LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
153. Perkampungan Cikampek


__ADS_3

"Pemuda tengik menipu awaaas..... kau". Ayu Sondari memacu kudanya menyusul Shun land sambil bersungut-sungut.


setelah setengah hari berkuda sampailah di sebuah pertigaan satu ke arah timur satu lagi ke arah selatan.


Shun Land berhenti di ikuti Ayu Sondari. "kau tahu kearah mana menuju Guha Pawon"


Ayu Sondari menggelengkan kepala hari sudah mulai malam, "apa sebaiknya kita bermalam di sini dulu". Ayu Sondari memberikan ide.


Shun land berbalik arah di ikuti Ayu Sondari, setelah berjalan tidak begitu lama terlihat sebuah perkampungan kecil di selatan jalan.


Shun Land dan Ayu Sondari berhenti di sebuah warung di pinggir jalan lalu turun dari kudanya.


Seorang laki-laki menghampiri dan berkata, "tuan pendekar apa tuan akan menginap di perkampungan ini, saya bisa menunjukkan rumah yang biasa di sewakan untuk sepasang kekasih".


"Benar paman saya lagi mencari rumah yang di sewakan untuk malam ini". Shun land menjawab singkat.


"Ikuti tuan di belakang warung ini ada rumah yang sering di sewakan".


Mereka berdua mengikuti laki itu sekitar 40 langkah terlihat 4 rumah berbaris menghadap ke timur.


"Paman kampung apa ini". Shun land bertanya.


"Kampung Cikampek, kampung tempat persinggahan para pengelana yang bertujuan ke timur atau ke daerah pegunungan Galunggung". Pengantar itu menjawab.


Perkampungan Cikampek sebelah Utara perbatasan dengan jalan menuju timur dan barat, sebelah timur perbatasan dengan jalan menuju gunung Galung sedang kan keselarasan barat di tutup oleh hutan yang lebat dengan perbukitan yang cukup tinggi.


Langkah kaki mereka bertiga sampai di sebuah rumah panggung yang ke dua, mereka langsung di sambut pemilik rumah sekaligus istri dari laki-laki pengantar.


"Silahkan tuan dan nyonya biar kuda kalian si bapak yang mengurus". Si ibu menyambut Shun land dan Ayu Sondari


Di depan rumah sebelah kanan kayu melintang tempat menambatkan kuda.

__ADS_1


Lembayung senja telah mengibarkan sayapnya membagi sinar kekuningan di bumi bagian barat. Shun land dan Ayu Sondari telah membersihkan diri mereka berdua duduk di depan Rumah panggung yang terbuat dari kayu Jongjing satu kayu pegunungan yang ringan tapi kuat terhadap Rinyuh(rayap).


"Ayu apa kau tidak merasa aneh dengan perkampungan ini". Shun land bertanya sambil melirik.


"Tidak,.... cuma heran saja di sini ada empat rumah di depan ada sebuah warung makan tapi semua nya sepi, itu sebelah selatan ada lima rumah tapi sama terlihat sepi, apa orang-orang di sini pada ke gunung sedang berburu". Ayu Sondari yang memikirkan sekilas saja cuma heran banyak rumah tapi tidak ada penghuninya.


Ibu Icih dan pak Odang datang membawa nasi liwet dan daging dendeng yang di bakar di beri garam.


Piring dari anyaman bambu di atasnya daun pisang sedangkan gelas untuk minumnya terbuat dari bambu di potong.


Nasi liwet di siapkan di piring dua potong dendeng daging kerbau hutan di atasnya, satu piring kecil tempat garam yang telah di tumbuh.


Shun land dan Ayu Sondari makan dengan lahap baru kali ini mereka merasakan masakan sederhana tapi nikmat luar biasa.


Nasi liwet hangat dan dendeng daging kerbau yang di bakar dan di taburi garam dapur yang di tumbuk membuat Mereka tidak melirik yang membawakan makanan itu.


