LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
432. Sang Garuda 33. Kepergian Boma.


__ADS_3

"Adik Mawinei kakang ingin pergi ke istana Martadipura di daratan luas Nusa kencana, adik tolong rahasiakan keberangkatan kakang, bagai mana pun adik Shun Land tidak akan memberikan izin bila kang berterus-terang, begitu juga dengan para permaisuri tidak akan memberikan izin, kakang ingin mengunjungi adik Shan land yang sedang terperdaya oleh Mara Deva dan Pancasiksa semoga saja dia mau mendengar perkataan kakang, kakang juga ingin mengatakan bahwa yang membunuh kedua ayah ibunya adalah Mara Deva". Boma berkata pada Mawinei dengan penekanan.


"Kalau kakang memaksa Saya tidak bisa melarang karena bagai manapun kakang adalah kakak angkat dari ketiga putra dan putri Paduka Ratu Shi khal semoga saja pangeran Shan land mau mendengar ucapan kakang". Mawinei menjawab walaupun hatinya tidak memberikan izin karena khawatir akan keselamatan Suaminya.


Sebenarnya Mawinei sangat keberatan tetapi dia tidak ingin mengecewakan Suaminya, bagi Mawinei mendukungnya adalah suatu kewajiban, dalam pemikiran Mawinei Boma sering berbuat yang seenak hati, tetapi untuk rasa kesetiaan dan rasa persaudaraan Boma selalu menjunjung tinggi nilai nail itu.


Mawinei mengeluarkan dua kotak kecil koin emas lalu di pindah ke beberapa kantong agar dapat di bawa dengan mudah, selain itu Mawinei juga menyiapkan baju beberapa stel untuk di perjalan.


Di halaman depan kediaman Boma telah ada satu kuda pilihan hadiah dari sang mertua Maruta dari ras manusia purba raksasa. Sebelum berangkat Boma juga meminta pada Mawinei untuk memberikan kabar pada istri keduanya Arimba di hutan Alas Purwa.


Boma mengetahui Shun Land yang sedang dalam bermeditasi, kesempatan ini di gunakan dirinya untuk berangkat karena bagai mana pun alasannya dirinya pasti tidak di izinkan untuk datang ke Istana Martadipura di daratan luas Nusa kencana.


Boma menunggang kuda ke luar dari gerbang luar istana Galuh Purba berpapasan dengan dengan putri Sanja dan putri Dian Prameswari Dwibuana mereka berdua keheranan melihat Boma yang tidak biasanya memakai pakai rapi seorang pedagang. Dengan penasaran putri Dian Prameswari Dwibuana bertanya.


"Kak Boma hendak kemanakah menunggang kuda dan berpakaian rapi seperti pedagang".


Boma mengehentikan kudanya lalu menjawab dengan sedikit bercanda. "Aku ingin mengunjungi Arimba di alas Purwo, berpakaian rapi seperti ini agar pertemuan seperti pengantin baru lagi hehehe".


Putri Dian Prameswari Dwibuana dan putri Sanja tersenyum keduanya tidak curiga lalu putri Sanja berkata "hati-hati" mereka berdua berlalu. Boma meneruskan perjalanannya.

__ADS_1


Yang di tuju Boma adalah pelabuhan Cirebon, dalam perhitungan Boma jika melalui pelabuhan Asemarang akan banyak pertanyaan dari anak buahnya pangeran Sanjaya triloka. Boma memacu kudanya dengan cepat, hanya butuh setengah hari Boma telah sampai ke pelabuhan Cirebon.


Saat ini pelabuhan Cirebon di pegang oleh Dewi Lerna dan kedua adik angkatnya Titi Baniah dan Tuti Ulwiah. Boma berjalan pelan kearah bangunan pusat keamanan, sesampainya di halaman depan bangunan Boma mengikat kudanya.


Dua petugas yang berjaga menyapa dengan sopan. "Tuan ada yang bisa saya bantu". Salah satu petugas itu berkata. Dengan santai Boma mengeluarkan lencana keluarga besar istana, dalam hal ini lencana tersebut hanya ada 12. Hanya saja Shun Land telah membuat lencana khusus untuk Boma yang menunjukkan orang tersebut tidak bisa di sentuh, jika di sentuh berarti berurusan langsung dengan sang Raja.


Lencana khusus ini hanya ada dua Satu di pegang oleh Boma dan putri Maharati atau Dewi langit di Samosir, Shun Land sampai sedemikian rupa untuk melindungi kedua saudaranya agar tidak ada yang berani menyentuhnya dan mencelakainya.


