LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
192. Bertemu dengan Ki Mahisa Taka di perguruan Ciomas.


__ADS_3

Dari sini Shun land merasa sangat bersyukur setiap keadaan sulit dia memiliki jalan keluar.


Tiga puluh tiga anak buah Panca Braja berlutut di hadapan Shun land dan Boma, mereka semua ingin mengabdi kepada Shun land, karena dia seorang pendekar yang penuh dengan rasa welas asih.


"Bila kalian ingin bergabung dengan ku kalian harus mengucapkan ikrar janji dan sumpah darah untuk setia kepada ku pada keluarga ku dan pada seluruh rakyat ku, lakukan lah bila ada yang keberatan silahkan pulang ke keluarga kalian".


Shun land bicara tanpa ragu-ragu.


Colet langsung melaksanakan ikrar janji dan sumpah darah di ikuti tiga puluh dua rekan-rekannya.


Shun land mengobati kelima bawahan Colet yang terluka dengan Air pusaka kendi manik astagina, kelimanya seperti mendapatkan keajaiban yang luar biasa luka lubang di dada mereka bekas serangan Sumpit raja neraka sembuh dengan waktu yang singkat.


Mereka berlima sujud di hadapan Shun land tanda terima kasih.


"Bangunlah kalian aku sama seperti kalian bukan tempat untuk di sembah, tatapi sang maha pencipta yang wajib kita sembah, dengan ini pula semoga jadi pelajaran bagi kalian untuk menentukan jalan yang lebih baik, saya mengajak pada kalian semua untuk menegakan keadilan dan kebenaran membela mereka yang lemah dari tangan-tangan yang penuh dengan keserakahan dan hawa nafsu binatang". Shun land bicara panjang lebar memberikan nasihat pada pengikutnya yang baru.


Shun land memerintahkan Colet dan anak buahnya untuk merapihkan bekas pertarungan dan memberikan santunan kepada penduduk yang rumahnya terkena imbas dari kekuatan Api hingga rumah mereka terbakar.


Hari mendekati malam ketika para anak buah Colet dan penduduk setempat bahu membahu untuk merapihkan tempat tersebut.


Setelah selesai mereka semua berkumpul di kedai Pedukuhan tersebut, Shun land memerintahkan kepada pemilik kedai untuk menjamu semuanya dengan makanan yang paling enak di kedai tersebut.


Setelah selesai makan para penduduk berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing karena hari mulai gelap.


Shun land duduk bersama Boma dan Colet.


"Paman Colet apa paman mengetahui jalan yang paling cepat menuju perguruan Ciomas, berapa lama kita sampai ke sana dari sini". Shun land bertanya dia ingin segera sampai ke sana.


"Tuan sebenarnya perguruan Ciomas sudah dekat dari sini hanya butuh dua kali waktu menanak nasi". Jawab Colet

__ADS_1


"Baiklah kita akan berangkat saat ini juga kita akan bermalam di sana semoga paman Mahisataka ada di sana". Shun land langsung beranjak dari duduknya menghampiri pemilik kedai.


Setelah membayar semuanya makanan Shun land dan Boma berjalan di belakan Colet sebagai petunjuk jalan sedangkan anak buah Colet mengikuti di belakang.


Perjalanan rombongan Shun land kadang kala harus melompat dari batu ke batu kadang berlari menghindari hewan buas bukan mereka tidak bisa membunuh tetapi Shun land memilih untuk menghindar demi lebih cepat sampai ke tujuan.


Benar yang di katakan Colet setelah memakan waktu dua kali waktu menanak nasi sampai mereka di sebuah gerbang yang terbuat dari kayu yang tersusun rapih.


Pintu gerbang tidak begitu besar hanya dua depa di setiap pintu, saat itu belum terlalu malam hingga masih ada beberapa murid yang terjaga.


"Siapakah yang di luar malam-malam begini bertamu, dan ada keperluan apa kalian datang ke perguruan kami". Terdengar suara dari balik pintu gerbang yang terbuat dari kayu.


"Katakan pada sepuh Mahisataka bahwa Satria Nusa kencana dari kerajaan Tarumanagara berkunjung". Shun land menjawab tidak bertele-tele.


