LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
389. Jaya S 122. Tidak ada yang sempurna di dunia ini walau pun seorang Raja.


__ADS_3

Suara gemuruh itu sampai di telinga Shun Land yang sedang duduk di teras istana bersama pangeran Sanjaya triloka Lamsijam, Dewi Sukma serta nyai Gora Sindula yang meminta pada Shun Land untuk di buatkan sebuah bangun dari kayu jati purba di puncak gunung Gora sebagai tempat peristirahatan terakhir menuju Sang Maha Pencipta, Shun Land pun menyanggupinya akan membangunkan rumah tersebut setelah pemindahan pusat kerajaan.


Shun Land mengutus Pramuja untuk menanyakan pada raja manusia purba raksasa Taksaka apa yang telah terjadi di perjamuan makan bersama. Pramuja segera berjalan menemui raja manusia purba raksasa Taksaka.


"Sang Prabu Jaya Sempurna acara makan bersama sudah siap di laksanakan sebaiknya sang prabu memberikan sapaan kepada yang hadir terutama pada raja Taksaka dan seluruh rakyatnya yang telah membangun istana Galuh Purba ini". Permaisuri Sari Tungga Dewi memberikan tahukan Shun Land.


"Sebentar permaisuri, tadi ada para prajurit dan rakyat raja Taksaka menyerukan 'kami menyaksikan' mungkin permaisuri juga mendengar, kakang telah meminta Pramuja untuk menanyakan pada raja Taksaka apa yang terjadi".


Tidak begitu lama Pramuja telah kembali dan langsung menceritakan apa yang terjadi sesuai perkataan raja Taksaka. Shun Land termenung niatnya hanya bercanda tetapi kenyataannya sungguh di luar dugaan.


Shun Land lalu bertanya pada Nyai Gora Sindula atas kebenaran tentang ucapan seorang raja. Nyai Gora Sindula dengan hati-hati menjawab dan memberikan pengertian lebih luas pada Shun Land.


"Saya ini seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, permaisuri May Lien tolong bicaralah pada kakak Mawinei tentang kesalahan kakang ini dan sampaikan permintaan maaf kakang padanya karena kecerobohan kakang bisa terjadi begini". Shun Land meminta permaisuri May Lien yang paling dekat pada Mawinei.


"Aden Jaya Sempurna tidak salah, tidak ada yang sempurna di dunia ini siapa pun bisa berbuat salah, jadikan ini sebagai pelajaran, ingat Aden Jaya Sempurna seorang raja bila bicara pada rakyat atau di tempat umum harus lebih hati-hati, nyai rasa akan mengerti mungkin kejadian ini ada kebaikannya di masa depan" Nyai Gora Sindula memberikan pendapat.


Tidak lama kemudian Boma datang bersama Betari masih jauh Boma sudah menunjuk Shun Land dengan wajah yang merah padam setelah dekat Boma bicara. "Kau keterlaluan" hanya itu yang keluar dari mulut Boma.

__ADS_1


Shun Land tidak menjawab hanya diam membisu hatinya merasa menyesal tetapi wajahnya datar saja tidak mau menyinggung perasaan Betari. Permaisuri Sari Tungga Dewi mengajak Betari masuk ke istana bersama putri Sarpa dan pangeran Jaya Singa triloka permaisuri Dewi Sumayi dan putri Dian Prameswari Dwibuana juga ikut masuk kedalam sedangkan Ratu Galuh Sindula di suruh permaisuri Sari Tungga Dewi untuk menemani Shun Land membuka acara makan bersama.


Shun Land di dampingi Ratu Galuh Sindula, pangeran Sanjaya triloka Pramuja dan Lamsijam berjalan keluar untuk menemui Raja Taksaka dan membuka makan bersama.


Setelah ada di tengah-tengah dekat dengan raja Taksaka Shun Land berdiri dan memulai bicara membuka acara makan bersama.


"Kepada Raja Taksaka dan seluruh rakyatnya juga prajurit Galuh Sindula Saya berterima kasih sekali khususnya pada Paduka Raja Taksaka dan seluruh Rakyatnya yang telah membangun istana Galuh Purba, Jasa kalian tidak terhitung dengan uang berapapun jumlahnya, Saya Raja Jaya Sempurna dan Ratu Galuh Sindula akan mengenang Jasa kalian sampai akhir hayat kami, hanya itu yang ingin saya sampaikan mari kita makan bersama sebagai rasa syukur pada Sang Maha Pencipta". Shun Land mengakhiri pidatonya Lalu duduk berhadapan dengan Raja Taksaka.


