LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
94. Memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh 9


__ADS_3

Putri Dian Prameswari dwibuana, menghentakkan kakinya, tubuhnya melenting ke belakang setelah menyerang tidak ada hasil.


Pangeran Shun Land bangkit setelah mendorong tubuh Boma. Dia mengeluarkan sumpit raja neraka warisan dari panglima Sumpit.


Tiba-tiba sumpit berada di genggaman tangan pangeran Shun Land, sumpit raja neraka yang awalnya sepanjang dua jengkal, memanjang seperti tongkat dan sedikit membesar.


Penunjuk jalan Karba melihat dari balik pohon besar melongo, melihat keajaiban. Tangan yang tadinya kosong, secara tiba-tiba ada sebuah tongkat walau tidak terlalu panjang.


Ekor ular berbalik dengan cepat mengarah pada Boma dan pangeran Shun Land.


Dengan di aliri tenaga dalam pangeran Shun Land menyongsong kibasan ekor ular boa coklat, bagaikan ada mata pisaunya sumpit memotong ekor ular tersebut.


Ular boa coklat kehitaman mendesis keras, dan menyergap ke arah putri Dian Prameswari dwibuana, yang baru saya membetulkan kuda-kudanya.


Pangeran Sanjaya triloka, meloncat tinggi sambil mengayunkan pedang Braja hitam, ke arah mulut ular boa coklat kehitaman.


Pedang itu melesat cepat mengenai mulut bawah, tapi pedang itu seperti tumpul, hanya membelokan arah serangannya setengah depa, dari putri Dian Prameswari dwibuana,


Sedangkan pangeran Sanjaya triloka terpental beberapa tombak.


Tidak sampai di situ ular boa yang marah akibat ekornya putus oleh pangeran Shun Land, membuka mulutnya lebar-lebar ke arah kepala putri Dian Prameswari dwibuana.


Putri Dian Prameswari dwibuana bagai terkena hipnotis diam terpaku kepalanya mendongak melihat mulut ular boa coklat yang menganga lebar.


Pangeran Shun Land jaraknya cukup jauh untuk menolong.


Pangeran Sanjaya triloka menahan napas sangat menyesali dirinya, tidak bisa menolong sang kakak yang benar-benar membutuhkan pertolongan.


Suara desingan benda besar terdengar dari atas, ranting-ranting pohon patah terkena sesuatu yang meluncur sangat cepat.


Paruh sang Rajawali api tepat mengenai kepala atas sang ular boa coklat, cakar kuatnya mencengkeram bagian badan atas dekat kepala.


Paruh tajam sang Rajawali api tembus ke mulut bawah sang ular boa coklat kehitaman.


Badan besar ular boa coklat kehitaman di angkat dan di bantingan ke arah pohon besar.


Ular boa coklat kehitaman jatuh dengan keras membentur pohon besar, kepalanya berlumur darah tulang-tulangnya remuk, dan tidak berkutik lagi.


Kejadian itu begitu cepat sekali, semua yang melihat seolah-olah bagai mimpi, putri Dian Prameswari dwibuana bisa selamat.


Sang Rajawali api berdiri dengan gagah di dekat putri Dian Prameswari dwibuana.

__ADS_1


Terdengar suara di batin sang Rajawali api.


"Bergaya seperti pahlawan kesiangan, kalau mau menolong dari pertama, jadi tidak ada banyak orang yang susah" suara naga bumi Sabui mencemooh tindakan Rajawali api.


"Diam kau naga bau tanah" hanya itu sang Rajawali api membalas cemoohan naga bumi Sabui.


Putri Dian Prameswari mendekati sang pahlawan Rajawali api, berujar, "terima kasih sahabat ku, kau telah menolong nyawa ku".


Sang Rajawali api menganggukkan kepalanya dan kembali terbang dengan gagahnya.


Penunjuk jalan Karba keluar dari balik pohon, sambil menggiring empat kuda.


Pangeran Shun Land mendekati putri Dian Prameswari dwibuana, "maafkan aku tidak bisa melindungi mu".


Pangeran Sanjaya triloka bergegas menghampiri kakak tertuanya, penuh penyesalan, andai sang Rajawali api tidak datang tepat waktu mungkin dia akan menyesali seumur hidupnya.


"Bagai mana kak apa ada yang terluka", tanya pangeran Sanjaya triloka, dengan sang kakak.


"Tidak adik, satria Nusa kencana, aku tidak apa-apa", kata putri Dian Prameswari dwibuana menjawab pertanyaan adiknya.


"Tuan Boma dan tuan-tuan semua kita harus segera melanjutkan perjalanan, agar tidak kemalaman di jalan", Karba sang penunjuk jalan memperingatkan.