Murid ki Mahisataka segera masuk kedalam di sana ada Dirga, Tanu, Aji Tama dan Ki Mahisa taka yang baru pulang dari perguruan Cimande mempersiapkan pertemuan koalisi pendekar dunia persilatan.


Sebelum selesai murid tersebut bicara Ki Mahisa taka dan Dirga serta dua lainnya melesat keluar menyongsong ke pintu.


Ki Mahisa taka sendiri yang membukakan pintu gerbang Perguruan.


Setelah terbuka lebar Ki Mahisa taka dan ketiga muridnya langsung berlutut di hadapan Shun land dan Boma.


Colet dan anak buahnya merasa kaget karena dia pernah bentrok dengan Ki Mahisa Taka dia pada waktu itu bersama sepuluh rekannya tetapi pertarungan hampir di menangkan oleh Ki Mahisa Taka tetapi di relai oleh Braja Musti yang tidak ingin menyinggung salah satu perguruan yang berada di dataran luas Dwipa.


"Siapa gerangan pendekar muda ini ketua perguruan Ciomas sampai berlutut". Batin Colet.


"Bangunlah sepuh tidak pantas hamba yang muda mendapatkan perlakuan seperti ini". Shun land Segera membangun Ki Mahisa Taka dan ketiga muridnya.


"Salam hormat Ki Mahisa Taka". Colet mendahului memberi hormat sambil membungkukkan badan dan menangkupkan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


"Eeh ada pengikut Panca Braja ada apa ini". Ki Mahisa Taka bertanya sedikit heran.


"Sepuh nanti saya ceritakan kejadiannya sekarang paman Colet dan seluruh bawahannya adalah pengikut saya".


Shun land memberikan keterangan.


Ki Mahisa Taka mempersilahkan masuk Shun land dan Boma serta yang lainnya masuk.


Shun land di antar oleh Dirga ke tempat membersihkan diri.


Boma dan Colet serta bawahannya membersihkan diri. Mereka di beri pakaian bekas murid-murid perguruan Ciomas yang terbunuh oleh pembunuh bayaran yang di ketuai Tapak sakti atas perintah Kama Deva sebagai pengalih perhatian mereka yang akan menyerang kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan.


Para anak buah Colet di tempatkan di bekas para murid, di pendopo utama Shun land dan Boma serta Colet, Ki Mahisa Taka duduk di samping nya ada Aji Tama dan Dirga sedangkan Tanu sedang memberitahukan juru masak perguruan untuk membuat minuman hangat.


Shun land menceritakan kejadian ketika pertama bertemu dengan Braja musti yang akhirnya berakhir dengan pertarungan dengan kemenangan di tangan Shun land.


Shun land pun menceritakan perihal Colet dan anak buahnya yang memilih untuk mengabdi kepada kerajaan Tarumanagara.


Shun land mengutarakan rencananya bahwa perguruan Ciomas akan menjadi benteng pertahanan sebelum kota labuan di kuasai dia juga akan mendatangi Perguruan Gajah Mungkur yang berada di kaki gunung Pulosari sebelah selatan dari gunung karang tempat berada perguruan Ciomas.


Shun land akan mengajak mereka untuk bergabung tetapi bila mereka menolak dia akan bertindak tegas terhadap perguruan Gajah Mungkur tersebut.


Ki Mahisa Taka menceritakan tentang koalisi antar perguruan dunia persilatan yang di ketua oleh guru besar Ki Aria natanagara dari perguruan Cimande.


Ki Mahisa Taka pun menceritakan laporan dari Ki Kusuma Wijaya dan Nyai Larasati kakak seperguruan Shun land, bahwa para pemimpin perguruan di daratan luas Dwipa hampir keseluruhan siap mendukung dan bergabung di bawah bendera kerajaan Tarumanagara yang di pimpin oleh Shun land.


Hanya beberapa perguruan dunia persilatan yang tidak mau bergabung seperti perguruan Badak liar, perguruan pedang setan dan perguruan lainnya.


-------------------*****-----------------

__ADS_1


__ADS_2