
Pada waktu itu pangeran Makkamaru hanya diam saja pikirannya sangat tidak tenang memikirkan keluarga besarnya, ke khawatiran pangeran Makkamaru sangat berdasar karena mengetahui kekejaman pangeran Jaya Lelana atau pangeran Shan land sangat di luar perikemanusiaan, yang di anggap mengganggu jalannya pemerintahan langsung di eksekusi dengan pasukan bayangan hingga tidak terlihat kekejamannya di muka publik.
Pangeran Makkamaru mendapatkan ketenangan ini dari tetua Sri khal ibundanya permaisuri Dewi Sumayi dan Tiga Dewi Kematian Dewi Lerna. Keterangan dari Shun Land pun yang di dapat dari pangeran Labas Paban menambah kekhawatiran dirinya kepada Sang ayah Tuan Labusa dan sang ibunda Nyai Ilempe. Belum lagi kedua adiknya Isogi dan Ambodale.
Shun Land dalam kesempatan ini pun memberikan kitab Bayu sejagat kepada Ki Lembu Marunda untuk di pelajari bersama-sama muridnya. Shun Land mengamanatkan agar menyalin kitab tersebut tanpa ada satu katapun atau satu gerakan pun yang di rubah karena akan membahayakan yang mempelajarinya.
Dalam Ajian Saipi angin menitik beratkan pada pelajaran mengatur pernafasan bersamaan dengan mengalirkan tenaga dalam ke seluruh persendian agar bergerak lebih cepat, tapi dalam hal ini salah sedikit saja bisa mengakibatkan cedera persendian.
Menjelang sore pangeran Sanjaya triloka telah kembali membawa empat kotak besar dan 2 kotak sedang kepingan koin emas, di sana pangeran Sanjaya triloka pun bertemu dengan leluhur Harsa dan Leluhur Rati yang sedang membicarakan ada pergerakan kapal-kapal perang Tombak perak.
Dalam hal ini Leluhur Harsa yang sudah tahu struktur mantan armada laut Naga Hitam memberikan saran pada Ratu Serindang Bulan yang menjadi wakil Prabu Jaya Sempurna. Pangeran Sanjaya triloka pun di mohon untuk memberikan informasi hal ini kepada Shun Land.
Para murid perguruan Osing mambantu mengangkat kotak-kotak koin emas dan mengangkut ke dalam kediaman Ki Lembu Marunda, Shun Land keluar dari kamar peristirahatan mendengar ribut para murid yang membawa kotak-kotak koin emas.
Pangeran Sanjaya triloka memberikan laporan. "Sang prabu saya di beri perintah untuk menyampaikan pesan bahwa di selat Malaka ada pergerakan kapal-kapal perang Tombak perak, leluhur Harsa dan leluhur Rati mengerakan Armada Laut Naga Biru yang di pimpin oleh Laksamana Durjana beserta bawaannya Banaspati dan Durga Pati, itulah pesan dari Ratu Serindang Bulan".
Pangeran Sanjaya triloka mengakhiri bicaranya, Shun Land diam sejenak lalu berkata. "Kirimkan pesan melalui merpati, untuk menjaga jarak jangan mendahului menyerang, kita belum siap karena pembangunan benteng pertahanan dan pengungsian di ruang bawah tanah belum selesai di bangun, aku juga akan meminta Naga Bumi Sabui untuk ikut mengawal armada laut Naga Biru".
Pangeran Makkamaru menyiapkan alat tulis, lalu menulis apa yang di katakan Shun Land, seekor merpati putih di keluarkan dari tas kulit Shun Land, surat itu di ikatkan di kaki merpati, pangeran Makkamaru kembali ke tempat berkumpul setelah melepaskan merpati pengirim surat.
"Paman Lembu Marunda besok kita ke pelabuhan Hujung Galuh setelah itu kita akan datangi pelabuhan Canggu menemui Raden Wisnu Wardana di Majakarta kita berangkat menggunakan kuda saja sekaligus saya ingin melihat wilayah ini". Shun Land berkata memberitahu acara untuk besok.
Akhirnya mereka membubarkan diri, Shun Land, pangeran Sanjaya triloka dan pangeran Makkamaru di tempatkan di kamar tamu istimewa. Sebelum masuk ke kamar Shun Land berpesan pada pangeran Sanjaya triloka.
"Pangeran malam ini saya akan mengunjungi pelabuhan Canggu sendirian agar besok tidak ada salah paham, karena bila besok kita berangkat berenam seperti akan menyerang, saya akan bicara langsung pada kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana, katakan pada paman Lembu Marunda besok saya bertemu di pelabuhan Hujung Galuh". Setelah bicara pada kedua pangeran Shun Land masuk ke kamarnya.
Pada jaman itu Daratan Sunda Dwiva masih berbentuk hutan-hutan belantara tropis yang banyak di penghuni manusia hanya bagian pantai dan pinggir-pinggir sungai karena jalan transportasi utamanya sungai-sungai besar. Ada yang masuk kedalam itu pun tidak seberapa hanya sekitar 35% penduduk.
__ADS_1
Pedukuhan pedukuhan itu hanya terdiri dari puluhan rumah saja,
Shun Land keluar dari kamarnya menuju halaman belakang perguruan setelah tidak ada yang melihat Shun Land melesat ke udara menuju barat yang tuju pelabuhan Hujung Galuh muara sungai Brantas Pasuruan.