Mereka berempat meneruskan perjalanan, sang penunjuk jalan Karba di depan di ikuti pangeran Shun Land, beriringan dengan putri Dian Prameswari dwibuana dan paling belakang Boma dan pangeran Sanjaya triloka.


Batas kampung yang hanya di tandai batu besar kanan kiri, dan di sisi batu besar itu di susun batu-batu sedikit rendah memanjang ke kiri dan kanan.


Pangeran Shun Land dan ke empat lainnya berjalan pelan, menunggangi kudanya.


Dari sana mulai terlihat beberapa Rumah yang terbuat dari papan kayu, rumah rumah tersebut berbentuk rumah panggung, lantainya sekitar setengah depa dari permukaan tanah, untuk menghindari hewan melata yang bab* hutan.


Mereka semua turun dari kudanya, memasuki perkampungan santui, tapi perkampungan itu lengang seperti tidak berpenghuni.


Hari mulai senja rombongan pangeran Shun Land, melirik ke kanan dan ke kiri mencari penduduk yang bisa di mintai keterangan.


Penunjuk jalan Karba pun keheranan karena tiga hari yang lalu kampung itu tidak seperti ini. Kondisi pada waktu itu normal-normal saja.


Karba memimpin menuju tempat kenalannya, yang biasa dia kunjungi untuk menginap dekat warung kecil di kampung itu.


Tetapi sesampainya di sana, pintu tertutup rapat, warung yang biasa buka sampai malam, itu pun tutup.


Karba mengetuk pintu sambil memanggil yang punya rumah.

__ADS_1


"Permisi pak Kalur, permisi pak Kalur, pak Kalur".


Tapi tidak ada jawaban.


"Pak Kalur ini Karba pak". Setelah Karba menyebut nama, terdengar derik pintu terbuka sedikit, pemilik rumah pak Kalur mengeluarkan kepalanya.


Setelah memastikan tamunya, bahwa dia orang yang di kenal pak Kalur membuka pintunya dan keluar.


"Maaf tuan Karba, di sini lagi ada kejadian menakutkan, jadi kami setiap mau malam menjelang menutup pintu,dan tak keluar dan menerima tamu yang tidak di kenal". Pak Kalur memberi pengertian.


"Kasjo kemari, bantu tuan-tuan tamu mengandangkan kudanya, dan mengurusnya kudanya". Pak Kalur memerintahkan anaknya yang bernama kasjo.


Anak laki-laki usia sebelas tahun keluar, menggiring dua kuda ke samping rumah, di sana ada istal sederhana.


Pak Kalur mempersilahkan tamunya masuk, di dalam ada empat, setiap kamar ada tempat tidur beralaskan tikar daun pandan yang di anyam, cukup luas untuk dua orang tidur.


Lebih kedalam ada satu kamar lagi menyatu dengan dapur, tempat memasak menggunakan Pawon dari tanah liat, peralatan hampir semuanya terbuat dari tanah liat yang di bakar, dari kuali dan sebagainya.


"Bu buatkan air hangat, dan masak ubi untuk mengganjal perut tamu-tamu kita".


Tanpa banyak bicara ibu karyi istri pak Kalur ke belakang untuk menyiapkan makanan dan minuman seadanya.


Mereka duduk melingkar hanya Boma yang yang berbaring miring menghadap ke tengah.


Pangeran Sanjaya memulai bicara dengan bertanya, apa yang terjadi hingga Kampung, seperti kampung mati.


"Pak Kalur sebenarnya kejadian apa yang menimpa kampung ini, sampai para penduduk tidak berani keluar pada sore hari sampai malam"


Pak Kalur menceritakan dari awal kejadian sampai terjadi seperti ini.


Tiga bulan yang lalu, ketika tiga hari lagi menjelang bulan purnama, tiga orang pendekar dengan pakaian serba hitam, dan menutup wajahnya dengan kain, datang menculik seorang gadis dan seorang anak laki-laki berusia antara sepuluh tahun sampai dua belas tahun.


Bapak dari gadis itu di bunuh dengan keji, yang berusaha membela anak gadis satu-satunya, akan di rampas tiga pendekar itu, sang ibu yang menahan tangan gadisnya, tangan putus di sabet pedang salah satu dari mereka.


Bulan kedua pun kejadian itu, terjadi lagi, sudah empat gadis dan empat bocah laki-laki yang di culik, para pendekar yang bercadar.


Kejadian yang terakhir terjadi, kemarin ini terjadi pada siang hari, korbannya anak ma turmi yang pulang dari kota pelabuhan, tempat kerjanya.


Adik korban ipeng bisa melarikan diri walau kakinya banyak terluka oleh duri-duri hutan, tapi sayang kata ipeng uang pemberian dermawan muda baik hati semuanya di ambil tiga pendekar bercadar.


"Begitulah tuan-tuan ke jadiannya" pak Kalur memungkas ceritanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2