LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
289. Jaya Sempurna 22. Keputusan Lasmini.


__ADS_3

"Tuan Jaya Sempurna maaf mengganggu ada tamu dari istana kerajaan ingin bertemu dengan tuan dan nona Lasmini". Suara nyai Iseng sambil mengetuk pintu kamar penginapan.


Shun Land membuka pintu terlihat nyai Iseng berdiri di depan pintu menatap Shun Land tidak berkedip.


"Ada nyai dan siapa nyai ini menatap saya seperti menatap hantu tidak berkedip" Shun Land bicara sambil berpura-pura keheranan.


"Kakang yang salah mempunyai wajah yang sangat tampan jadi para wanita tua muda pada tertarik sama kakang aku jadi ingin selalu dekat takut kakang di ambil orang hahahah". Lasmini berkata di akhiri dengan tertawa.


Nyai Iseng jadi tersadar mendengar suara Lasmini yang menyindirnya, padahal Nyai Iseng sangat terkejut dengan salah satu tamunya ini sangat mirip dengan menantu yang sangat baik terhadapnya.


Air mata nyai Iseng bergulir tak terasa dirinya merasa sedih sudah sekian lama menantu satu-satunya belum ada kabar berita. "Maaf tuan Jaya wajah tuan persis menantu saya yang sangat baik sudah lama tak kembali saya sangat merindukannya. Saya pemilik penginapan ini menjemput anda untuk menemui perwakilan sang ratu di lantai bawah".


Hati dan perasaan Shun Land bagai di timpa sebongkah batu sebesar gunung mendengar keluh kesah sang ibu mertua yang sudah menganggapnya anak sendiri.


"Ooh itu, baiklah kebetulan saya sendiri akan turun berjalan-jalan ingin melihat ibukota kerajaan tarumanegara dari dekat". Shun Land merendahkan nada suaranya sambil berpaling membuang perasaan hatinya yang sedih.


"Memang Topongrame ini sangat berat sekali, andai aku di beri pilihan sebenarnya aku lebih memilih seribu musuh untuk bertarung dari pada harus menghadapi keadaan seperti ini". Shun Land bergumam dalam hatinya.


Nyai Iseng berjalan di depan di ikuti Shun Land dan Lasmini yang menggelayut di tangan kiri Shun Land.


Pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana berdiri ketika nyai Iseng dan Shun Land datang mereka berdua pun sama terpana melihat Shun Land.


Walaupun berpakaian sangat berbeda dengan Shun Land yang dulu tetapi wajah dan pengawakan sama percis hanya rambut yang sedikit berbeda dulu Shun Land memiliki rambut hitam sekarang rambutnya sedikit putih kekuningan ini semenjak Shun Land menyelaraskan kekuatan api abadinya dengan tubuhnya.


Shun Land balik menatap tajam keduanya dengan aura air yang menekan pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana sangat kaget pendekar yang di duga Shun Land sangat mudah tersinggung hanya dengan di tatap dengan tajam langsung mengeluarkan aura yang menekan.


"Maaf tuan bila sikap kami berdua menyinggung tuan pendekar kalau boleh tahu siapakah nama pendekar ini". Putri Dian Prameswari dwibuana berkata demi mendinginkan suasana.


Shun menarik aura airnya dia sengaja melakukannya agar keduanya menghilangkan prasangka bahwa dirinya Shun Land. "Tidak apa Nona pejabat kenalkan Nama saja Jaya Sempurna dan ini istri saya bernama Lasmini, ada apa kalian mencari ku". Shun Land menyebutkan nama dan bertanya singkat.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Sanjaya triloka dan ini kakak saya Dian Prameswari dwibuana kami berdua mendapat perintah untuk menjemput tuan dan nyonya untuk datang ke istana menurut ratu tuan sudah mendapatkan undangan secara pribadi dari beliau". Pangeran Sanjaya triloka berkata menyampaikan maksudnya.


"Oooh itu baik lah saya akan mengikuti kalian ke istana tetapi bila undang ini jebakan untuk berbuat tidak baik terhadap ku dan istriku aku tidak akan segan-segan meratakan istana ini dengan tanah tak perduli kau harus melawan ribut prajurit itu tak berarti bagiku". Shun Land sengaja merubah tabiat dan karakternya menjadi orang yang tegas dan kejam.


"Silahkan tuan dan nyonya kami sudah menyiapkan kereta untuk anda berdua". Putri Dian Prameswari dwibuana tidak banyak memotong pembicaraannya mereka berdua takut adiknya salah bicara sepertinya pendekar yang di hadapi kali ini bertemperamen tinggi.


Shun Land berjalan di depan dengan Lasmini ke depan penginapan di sana sudah ada satu buah kereta mewah "silahkan tuan pendekar". Pangeran Sanjaya triloka berkata sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke pintu kereta kuda.


Shun Land masuk ke kereta di ikuti Lasmini dalam hati Lasmini bertanya-tanya ada kesalahan apa suaminya di panggil ke istana.


