LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
387. Jaya S 120. Sabda Raja hukum yang nyata,


__ADS_3

Shun Land berjongkok menangkap Pratiwi yang berlari menghampiri lalu menggendongnya setelah dekat Shun Land membuka tirai kereta terlihat Boma sedang tidur pulas di pangkuan Mawinei.


Dengan isyarat Shun Land menyuruh Mawinei untuk keluar, Shun Land lalu melambaikan tangan pada perempuan muda rakyat raja Taksaka. Setelah dekat perempuan itu berkata sambil menekukkan satu kakinya.


"Ada apa sang Prabu memanggil saya". wanita muda ras raksasa bertanya setelah memberikan hormat. Shun Land langsung menjawab. "Apa nona sudah mempunyai Suami".


Perempuan muda itu menggeleng wajahnya memerah malu, "kalau belum aku ingin menikahkan dengan kakak saya apa kau mau". Mendengar ucapan Shun Land wanita muda itu mengangguk dan tersipu malu.


Keputusan menata seperti itu di perintah oleh Raja manusia purba raksasa Taksaka, dirinya ingin menjalin keakraban di antara mereka, selain itu raja Taksaka ingin membuat kenangan indah buat mereka makan bersama dalam satu tempat makan di takutkan di antara mereka ada yang tidak bisa bertemu kembali.


Di tengah-tengah lapangan satu kereta di tunggui oleh tujuh perempuan muda bangsa manusia purba raksasa tidak ada yang berani memindahkannya.


"Jaga dia..... Shun Land menunjuk ke arah Boma yang sedang tidur dan meneruskan bicaranya. "Nanti aku akan menikahkan mu dengan nya dia kakak ku, asal kamu menjaga dan kalau bangun memandikannya dan juga memberi makan padanya".


"Baik paduka saya tidak berani membantah titah raja, karena ucapan raja sabda Ning nyata". Jawab perempuan cantik rakyat raja Taksaka.


Shun Land termenung dengan ucapan wanita muda itu lalu mengabaikannya , Shun Land berbalik melangkah menuju ke depan gerbang luar istana sambil mengendong gadis cilik Pratiwi.


Perempuan muda itu melambaikan tangannya pada teman-temannya 6 perempuan muda menghampirinya. Perempuan muda raksasa itu menceritakan kejadian dan ucapan prabu Jaya Sempurna.

__ADS_1


Dari sebelah timur bergemuruh suara kerbau dan banteng hutan begitu keluar dari hutan terlihat seratus lebih kerbau dan banteng hutan di giring oleh 400san orang rakyat raja manusia purba raksasa Taksaka. Leher kerbau dan banteng hutan sudah di ikat tali hingga tidak bisa lagi lari.


Tanpa menunggu perintah kerbau dan banteng hutan ini di sembelih para wanita Rakyat raja manusia purba raksasa Taksaka menguliti dan mencerca dagingnya dengan cepat. Para prajurit yang baru datang membantu bahu-membahu memasak daging kerbau dan banteng hutan tersebut dengan canda dan tawa.


Di salah satu sudut lapangan yang baru jadi raja manusia purba raksasa Taksaka memandang pemandangan ini dengan rasa haru. Terlihat jelas kegembiraan rakyatnya yang bergaul dengan ras manusia biasa seperti yang di ceritakan para leluhurnya dahulu mereka hidup berdampingan dengan damai.


Sebelum terjadinya konflik membuahkan adu kesaktian dan yang memang mempunyai hak penuh atas bumi ini dan yang kalah harus menyingkir dari bumi ini, tapi karena welas asihnya Sanghyang Tunggal mereka di beri tempat walaupun harus selalu menyingkir bila berbenturan dengan ras manusia biasa.


Raja manusia purba raksasa Taksaka menghampiri mereka yang sedang menguliti kerbau dan banteng hutan lalu ikut membantu sambil bercanda bersama para prajurit manusia biasa yang ikut membantu.


Permaisuri Sari Tungga Dewi menemui putri Dian Prameswari Dwibuana lalu mereka berdua mengatur tempat tinggal yang sudah ada di samping istana Galuh Purba.


Di putuskan oleh Permaisuri Sari Tungga Dewi lima rumah di sebelah kiri untuk Putri Dian Prameswari dwibuana, rumah kedua untuk pangeran Sanjaya triloka, rumah ketiga untuk panglima Bajul pakel yang ke empat untuk dan kelima untuk Lamsijam dan Delay.


