
Pangeran Makkamaru, pangeran Sanjaya triloka, putri Dian Prameswari dwibuana, setelah melihat dengan teliti, ketiganya langsung berlutut dan memberi hormat dan sembah bakti.
"Bangunlah kalian, apa-apaan ini, aku ini sahabat kalian, sekarang ini tuannya pangeran Boma, yu kita masuk. Dasem kau siapkan makan dan minum paling istimewa yang di miliki kedai ini, dan katakan bibi Dewi lerna, untuk makan bersama" pangeran Shun Land membangunkan ketiganya.
"Yah percuma berpakaian bangsawan, kalau selalu begini" Boma menggerutu sambil berjalan.
Meja paling besar di kelas elite di sediakan, tak lama ketiga Dewi kematian datang dan berlutut.
"Salam hormat dan sembah bakti pada paduka raja, mohon ampunan tidak menyambut dengan layak"
"Sudah-sudah aku ini bukan Raja sekarang ini, aku ini sama seperti kalian, kalau di istana memang Raja yang sah, tapi sekarang ini, pangerannya dia, pangeran Boma dari kota Nusa kencana"
Pangeran Shun Land menyuruh duduk ketiga Dewi kematian, dan menunjuk Boma dengan wajah serius.
Boma yang di tunjuk langsung saja membusungkan dada, lalu berkata
"Bibi bisakah baby menyediakan satu pelayan cantik untukku"
"Baik tuan" pelayan Dasem yang menjawab.
Pelayan Dasem diangkat sebagai kepala pelayan dan sekaligus wakil dari Dewi Lerna.
Pelayan Dasem pergi dan kembali bersama empat pelayan yang membawakan minuman dan makanan istimewa.
Hidung Boma yang sensitif terhadap makan lezat matanya melotot melihat empat pelayan yang menyusun makanan di atas meja, perhatian Boma jadi tak terfokus pada keempat pelayan itu.
"Sebagai ketua perwakilan paduka raja, saya pangeran Boma meminta kepada seluruh yang hadir, untuk Segera menikmati hidangan ini, sayang kalau segera dingin"
Mendengar ucapan Boma yang di buat-buat seperti pangeran besar semuanya tertawa.
Boma tidak memperdulikan dia Segera mengambil cumi besar ke tempat makannya.
Mereka semua mengikuti Boma yang memulai makan.
Pelayanan Dasem hanya berdiri, sambil tersenyum lucu melihat tingkah Boma, berpakaian seperti bangsawan tapi kaya seorang seorang penghibur.
Pangeran Shun Land melihat pelayan Dasem berdiri saja dia berkata di sela-sela makannya.
__ADS_1
"Dasem makanlah bersama, bukankan tadi pangeran Boma sudah menyuruh kita makan, duduk lah di sini", Pangeran Shun land menepuk kursi yang kosong di sebelahnya.
Mata pelayan Dasem melirik ke Dewi lerna, minta persetujuan, Dewi lerna mengangguk.
Dengan malu-malu pelayan Dasem duduk di sebelah pangeran Shun Land, dan mengambil sedikit makanan, tapi pangeran mengambilkan satu ikan cukup besar ke tempat makan pelayan Dasem.
Pangeran Makkamaru, pangeran Sanjaya triloka, dan putri Dian Prameswari dwibuana, terkejut dengan sikap pangeran Shun Land.
Walaupun dia sudah di angkat jadi raja besar tapi sikapnya memperlakukan rakyatnya sama seperti sederajat dengannya.
"Dasem ibu angkat ku, sekaligus ibunya Boma dulunya seperti mu, tapi kasih sayang kepadaku melebihi kasih sayang pada anaknya sendiri, aku tidak pernah memandang seseorang karena kedudukan, status sosial dan kekayaan"
Di sela-sela makan pangeran Shun Land bercerita sedikit tentang ibu angkatnya.
Setelah acara makan selesai, pangeran Shun Land, memulai pembicaraan.
"Maaf pangeran Makkamaru aku tidak bisa hadir di upacara BARAZIANJI dan upacara adat untuk kapal pinisi, padahal kapal laut pinisi ini, untuk kerajaan ku"
"Itu bukan upacara penting pangeran, tidak masalah, untuk ke empat pesanan pangeran, mungkin akan selesai pada tahun depan, tapi bila Pangeran ingin membuat yang lebih bagus kuat, dan besar sebaiknya pangeran, bila kembali dari daratan luas Dwipa, membawa kayu dari sana, pangeran bisa memilih kayunya, pangeran Sanjaya triloka bisa memilihkan untuk Pangeran"
Pangeran Sanjaya triloka memperkuat ucapan pangeran Makkamaru.
