
Suasana istana kerajaan kembali sepi, hanya para prajurit penjaga, dan pelayanan kerajaan yang sibuk merapihkan bekas acara tersebut.
Kota pelabuhan sangat Ramai kapal besar dan kecil hilir mudik berganti.
Ada yang sedang bongkar muatan, ada juga yang memuat muatan.
Tidak jauh dari pelabuhan, ada tempat perbaikan kapa, di antaranya ada tempat pembuatan kapal milik kerajaan, yang bekerja sama dengan bangsawan Bugis dari daratan luas Sula.
Terlihat pangeran Makkamaru sedang kedatangan tamu, tamu itu tidak mau, masuk ke dalam barak peristirahatan, Tetapi memilih melihat lihat kapal yang hampir selesai.
"Pangeran Makkamaru, berapa biaya untuk pembuatan satu kapal pinisi ini"
Tamu itu bertanya, karena dalam benaknya dia ingin klannya mempunyai kapal tersebut.
"Apa pangeran Sanjaya triloka ada keinginan, membuat kapal laut" pangeran Makkamaru balik bertanya.
Tamu itu adalah pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, dari daratan luas Dwipa, di belahan daratan Selatan.
Pangeran Sanjaya triloka selain ingin memiliki kapal tersebut, juga menginginkan tehnik pembuatannya, yang nantinya dia ingin membangun kapalnya sendiri, yang lebih besar.
Di daratan luas Dwipa, ada salah satu kayu yang sangat kuat, tapi kayu itu cukup lunak dan mudah di bentuk, yaaah kayu jati Dwiva, cukup terkenal di seluruh penjuru dunia.
"Iya pangeran Makkamaru, saya juga ingin mempelajari teknik pembuatannya, sebagai gantinya saya akan memberi, tehnik ilmu bangunan dan tehnik ilmu ukur, bagai mana pangeran Makkamaru, apa tawaran saya cukup sepadan" pangeran Sanjaya triloka membuat penawaran kepada pangeran Makkamaru, yang tawaran itu sulit untuk di tolaknya.
"Pangeran Sanjaya triloka ini, sungguh pandai membuat penawaran yang sangat sulit untuk kami menolaknya"
Pangeran Makkamaru berterus terang, bahwa ia sangat tertarik dengan penawaran pangeran Sanjaya triloka.
Sedangkan putri Dian Prameswari dwibuana hanya mengikuti di belakang mereka berdua, sambil melihat-lihat megahnya kapal laut pinisi, buatan para bangsawan Bugis.
Sebenarnya pangeran Makkamaru sering mencuri-curi pandang, kepada Putri Dian Prameswari dwibuana, mungkin ada ketertarikan secara kepribadian, dan fisik.
Siapa yang tidak akan tertarik dengan wajah khas pribumi daratan Dwiva, wajah yang sendu keibuan, postur tubuh tinggi semampai, kulit kuning Langsat, mata lentik, kalau tersenyum ada kempot seperti lubang ubur-ubur, di tengah pipinya, membuat mata lelaki betah berlama-lama memandangnya.
Dan salah satu itu adalah pangeran Makkamaru.
__ADS_1
Pangeran Sanjaya triloka, pura-pura tidak tahu, pangeran Makkamaru sering memperhatikan kakaknya tertuanya itu.
"Pangeran Sanjaya dan putri Dian, apakah kalian akan melihat-lihat, bagian dalam kapal pinisi ini ?" Pangeran Makkamaru menawarkan
"Tidak perlu pangeran Makkamaru, dari luar pun sudah cukup, bila kerjasama ini berlanjut, kami juga mempunyai kayu yang sangat kuat terhadap air asin, kita bisa barter dengan barang yang lainya" pangeran Sanjaya triloka, menawarkan kayu jati Jawa, yang sangat cocok untuk pembuatan sebuah kapal laut.
Setelah puas melihat-lihat, ketiganya kembali ke barak peristirahatan para pegawai kapal, untuk menikmati secangkir teh dan buah-buahan segar.
Pembahasan kerjasama pun di bahas lebih mendalam, setelah mendapatkan kata sepakat.
Di putuskan setelah selesai pembuatan kapal untuk kerajaan Kutai khal, pangeran Makkamaru kembali ke daratan sula, dan pangeran Sanjaya triloka serta kakak tertuanya Dian Prameswari dwibuana, akan mengunjungi daratan Sula, untuk menindak lanjuti kerjasama tersebut.
