
Shun Land sampai di sebuah pedukuhan yang cukup padat, setelah mendapatkan kedai yang cukup besar mereka berdua akhirnya memutuskan singgah untuk makan.
Pedukuhan itu bernama Rawagempol konon dulu kala di tengah pedukuhan itu ada rawa yang di tengahnya ada pohon gempolnya maka sesepuh di sana memutuskan jadi nama pedukuhan.
Shun Land mendahului turun dari kudanya. Lalu mendekati Lasmini yang sepertinya enggan untuk turun. Shun Land berdiri di samping kiri kuda lalu bicara lembut sambil menjulurkan kedua tangannya ke atas.
"Turun lah biar kakang tangkap dari bawah".
Lasmini tersenyum manja, Lasmini di mengangkat tinggi kaki kanannya ingin menghadap ke kiri.
Bersamaan dengan kaki yang terangkat kainnya tertarik ke atas hingga pasang kaki jenjang putih bersih tepat di mata Shun Land. Walau pun sudah sering melihat milik istri-istrinya tetapi Shun Land laki-laki normal. Jantungnya berdetak kencang untuk menutupi itu Shun Land berkata.
"Tidak baik turun seperti itu, harusnya mengangkat kakinya ke belakang bukan ke depan kan tidak terbuka" walau pun begitu Shun Land mendekat hingga wajahnya dekat dengan bagian paha tanpa cacat.
"Biarin di lihatnya juga oleh suami sendiri yang tidak begitu suka pada istrinya" Lasmini meloncat pelan dia pun sengaja dadanya di kedepankan dan jatuh di dada Shun Land.
Shun Land menahan nafas mendapatkan dua benda kenyal menabrak dadanya dan menempel.
Mereka berdua memasuki kedai pada saat itu matahari sudah di ambang batas, senja memerah menutup pedukuhan Rawagempol.
Kedai makan ini cukup besar dan ramai mungkin karena dekat dengan kota Sundapura. Shun Land dan Lasmini memilih meja yang paling ujung dengan harapan tidak banyak yang melihat. Shun Land menghindari dari para sahabat atau pejabat kerajaan yang mungkin singgah kesana.
Pesanan Shun Land dan Lasmini datang dua pelayan wanita membawa berbagai makanan laut di tata di atas meja, sehingga meja Shun Land penuh dengan makanan.
__ADS_1
Lasmini terperangah melihat makanan sebanyak itu. "Apa semua kakang yang pesan". Lasmini bertanya sambil memandang Shun Land penasaran untuk siapa makanan sebanyak itu.
"Iya aku sengaja memesan berbagai makanan laut agar neng Lasmini mencicipi semuanya". Dalam hal ini Shun Land ingin Lasmini merasakan berbagai makanan laut.
Lasmini langsung tancap gas tangannya sibuk mengacak-acak meja mengambil yang terlihat enak Shun Land hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti makan mengisi perutnya yang sudah lama keroncongan.
Di luar kedai enam prajurit kerajaan datang mereka masuk dengan wajah kelelahan di antara mereka ada dua orang yang memakai pakaian lebih gagah yang satu berperawakan tinggi besar dan yang satu tingginya sedang tapi tubuhnya terlihat tambun. Dari pakaiannya keduanya pemimpin dan wakilnya.
Mereka masuk dengan sopan dan kebetulan meja yang kosong dekat dengan meja yang Shun Land tempati. Mimik wajah kepala pasukan dan wakilnya terlihat murung.
"Tugas kita kali ini memang ringan hanya mengantarkan surat penting dan rahasia kerajaan tapi sangat beresiko, aku mengajukan diri untuk menjadi pemegang surat rahasia ini, aku takut rahasia yang ada di dalam surat ini bocor".
"Tugas kita kali ini memang ringan hanya mengantarkan surat penting dan rahasia kerajaan tapi sangat beresiko, aku mengajukan diri untuk menjadi pemegang surat rahasia ini, aku takut rahasia yang ada di dalam surat ini bocor". Wakil pasukan bicara kepada kepala prajurit.
