LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
253. Kabar duka dari istana Sundapura.


__ADS_3

Di kawasan istana Rijang Renah Selawi seekor burung legenda besar hinggap, empat orang turun dari punggung sang Rajawali Api mereka berjalan menuju istana Rijang Renah Selawi.


Para pengawal istana kerajaan tergopoh-gopoh menyambut orang nomor satu di tiga daratan, daratan luas Dwipa, daratan luas Swarnabumi, daratan luas Nusa kencana (Kalimantan).


Tidak terkecuali ayah dari Putri Serindang bulan sang raja menyambut beserta permaisuri dan beberapa selirnya.


Tapi pada saat itu Shun land memilih untuk segera masuk ke kamar peristirahatan yang telah di sediakan.


Shun land merasakan kegelisahan hati yang tanpa sebab. Untuk menenangkan diri Shun Land langsung ke peristirahatan untuk melakukan meditasi.


Sedangkan permaisuri Dewi Sumayi menerima jamuan makan dan minum setelah itu permaisuri Dewi Sumayi menginginkan bicara secara khusus pada Raja Rijang Renah Selawi beserta permaisurinya.


Permaisuri Dewi Sumayi mengikuti sang raja Rijang Renah Selawi menuju ruang pribadi raja di gandeng permaisuri raja.


"Padukan saya ingin membahas sesuatu yang sangat pribadi tentang pernikahan nikahan Saya dan dua permaisuri paduka lainnya, maka dari itu saya ingin ruangan tertutup ini sangat rahasia bisa di sebut ini tentang aib keluarga besar istana". Permaisuri Dewi Sumayi berhenti sejenak untuk memilih kalimat yang tepat untuk di sampaikan Raja Rijang Renah Selawi.


Sang raja sedikit terkejut tetapi segera menguasai situasi lalu berkata.


"Katakanlah paduka permaisuri jangan ragu-ragu saya dan permaisuri saya akan menjaga rahasia ini dengan nyawa kami".


"Paduka raja kami bertiga di nikahkan bersama dalam satu hari dengan paduka raja Shun Land sudah hampir 5 tahun kami bertiga belum di karuniai anak, maka dari itu kami melihat putri paduka raja menyukai Paduka raja sebaliknya paduka raja suami kami sangat mencintai putri paduka dengan kerendahan hati saya memohon paduka untuk menikahkan putri Serindang bulan dengan paduka raja Shun Land, perlu di ingat bukan sebagai selir tetapi sebagai permaisuri yang ke empat yang mempunyai kedudukan yang sama dengan kami dengan harapan besar dari putri paduka Serindang bulan paduka raja Shun Land bisa memiliki keturunan untuk meneruskan jejak ayahnya itulah yang ingin saya bicarakan pada paduka raja". Permaisuri Dewi Sumayi mengakhiri bicaranya.


Raja Rijang Renah Selawi melirik permaisurinya, permaisurinya hanya menganggukkan kepala dengan pelan tanda menyetujui apapun keputusan suaminya.


"Paduka permaisuri dengan senang hati saya akan segera meminta pada paduka raja Shun Land untuk Segera menikahi putri saya semoga saja paduka berkenan menikahi putri saya yang sedikit manja".


Raja Rijang Renah Selawi menjawab dengan penuh kegembiraan karena dia merasa beruntung bisa mempunyai raja yang sangat berilmu tinggi dengan demikian kerajaannya akan aman dari segala serangan dari luar atau pun rongrongan dari dalam.


Saat mereka bertiga akan keluar pintu ada yang mengetuk. "Mohon izin paduka ada yang perlu saya sampaikan ini sangat penting".

__ADS_1


Suara seorang prajurit istana terdengar dari balik pintu Raja Rijang Renah Selawi segera menjawab. "Masuklah".


Pintu terbuka seorang prajurit dalam istana membawa sebuah gulungan kecil lalu berlutut sambil berkata.


"Salam pada paduka permaisuri kerajaan Tarumanagara salam pada paduka raja Rijang Renah Selawi beserta permaisuri saya kemari ingin menyampai surat dari telik sandi kepada paduka raja Shun Land tolong permaisuri kerajaan Tarumanagara mewakili paduka karena kami tidak berani mengetuk pintu kamar Paduka raja Shun Land yang sedang istirahat".


