
Pajar datang sinar kemerahan di ufuk timur ayam jantan berkokok bersahutan, Dewi Sukma dan Dewi Darmawati kembali dengan pakai seperti pertapa wanita. Sampai di dalam gua langsung berlutut di hadapan Shun Land.
"Terima kasih tuan pendekar telah memberikan kesempatan kedua bagi kami berdua saya merasa hidup kembali sebagai manusia seutuhnya, dalam meditasi kami menemukan bahwa bukan kematian yang membuat kami takut tetapi sesungguhnya kami hidup ketakutan kerena kesalahan-kesalahan yang kami perbuat, karena untuk menutupi rasa resah atas kesalahan kami berbuat perbuatan seperti hewan".
Sambil berlutut mereka berdua berterima kasih, Shun Land melihat kesungguhan hati mereka untuk mengisi kehidupan yang penuh dengan warna hitam menjadi warna putih.
"Bangunlah Bibi berdua kalian sebenarnya kalian dari dulu ingin merubah jalan hidup kalian tetapi keinginan itu di tutupi rasa bersalah dan rasa malu pada dunia bahwa kalian seorang pendosa,.....
,......Sekarang kalian berdua berkemas pergilah ke lembah begawan Solo Sangiran temui juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini, katakan padanya kalian berdua adalah pengawal yang di utus oleh Jaya Sempurna".
Shun Land tanpa menunggu jawaban langsung melesat keluar gua dan melayang meluncur ke arah perguruan pedang setan Dewi Andita si pedang setan di kawasan gunung Ceremai.
Dewi Sukma dan Dewi Darmawati setelah mengemas barang-barang penting dan beberapa kotak kecil koin emas mereka berdua menuruni pegunungan Sumbing dan bergerak ke timur menuju ke lembah begawan Solo Sangiran, bagi mereka yang sudah Beratus tahun menghuni kawasan itu sangat dengan mudah menemukan jalan ke arah sana.
-------------------------
Di perguruan Ciomas Boma dan pangeran Makkamaru berpamitan pada Ki Wirantaka untuk melanjutkan perjalanan menuju perguruan gajah Mungkur di gunung Pulosari.
Perjalan mereka tidak ada hambatan sama sekali hingga pada sore harinya mereka sampai di perguruan Gajah Mungkur. Mata keduanya di suguhkan pemandangan berwarna hitam bekas puing-puing yang terbakar.
Boma turun dari kudanya di ikuti pangeran Sanjaya triloka mereka berdua mencoba untuk masuk ke kediaman leluhur Ki Bagus Atma tetapi usaha mereka gagal karena rumah tersebut sudah hancur sepenuhnya.
__ADS_1
Boma sebenarnya ingin masuk ke ruangan pribadi leluhur Ki Bagus Atma yang berada di ruang bawah tanah tetapi pintu masuk telah tertutup puing-puing bangunan.
Sampai matahari terbenam mereka mencari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai petunjuk pelaku dari perbuatan tersebut. Tetapi yang di harapkan pangeran Makkamaru dan Boma tidak di temukan.
"Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan jangan sampai kita benar-benar kegelapan di perjalanan sebelum sampai ke pedukuhan tersekat". Pangeran Makkamaru mengajak Boma untuk melanjutkan perjalanan.
Boma bangkit dari duduknya dan menuju kuda yang di tambatkan dekat kuda pangeran Makkamaru, mereka berdua memacu kudanya menuju ke Selatan.
-------------------------------
Shun Land melayang di sekitar pegunungan Ceremai dan akhirnya menemukan lokasi perguruan pedang setan Dewi Andita pelan-pelan turun ketengah halaman melayang sejajar dengan atap rumah.
"Dewi Andita si pedang setan keluarlah sebelum perguruan mu ku ratakan dengan tanah, kau sudah melewati batas dunia persilatan di tatar Sunda Dwiva merasa rendah atas perbuatan mu".
Dewi Andita si pedang setan ada yang memanggil dengan suara yang di lambari tenaga dalam lalu menjawab dengan nada yang tidak mempunyai rasa ketakutan sedikit pun.
