
Mereka saling berpandangan menunggu kapal tenggelam.
Tapi sayang kapal tidak mau tenggelam, yang seharusnya tenggelam malah melaju tenang.
Lain halnya dengan sang Rajawali Api yang merasa tak senang dia merasa jasanya tadi tidak berarti.
"Dasar tukang pamer pahlawan kesiangan Naga bau tanah banyak gaya" sang Rajawali Api lalu menghadap ke depan yang berangsur-angsur cerah.
Badai telah berlalu kondisi laut kembali tentang. Pangeran Shun land segera memerintahkan seluruh yang ada di kapal agar mulai membuang air yang masuk.
Nahkoda kapal lemo-lemo dan seluruh kru kapal yang belum tahu apa yang terjadi mereka segera menimba air yang memenuhi kapal, tidak terkecuali pangeran Makkamaru, putri Dian Prameswari dwibuana Serta Boma ikut membantu.
Tapi sudah sekian lama air cuma berkurang sedikit, tetapi sudah cukup membuat kapal tidak tenggelam.
Raungan naga terdengar di samping kapal
Mereka semua menoleh kearah suara. Kepala seekor naga besar menjulur. Boma yang sudah sadar dan mengetahui bahwa yang membuat kapal tidak tenggelam adalah Naga biru itu.
Boma langsung mendekat dan memeluk kepala sang Naga bumi Sabui dengan haru, "Terima kasih sahabat engkau telah menolong kami semua".
Naga bumi Sabui tertegun sebentar sedikit kagum pada Boma semua orang yang melihat dirinya pada ketakutan tapi dia sangat berani memeluknya.
Sang naga bumi Sabui menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Boma menyingkir sedikit ke samping.
Kepala naga bumi Sabui masuk kedalam kapal dia menghisap semua air yang masuk sampai kering, perlu di ingat naga bumi Sabui mempunyai kekuatan sir.
Setelah air habis naga Bumi menyemburkan air itu ke laut. Mereka semua berteriak kegirangan "hiduuup kapten Naga biru".
Sang naga biru hendak kembali ke laut, tiba-tiba Boma melompat ke punggung naga bumi Sabui sambil berkata, "Boleh ya aku berenang sebentar bersama mu sahabat".
Naga bumi Sabui hanya mengangguk, dia membalikkan badannya lalu berenang mengelilingi kapal. Kadang sedikit kedalam laut kadang setengah terbang di permukaan laut.
Sang burung Rajawali Api memalingkan wajahnya penuh kekesalan, di saat hatinya sedang dongkol pada sang naga bumi Sabui, putri Dian Prameswari dwibuana menghampiri lalu membelai-belai leher sang Rajawali Api.
__ADS_1
"Naik lah putri Dian biar sang Rajawali Api menghibur mu setelah mengahadapi badai besar ini". Pangeran Shun land menyuruh putri Dian.
Sang Rajawali Api merendahkan tubuhnya, tanpa pikir panjang lagi putri Dian Prameswari dwibuana meloncat ke punggung sang Rajawali Api.
Hanya butuh satu hentakan sang Rajawali Api terbang tinggi di atas kepala Boma.
Boma bicara tanpa beban, "hey kau ini ingin menantang terbang naga biru perkasa".
Boma berpegangan erat di leher naga bumi Sabui, lalu berkata "Naga sakti sahabat ku, kau bisa terbang". Naga bumi mengangguk.
"Putri Dian berani tidak balap terbang dengan ku". Boma berkoar.
Tentu saja sang Rajawali Api mendengar ini seolah dia di tantang Naga bumi Sabui, dia terbang tinggi dan belok mensejajarkan dengan Naga bumi Sabui.
"Kita lomba siapa yang paling cepat terbang ke pelabuhan Tarumanagara, dan paling cepat kembali kita mulai dari sekarang". Boma menepuk leher Naga bumi Sabui.
Naga bumi Sabui melesat cepat ke Utara, Sang Rajawali Api dengan sekali kepakan sayapnya melesat bagaikan kilat, dalam beberapa tarikan nafas terbang Naga bumi Sabui terlampaui.
