapi nyai Andita dan mendekatkan wajahnya yang tampan ke wajah nyai Andita.

__ADS_1


Nyai Andita yang telah lama tidak di sentuh kaum laki-laki jantungnya berdetak kencang dengan malu-malu membuka mulutnya sambil memandang mata Mara Deva.


"Kalian berempat kemari bantu aku melayani nyai Andita". Ke empat murid itu bagai terhipnotis menuruti perintah Mara Deva dengan suka rela.


"kalian Bantu aku melepaskan pakaian ini dan kalian pun mengikuti apa yang di perbuat guru kalian". Mara Deva memberikan perintah.


Nyai Andita yang sudah di kendalikan birahi tidak sadar sudah dalam keadaan polos dan di ikuti ke empat muridnya, setelah itu terdengar desisan ular kobra yang merasa terganggu sarangnya di acak-acak.


(Maaf ini sudah cukup jelas yaaa).


Ruangan makan di malam itu menjadi saksi sesuatu yang tidak lumrah menjadi suatu hal yang biasa bagi hamba yang menuruti kesenangan dunia semata.


Kala itu Asvaghosa sedang berjalan menunggang kuda ke barat yang di tujuannya adalah muara kali Cilamaya.


Kali ini Asvaghosa memakai pakaian seorang pendekar biasa, di pelabuhan Cilamaya Asvaghosa menyimpan sebuah kapal dagang yang di dalamnya ada kotak-kotak koin emas.


Kapal tersebut di titipkan orang kepercayaan Asvaghosa walau pun sekarang Asvaghosa sebagai buronan kerajaan Tarumanagara tetapi masih banyak yang setia terhadapnya.


Kapal itu di biarkan terbengkalai di salah satu tambatan kapal di dermaga Cilamaya orang sekitar menyangka kapal tersebut milik juragan setempat.


Asvaghosa yang belum rupa Antaka pendekar Syair kematian berniat mengunakan harta yang ada di kapal tersebut untuk menjalankan niatnya.


Dalam pemikiran Asvaghosa dengan uang itu dia bisa menyewa orang untuk membuat keributan agar panglima pasukan khusus senyap Antaka keluar, Asvaghosa pun bisa merekrut beberapa dengan uang tersebut.


Untuk menjalankan niatnya ini Asvaghosa berniat untuk menyamar menjadi seorang pedagang antar daratan.


Asvaghosa berjalan sambil menuntun kudanya menelusuri dermaga Cilamaya bagian timur tiba-tiba datang seseorang memberikan secarik kertas sambil berlalu.


Asvaghosa berhenti di depan kedai makan setelah menambatkan kudanya masuk ke kedai tersebut lalu memesan makanan dan minuman teh hangat.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanannya datang Asvaghosa membuka gulungan kertas itu tertulis di sana Nama suami istri, Tarman ipah.


____*****____


__ADS_2