LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
270. Jaya Sempurna 3.


__ADS_3

Yang di sebut bandot tua tertawa lalu menimpali. "Andai Marni jadi istri ku, pendekar itu akan tertarik menjadi menantu juragan domba Cikawung yang tampan".


"Idiiiih tadak mau banget aku menjadi yang ke 4, jadi yang pertama saja aku mikir seribu kali, kulit sudah kisut berkata tampan dasar bandot tua edan". Bi Marni bergidik sambil mencibir.


'Kau jangan lihat kulit Marni tapi lihat perabotan ku yang super ini, katakan pada pemuda itu juragan domba siap menjadi mertua yang baik setelah kau jadi istri ke 4 ku hahahaha......".


Yang tersisa di sana tertawa mendengar perkataan dan tingkah juragan domba.


Sedang asik mereka bercanda menggoda janda warung yang jadi incaran para buaya darat dan bandot tua. 4 orang pendekar datang terlihat dari pakaiannya dan golok panjang di pinggang mereka.


Yang di sebut bandot tua dan 3 lainnya wajahnya pucat tubuhnya gemetaran menahan rasa takut.


Merdeka berempat duduk seenaknya. Dua orang duduk menjauh lalu pergi diam-diam.


Yang di sebut bandot tua mau pergi tapi terhalang dua orang yang duduk di ujung bangku memanjang.


"Bibi cantik tolong dong segera buatkan teh manis dan jangan pura-pura lupa uang keamanan untuk Minggu ini kecuali kau mau jadi istri simpanan ku tidak usah membayar malah kau dapat jatah dari babang tampan ini". Salah satu dari mereka berkata sambil mengedipkan mata genitnya pada bi Marni.


"Maaf jawara saya belum punya uang warung saya sepi dan anak saya sedang sakit keras". Bi Marni sambil menyuguhkan minuman berkata menghiba minta di kasihani.


"### Kang Kasjo tukar saja dengan bermalam di sini satu malam kan asiiik hahahaha" salah satu anak buah Kasjo berkata sambil melirik ke bi Marni.


Shun Land berjalan di belakang pak Harja sampailah mereka berdua di sebuah rumah besar yang ada pendoponya.


Pak Harja mempersilahkan masuk pada Shun Land mereka berdua duduk di ruang tengah. Pak Harja bangkit dari duduknya sambil berkata.


"Sebentar nak Jaya saya ke belakang".


"Bu siapkan minuman dan makan suruh Asmini mengantarkan ke depan". Pak Harja berkata pada Bu Darmini istrinya.


"Baik pak, tapi siapa tamu kita....?". Bu Darmini penasaran.


"Sudah jangan banyak bicara nanti juga tahu". Pak Harja menjawab lalu kembali menemani Shun Land.

__ADS_1


Tidak lama kemudian seorang anak gadis keluar membawa nampan minum dan makanan di atasnya. Dia adalah anak pak Harja yang bernama Asmini.


Asmini mempunyai wajah cantik kulit kuning Langsat khas pekulitan Pasundan. Samini meletakan minuman dan makan Sambil tersenyum malu-malu lalu berkata dengan lembut pada Shun Land.


"Silahkan di minum dan di cicipi makanan alakadarnya dari pedusunan". Asmini walau dari kampung pedalam tetapi ibunya mendidik dengan tatakrama yang tinggi, ini suatu gambaran mereka yang dari kota dan berpendidikan tinggi belum tentu mempunyai tatakrama dan budi bahasa yang baik.


"Terima kasih nyai atas keramahan dan kebaikan keluarga ini". Shun Land menjawab singkat.


Rupanya kepala pedukuhan pak Kasjo bersikeras agar Shun Land menginap di kediamannya dengan maksud ingin mempertemukan Shun Land dengan anak gadisnya Asmini.


Belum sempat Shun Land meminum dan makan suguhan dari pak Harja dua orang tergopoh-gopoh datang lalu berkata dengan nafas tersengal.


"Celaka pak Kasjo dan temannya datang lagi sekarang dia berada di warung Marni kemungkinan mau meminta jatah sebentar pagi mungkin kemari". Dua orang ini adalah mereka yang di warung Bi Marni.


"Asmini kau segera masuk ke dalam ". Pak Kasjo memerintahkan anaknya masuk ke dalam. Wajah kepala pedukuhan menjadi pucat ketakutan walaupun di pedukuhan ada beberapa orang yang memiliki ilmu Kanuragan tapi melawan Kasjo dan rekannya hanya mengantar nyawa.


"Paman ada apa...? Dan siapa Kasjo ini...?".


Shun Land bertanya sangat penasaran.


Sekilas mata Shun Land memerah dan kembali seperti semula, Shun Land mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Orang-orang seperti ini yang harus di berantas dan di musnahkan dari muka bumi" hati Shun Land bergumam dengan geram.