Boma segera menepuk leher naga bumi Sabui dan berkata, "kita kembali ke kapal aku lapar, aku jamin kita menang tanpa sampai kesana, aku ingin ngerjai putri Dian Prameswari dwibuana dan sang Rajawali Api yang pemarah itu hahahaha".
Para kru kapal setelah membenahi peralatan yang berserakan, kini sedang memasak nasi dan membakar ikan.
Setelah matang pertama yang di suguhkan pangeran Shun land, kemudian lima orang datang membawa nasi dan ikan bakar yang harum.
Boma tanpa larak-lirik lagi langsung ngembat makanan yang ada di depannya pangeran Makkamaru menggelengkan kepala melihat Boma sibuk melahap makanan.
Setelah kenyang Boma bertanya pada wakil Nahkoda Tana Beru, "paman Tana pernah ke pelabuhan Tarumanagara".
"Bukan pernah nak Boma tapi sering". Jawab Tana Beru.
"Ceritakan paman pelabuhan itu dengan detil", lanjut Boma bertanya.
Wakil ketua Nahkoda Tana Beru menceritakan sedetil mungkin tentang pelabuhan Tarumanagara, pangeran Shun land dan pangeran Makkamaru ikut menyimak dengan serius untuk gambaran tindakan bila sampai di sana.
__ADS_1
Tidak lama sang Rajawali Api datang hinggap di geladak depan.
Putri Dian Prameswari dwibuana turun dari punggung sang Rajawali Api, baru saja turun langsung di sambut ucapan Boma.
"Kau kalah aku yang menang aku lebih dulu sampai di sini". Boma deklarasi bahwa dia yg menang.
"Kau curang kau tidak sampai ke sana". Putri Dian Prameswari dwibuana membantah.
"Ceritakan pelabuhan itu bila kau sampai kesana". Boma balik bertanya.
"Pelabuhan itu lebihan itu lebih besar dari pelabuhan kita, muaranya sangat lebar sekali itu yang kulihat dari atas". Jawab putri Dian Prameswari dwibuana.
Boma berjalan ke pinggir kapal memandang lautan luas sambil bicara.
"Bukti aku sampai ke sana aku akan ceritakan padamu tentang pelabuhan itu..... Boma bercerita seperti cerita wakil Nahkoda Tana Beru sambil menatap lautan lepas.
Mereka yang di sana semua masuk ke dalam kamar masing-masing meninggalkan Boma yang bercerita tentang pelabuhan bagai orang yang pernah kesana.
Di sebuah rumah makan seorang laki-laki berumur 45 tahun perawakannya tinggi besar dengan kepala sedikit pelontos di tutupi caping yang terbuat dari daun pandan.
Di luar heboh orang-orang keluar dari rumahnya menuju pelataran yang terbuka, mereka berteriak ada burung Rajawali besar terbang mengelilingi pelabuhan lalu terbang ke arah laut.
Orang tersebut adalah Ki Bajul pakel yang di utus gurunya untuk menjemput pangeran Shun land, mendengar suara ribut-ribut Ki Bajul pakel lantas keluar menatap ke udara.
Sedikit lagi lambat Ki Bajul pakel lambat keluar dia tidak akan melihat sang Rajawali Api yang terbang berbelok arah kembali ke kapal pangeran shun land.
"Benar kata guru bocah pilihan itu telah menemukan jati dirinya Legenda Rajawali Api telah keluar dari sarangnya semoga ini menjadi pertanda baik, aku harus siaga yang masuk ke pelabuhan jangan sampai tidak bisa menemukannya, dan gagal menjemput sang pendekar Legenda Rajawali Api". Ki Bajul pakel bergumam di dalam hatinya.
Ki Bajul pakel masuk lagi ke Rumah makan itu meneruskan makannya yang tertunda untuk melihat burung Rajawali besar melintas memutari pelabuhan.
Pangeran Shun land mengirimkan telepati pada Naga bumi Sabui dan sang Rajawali Api, "kalian berdua langsung ke lokasi mustika air panca warna, tunggu aku di sana tapi kalian jangan melewati perkampungan apalagi perkotaan, carilah jalan yang sekiranya tidak di lihat orang".
Pangeran Shun land tidak mengetahui bahwa tadi sang Rajawali Api terbang terlalu rendah jadi membuat geger orang seisi pelabuhan.
__ADS_1
...****************...