Shun Land yang sudah mengenal keduanya memasang telinga dengan ilmu Saipi angin bagai mana pun pelan suara itu angin seakan mengantar ke telinga Shun Land dengan jelas.
"Aku tidak menyangka keadaan akan seperti ini, untung kakang Sarpa dan laksamana Komala hayati dari tanah rencong dan di bantu oleh bekas pasukan laut Mara Deva yang sekarang di pimpin Putri Serindang bulan sangat gigih mengamankan di lautan". kepala pasukan menimpali rekannya.
"Aku sangat prihatin pada putri Serindang bulan dia sangat setia menunggu adik Shun Land yang sudah berjanji menikahinya". Boma berkata matanya berkaca-kaca dia sedih sang adik angkatnya belum ada kembali ke istana.
Kepala pasukan itu ternyata panglima Tarpa dan Boma yang sedang mengemban tugas mengantarkan surat penting ke sekutu kerajaan yang setia pada Raja Shun Land.
Shun Land hatinya di penuhi rasa berdosa mendengar nama putri Serindang bulan dari kerajaan Rejang Renah Selawi, Rasa haru memenuhi perasaannya.
__ADS_1
Shun Land masih mengingat perjalanan bersama menjelajah daratan luas Swarna bumi menyusul adiknya sampai ke pulau Samosir di Daerah Toba.(Baca Chapter 233).
"Panglima kita akan pulang ke istana dulu apa kita langsung ke gua Pawon". Boma bertanya pada panglima Sarpa.
"Kita pulang dulu melaporkan ke permaisuri, kita istirahat dulu satu atau dua hari agar para prajurit dan kuda-kuda kita segar kembali mereka juga butuh istirahat". Panglima Tarpa memutuskan.
"Saya setuju.... Saya juga ingin bertemu dengan panglima pasukan khusus senyap Ki Bajul pakel ada yang ingin saya tanyakan kepadanya bagai manapun dia adalah kakak seperguruan paduka Raja". Boma menyetujui keputusan panglima Tarpa.
Permaisuri Sari tungga dewi sengaja mengutus panglima Tarpa untuk mengawal Boma. Walaupun hanya sekedar surat permaisuri tidak berani memberikan tugas rahasia ini ke sembarang orang.
Boma tidak memperhatikan ke sekitar setelah makan langsung keluar bersama panglima Tarpa dan para prajurit. Walau pun hari sudah malam Boma dan panglima Tarpa melanjutkan perjalanan menuju istana Sundapura.
Shun Land setelah mengetahui Boma dan rombongan pergi menunggangi kuda segera berdiri dan berkata. "Akang keluar dulu sebentar untuk mencari penginapan".
Tanpa menunggu jawaban Shun Land langsung pergi dengan berjalan cepat Shun Land mengejar Boma dan rombongan setelah jalan sepi Shun Land melesat mengunakan ilmu ajian Saipi angin.
Tanpa membutuhkan waktu lama Shun Land sudah menyusul Boma, Shun Land menotok ke empat prajurit yang di belakang lalu tanpa ragu-ragu menotok Boma dan panglima Tarpa.
Ke 6 kuda terus berlari menyusuri jalan tanpa henti, setelah mengambil salah satu surat yang berada di tas Boma Shun Land segera membukanya dan membacanya dengan kekuatan api untuk penerangan.
Setalah membacanya Shun Land segera melesat menyusul kuda yang terus berlari, surat di masukan lagi ke tas Boma, dengan kecepatan yang sangat tinggi sukar di ikuti mata bisa Shun Land melepaskan totokan keenam orang tersebut.
Boma dan panglima Tarpa berhenti di ikuti 4 prajurit yang lain. Kejadian itu sangat cepat mereka saling pandang seakan bermimpi.
__ADS_1
Dengan gemetar Boma memeriksa surat penting yang berada di dalam tas tapi tidak ada yang hilang semuanya berkata sama. Mereka pun akhirnya meneruskan perjalanan.
---------&&&&---------