LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
200. Kemarahan Asvaghosa dan perguruan Pedang setan


__ADS_3

Di tengah samudera Sunda besar(laut-jawa) iringi-iringan Armada laut yang di pimpin Asvaghosa untuk menyerang kerajaan Kutai khal sedang berlayar untuk kembali ke daratan luas Swarnabumi mereka mengambil rute memutar melalui selat Malaka, karena bila melalui selat Krakatau (selat-sunda) sering menghadapi keganasan ombak laut Kidul atau samudera Hindia yang terkenal ganas.


Membawa armada 124 Kapal besar lengkap dengan tentara yang menaikinya tidak sedikit biaya yang di butuhkan nya, sedangkan penyerangannya hanya mendapatkan istana kerajaan Kutai khal yang kosong tidak berpenghuni.


Ini baru sekali dalam kehidupan Asvaghosa dia menyerang sesuatu yang kosong, dalam perjalanan Asvaghosa selalu mabuk-mabukan dan di temani oleh banyak perempuan penghibur, untuk menghilangkan rasa kesalnya.


Dalam perjalan pulang Armada laut Naga hitam sering berhadapan dengan badai besar karena pas musim angin barat.


Tetapi Asvaghosa tidak perduli akan situasi keadaan lautan dia sangat yakin anak buahnya dapat mengendalikan kapal dengan baik.


Tapi sayang tidak seperti kapal yang di tumpangi Asvaghosa tiga kapal anak buah Asvaghosa terbawa badai dan mereka bertemu dengan iringan-iringan Armada laut Inong balee pimpinan Laksamanawati Keumalahayati yang sedang berlayar menuju pelabuhan Tarumanagara.


Tiga kapal tersebut dapat dengan mudah di kalahkan oleh Armada laut Inong balee. Semua tentara di dalamnya jadi tawanan perang di bawa ke pelabuhan Tarumanagara.


Asvaghosa tidak perduli dengan kehilangan tiga kapal perangnya dia merasa tidak akan berkurang kekuatan tempurnya apa lagi yang terbawa badai bukan pasukan intinya.


----------------*****-------------


Di lereng gunung ceremai tepatnya di perguruan pedang setan yang di pimpin oleh Nyai Andita si pedang setan.


Setelah peristiwa di kota Guha Pawon di perguruan Gelap ngampar Nyai Andita si pedang setan dan Ki Kartolo si Golok iblis dari perguruan golok setan dari kaki gunung Kawi, berhasil melarikan diri dari pasukan khusus senyap mengorbankan Ki Saron.


Mereka berdua sepakat untuk mengurung diri sambil mengamati situasi yang tidak menguntungkan bagi mereka.


Saat Nyai Andita si pedang setan sedang tenang ada dua pendekar yang berani datang ke gerbang perguruan pedang setan.


Dua pendekar perempuan murid dari perguruan pedang setan memeriksa mereka berdua setelah menyakinkan keadaan mereka yang tidak bersenjata keduanya di bawa masuk ke dalam perguruan.


Mereka berdua kokoh pendirian, mereka akan mengatakan maksud mereka bila langsung bertemu dengan Nyai Andita si pedang setan.


Dengan terpaksa kedua murid perguruan Pedang setan membawa dua pendekar yang ingin menghadap guru mereka.


Setelah mereka berhadapan langsung dengan nyai Andita si pedang setan salah satu dari mereka berkata.


"Kami di utus oleh Tuan Kama Deva, bahwa Nyai Andita si pedang setan untuk Segera berpindah ke Daratan luas Swarnabumi bergabung dengan pasukan Tuan Kama Deva, dengan pertimbangan saat ini daratan luas Dwipa sudah bukan lagi di bawah kekuasaan junjungan agung Mara Deva, tetapi telah di kuasai oleh kerajan Tarumanegara, begitulah tugas yang saya terima dari tuan Kama Deva kepada Nyai Andita si pedang setan".

__ADS_1


Nyai Andita si pedang setan termenung dia sangat bingung untuk menentukan pilihan, bila dia berada di perguruan suatu waktu akan datang serangan dari koalisi perguruan golongan putih menyerangnya ini sangat berbahaya, bila dia pergi ke daratan luas Swarnabumi bergabung dengan Pasukan Kama Deva itu lebih aman akan tetapi dia sangat berat hati untuk meninggalkan tempat kelahirannya dan tempat kebesaran yang selama ini dia jaga dan dia bela dari gangguan pihak mana pun.


Akhirnya Nyai Andita si pedang setan meminta pendapat murid kepercayaannya.


"Bagai mana pendapat kalian apa kita tetap tinggal disini apa kita bergabung dengan tuan Kama Deva".


Tidak di sangka murid-muridnya menghendaki lebih baik pindah bergabung dengan Kama Deva di daratan luas Swarnabumi bumi, alasan mereka lebih baik berjuang dari pada menunggu di perguruan tanpa berbuat apa.


Tapi alasan utama para murid perguruan pedang setan adalah di sana akan banyak pendekar pria yang bisa di ajak untuk bersenang-senang.


Para murid perguruan pedang setan adalah wanita semua mereka semua ada sekitar seratus lebih.