Di sebelah kanan di peruntukkan untuk kegiatan dekat istana Mawinei memilih rumah yang paling belakang. Sedangkan yang empat lagi untuk ayah dan ibunda permaisuri Sari Tungga Dewi tetua agung Khal Shan istri Dewi Iswari adik dari Ratu Prameswari Dwibuana bangsawan Wajak yang sedang dalam perjalan bersama ibunya permaisuri Dewi Sumayi Tetua Sri khal dan panglima Shu khal paman dari Shun Land sendiri. Mereka berlayar menuju daratan luas Sunda Dwiva di iring pendekar tiga Dewi Kematian Dewi Lerna dan kedua adik seperguruannya Tuti baniah dan Tuti Ulwiah.


Sedangkan satu Ruangan khusus untuk Tamu kebesaran istana sebelum di bangun di sisi istana Galuh Purba.


Pembicaraan ini berlanjut permaisuri Sari Tungga Dewi memanggil Ratu Galuh Sindula untuk mengikuti pembicaraan sebagai pembelajaran untuknya, di sana juga ada Permaisuri Dewi Sumayi dan putri Sanja. Hanya Permaisuri May Lien yang tidak pernah ikut campur urusan pemerintah Kerajaan hanya saja permaisuri May Lien menangani di bidang kesehatan istana dan para pejabat tinggi kerajaan.

__ADS_1


Mereka membicarakan pembangunan di sisi istana untuk tamu kehormatan kerajan dan barak para Prajurit. Permaisuri Sari Tungga Dewi juga membahas bangunan khusus untuk pertandingan adu kesaktian di antara para prajurit dan para pendekar dunia persilatan untuk membangun rasa kesadaran membela tanah air bila ada ancaman dari dalam dan luar kerajaan di sana juga di bangu asrama untuk tinggal para peserta yang mengikuti kompetisi.


Rencana ini di kemukakan permaisuri Sari Tungga Dewi melihat pengalaman dahulu pada waktu di dataran luas Nusa kencana berkat kompetisi latih tanding ilmu olah Kanuragan bermunculan para pendekar muda dari kalangan bangsawan hingga munculnya dan berdirinya kerajaan asal mulanya dari kompetisi latih tanding para pangeran.


Permaisuri Dewi Sumayi dan putri Sanja bekerja sama untuk menaksir dana yang harus di keluarkan oleh pihak kerajaan untuk membangun semuanya.


Ratu Galuh Sindula tidak ikut bicara tetapi mengamati setiap pembicara dengan detail dan mengambil kesimpulan sebagai pelajaran mengelola istana dan kerajaan. Dari setiap kata yang keluar dari permaisuri Sari Tungga Dewi, permaisuri Dewi Sumayi, putri Dian Prameswari Dwibuana, putri Sanja tidak ada yang luput dari perhatian Ratu Galuh Sindula.


Sementara itu Shun Land sendiri terlihat pembicara masalah pembangunan benteng di setiap pelabuhan di saksikan oleh raja manusia purba raksasa Taksaka di sini raja manusia purba raksasa Taksaka mengemukakan akan membantu pekerjaan yang berat-berat seperti membukakan Hutan untuk jalan atau pun pengangkut batu-batu untuk bahan pembangunan.


Selepas tengah hari masakan sudah matang semuanya di atas lapangan yang sangat luas di tata sedemikian rupa masakan dari daging kerbau dan banteng hutan.


Mereka menata makanan berseling, satu baris untuk ras manusia purba raksasa di hadapannya untuk para prajurit manusia biasa.


Keputusan menata seperti itu di perintah oleh Raja manusia purba raksasa Taksaka, dirinya ingin menjalin keakraban di antara mereka, selain itu raja Taksaka ingin membuat kenangan indah buat mereka makan bersama dalam satu tempat makan di takutkan di antara mereka ada yang tidak bisa bertemu kembali.


Di tengah-tengah lapangan satu kereta di tunggui oleh tujuh perempuan muda bangsa manusia purba raksasa tidak ada yang berani memindahkannya.


Tetapi karena sudah lama perempuan muda bangsa raksasa memberanikan diri membangunkan Boma, dengan lembut perempuan cantik bertubuh besar itu membelai-belai pipi Boma, eeeh oleh Boma tangan itu di tangkap oleh Boma tanpa membuka mata dan di letakkan di pipinya.

__ADS_1


Ke enam teman wanita raksasa yang bernama Betari tertawa melihat kelakuan Boma yang terlihat romantis.


*****************


__ADS_2