"Pangeran di daratan luas Dwipa, terdapat kayu sangat kuat, dan kayunya sangat mudah untuk di bentuk, hingga pembuatan kapal lebih cepat, kayu itu kami beri nama kayu JATI, nanti saya yang menyediakan, bila Pangeran akan kembali ke kerajaan ini"
"Baiklah ingatkan aku pangeran Sanjaya nanti" pangeran menimpali ucapan pangeran Sanjaya triloka.
"Satu lagi Pangeran Sanjaya dan putri Dian Prameswari dwibuana, dalam perjalanan kalian tidak boleh memanggil ku pangeran atau raja, keberangkatan ku ini, tidak boleh tersebar luas, aku tidak ingin keberangkatan ku, di manfaatkan oleh musuh kerajaan, yang di dalam atau di luar wilayah kerajaan"
Pangeran memberi tahukan bahwa kepergian ini sangat rahasia.
"Bagai mana kami harus memanggil pangeran" putri Dian Prameswari dwibuana bertanya sambil memandang penasaran.
Pangeran berpikir sebentar lalu menjawab.
"Panggil aku dengan nama Satria Nusa kencana"
"Nama yang bagus pangeran" Dewi lerna menyetujui nama samaran pangeran Shun Land.
__ADS_1
Seorang laki-laki setengah baya dengan pakaian pendekar mendatangi meja pangeran Shun Land dan sahabat sahabatnya.
Sambil mulut bau minuman, bicara keras kakinya yang kanannya di angkat ke kursi yang kosong dekat dengan Boma.
"Bila kalian semua ingin selamat, kumpulkan uang kalian cepat sebelum aku berubah pemikiran"
Pangeran Makkamaru, pangeran Sanjaya triloka, putri Dian Prameswari dwibuana, akan berdiri dan menghajar pendekar mabuk itu, tapi pangeran Shun Land memberi isyarat agar duduk kembali.
"Maaf tuan pendekar, semua yang di sini, tidak ada yang pemilik uang, kami semuanya dia yang bayar, dia tuan kami semua, lihat saja pakaiannya"
Pangeran Shun Land bicara, sambil menunjuk ke arah Boma dan berpura-pura takut.
Semua seakan kompak mengikuti sikap pangeran Shun Land yang seakan-akan sangat ketakutan.
Pandangan pendekar mabuk itu, menatap pangeran Shun Land terus berputar dan berakhir kearah Boma, nyata sudah di pikirannya, ucapan pemuda berbaju orang biasa itu tidak bohong, pakaian yang di kenakan Boma yang paling mewah.
Sontak saja Boma sangat kesal dengan ucapan pangeran Shun Land, dan semua sikap yang ada di sana, dia di korbankan untuk mengatasi pendekar mabuk itu.
"Cepat keluarkan kekayaan mu, sebelum habis kesabaran ku" pendekar mabuk itu bicara dan mengelus-elus golok agak panjang di depan Boma.
Boma berdiri, tanpa ragu-ragu menendang dengan cepat kursi yang di injak kaki kanan pendekar mabuk itu.
Akibatnya pendekar itu hilang keseimbangan dan jatuh tersungkur ke meja, mukanya mengenai bekas makan Boma.
Pendekar mabuk itu cepat berdiri dan memasang kuda-kuda untuk menyerang, goloknya di angkat tinggi-tinggi, siap melayang ke arah Leher Boma.
Tapi dua tulang ikan melesat cepat yang sulit di ikuti pandangan mata bisa, dan menancap di lutut bagian belakang pendekar itu.
Pendekar itu langsung jatuh berlutut di hadapan Boma, seluruh kakinya mati rasa.
"Ampun tuan, maafkan aku mataku ini kurang jelas melihat, bila sedang mabuk, ternyata tuan bangsawan ini seorang pendekar hebat"
Pendekar mabuk itu melepas goloknya, dan menyembah-nyembah agar tidak di bunuh oleh Boma.
Semua takjub dengan kehebatan Boma bisa mengalahkan pendekar mabuk itu tanpa bergerak sedikitpun.
...****************...
__ADS_1