LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
273. Jaya Sempurna 6. Nazar mangku Bumi.


__ADS_3

Pintu terbuka pelan-pelan semua mata tertuju padanya Shun Land berjalan tenang dengan wajah berkarisma tersenyum lembut penuh kasih kepada semua orang.


Setelah duduk kembali di tempat nya Shun Land membuka suara. "Maafkan saya sesepuh, paman Harja, bi Marni dan semua yang hadir, saya membuat kalian menunggu baiklah saya akan menjawab sekarang Saya bersedia menjadi pengantin pria buat neng Lasmini dengan ikhlas semoga ritual pernikahan ini menghilangkan kesialan dan malapetaka pedukuhan Cikawung ini dan dengan ritual pernikahan ini kita mendapatkan keberkahan dari sang maha Pencipta".


Wajah Lasmini berubah berseri-seri andaikan tidak ada orang dan bukan di rumah orang lain dia sudah berteriak gembira. Sepuh Hardika, bi Marni dan seluruh penduduk yang menghadiri menarik nafas lega.


Sedangkan Asmini menundukkan wajahnya menyembunyikan kekecewaan hatinya, pak Harja hanya menarik nafas dalam-dalam harapannya hancur ingin mengangkat Shun Land jadi menantunya.


Bi Marni hampir bersujud di depan Shun Land "terima kasih nak mas jaya ibu merasa berhutang yang tidak mungkin ibu mampu membayarnya". Ucapan bi Marni memang betul tidak ada salahnya.


Sepuh Hardika sangat takjub dengan susunan kalimat Shun Land dalam hatinya menyangkal bahwa Shun Land seorang pendekar biasa yang berkelana, hati dan pemikiran sepuh Hardika meyakinkan bahwa Shun Land seorang Priyayi kerajaan yang sedang menjelajah daratan luas Sunda Dwiva mencari pengalaman. Ini jelas terlihat dari tidak tanduk dan tutur katanya.


"Sepuh kapan ritual pernikahan akan di laksanakan". Shun Land bertanya.


"Sekarang....!!!". Sepuh Hardika menjawab spontan. Memang dari awal sudah di rencanakan bila Shun Land menyetujui akan langsung di laksanakan ritual pernikahan.


Ini bukan karena rencana sepuh Hardika ataupun rencana bi Marni tetapi Nazar mangku bumi mempunyai aturan seperti itu.


"Maaf Nak mas Jaya memang peraturan Nazar mangku bumi harus demikian, bila penyembuh atau calon pengantin menyetujui harus segera di laksanakan". Sepuh Hardika memberi penjelasan lebih lanjut pada Shun Land.


Sejak Shun Land menyetujui menjadi pengantin pria beberapa penduduk langsung sibuk menyiapkan segala sesuatunya.


"Sepuh apa perlengkapan dan sarat-sarat untuk ritual pernikahan segera di bawa ketengah". Salah seorang penduduk bertanya berdiri di pinggir lingkaran perkumpulan di tangan mereka membawa perlengkapan ritual pernikahan.


Acara ritual pernikahan Shun Land dan Lasmini pun di laksanakan di pendopo rumah kepala pedukuhan, setelah acara selesai bi Marni meminta Shun Land untuk menginap di rumahnya.


Selain warung bi Marni mempunyai rumah yang cukup besar dan mewah peninggalan suaminya yang seorang pedagang besar.

__ADS_1


Shun Land tidak bisa menolak permintaan bi Marni karena sekarang dirinya adalah menantunya tidak bagus seorang menantu menyanggah ucapan mertuanya.


Asmini memegang tangan Shun Land erat sekali walaupun di samping Shun Land berdiri Lasmini ketika Shun Land berpamitan pergi menuju rumah mertuanya.


Sepeninggal Shun Land dan BI Marni sepuh Hardika berpamitan di ikuti penduduk lainya.


Shun Land memasuki kamarnya di ikuti Lasmini istrinya mereka berdua duduk di tepi ranjang, kamar itu walau tidak semewah peristirahatannya di istana tetapi cukup besar dan mewah ukuran yang berada di pelosok pedukuhan.


Angan Shun Land melayang teringat Putri Serindang Bulan di kerajaan Rijang Renah selawi yang sebelum terjadi prahara pembunuhan akan di nikahi nya.


Tetapi kenyataannya lain alur takdir memaksa dirinya harus menikahi wanita lain jangankan mencintainya kenal pun belum genap sehari.


Lasmini yang melihat Shun Land duduk melamun lalu bicara. "Tuan pendekar sekiranya pernikahan ini suatu keterpaksaan besok tuan bisa menceraikan saya,...


