LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
345. Jawa sempurna 78. pangeran Cakrawala.


__ADS_3

Shun Land dan Rombongan hanya butuh 2/3 hari untuk sampai ke pintu gerbang kawasan istana kebangsawanan, Wibisana dan teman-temannya kembali ke dalam hutan.


Pintu gerbang terbuka Ratu Prameswari dwibuana langsung berlari menuju pangeran Sanjaya triloka. "Anak ku yang tampan ibu kangen sekali". Tak ayal pangeran Sanjaya triloka jadi bulan-bulanan ibunya di ciumi bagaikan anak kecil.


"Sudah Bu Sanjaya bukan anak kecil lagi malu sama orang dan menantu ibu" pangeran Sanjaya triloka komplain akan sikap ibunya.


Ratu Prameswari dwibuana berbalik badan ada dua wanita muda cantik, tangannya menunjuk dua-duanya bergantian lalu berkata sambil menunjuk putri Sanja. "Ini menantu ibu, ibu hapal dengan selera anak ibu sini anak manis". Jelas saja putri Sanja merasa kagum dengan tebakan ibu mertuanya.


"Salam ibu Ratu maaf menantu tak membawa apa-apa" putri Sanja menghampiri dan memeluk ibu mertuanya. Seorang laki-laki paruh baya dengan pengawakan tinggi besar datang dan berkata penuh wibawa.


"Nyai Ratu bawa mereka masuk dulu kasihan mereka sangat kecapean, mereka lama di perjalanan nanti setelah istirahat nyai ratu boleh jumpa kangen". Suara leluhur Birawa menegur istrinya.


Nyai ratu Prameswari dwibuana hanya tersenyum malu, "maaf ibu sampai lupa silahkan masuk semuanya biarkan barang bawaan yang mengurus pelayan.


Putri Dyah Prameswari dwibuana dengan gembira menyambut suaminya Pramuja dan tanpa ragu-ragu menarik masuk ke dalam istana.


"Maaf tuan Jaya dan nona Dewi Lasmini saya masuk dulu". Pramuja membungkukkan kepalanya tanda memberi hormat. Setelah pagi sebelum berangkat Shun Land mengumumkan Nama Lasmini dengan tambahan Dewi Lasmini.


Di Istana Kebangsawanan Wajak selain mengurus wilayah di sekitar di sana juga ada perguruan yang di pimpin langsung oleh leluhur Ki Birawa. Para murid dan pelayan istana membereskan kereta dan kuda di tempatkan di samping istana untuk di urus


Mereka di bawa ke ruangan besar ada beberapa kamar di sana yang di sediakan untuk tamu kebesaran. Saat itu pangeran Sanjaya triloka langsung di bawa leluhur Ki Birawa ke taman belakang.

__ADS_1


Sesampainya di sana Leluhur Ki Birawa bertanya dengan serius "Siapakah mereka, dan apa hubungannya dengan keluarga ini, mengapa kau bawa ke istana ini orang sebanyak". Leluhur Ki Birawa bertanya dengan serius, istana kebangsawanan Wajak seperti ada hal yang tidak boleh di ketahui oleh umum.


Pangeran Sanjaya triloka santai saja menanggapi pertanyaan ayahnya yang terlihat panik lalu menjawab. "Ayah mereka adalah rombongan juragan dagang utusan keadilan mereka kesini ingin sedikit berbagi, mereka merasa prihatin dengan kondisi penduduk di sekitar wilayah kita, itu pun mereka mengetahui kondisi di sini karena Adik Pramuja mencoba mencari jalan keluar dengan jalan yang kurang baik".


Leluhur Ki Birawa tertegun mendengar penjelasan dari pangeran Sanjaya triloka, dirinya merasa bersalah karena sebagai pemimpin tidak bisa memberikan jalan keluar kepada rakyatnya yang sedang kesusahan pangan.


"Kita duduk dulu di sana ceritakan dari awal bagai mana kau bertemu dengan mereka". Leluhur Ki Birawa mengajak pangeran Sanjaya triloka duduk di pendopo taman belang istana untuk menceritakan semuanya dari awal.


Pangeran Sanjaya triloka menurut saja karena tahu watak bapaknya tidak senang kalau di tolak, pangeran Sanjaya triloka lalu menceritakan pertemuan pertama di istana Sundapura dengan Shun Land Samapi hingga sampai saat ini.


Setelah mendengar semua cerita anaknya leluhur Ki Birawa matanya menatap tajam pada pangeran Sanjaya triloka sambil menunjuk lurus ke muka pangeran Sanjaya triloka.


"Kau jangan jauh-jauh dengan orang ini ayah tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi ayah tidak bisa mengatakan padamu ajak dia menemui ayah nanti malam". Setelah berkata leluhur Ki Birawa melangkah pergi.


