LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
216. Pertarungan yang mengegerkan dunia persilatan.


__ADS_3

Di pedalaman empat kapal melaju kencang, orang-orang dia dalam kapal tersebut keluar memandangi api yang membungbung tinggi dengan linangan air mata.


"Kita akan membangunkannya lagi dengan istana yang lebih besar dan lebih megah". Sang Ratu SHI khal berkata dengan suara keras untuk meredakan kesedihan.


"Tidak ada yang abadi di dunia ini yang hancur biarkan hancur kita akan bersama-sama membangun lagi dengan sepenuh hati dan tekad yang pantang menyerah". Permaisuri Sari Tungga Dewi yang tertua memberi nasihat pada yang lainya.


"Ibu maaf kan May pertemuan dengan ibu dengan suasana yang tidak baik". Permaisuri May Lien berkata dengan deraian air mata.


"Bagai mana kita berkata pada paduka jika istananya yang di percayakan pada kita hancur berkeping-keping". Permaisuri May Lien melanjutkan bicaranya.


"Sabarlah ibu telah berjumpa dengan sang paduka raja Shun Land dia orang yang Arif bijaksana ibu yakin dia akan mengerti dan memaklumi kita tidak bisa mempertahankan istana".


Nyai Iseng memberikan nasihat pada pera permaisuri.


Di kapal yang lain panglima Tarpa dan laksamana Sarpa sangat marah karena ketidak mampuan mereka menjaga istana.


"Bila ada kesempatan akan ku hancurkan istana mu Mara Deva".


Panglima Tarpa berkata hampir berbarengan dengan sang adik laksamana Sarpa.


-----------------*****----------------


Mentari mulai muncul di upuk timur menyaksikan kota Sundapura yang hancur berkeping-keping yang tersisa kepulan asap yang masih mengepul ke angkasa.


Di sebelah barat kota Sundapura meluncur cepat sang legenda Rajawali Api tak sabar ingin segera sampai.


Sang Legenda Rajawali Api menghubungi sang sahabat Naga bumi Sabui.


"Naga bumi Sabui kau harus bertanggung jawab atas kehancuran istana Sundapura karena kau yang paling dekat".


Sang Naga bumi Sabui yang mengawal kapal berhenti dengan rasa kesal berkata.


"Kau ini bisanya menyalahkan orang lain, kau yang terlalu jauh dari istana datang datang menyalahkan orang lain".


Shun land yang mendengar perdebatan ini langsung berkata melalui bayinya.


"Naga bumi Sabui, Garuda hari yang sudah lama kita tunggu penuh dengan rasa was-was dan ragu sudah datang, kita harus menguatkan tekad dan keyakinan bahwa kebenaran selalu akan menang, kita akan bertarung dengan sepenuh hati memerangi ke angkara murkaan menang atau kalah itu kita pasrahkan pada kehendak sang maha Pencipta, Naga bumi Sabui cepat kau menyusul".


Kedua makhluk legendaris mendengar ucapan sang tuan yang sangat bijaksana terdiam hatinya mengeras akan mengorbankan jiwa dan raga mereka demi membela tuan mereka dengan niat membela dan menegakkan keadilan.

__ADS_1


"Kami akan bertempur dengan sepenuh hati bila perlu kami akan mengorbankan jiwa dan raga kami".


Dua hewan legenda berkata penuh keyakinan.


"Putri Serindang bulan kau akan ku turunkan di pinggir hutan jangan mendekati kami itu sangat berbahaya".


Sang Legenda Rajawali Api terbang rendah tanpa aba-aba Shun land melemparkan putri Serindang bulan ke rerumputan.


Dengan sigap putri Serindang bulan mendarat dengan selamat walau sedikit kaget.


Sang Garuda Perkasa terbang meluncur menelusuri pinggir hutan.


Hati Shun Land sangat sakit melihat istana kerajaan Sundapura yang di bangun susah payah orang-orang terdekatnya yang ingin menegakan keadilan bersamanya hancur tak tersisa.


Shun land pun sangat marah karena menduga orang-orang yang di cintainya telah mati di bunuh oleh Mara Deva dan anak buahnya belum lagi rakyat yang tak berdosa ikut jadi korban dan bertimbun reruntuhan bangunan.