"Acara makan di mulai, silahkan jangan sungkan-sungkan" suara sangat keras dari Maruta menggema keseluruh lapangan.


Sementara itu Mawinei yang di beri nasihat oleh permaisuri May Lien dan permaisuri Sari Tungga Dewi akhirnya menerima dan sadar bahwa semua kejadian atas kehendak sang maha Pencipta, meski untuk pertama kali Mawinei memperlihatkan wajah yang sangat marah dan bercampur sedih, tetapi ketika di jelaskan madunya adalah ras murni bangsa raksasa menjadi tertawa hilang rasa marah dan sedihnya. Yang membuat Mawinei hatinya teduh adalah sikap dari kedua Permaisuri yang sangat menyayanginya bagai adiknya sendiri. Akhirnya Mawinei ingin menjumpai madunya dan Boma yang sedang makan bersama di dalam istana.


Mereka berjalan beriringan dan Pertiwi berjalan di depan begitu masuk ke dalam istana Pratiwi langsung berlari menuju Boma. Pertiwi memeluk Boma tapi matanya menatap Betari keheranan.


"Ayah siapakah Bibi cantik yang besar ini kok duduk nya dekat dengan ayah". Pratiwi bertanya pada Boma, Boma kebingungan menjawab untung saja Betari yang sudah di beritahu keadaan Boma langsung menjawab.


"Bibi adalah ibu kedua buat Pratiwi sini dekat dengan ibu". Pratiwi yang masih polos langsung berdiri dari pangkuan Boma dan melangkah memeluk Betari sambil berkata.

__ADS_1


"Asik Pratiwi mempunyai ibu yang cantik dan besar, bila ayah memarahi Pratiwi ibu cantik besar yang hukum ayah".


Mawinei melihat Pratiwi yang langsung akrab dengan Betari tersenyum, Mawinei menghampiri Boma setelah memberi hormat seorang istri terhadap suaminya, lalu memberi salam pada Betari setelah itu berkata dengan senyum hangat. "Adik besar kenalkan Saya Mawinei istri pertama kakak Boma".


Mawinei mendekat kemudian mereka berpelukan Betari berkata "terima kasih telah mau berbagi dengan saya maaf saya tidak tahu bahwa kakang Boma telah mempunyai istri ini saya hanya mengikuti perintah sang Prabu Jaya Sempurna".


"Tidak apa adik Betari mungkin ini sudah menjadi takdir kita bisa menjadi saudara kakak beradik seperti yang di contohkan adik permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri May Lien, hanya satu pintaku pada adik Betari Sayangi Pratiwi seperti anak adik Betari sendiri". Mawinei menjawab dengan lapang dada.


"Terima kasih Kakak saya akan berusaha untuk menyayanginya sepenuh hati Dede Pratiwi yang cantik ini". Betari menyanggupinya.


Boma melihat dan mendengar ini hatinya sangat lega bagaikan menemukan batu mutiara yang indah, mereka pun makan bersama penuh canda dan tawa Pratiwi gadis kecil sangat gembira bisa bermain dengan permaisuri May Lien lagi dan yang lainnya.


Acara makan bersama pun selesai Shun dan Ratu Galuh Sindula menyalami rakyat raja Taksaka yang sangat ingin melihat Raja baru yang ada dalam ramalan para leluhurnya.


Shun Land dan Ratu Galuh Sindula tidak merasa cape atau pun jengah malah yang ada perasaan haru di dalam hati keduanya, mereka tidak mengenalnya bertemu pun hanya kali ini tapi mereka sangat menghormati dan rela berkorban apa saja demi mereka berdua, Bahkan mereka rela berjalan di hutan tengah malam hanya demi ingin bertemu mereka berdua yang keturunan murni dari Sanghyang Tunggal manusia yang rela memberikan tempat bagi mereka walau pun leluhur mereka banyak berbuat Jahan pada manusia biasa.


***********

__ADS_1


__ADS_2