"Siapa yang berani menyambangi perguruan ku dan mengantarkan nyawa dengan menantang bertarung dengan ku".
Sementara Asvaghosa yang berada di kamar pribadinya merasa sangat terusik karena suara tersebut memiliki tenaga dalam yang tinggi setidaknya setara dengannya.
Asvaghosa berjalan keluar dari ruang pribadinya menuju ke halaman di sana sudah ada Dewi Andita si pedang setan sedang melangkah masuk ke lapangan.
__ADS_1
Hati Dewi Andita sebenarnya sudah merasa ciut melihat musuhnya sudah bisa melayang di udara, Dewi Andita si pedang setan yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan tentu sudah bisa menebak dengan pasti tingginya tenaga dalam musuh yang sudah di depannya.
"Pendekar kita baru bertemu dan tidak ada dendam di antara kita, sebelum pertarungan terjadi sebutkan apa permasalahan kita dan siapa nama pendekar ini" Dewi Andita si pedang setan membuka pembicaraan dengan tujuan semoga pendekar ini bisa di ajak bicara.
"Seluruh murid keluar dan menjauh lah bila tidak ingin terkena imbasnya, tetapi bila ada murid yang ingin membela guru yang tidak pantas menjadi guru silahkan aku tidak keberatan, oooh ternyata ada yang ingin membela pendekar laki-laki cukup tinggi juga ilmu olah Kanuragannya silahkan maju bersama biar aku tidak berkerja dua kali".
Shun Land yang tidak pernah bertemu Asvaghosa menunjuk Asvaghosa di kira Shun Land Asvaghosa teman Dewi Andita si pedang yang sedang berkunjung.
Dewi Andita si pedang setan seakan di ingatkan oleh Shun Land di langsung menoleh ke belakang ke arah Asvaghosa berdiri.
"Tuan Asvaghosa beri saya bantuan untuk menghabisi pemuda congkak ini, setinggi apapun ilmunya bila di lawan bersama dia bukan suatu masalah yang besar". Dewi Andita si pedang setan memohon pada Asvaghosa.
Shun Land termenung sejenak mendengar perkataan Dewi Andita si pedang setan memanggil laki-laki besar itu dengan nama Asvaghosa.
Asvaghosa sendiri masih ragu untuk ikut campur urusan ini karena menurutnya orang yang bisa melayang di udara untuk saat ini hanya tiga orang satu ayahnya sendiri Mara Deva kedua kakek gurunya Pancasiksa ketiga adalah Raja Tarumanegara Shun Land. Tetapi Asvaghosa belum bisa melihat wajah Shun Land karena masih jauh dari pandangan.
"Oooh kebetulan sekali di sini sudah ada anak Mara Deva, Asvaghosa ada kiriman salam dari dalam neraka Kala Durga sedang menunggumu di sana katanya 'bayaran dari mu masih kurang' tapi bila kau takut pergilah aku tidak keberatan". Shun Land berkata agar mereka menebak bahwa dirinya merasa takut untuk melawan mereka berdua sekaligus.
Asvaghosa berpikir dengan keras dan mulai menduga-duga bahwa yang sekarang jadi lawan Dewi Andita si pedang setan adalah raja Tarumanegara Shun Land, tapi mendengar ucapan terakhir Shun Land merasa aneh dan menduga bahwa Shun Land sendiri merasa tidak yakin bisa memenangkan pertarungan bila menghadapi dirinya dan Dewi Andita si pedang setan.
"Sebutkan dulu siapa nama mu sebelum kita bertarung, setidaknya aku bisa menulis nama mu di batu nisan mu jika kau mati" Asvaghosa akhirnya membuat keputusan untuk bertarung bersama Dewi Andita si pedang melawan Shun Land.
__ADS_1
"Baiklah perkenalkan Nama ku adalah jaya Sempurna keperluan ku ke sini untuk menghapus Perguruan pedang setan dari muda bumi ini sekaligus ingin menghapus semua catatan yang ada nama pedang setan agar di masa depan tidak ada yang mengenal nama pedang setan".
*********************