Akhirnya guru besar perguruan Pedang setan mengambil keputusan untuk pergi bergabung dengan Pasukan Kama Deva di daratan luas Swarnabumi.


Nyai Andita si pedang setan menyuruh seluruh muridnya untuk berkemas.


Sebelum pergi Nyai Andita si pedang setan menyuruh memasukan harta benda dan barang-barang berharga ke dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi, karena tidak semua barang bisa di bawa dalam perjalanan yang sangat jauh.


Kedua utusan menjadi penunjuk jalan dia pun menginformasikan bahwa waktu menuju ke perguruan pedang setan mereka berpapasan dengan pasukan dari Bangsawan Wajak dan perguruan Osing mereka menuju ke ibukota Sundapura kerajaan Tarumanagara.


--------------*****-------------


Di perguruan Singa perbangsa guru besar Ki Aria Wirasaba sedang sibuk menerima tamu agung dari kerajaan Kutai khal yang di pimpin oleh Sang Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun, untuk melamar Putri Ki Aria Wirasaba Ayu Sondari.


Murid Ki Aria Wirasaba Darja dan Carsan sibuk mengatur para murid lainnya untuk menerima dan memberi jamuan alakadarnya kepada pihak sang ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun serta pangeran Jaka lelana.


Ketiga permaisuri yang di kepalai permaisuri Sari Tungga Dewi ikut ingin mengetahui keluarga besan mereka.


Tidak banyak pembicaraan setelah mereka membicarakan hal-hal yang penting rombongan ratu SHI khal pun berpamitan.


Dalam pertemuan lamaran tersebut di putuskan bahwa pelaksanaan pernikahan akan di adakan di ibukota Sundapura kerajaan Tarumanagara tiga hari mendatang.


Pangeran Jaka lelana atau pangeran Shan land tidak ikut kembali dia di temani sahabat sejatinya dari perguruan Pagaruyung Rakha Prawira putra guru besar perguruan Pagaruyung yang terbunuh oleh kelompok Kama Deva yang menyewa pembunuh bayaran di ketuai Pendekar Tapak Sakti tiga puluhan tahun yang silam.


Pangeran Jaka lelana dan Rhaka Prawira menuju perguruan Cimaya yang terletak di pedukuhan Cikampek untuk menemui ayah dan ibu angkatnya, Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis.

__ADS_1


Pangeran Jaka lelana ingin pernikahannya di hadiri ayah dan ibu angkatnya yang sudah dia anggap seperti Ayah dan ibunya sendiri.


Kuda di pacu dengan cepat kedua sahabat pun tidak butuh waktu seharian hanya sekita setengah hari mereka berdua telah sampai di pedukuhan Cikampek.


Mereka langsung menuju perguruan Cimaya yang terletak sedikit ke barat dan selatan dari pedukuhan Cikampek.


Kedatangan mereka di sambut gembira terutama Nyai Geuntis karena Pangeran Jaya lelana putra satu-satunya, walau pun bukan putra asli tetapi Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis menganggap pangeran Jaya lelana Sebagai putra asli.


Pangeran Jaya lelana menceritakan semuanya tentang dirinya telah melamar putri dari guru besar perguruan Singa Perbangsa Ki Aria Wirasaba Ayu Sondari, dan akan mengadakan pernikahan di Istana kerajaan di ibukota Sundapura.


Dengan senang hati Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis menyambut rencana tersebut.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke istana di ibukota Sundapura kerajaan Tarumanagara keesokan harinya karena hari itu sudah menjelang sore.


Pagi-pagi sekali Ki Rangga Wisesa dan Nyai Geuntis serta pangeran Jaka lelana juga Rakha Prawira bersiap untuk berangkat ke ibukota Sundapura.


Akan tetapi mereka di kejutkan oleh seorang perempuan yang menunggang kuda menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


Ternyata yang datang adalah Adik kandungnya Rakha Prawira Citraloka.


Rakha Prawira dan Citraloka sejak kecil di urus dan di latih oleh Ki Sadewa di perguruan Gajah Mungkur.


Citraloka mengetahui kakaknya ada di kerajaan Tarumanagara di beritahu oleh gurunya Ki Sadewa, setelah di ibukota tidak ada, Citraloka langsung menuju perguruan Singa Perbangsa di pedukuhan Caravan(Karawang).


Tetapi di sana kakaknya sudah berangkat ke perguruan Cimaya dan akhirnya bertemu di perguruan Cimaya.


Citraloka menceritakan bahwa dia sudah pergi ke ibukota Sundapura ke perguruan Singa perbangsa lalu terakhir kesini.


"mengapa kau tidak menunggu di ibukota Sundapura malah menyuruh kesini, kami pun sekarang akan berangkat ke ibukota Sundapura". Rakha Prawira bicara sedikit kesal.


"Aku takut kakang tidak kembali ke ibukota Sundapura". hanya itu yang keluar dari mulut Citraloka.


Akhirnya Rombongan pangeran Jaka lelana berangkat menuju Ibukota Sundapura di tambah Citraloka jadi berlima.


-------------------*****--------------------

__ADS_1


__ADS_2