(Mungkin karena kerjasama ini, kapal besar Jong Jawa bisa di buat di kemudian hari, perkiraan author saja, dengan analisis bahwa pada jaman sebelum Masehi satu-satunya, daerah yang mempunyai tehnik pembuatan kapal laut adalah daratan Sula, dan bisa berlayar sampai Australia, untuk barter rempah-rempah. Maaf berspekulasi sebentar hiiiihiiihiiii)
Akhirnya pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, pamitan untuk kembali ke ibu kota kerajaan kota Nusa kencana.
Pangeran Makkamaru pun menitip salam pada pangeran Shun Land, dan meminta maaf tidak bisa menghadiri acara pengangkatan pangeran Shun Land sebagai putra mahkota.
Di lain sisi kota pelabuhan, di sebuah rumah makan tiga orang sedang asik, menyantap makan siang dengan lahap.
Mereka menunggu tiga orang, pendekar sakti yang akan di ajak kerjasama, untuk merongrong kewibawaan, kerajaan Kutai khal yang mulai berdiri kokoh, dan mendapat sambutan dari semua bangsawan Dayak, dari daratan Kaliman kecil atau pun daratan Kalimantan besar.
Bahkan mereka menyiapkan rencana, pembunuhan terhadap sang putera mahkota kerajaan pangeran Shun Land.
Di lain sisi kota pelabuhan, di sebuah rumah makan tiga orang sedang asik, menyantap makan siang dengan lahap.
Dia adalah tuan Maasiak dengan kedua anak buahnya mantan pembunuh bayaran, Antang dan Badrowi, sedangkan anak buah yang satunya yang bernama mayit tidak ikut, mayit di tempatkan untuk menjaga toko utama di pasar besar kota Nusa kencana.
Sekarang ini preman pasar sedang ada perebutan kekuasaan, adanya mayit yang berilmu Kanuragan sedikit tinggi membuat para preman/jagoan pasar, tidak ada yang berani mengganggu toko mereka.
Mereka menunggu tiga orang, pendekar sakti yang akan di ajak kerjasama, untuk merongrong kewibawaan, kerajaan Kutai khal yang mulai berdiri kokoh, dan mendapat sambutan dari semua bangsawan Dayak, dari daratan Kalimantan kecil atau pun daratan Kalimantan besar.
Bahkan mereka menyiapkan rencana, pembunuhan terhadap sang putera mahkota kerajaan pangeran Shun Land.
Maasiak pandai menyembunyikan rencana tidak baiknya terhadap kerajaan, untuk membalas penghinaan pangeran Shun land tempo hari.
__ADS_1
Sebagai pedagang besar antar daratan besar, dia dengan mudah berkerjasama dengan pendekar pilih tanding, dari sebrang lautan.
Sekarang ini dia sedang mengangkut barang dagangan dari luar daratan luas Kalimantan.
Sebagai kamuflase, untuk menjemput 3 pendekar yang mau di ajak kerjasama, dan berani bersumpah darah, bila berhasil atau gagal, tidak melibatkan dirinya.
Sekarang ini ayahnya dapat dengan bebas, memasukkan barang Dagangan atau mengeluarkan barang dagangan, dengan bebas karena izin pangeran Shun Land.
Di dalam sebuah kamar di sebuah kapal penumpang dan pengangkut barang dagang.
Tiga orang dengan postur tubuh tinggi besar, dan sangat terlihat ganas, sedang menikmati minuman sopi Kampala di temani dua wanita cantik melayaninya.
Satu dari mereka bersuara dengan nada agak kecewa, "kita bertiga, pelayan ada dua, terus yang satu siapa yang melayani"
Satu pelayan perempuan menghampiri dan duduk di pangkuannya, dengan senyum centil gaya centil berbicara.
"Tuan ingin satu lagi pelayan, aku panggil temanku yaa" sambil berkata badannya serta kepalanya di sandarkan pada dada pendekar itu.
Pendekar itu menepuk bokong pelayanan itu dengan gemas "ini yang ku suka dari mu sangat pengertian, tau yang kami inginkan"
Wanita itu beranjak keluar kamar, tak begitu lama, masuk ke dalam dengan satu temannya lagi.
Wanita yang baru datang sedikit muda, dengan pakaian yang sangat kurang bahan, hingga bagian sensualnya terlihat dengan bebas, kulit mulus sampai ke atas, membuat yang melihat tak bisa bernapas untuk sementara.
"Bagai mana tuan, ini bintang panggung di kapal ini, untuk pelayanan jangn khawatir, tapi tuan tahu sendiri tentang imbalannya"
Pelayanan wanita itu bicara sambil mengerlingkan matanya.
"Tenang jangan khawatir tentang itu kami mengerti tentang itu" pendekar itu tertawa puas
...****************...
like end komennya serta supportnya
jangan lupa jaga kesehatan 🙏🙏🙏
__ADS_1