(NB: Dari sejumlah data para sejarawan tidak ada yang memastikan di mana letak Pelabuhan Hujung Galuh, yang jelas pelabuhan ini ada sejak berpindahnya Mataram kuno dari Jawa tengah ke Jawa Timur kerena meletusnya gunung Merapi, nama kerajaan di ganti menjadi Kerajaan Medang Kamulyan, pelabuhan ini di bangun oleh Raja Airlangga, di akhir Chapter Author sisipkan kutipan para sejarawan. Lagi-lagi tidak ada rundayan Raja-raja dari dongeng Aji saka pangeran India, seluruhnya murni darah Nusantara dari keturunan Ratu Galuh Sindula Dinasti Syailendra Sampai Raja-raja Majapahit, hehehehe kepanjangan yaaa).
Shun Land tidak tahu letak Pelabuhan Hujung Galuh memutuskan memanggil Sang Legenda Rajawali Api, "dasar pemalas suka pamer malah tiduran di halaman depan perguruan, temani aku ke pelabuhan Hujung Galuh".
Shun Land memanggil Sang Legenda Rajawali Api melalui Batin, sebenarnya Shun Land memanggil Sang Legenda Rajawali Api karena mata Sang Legenda Rajawali Api lebih tajam berpuluh kali lipat di bandingkan mata manusia.
"Kau ini selalu menggangguku yang sedang menikmati malam yang indah, dan di puja-puja banyak orang dasar raja mata jereng, tak cukup satu istri". Sang Legenda Rajawali Api membalas.
Shun Land masih melayang di atas perguruan tidak lama sang Legenda Rajawali Api sudah berada di bawahnya, tanpa ragu Shun Land duduk di atas punggung sang Legenda Rajawali Api.
Dengan sedikit percikan-percikan api di sayapnya Sang Legenda Rajawali Api terbang dengan gagahnya di angkasa Sundaland.
"Mana ku tahu di jaman ku belum ada yang namanya pelabuhan kalau gunung dan sungai aku tahu, di daerah ini ada sungai yang besar yang mempunyai tiga muara sungai". Sang Legenda Rajawali Api dengan apa adanya.
"Kita ke sungai itu telusuri sampai ke muara satu persatu-satu". Shun Land memberikan petunjuk. Sang Legenda Rajawali Api menimpali.
"Dasar Raja mata jereng, harusnya kau bawa salah satu pengikut mu untuk di jadikan petunjuk sok tahu, kau ini tahunya pinggul besar berkulit mulus di mana pun di kejar". Mendengar ucapan Sang Legenda Rajawali Api Shun Land malah bicara sambil tertawa.
"Hahahaha Jelas saja kau iri padaku, heey perlu kau ketahui aku beristri banyak bukan kemauan ku, tapi mereka yang mengejar ku aku yaaa tidak mau mengecewakan mereka".
"Bukan tidak mau mengecewakan mereka memang kau sendiri yang rakus Raja mata jereng bisa saja ngeles, andai ada waria yang besar pinggul dan berkulit mulus juga kau kejar". Sang Legenda Rajawali Api berkata sambil bersungut-sungut. Tapi Shun Land tidak menanggapinya. Malah membelokan pembicaraan.
"Setelah ini kau harus menghubungi Naga Bumi Sabui di sumur Kahuripan Jiwa di Cibuaya, agar mengawal Armada Laut Naga Biru, katakan padanya bila ada yang armada Tombak Perak yang mau memasuki pelabuhan yang ada di wilayah daratan luas Swarna Bumi hancurkan jangan sempat bersandar ke pelabuhan, katakan pula jangan takut Naga hitam Mara Deva tidak akan berani bertarung di lautan".
__ADS_1
______*****_______
NB:..
Prasasti Kamalagyan adalah sebuah prasasti yang berangkat tahun 959 Saka atau 1037 M, berlokasi di dusun Klagen, desa Tropodo, kecamatan Krian, kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Prasasti buatan Raja Airlangga ini menceritakan tentang pembangunan sebuah “dawuhan” atau bandungan (dam) di Wringin Sapta di daerah Balungbendo.
Khususnya pada baris ke 12 prasasti Kamalagyan berbunyi: ” kapwa ta sukhamanaḥ nikāŋ maparahu samaṅhulu maṅalap bhāṇḍa ri hujuŋ galuḥ, tkarikāŋ parapuhawaŋ prabaṇyaga sankāriŋ dwīpāntara”, yang artinya semua orang bergembira, dan berperahu (lah) menuju HULU, untuk mengambil barang dagangan di Hujung Galuḥ. Di sana datang (pula) para nahkoda dengan kapal kapal dagang dari pulau pulau sekitar.
________________
#Kota Surabaya.
Karena Ujung Galuh sudah dianggap identik dan sebagai cikal bakal atau nama kuno kota Surabaya. Informasi ini bersumber dari hasil kajian Drs. Heru Sukadri, Kepala IKIP Surabaya kala itu, yang terlibat sebagai Tim Penelitian Hari Jadi Kota Surabaya (1975).
Kutipan ini tertuang dalam buku Hari Jadi Kota Surabaya (1975)
________________
#Kontroversi.
Karena di Surabaya tidak memiliki jejak yang dapat dipakai sebagai acuan otentik akan keberadaan Ujung Galuh. Justru keberadaan itu teridentifikasi dan diduga di luar Surabaya seperti di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Kab. pasuruan dan kab. Mojokerto. Di sana terdapat tanda tanda arkeologis maupun toponimi akan keberadaan pelabuhan sungai. Meski keberadaan itu masih belum dapat disimpulkan sebagai letak pelabuhan Hujung Galuh.
_______________
Raja Airlangga memberi Nama Hujung Galuh karena merasa wilayah daratan pulau Jawa adalah Warisan dari Nenek moyangnya Ratu Galuh Sindula. Kerajaan Galuh Purba. Dan nama kerajaan Medang Kamulyan di ambil dari Nama ibukota kerajaan Galuh Sindula/purba Kota Medangdili di lereng gunung Gora atau sekarang di sebut gunung selamet.
Wallahu bisauwab.
__ADS_1