
Shun Land tidak menimpali ucapan leluhur Ki Birawa yang ternyata mengetahui laku Topongramenya.
"Saya akan menyampaikan apa yang leluhur sampaikan dan memberikan gulungan itu kepada raja Shun Land dengan tanpa mengurangi dan menambahi saya jamin akan sampai padanya". Shun Land berkata mengikuti alur bahasa leluhur Ki Birawa.
"Mari ikuti saya tuan Jaya ada satu ruangan lagi akan saya tunjukkan, sepertinya saya tidak salah orang yang pangeran Cakrawala maksudkan". Leluhur Ki Birawa lalu berdiri di ikuti Shun Land.
Leluhur Birawa berjalan ke salah satu sudut dan menginjak batu yang berbeda warna lalu berkata "tuan jaya tolong berdirilah di dekat dinding yang warnanya ke merahan, dan mohon sedikit alirkan sedikit kekuatan Na yang tuan milik ke dinding yang sedikit menonjol di depan tuan jaya, karena itu adalah kuncinya pintu ruangan itu".
Shun Land tidak banyak bicara mengikuti apa yang leluhur Ki Birawa perintahkan. Telapak tangannya menyentuh batu tersebut dan mengalirkan kekuatan api abadinya.
Terdengar benda berat bergeser di sebelah ruangan, batu yang di injak Ki Birawa amblas ke bawah perlahan dan begitu batu itu turun batu di depannya pun turun pula lebih bawah menjadi sebuah tangga di sambut batu yang sudah tersusun ke bawah.
Leluhur Ki Birawa melangkah ke tangga yang menurun di ikuti oleh Shun Land, Shun Land jadi ingat akan ruangan rahasia keluarga besarnya yang memiliki pintu masuk seperti ini.
Tangga batu ini begitu dalam ada 27 tujuh batu tangga dan sampailah di suatu ruangan luas di sana tidak seperti ruangan yang ada meja berukiran sang Legenda Rajawali Api tetapi ruangan ini seperti gua biasa hanya saja lantainya sudah di ratakan di sebagian ruangan ukurannya keseluruhan lebih besar.
Di sana terpampang berbagai bentuk batu meteor dari berbagai jaman juga ada berbagai logam dari logam hitam sampai logam keemasan Leluhur Ki Birawa terus berjalan dan sampailah di paling ujung ruangan di sana ada lempengan batu rata dan tempat duduk pendek di belakang tempat duduk tersusun seperti lemari penuh dengan gulungan kulit hewan purba di berbagai jaman, di paling bawah ada dua gulungan yang terlihat seperti kulit Naga.
Di depan meja batu berbagai senjata berserakan ada salah satu senjata yang menarik perhatian Shun Land, Shun Land Lalau meminta izin untuk menyentuh senjata tersebut.
__ADS_1
"Leluhur izinkan saya untuk menyentuh salah satu senjata yang berserakan ini". Leluhur Ki Birawa melirik kearah telunjuk Shun Land.
"Silahkan tuan jaya jangankan di sentuh tuan bawa pun boleh". Setelah berkata Leluhur Ki Birawa pun memilih senjata yang ada.
Sesungguhnya leluhur Ki Birawa tidak pernah masuk ke ruangan bawah ini karena kunci dari ruangan itu adalah kekuatan abadi dari tubuh istimewa papat lintang ke5 pancer. Sejak pangeran Cakrawala meninggal pintu itu tertutup dengan sendirinya dan tidak seorang pun dari ras manusia purba raksasa atau pun dari ras pangeran Cakrawala itu sendiri.
Hanya sebelum meninggal pangeran Cakrawala berpesan pada keturunannya bahwa yang bisa membuka pintu itu adalah pemilik ruangan tersebut dengan kata lain yang bisa membuka pintu itu adalah yang berhak memilih apa yang ada di dalamnya.