Selesai bicara prajurit itu segera mengulurkan gulungan kecil pada permaisuri Dewi sumayi.


"Terima kasih paman saya akan segera menyampaikan surat ini segera mungkin". Permaisuri Dewi Sumayi menerima gulungan tersebut dengan hati yang bertanya-tanya.


Mereka keluar dari ruang pribadi raja permaisuri Dewi Sumayi yang beru pertama kali di sini di antar seorang pelayan wanita menuju peristirahatan Shun land.


Permaisuri Dewi Sumayi mengetuk pintu sambil berkata dengan lemah lembut.


"Mohon izin memasuki kamar Paduka raja ada sesuatu yang perlu saya sampaikan".


"Masuklah permaisuri ku" Shun land menjawab dengan suara pelan.


"Maaf kan saya kakang telah mengganggu meditasi kakang ada surat dari telik sandi katanya sangat penting". Permaisuri Dewi Sumayi mengulurkan gulungan kecil pada Shun land.


Shun land segera menerima dan langsung membukanya di ujung kiri atas ada kode istana di bawahnya ada tulisan tiga baris tulisan.


"Antaka telah di bunuh"


"Tidak ada jejak pembunuh"


"Mohon raja kembali".


Tiga baris kata yang membuat darah Shun Land berdesir cepat matanya ada kilatan api tangannya meremas gulungan itu Sampai hancur.

__ADS_1


Shun Land segera berdiri dan langsung merapihka pakaiannya sambil berkata.


"Kita kembali ke istana Sundapura ada keadaan yang penting".


Permaisuri Dewi Sumayi jadi tidak bisa berbuat apa-apa tetapi hatinya bertanya-tanya apa yang tertulis di gulung itu dengan terpaksa permaisuri Dewi Sumayi memberanikan diri untuk bertanya.


"Kakang Shun Land ada apa tenangkanlah diri mu dulu setelah itu kakang Shun land tenang kita segera kembali". Permaisuri Dewi Sumayi berkata sambil merangkul tangan Shun Land untuk meredakan amarahnya.


Shun Land menuruti ucapan permaisuri Dewi Sumayi lalu duduk di tepi bembaringan permaisuri Dewi Sumayi mengambilkan gelas berisi air dan menyodorkan pada Shun land.


Dengan sekali tenggak satu gelas habis di minum oleh Shun land setelah terasa tenang Shun land bicara seperti biasa lagi.


"Kita harus segera kembali ke istana Sundapura aku sangat di perlukan di sana paman Antaka ada yang membunuh, pastinya pembunuhnya berilmu tinggi hingga tidak meninggal jejak sedikit pun".


Permaisuri Dewi Sumayi mengeratkan rahangnya mendengar panglima ada yang membunuhnya bagai manapun panglima Antaka yang selalu menjaga keamanannya bila Shun Land tidak berada di istana.


"Mengapa kakang masih duduk mendapatkan berita yang tidak enak ini orang sengaja ingin mempermalukan pihak istana". Permaisuri Dewi Sumayi bisa dengan nafas memburu menahan amarah tanpa menunggu jawaban Shun land langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar.


Shun Land menggelengkan kepalanya tadi dia yang menyuruh tenang tapi sekarang dia malah yang di luar kendali.


"Dasar perempuan susah untuk di tebak". Shun Land berkata sambil berjalan mengikuti permaisuri Dewi Sumayi.


Di ruang utama istana di sana telah berkumpul Raja Rijang Renah Selawi dengan permaisuri nya ada putri Serindang bulan Boma pun hadir duduk di samping putri Serindang bulan.


Setelah sampai di ruangan utama istana Shun Land langsung berbicara pada Raja Rijang Renah Selawi, putri Serindang bulan dan Boma.


"Maaf sepuh saya harus segera kembali ada keadaan yang penting di istana Sundapura, putri Serindang bulan saya akan segera kembali, kak Boma untuk sementara waktu tinggal di sini kak Mawinei dan Wisanggeni akan segera menyusul kemari janga tinggalkan istana ini apa pun terjadi. Putri sebarkan perintah agar seluruh kekuatan tentara berada di istana".


Shun Land bicara sangat tegas karena ini menyangkut martabat kerajaan.

__ADS_1


____*****____


__ADS_2