,....Jangan khawatir saya ikhlas walau hati saya terasa sakit harapan saya tuan pendekar bisa menerima saya menjadi pendamping hidup tuan pendekar, saya akan melakukan apa saja walaupun harus nyawa taruhannya demi hidup di samping tuan pendekar".


Lasmini berkata sambil tertunduk butiran air mata jatuh menetes ke pangkuannya orang yang pertama kali dia cintai tidak mengharapkan hidup bersamanya terlebih-lebih dia adalah penolong nyawanya bisa hidup lebih lama.


Shun Land menoleh ke arah Lasmini lalu bicara sambil merangkul pundak Lasmini yang terisak-isak menahan tangis.


"Jangan berkata begitu aku tidak berani mempermainkan ritual pernikahan yang sudah di atur olah sang maha Pencipta, tapi kau harus bersabar aku akan belajar menjadi suami yang baik untuk mu,....


,..... Namun kau harus tahu bahwa aku seorang pengelana, mungkin esok atau lusa aku akan pergi dari pedukuhan ini kau boleh memilih mau ikut atau kau tetap tinggal di sini aku tidak berhak memaksamu mengikuti keinginan ku semuanya terserah diri mu".


Wajah cantik berkulit putih mendongak keatas menatap wajah Shun Land dengan lekat seakan tak percaya mendengar ucapannya.


"Benarkah ucapan tuan pendekar....!!!". Lasmini bertanya pandangan matanya tidak lepas ke wajah Shun Land, Shun Land hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu berkata lembut.

__ADS_1


"Mulai sekarang kau tidak boleh menyebut suamimu dengan sebutan tuan pendekar, kau pun harus tahu nama suamimu ini, nama lengkap ku Jaya Sempurna, terserah kau memanggilku apa".


"Bolehkah saya memanggil kakang". Lasmini bertanya. Shun Land menjawab dengan anggukan.


"Kakang saya memilih untuk ikut dengan kakang apapun resikonya, saya ingin selalu berada di sisi kakang, saya izin tidur duluan kakang". Lasmini berkata sambil merebahkan badannya ke tempat tidur.


"Maafkan kakang malam ini tidak melakukan kewajiban sebagai suami, karena neng Lasmini baru sembuh setelah tubuh neng pulih baru kita melakukan hubungan suami istri". Shun Land berkata.


"Tidak apa-apa kakang Lasmini terserah kakang saja". Lasmini menimpali dengan suara pelan.


Shun Land berdiri dan membuka jendela matanya menatap langit cerah rembulan terlihat jelas sinarnya terang walaupun bukan malam purnama.


Sambil mata menerawang pemikiran Shun Land melayang hatinya berkata.


"Meneliti keterangan dari Garuda kesimpulannya Bahwa inti dari Ritual Topongrame adalah belajar sabar dan ikhlas menerima apapun takdir dari yang maha kuasa walau pun bertentangan dengan keinginan diri". Shun Land mendapatkan pemahaman yang dalam tentang keikhlasan menerima takdir kemudian memutuskan untuk bermeditasi.


Malam pun berlalu tanpa terasa Shun Land sudah seminggu singgah di pedukuhan Cikawung pagi itu Shun Land dan Lasmini sudah bersiap untuk berangkat meneruskan pengembaraan Shun Land.


Bi Marni membujuk Lasmini untuk tidak ikut dengan alasan Lasmini belum sehat walaupun alasan itu di buat-buat tujuan aslinya bi Marni tidak ingin berpisah dengan anak semata wayangnya.


Tapi Lasmini kekeh dengan keinginannya ingin mengikuti kemanapun suaminya pergi akhirnya bi Marni mengalah karena tiada hak lagi dirinya melarang-larang anaknya perempuannya yang telah bersuami.


Sekarang perjalan Shun Land dan Lasmini dengan berkuda, satu kuda hadiah dari kepala pedukuhan pak Harja karena telah menumpas biang kerok pedukuhan Kasjo dan anak buahnya, yang satu lagi hadiah dari para penduduk yang sanak saudaranya di obati, mereka patungan membelikan kuda untuk hadiah.


Shun Land ingin menolak karena dia sendiri masih mampu untuk membeli kuda, koin emas di buntelan pakaiannya cukup untuk membeli satu kandang kuda kualitas terbaik, tetapi Shun Land memilih untuk menerimanya karena menghargai mereka yang bersusah payah ingin memberi dirinya hadiah.


Kepergian Shun Land di antar hampir seluruh penduduk, mereka ingin melihat punggung Shun Land di kepergiannya entah kapan mereka bisa melihat lagi wajah penolong pedukuhannya.

__ADS_1


Kuda mereka berjalan perlahan mengingat Lasmini yang belum mahir berkuda dia hanya belajar beberapa hari.


----------&&&&---------


__ADS_2