Pangeran Cakrawala pun memberikan keterangan bahwa yang bisa membuka keturunan murni Sanghyang tunggal karena dua gulungan kulit naga yang paling berharga itu adalah milik Sanghyang Tunggal untuk salah satu keturunannya yang di pilih oleh Sang Maha Pencipta menjadi utusannya untuk meluruskan yang bengkok dan meratakan yang menonjol.
Shun Land mengambil senjata yang berbentuk seperti Sumpit Raja neraka yang di berikan pada Wisanggeni anak angkat Boma, hanya saja Sumpit ini warnanya berbeda dari sumpit raja neraka yang berwarna ungu kemerahan dengan hiasan warna emas melingkar berbentuk ular raja kobra melingkar. (Lihat chapter 9).
Tetapi Sumpit ini berwarna hijau tua dengan hiasan ukiran naga melingkar ujung satu ekor dan ujung yang lainnya kepala. Shun Land melihat dengan teliti tanpa di ketahui oleh mata batin leluhur Ki Birawa, ada suara yang menggema di batin Shun Land.
"Salam tuan perkenalkan saya Naga Air Basuki yang kehilangan raganya karena keserakahan manusia tetapi saya tidak mendendam pada ras paling tinggi di muka bumi ini, izinkan saya mengikuti tuan seperti saudara saya Naga api Bergola, dan Naga Bumi Sabui saya sudah mereda bosan ribuan tahun di tempat ini semoga saya bisa berbuat baik bersama tuan". Roh Sumpit Naga Air Basuki berkata dengan memelas.
"Terima kasih telah mempercayai ku semoga kita menjadi menjalin persahabatan, bukan menjalin hubungan tuan dan pengikut". Jawab Shun Land singkat. Seketika itu juga Sumpit Naga Air Basuki menghilang dari telapak tangan Shun Land.
Shun Land lalu berjalan ke belakang tempat duduk bersila nya pangeran Cakrawala di sana ada dua gulungan kulit naga, Shun Land mengambil keduanya lalu duduk di tempat meditasinya Pangeran Cakrawala dan meletakan dua gulungan itu di atas meja batu di depan tempat meditasinya Pangeran Cakrawala.
__ADS_1
Sebelum Shun Land membuka salah satu gulungan itu terdengar suara leluhur Ki Birawa berkata. "Tuan Jaya saya keluar dulu dan menunggu tuan di luar ruangan".
Leluhur Ki Birawa memberikan privasi kepada Shun Land yang akan membuka warisan yang di tunjukan padanya dari Sanghyang Tunggal Leluhurnya. Shun Land lalu menjawab.
"Baik leluhur saya akan segera menyusul". Leluhur Ki Birawa pun membalikkan badan berlalu dari hadapan Shun Land sambil membawa sebuah tongkat berwarna hitam kelam.
Shun Land lalu membuka gulungan pertama dengan penuh penasaran gulungan itu di lebarkan dan di letakkan di atas meja batu di depannya.
Terlihat sebuah peta daratan luas Sula dan ada salah satu tempat yang di tandai dengan gambar bintang selain gambar peta daratan luas Sula tidak ada lagi gambar yang lain. Shun Land pun segera mengingat letak gambar bintang tersebut dalam ingatan yang paling dalam.
Setelah memastikan mengingatnya Shun Land lalu menggulung kembali kulit Naga itu dan membuka gulungan yang satunya lagi.
Gulungan yang kedua pun tidak jauh berbeda dengan gulungan yang pertama hanya yang ini adalah peta daratan luas Nusa kencana dengan gambar bintang di salah satu wilayah.
Shun Land pun mengingatnya setelah itu gulungan kulit naga itu di gulung lagi dan keduanya di letakkan di tempat semula. Di hati Shun Land timbul ada keinginan yang kuat untuk bermeditasi di tempat itu.
Shun Land memejamkan matanya lalu larut dalam meditasinya, setelah sekian lama kesadaran Shun Land ada yang menarik dengan kuat dan Shun Land terjatuh di suatu lembah yang indah dengan sungai yang mengalir air yang sangat jernih.
******************
__ADS_1