Setelah duduk di dalam kereta Lasmini berbisik ke telinga Shun Land. "Kakang katakan dengan jujur berbuat kesalahan apa sampai kakang di panggil sang Ratu ke istana".


Lasmini yang memang hanya seorang gadis pedusunan yang jauh dari kota merasa sangat ketakutan karena di pedukuhannya yang di panggil ke kerajaan biasanya adalah orang yang mempunyai kesalahan yang akan di sidang atau di interogasi.


Apa lagi ini penjemputan di iring beberapa prajurit dan dua komandan yang dari pakaiannya mereka berdua pejabat tinggi kerajaan.


Tetapi jawaban Shun Land tidak menenangkan hati Lasmini, duduk Lasmini gelisah dia pun mencoba membuka kain jendela belakang kereta. Lasmini menengok kebelakang pas bertatapan dengan pangeran Sanjaya triloka yang sepertinya sedang marah. Lasmini langsung menutup kembali jendela itu.


Hatinya semakin gelisah saja "kakang apa yang terjadi tadi aku melihat kebelakang sebentar kepala pengawal yang menjemput kita sorot matanya seperti marah sekali pada kita". Lasmini merengek meminta penjelasan.


"Neng Lasmini tenang saja andaikan pihak istana akan mencelakai kita kakang sanggup untuk mengalahkan mereka semua percayalah pada suami mu ini". Shun Land menjawab meyakinkan Lasmini.


Hati Lasmini menjadi sedikit tenang karena selama ini tidak ada kata-kata suaminya yang tidak sesuai dengan kenyataan.


Kereta kuda sudah memasuki gerbang istana kusir memarkir pas di depan pintu istana. "Silahkan tuan ratu sudah menunggu di dalam". Putri Dian Prameswari dwibuana membukakan pintu kereta.


Shun Land dan Lasmini keluar mereka melangkah masuk ke dalam istana tanpa keraguan.


Di dalam istana meja besar telah terpasang penuh dengan makanan dan minuman, berbagai buah-buahan tertata rapi di singgasana duduk permaisuri Sari tungga dewi di apit kedua permaisuri lainnya Putri serindang bulan juga hadir duduk di dekat permaisuri Dewi Sumayi.

__ADS_1


Shun Land memasuki istana semuanya berdiri menyambut dengan hormat semua mata tertuju pada Shun Land yang berjalan di gandeng Lasmini dengan erat.


Sorot mata Shun Land sanggup menatap mereka semua tetapi ketika bertatapannya bertemu dengan tatapan mata permaisuri May Lien Shun Land memalingkan wajahnya berpura-pura melirik ke Lasmini lalu berkata.


"Kita sudah sampai beri hormat pada ratu dan semua yang ada di istana ini".


"Salam hormat dan bakti buat paduka ratu dan permaisuri permaisuri, salam hormat juga kepada seluruh pejabat istana". Lasmini berkata sambil berlutut berdampingan dengan Shun Land.


"Berdirilah tuan pendekar Jaya Sempurna dan nona cantik mari kita duduk sambil mencicipi hidangan ala kadarnya dari istana sebagai penghormatan kami pada tuan pendekar Jaya Sempurna datang memenuhi undangan kami". Permaisuri Sari tungga dewi bicara menyambut Shun Land sambil berdiri lalu duduk di kursi meja makan.


Semuanya mengikuti permaisuri Sari tungga dewi pindah duduk Shun Land memegang Lengan Lasmini untuk duduk di kursi yang sudah di siapkan.


Setelah duduk Shun Land langsung meraih minum sambil berkata "Ratu boleh saya mendahului minum dan makan".


"Silahkan tuan Jaya". Permaisuri Sari tungga dewi menjawab.


"Kebetulan kita belum sarapan di penginapan neng Lasmini hayo makan jangan malu-malu ini makan istana loooh". Shun Land Shun Land bicara pada Lasmini tanpa memperhatikan yang lainnya.


Shun Land dan Lasmini makan tanpa memperdulikan yang ada di sekitar mereka berdua sibuk seakan sedang lomba makan banyak.


"Kakang masakan istana sangat enak apa boleh kita membawanya barang sedikit untuk makan di penginapan". Lasmini berkata dengan polosnya.


"Nanti kakang coba bicara pada Ratu semoga dia mengizinkan kita membawa makan, makan yang banyak jarang kesempatan ini terjadi kita bisa makan masakan istana dan makan di istana". Shun Land menjawab sedikit panjang tanpa melirik atau pun memperhatikan barang sebentar ke sekeliling.


Mereka berempat, putri Serindang bulan permaisuri Sari tungga dewi dan kedua permaisuri lainnya melihat kemesraan dan kedekatan sepasang suami istri ini di hati mereka merasa ada yang sakit padahal mereka berempat sudah yakin bahwa yang sedang makan itu bukan suami mereka.


.


------------&&&&----------

__ADS_1


__ADS_2