Shun Land berdiri melangkah keluar lalu berkata pada kedua yang melapor. "Tenang pak biar saya menasehati mereka semoga mereka insyaf".


Shun Land berjalan cepat ke arah warung bi Marni tanpa menunggu jawaban. Pak Harja mengikuti hatinya khawatir pada Shun Land walaupun dalam ilmu pengobatan pak Harja mengetahui kehebatan Shun Land tetapi untuk mengahadapi Kasjo yang berilmu pak Harja takut Shun Land kalah.


"Bagai mana Manis tawaran anak buah saya nanti kau pun merasa asiiik". Kasjo menarik tangan Marni memaksa duduk di sampingnya Marni tidak bisa menolak hanya berusaha menyingkirkan tangan Kasjo yang bergerilya dengan halus.


Lasmi anak bi Marni mengintip dari balik pintu matanya berlinang air mata mengkhawatirkan ibunya berada di tengah-tengah buaya darat lapar.


Tanpa sepengetahuan Kasjo dan bawahannya Shun Land tahu-tahu duduk di ujung warung lalu berkata seolah-olah tidak melihat Kasjo dan bawahannya. "Bi Marni tolong teh manis satu".

__ADS_1


"Hai anak ingusan kau tidak melihat pemilik warung sedang sibuk melayani ku, apa kau tidak mengenal Kasjo si golok maut, pergi kau sebelum pemikiran ku berubah". Kasjo berkata dengan melotot.


"Nak mas Jaya pergilah cari warung yang lain". Bi Marni berkata takut penolong anaknya ikut terkena imbas kekejaman Kasjo dan bawahannya.


Padahal sebenarnya yang harus di prihatinkan nasib Kasjo dan bawahannya bila Shun Land sudah memutuskan, hidup mereka berempat di ujung tanduk.


Shun Land tersenyum lalu menimpali dan memprovokasi kemarahan Kasjo "emang siapa kau raja bukan, ketua perguruan bukan aku harus mengenal mu, maaf kau bukan level ku".


Shun Land meneruskan kata-katanya "Tenang bi Marni mengurus cecurut sawah yang bergaya harimau itu gampang asal di kasih sambel terasi juga keok".


Kasjo melepaskan pegangan pada tangan bi Marni wajahnya merah padam menahan amarah di sebut cecurut sawah oleh pemuda yang menurutnya lemah.


Di sisi lain pak Harja dan kedua anak buahnya yang melapor dan beberapa penduduk yang penasaran dengan pemuda yang menyembuhkan penyakit Lasmini yang sudah di vonis tidak bisa sembuh.


Mereka mendatangi rumah pak kepala pedukuhan maksudnya ingin ikut meminta tolong Shun Land untuk menyembuhkan penyakit sanak saudaranya yang sedang sakit.


Sampai di kediaman pak kepala pedukuhan sudah tidak ada di beri informasi Bu Darmini istri pak kepala pedukuhan Shun Land dan pak Harja kembali ke warung Bu Marni mereka pun menyusul.


"Anak muda kau mencari penyakit berurusan dengan ku, memang sudah lama aku tidak meregangkan otot-otot kau yang akan melemaskannya". Setelah mengakhiri bicara Kasjo menendang bangku panjang yang di duduki Shun Land.


Wajah bi Marni dan kepala pedukuhan serta penduduk yang melihat menjadi pucat pasi mereka menebak Shun Land akan jatuh tersungkur.


Shun Land mengetahui tindakan Kasjo lalu mengalirkan kekuatannya pada kayu bangku yang di tendang Kasjo hingga tendangan itu seperti menendang batu besar.


"Aduuh....!!! Kasjo spontan mulutnya bersuara kakinya terasa sakit bagai menendang batu raksasa.


Dari sini harusnya Kasjo sadar bahwa pemuda yang di hadapinya tidak sesederhana yang terlihat tetapi Kasjo yang di liputi rasa sombong dan amarah hingga tidak terpikirkan olehnya.


Kasjo mencabut golok dari warangkanya tanpa ragu-ragu menerjang sambil menebaskan goloknya ke arah leher Shun Land.


Bi Marni, kepala pedukuhan dan yang lainnya menahan nafas hati mereka di penuhi rasa bersalah pemuda penolong harus mati oleh Kasjo, lebih-lebih Lasmini yang telah di sembuhkan belum sempat mengucapkan terima kasih malah pemuda itu mati oleh pendekar golok maut.


Mendapatkan serangan seperti ini bagi Shun Land bagaikan serangan anak-anak main pedang-pedangan. Shun Land Melompat keluar sebelum golok sampai ke lehernya.

__ADS_1


Shun Land sengaja tidak langsung membuat atau pun menyiksa Kasjo dirinya ingin menyiksa habis-habisan mereka berempat agar kedepannya jawara seperti Kasjo tidak berbuat semena-mena.


__ADS_2