
Mereka berempat pun pergi bersama dua pelayan muda dan cantik sambil tertawa penuh kesenangan.
Kelompok Niraya Sura sangat loyal kepada pengikutnya yang setia dia tidak perhitungan dengan uang dan kesenangan mereka, itulah yang membuat kelompok Mara Deva banyak pengikutnya.
Niraya Sura juga memberikan doktrin bahwa junjungan agung mereka adalah utusan Tuhan yang akan memimpin seluruh dunia menuju kejayaan abadi penuh Dengan harta dan kesenangan bagi mereka yang setia.
Walaupun begitu mereka sangat kejam pada mereka yang berkhianat atau bicara sembarangan seperti kejadian tadi pada seorang murid yang berkata meragukan junjungan agung mereka.
Maasiak membuat undangan turnamen pendekar muda persilatan, dengan sarat usia di bawah 30 tahun dan telah mencapai tenaga dalam sepuluh ribu lingkaran.
Undangan turnamen di sebar ke berbagai penjuru daratan luas Dwipa sampai daratan luas Swarna bumi bahkan sampai ke daratan luas Kalimantan dan daratan luas Sula atau Celebes.
(Untuk lebih universal Sebutan padepokan di ganti dengan perguruan,.. terima kasih atas sarannya sahabat bukti cinta terhadap LRA)
Bandi, Samin, Tarkik, dan Casmin pendekar dari perguruan golok setan. Mereka berempat di beri tugas mengantarkan undangan ke wilayah barat.
Tujuan Bandi dan ketiga rekannya ke perguruan Badak liar di daerah pelabuhan ujung kulon, perguruan ujung kulon perguruan Ki Srengga, dan perguruan macan putih di wilayah Ciomas di kaki gunung karang.
Untuk mengundang perguruan yang dekat Maasiak sendiri yang mengantar undangan tersebut, sebelah Utara wilayah perguruan gelap ngampar dan perguruan Cimande di pedukuhan tarikolot.
Di dalam pendopo utama juragan Upiak arai sedang berbincang dengan Niraya Sura dan Ki Saron.
"Ketua tuan Niraya Sura sebaiknya kita undang perguruan yang di daratan luas Dwipa saja, hingga kita mudah untuk mengontrolnya'. Upiak arai memberi pendapat pada Niraya Sura.
"Sebab kita pun harus memfokuskan pada pangeran Shun land, kita belum mengetahui dengan jelas keberadaannya, juga kita harus meneliti siapa sebenarnya putri Dian Prameswari dwibuana yang menjadi pimpinan kerajaan baru Tarumanagara". Upiak arai menambahkan keterangan.
Inilah sebabnya Niraya Sura mempertahankan Upiak arai walau pun anaknya Maasiak telah membuat kecerobohan waktu daratan luas Kalimantan.
Upiak arai sangat pintar mengatur trategi dan membaca situasi, selain itu dia juga sangat berbakat dalam bisnis perdagangan.
"Benar juga pendapat mu Upiak. Kalau begitu kita undang saja perguruan besar yang ada di daratan luas Dwipa ini". Niraya Sura menuruti nasihat Upiak arai.
__ADS_1
"Ki Saron ada berapa perguruan di daratan luas Dwipa ini yang paling berpengaruh". Niraya Sura meminta keterangan pada Ki Saron.
"Cukup banyak ketua sekitar sepuh perguruan" jawab Ki Saron dengan singkat.
Maasiak berangkat menunggang kuda di temani dua murid kepercayaan Ki Saron, tapi sebenarnya Maasiak walau pun tidak di antar ilmunya cukup tinggi kare selama dalam perjalanan dan sampai di daratan Dwiva Maasiak selalu berlatih ilmu olah kanuragan.
Dia mempelajari kitab saipi angin yang di berikan oleh Niraya Sura yang menyalin dari kitab gurunya Mara Deva sang junjungan agungnya.
Di sebuah Pedukuhan yang di kaki gunung salak sebuah perguruan cukup besar berdiri dengan gagah, perguruan Cimande yang di pimpin guru besar Ki Aria natanagara.
(Sebenarnya Pedukuhan tarikolot berada di Bogor cuma Author pindahkan ke kaki gunung salak yang di duga tempat berdirinya kerajaan salakanagara kerajaan tertua di Nusantara).
Perguruan ini lain dari pada yang lain karena tidak ada bangunan untuk para murid yang ada bangunan hanya bangunan rumah besar dan pendopo yang luas.
Murid-murid perguruan ini tinggal di rumah penduduk perguruan sepi seakan tidak ada aktivitas sedang mempelajari ilmu Kanuragan, tapi aslinya perguruan ini sangat di siplin dalam berlatih.