Sang Legenda Rajawali Api melayang di atas puing-puing istana Sundapura yang masih mengeluarkan api dan berasap.


Dengan derai air mata Shun Land berkata dengan keras di lambari tenaga dalam yang besar.


"Mara Deva keluar kau jangan bersembunyi di balik anak buah mu"


Kama Deva hanya diam saja karena dia tahu keputusan tetap berada di Deva Putta karena junjungannya hanya mendengar ucapan Deva Putta.


Deva Putta langsung menimpali ucapan Asvaghosa.


"Adik Asvaghosa sabarlah mungkin ini adalah jebakan Shun Land yang sangat pintar".


Sebelum Mara Deva bicara untuk memutuskan terdengar suara Shun Land menggelegar menantang nya.


Naga Api Hitam yang mengenal aura musuh bebuyutannya tanpa ragu-ragu melayang ke arah sumber suara.


Dua Mahluk legenda berhadapan di udara, Shun land yang sebenarnya adalah keturunan Kama Deva hatinya bergetar menatap tajam wajah Mara Deva yang sangat mirip dengannya.


Yang menjadi takjub Shun land wajah Mara Deva yang masih terlihat muda seperti seumuran dengannya.


Tetapi ketika mengingat nenek buyutnya mati karena tipuan asmara Mara Deva hati Shun Land mengeras kemarahannya meledak.


"Kau jangan terpengaruh oleh wajah yang terlihat lembut dan ramah". Sang Garuda Perkasa memperingatkan Shun Land.

__ADS_1


"Ooh ini orang di pilih Sanghyang Triloka tidak ada keistimewaan yang menonjol".


Kama Deva menekan dengan kata-kata


"Kau tidak menyaksikan kematian orang-orang yang kau sayangi mereka meratapi nasibnya karena mengikuti orang yang tidak bisa melindungi mereka".


Kama Deva sengaja memancing kemarahan dan menyerang mental Shun land.


Wajah Shun land merah padam mendengar Kama Deva yang menyebut orang-orang yang di cintai nya mati di tangan Mara Deva.


Aura panas meledak dari tubuh Shun Land Mara Deva sempat terkejut sejenak tapi segera menguasai dirinya oleh tekanan Aura panas Shun Land.


"Kau jangan terpancing kendalikan amarah mu, semua ucapan Mara Deva belum tentu benar bisa saja sebelum Mara Deva menyerang seluruh isi istana dan seluruh penduduk kota Sudah mengungsi, berpikirlah dengan jernih".


Sang Rajawali Api yang sudah mengenal kelicikan Mara Deva mengingatkan Shun Land karena bagai mana pun sang Rajawali Api mengetahui Shun Land masih sangat muda dalam menghadapi pertarungan besar belum berpengalaman.


Kedua makhluk legendaris melayang berputar saling mengamati mencari saat tepat untuk menyerang.


Shun land mempersiapkan jurus Naga Kahyangan tahap pertama sambil mencabut pedang Naga Bergola.


Mara Deva yang sudah berpengalaman masih tenang tidak mengambil gerakan apapun, tetapi secara diam-diam Mara Deva menghubungi gurunya Pancasiksa melalui telepati.


Selain itu Mara Deva mengalirkan kekuatan Api hitam dan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya, dia pun sambil merapal Ajian Rawarontek.


Mata Deva tidak memandang remah Shun land setelah merasakan aura panas yang keluar dari tubuh Shun land.


Shun land mempunyai inisiatif menyerang duluan dengan Jurus naga bumi bertapa tahap ke tiga.


Tubuh Shun land melesat cepat kearah Mara Deva dengan pedang di atas kepala, kilatan-kilatan kecil keluar di seluruh tubuhnya.


"Naga Bergola alirkan kekuatan Api mu ketubuh ku secukupnya".


"Baik tuan" Naga Bergola menjawab singkat.


Tiba-tiba di tangan kanan Mara Deva muncul Senjata tongkat hitam legam dengan gagang berhiaskan kepala Naga Hitam.


Tongkat tersebut dari batu meteor tua berusia ribuan tahun di tempa oleh Pancasiksa sendiri untuk sang murid satu-satunya.


Mara Deva melesat menyongsong serangan Shun land tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


-------------------------*****-----------------------


__ADS_2