Penjaga itu mengetahui pemilik lencana ini adalah keluarga penting kerajaan. Sambil menerima kembali lencananya Boma berkata. "Cepat antarkan aku dengan Nyai Lerna". Tanpa banyak tanya kedua petugas itu segera mengantarkan Boma pada suatu ruangan di dalam bangunan keamanan pelabuhan.


"Selamat datang adik Boma silahkan duduk, pelayan bawakan minuman untuk tamu agung, keluarga besar sang prabu Jaya Sempurna". Dewi Lerna memberikan sambutan ketika Boma memasuki ruangan kerjanya. Dewi Lerna memanggil adik karena usianya lebih tua dari Boma


"Saya merasa senang Adik Boma berkunjung ke sini, tetapi selain itu saya juga penasaran ada keperluan apa Adik Boma mengunjungi Saya apa ada titah sang prabu Jaya Sempurna yang sangat penting hingga Adik Boma harus menemui saya". Nyai Dewi Lerna langsung bertanya rasa penasarannya.


"Betul sekali Nyai Dewi Lerna saya ke sini langsung di utus oleh sangat Prabu karena mengemban tugas yang sangat rahasia dan penting ke daratan luas Nusa Kencana untuk menemui pangeran Khal Shugal". Boma langsung menjawab dirinya mengatas namakan perintah Sang Prabu Jaya Sempurna ini demi melancarkan kemudahan mendapatkan kapal untuk menyebrangi Lautan Sunda Dwiva.


"Apa yang bisa saya bantu Adik Boma agar tugas Adik Boma ke daratan luas Nusa Kencana". Nyai Dewi Lerna merespon ucapan Boma.


Di sini Boma berbohong, tetapi mimik Boma tidak memperlihatkan sedang berbohong, jangankan Dewi Lerna Putri Dian Prameswari Dwibuana pun bisa Boma perdaya.

__ADS_1


"Baik adik Boma saya akan mempersiapkan semuanya". Dewi Lerna berdiri lalu berjalan keluar. Bersamaan dengan itu dua pelayan wanita datang membawa minuman dan makanan, satu pelayan berusia 25an tahun yang satu lagi berusia 40an tahun dengan bentuk tubuh sedikit gemuk tetapi kulit mereka putih seperti asli keturunan dataran luas Nusa Kencana.


Dua pelayanan itu meletakkan makan dan minum di atas meja sambil mempersilahkan Boma untuk mencicipinya sambil tersenyum manis. Boma menatap wajah keduanya lalu berkata.


"Maaf bibi berdua apakah kalian berdua mempunyai suami....?". Boma bertanya sambil meminum minuman hangat. Jelas saja pertanyaan ini membuat mereka berdua tersipu malu tetapi yang paling tua menjawab.


"Maaf tuan Boma kami berdua adalah sudah menjanda suami kami tewas 4 tahun yang silam oleh anak buah Niraya Sura, tapi dendam kami telah terbalaskan oleh Sang prabu Jaya Sempurna, aslinya saya dari daratan luas Nusa Kencana kami berdua sudah dua tahun mengikuti Nyai Dewi Lerna".


"Kebetulan sekali saya akan berlayar ke Daratan luas Nusa Kencana bagai mana kalau kalian ikut bersama ku, nanti saya akan bicara pada nyai Dewi Lerna, Saya ke sana menyamar sebagai pedagang untuk tidak di curigai kalian berdua saya minta untuk pura-pura menjadi istri saya tenang saja nanti saya juga membayar jasa kalian dengan sepadan". Boma berkata dengan serius. (Alaaah Boma modusnya bisa saja).


Mereka berdua saling pandang yang paling muda kemudian menjawab. "Kalau saya terus terang sangat senang karena saya juga rindu dengan sanak saudara di daratan luas Nusa Kencana, tapi semuanya terserah Bibi Arin saya mengikuti saja".


Yang di panggil Bibi Arin melihat tatapan Boma sudah mengerti kemana tujuan Sebenarnya Boma, yang meinginkan mereka berdua menemaninya di perjalanan, dirinya pun yang sudah lama tidak tersentuh oleh laki-laki merasa tidak bisa menolak ajakan Boma, bibi Arin lalu berkata.


"Saya mau tapi saya meminta tuan Boma memperlakukan kami berdua seperti istri sungguhan". Sambil berkata Bibi Arin yang sejatinya mempunyai wajah cantik berkulit putih mulus hanya tubuhnya sedikit gemuk menatap ke wajah Boma penuh Arti.


Boma di tatap oleh Bibi Arin wajahnya datar saja lalu berkata. "Itu masah kecil bisa di atur". Dalam hati Boma pun berkata, 'sambil nyelam sambil minum air tidak ada salahnya.


______*****_____

__ADS_1


__ADS_2