Guru besar Ki Aria natanagara mengajar murid-muridnya satu persatu itu di lakukan pada malam hari, setelah itu para murid berlatih sendiri di tempat berbeda ada yang di hutan, di rumahnya, dan sebagainya.
Tingkat tenaga dalam mereka sekitar sepuluh ribu lingkaran sampai 13ribu lingkaran.
"Aku sengaja memangil kalian karena ada yang ingin aku sampaikan pada kalian, dan ingin meminta pendapat kalian, aku takut keputusan ku salah". Ki Aria natanagara memulai pembicaraan.
Ki Aria natanagara ini walau ilmu olah Kanuragannya sangat tinggi dan ilmu kebatinan tidak bisa di pandang remeh tapi kepribadian dia tidak merasa mempunyai ilmu, hingga bila memutuskan sesuatu hal dia selalu meminta pendapat para muridnya, ini menunjukkan kerendahan hatinya.
KIA Aria natanagara mempunyai pedoman kalimat filsafah dari leluhurnya bahwa manusia harus mencontoh seperti tanaman padi semakin berisi semakin menunduk, jangan seperti kelapa semakin tua semakin mendongak keatas, falsafah itu dia pegang teguh masuk kedalam alam jiwanya, hingga membentuk jiwa lemah lembut handap asor tidak jumawa memiliki ilmu olah kanuragan tinggi.
Sering kali Ki Aria natanagara di tantang pendekar lain Ki Aria tidak meladeninya dan mengaku kalah sebelum bertanding, bila ada yang memaksa kemenangannya seolah-olah seimbang demi menjaga nama baik lawan.
"Danur, Praja, casmita dan Suteja Aku ini sudah tiga kali bermimpi tiga kali berturut-turut bertemu dengan Eyang Khaer guruku bahwa dia memberi wejangan,...
"jangan tergoda gemerlap dunia yang akan datang menghampiri, tapi bersilaturahmilah dengan perguruan ujung kulon, kamu harus mengerti dan pegang teguh makna silat, ingat kata Silat penggalan dari kata Silaturahmi, perguruan ujung kulon lebih tua",....
__ADS_1
Bagai mana menurut pendapat kalian tentang mimpi ku ini apakah kita harus pergi ke perguruan ujung". Ki Aria natanagara mengakhiri ceritanya.
"Kalau menurut pendapat saya itu adalah wangsit melalui mimpi dari Roh Leluhur, kita harus melaksanakannya guru". Danur mengemukakan pendapatnya.
Praja, Casmita dan Suteja sependapat dengan pendapat Danur.
"Baik lah Bagain mana kalau kita berangkat besok ke perguruan ujung kulon. Mungkin di sana ada sesuatu yang sangat berharga sampai Roh leluhur menyuruh kita menyambung persaudaraan dengan mereka" Ki Arya natanagara memutuskan.
Sebelum bubar Suteja berkata walau sedikit canggung. "Guru maafkan saya, saya tidak bisa berangkat karena harus menggantikan ayah saya sebagai tulang punggung keluarga karena dia sedang sakit karena menua, tapi adik saya Suhita ingin sekali melihat dunia luar".
Ki Arya natanagara tersenyum "tidak apa-apa itu lebih bagus, kalau adik perempuan mu ingin ikut itu lebih bagus untuk mengasah Ilmunya bila ada perampok yang menghadang". Ki Arya natanagara menjawab.
Di saat Ki Arya natanagara dan murid-muridnya akan bubar tiga orang penunggang kuda datang dan masuk ke halaman pendopo rumah Ki Arya natanagara.
Mereka adalah Maasiak dan kedua pengawalnya Brojo dan Angsana.
Kuda mereka di tambatkan di samping pendopo rumah, Maasiak dan kedua pengawalnya turun dan segera menuju ke depan pendopo.
Maasiak dan kedua pengawalnya memberi hormat kepada Ki Arya natanagara dan keempat muridnya.
Di Arya natanagara, danur, praja, Sasmita dan Suteja berdiri menyambut tamu yang datang.
Maasiak dan kedua pengawalnya Brojo dan Angsana dipersilahkan masuk mereka bertiga pun duduk menghadap Ki Arya natanagara.
...****************...
Like dan supportnya serta komentar kalian sungguh membantu pertumbuhan tulisan ini.
Terima kasih para sahabat NOVELTOON yang sudah setia dengan LRA berkah selalu dan sehat selalu Aamiiin
SALAM NUSANTARA
__ADS_1
SALAM GARUDA PERKASA