Shun Land dan Lasmini serta rombongan duduk bersila membentuk lingkaran besar Pramuja dan putri Dyah duduk bersama. Tidak lama datang seorang bertubuh besar seperti manusia purba raksasa, hanya saja dia masih muda di sampingnya ada Leluhur Birawa dan Ratu Prameswari dwibuana pangeran Sanjaya triloka dan putri Sanja di samping sebelahnya.


Pemuda raksasa memberi hormat pada Shun Land dan semua yang ada di sana lalu duduk bersama di susul Leluhur Birawa dan semuanya. Setelah itu datang empat pelayan membawa nampan besar berisi berbagai makanan tidak cukup itu datang 3 pelayan laki-laki membawa nasi dengan bakul besar dan satu tapsi/nampan besar berisi daging yang di masak dengan bumbu yang harum baunya membangkitkan selera makan.


"Kepala juragan dagang utusan keadilan Nyai Dewi Lasmini dan tuan Jaya silahkan memulai acara makan setelah itu kita akan saling berkenalan". Leluhur Ki Birawa memberikan kehormatan pada Dewi Lasmini.


Dewi Lasmini dan Shun Land memulai makan di ikuti yang lainnya Delay tangannya sibuk mengambil sana sini sang istri nyai Kasmia hanya tersenyum malu tapi bukan Delay saja anak buah Pataya juga sama berbulan bahkan bertahun-tahun hidup di hutan Muria baru kali ini bertemu makan yang kelas istana.

__ADS_1


Tidak ada yang bicara pemuda tampan yang besar pun makan dengan tenang, selesai makan pangeran Sanjaya triloka bicara dengan tenang dan santun.


"Tuan Jaya Sempurna dan Nyai Dewi Lasmini serta rombongan juragan dagang utusan keadilan semuanya, perkenalkan ini adik saya bernama Jaya Singa triloka adik saya ini memiliki tubuh besar meniru dari garis keturunan dari ibu Ratu Prameswari dwibuana". Pangeran Jaya Singa triloka menangkupkan kedua tangannya di depan hidungnya.


"Leluhur bolehkah saya mengetahui hubungan leluhur dengan Raja Taksaka di pedalaman hutan Purba ?". Shun Land bertanya langsung pada pokok yang ingin dia tahu.


"Baik tuan Jaya Sempurna sepertinya tuan Jaya sangat penasaran. Saya akan menceritakan semuanya berdasarkan gulungan gulungan kulit hewan purba yang di tulis oleh leluhur kami khususnya leluhur Ratu Prameswari Dwibuana istri saya ini".


Leluhur Ki Birawa berhenti bicara untuk minum setelah itu melanjutkan bicaranya.


"Dalam dalam gulungan itu tertulis, Sanghyang Tunggal memili putri Dewi Saraswati yang menikah dengan murid tunggal ayahnya Sanghyang Triloka, Dewi Saraswati mempunyai 2 putri, 1. Dwibuana dan yang kedua di nikahi oleh Raja Agung Sunda Land Jatiraga. Dari keturunan Dwibuana itu sampai lah pada leluhur pangeran Cakrawala mengembara sampai lah di lembah begawan Solo Sangiran lalu bertemu dengan Dewi Sapta tadinya tidak di restui tetapi setelah pangeran Cakrawala nekad menantang ayah Dewi Sapta Dan menenangkannya akhirnya mereka menikah dan mendiami lembah begawan Solo Sangiran ini sampai ke kami,....


,......Dewi Sapta ini adalah Ras bangsa bertubuh besar, sejak saat itu hampir seluruh keturunan pangeran Cakrawala memakai akhiran Dwibuana untuk mengingat leluhur kami" leluhur Ki Birawa mengakhiri ceritanya.


Setelah mendengar cerita dari leluhur Ki Birawa Shun Land jadi mengerti asal usul dari pihak ayahnya yang berasal dari daratan luas Sunda Dwiva.


"Pangeran Singa triloka bagai mana bila malam ini saya ingin memperkenalkan seseorang pada pangeran". Shun Land berkata memberikan penawaran.


Pangeran Jaya Singa triloka dengan sigap menjawab, "bila tuan Jaya tidak merasa mengganggu saya tidak keberatan".


Setelah makan dan berbicara panjang lebar Shun Land meminta izin untuk pergi bersama pangeran Jaya Singa triloka mereka berdua pun pergi ke dalam hutan.

__ADS_1


Menjelang pagi Shun Land baru pulang bersama dua orang, pangeran Jaya Singa triloka dan putri Sapta anak dari Raja manusia purba raksasa Taksaka.


******************


__ADS_2