Ibu Icih dan pak Odang mereka berdua gelang kepala dengan kelakuan dua pemuda dan pemudi ini, memang sejak dari pagi perut mereka berdua belum terisi Makana hanya air yang lewat di kerongkongan mereka.


Shun land menjawab apa adanya. "Tujuan kami ingin mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan di perguruan Gelap ngampar guha pawon". Shun land meminum air lalu melakukan bicaranya.


"Paman arah mana yang benar menuju perguruan Gelap ngampar".


"Nak mas harus kearah selatan ikuti jalur ini setelah menyebrang sungai purba Citarum nak mas lurus ikuti jalur ini maka tidak sampai sehari nak mas akan sampai". Pak Odang memberi keterangan apa adanya.


Sebelum matahari tenggelam tiga orang datang yang satu berperawakan tinggi besar berkulit hitam yang satu lagi tinggi sedang dan yang ketiga badan kekar sedikit pendek.


Pak Odang langsung memberi hormat. "Selamat datang Ki Rangga Wisesa maaf saya lancang menerima tamu karena terdesak kebutuhan hidup".


Yang menjawab yang perawakan tinggi besar bernama Purawa. "Kau ini sudah di bilang jangan menerima tamu kita sedang dalam keadaan perang dengan orang-orang perguruan gelap ngampar mereka mengancam akan menyerang ke perkampungan ini".


"Ki Purwa mereka bukan bagian dari perguruan gelap ngampar, tetapi mereka berdua pendekar muda yang akan mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan di Perguruan Gelap ngampar". Pak Odang menjawab penuh keyakinan bahwa tamunya orang baik-baik.

__ADS_1


Orang tua yang bertubuh sedang memandangi Shun land dengan teliti, lalu bicara dengan kalem dan tenang menandakan dia mempunyai ilmu yang tinggi.


"Aku tidak akan banyak basa-basi ki sanak bolehkah saya bermain sedikit ilmu olah Kanuragan dengan ki sanak ada yang ingin saya pastikan".


"Tidak masalah tuan mohon maaf saya memasuki perkampungan tuan tanpa izin ketua perkampungan ini". Shun land berdiri dan berjalan ke pelataran.


Saat itu matahari hampir tenggelam hingga cahayanya sedikit gelap kekuningan bercampur cahaya senja.


"Purawa, Kurnia kalian menyingkir ke pinggir pelataran". Kepala perguruan Cimaya Ki Rangga Wisesa memerintahkan Kedua muridnya untuk menyingkir.


Shun land memasang kuda-kuda kokoh. Dia mengunakan jurus tapak harimau kumbang di gabungkan dengan jurus Saipi angin.


"Silahkan sepuh untuk memulai memberi pelajar pada yang muda jangn sungkan". Shun land bicara dengan sopan sambil menyodorkan satu tangan terbuka ke depan yang satunya di depan dada dengan mengepal.


Perguruan Cimaya adalah salah perguruan yang mempelajari bagian ilmu saipi Air. Arti Cimaya sendiri mempunyai arti Ci-Air Maya-bayangan, jadi Cimaya mempunyai arti bayangan Air.


Ki Rangga menyerang dengan cepat menggunakan jurus Bayang air tahap ke tiga sambil mengerahkan tenaga dalam lima puluh persen.


Shun land tidak bergerak setapak pun mendapat serangan cepat dari Ki Rangga Wisesa.


Satu jari lagi serangan itu menyentuh bagian tubuh penting Shun Land, Shun Land sudah berpindah tempat ke samping Ki Rangga Wisesa dengan mendorong tangan kanannya ke arah iga Ki Rangga Wisesa.


Jurus pertama tapak harimau kumbang penghancur raga berhenti di jarak satu jari lagi dari iga kiri Ki Rangga Wisesa, Shun land meloncat kembali ke belakan dekat posisi semua..


Di mata para penonton Shun land seperti tak bergerak. Tapi bagi Ki Rangga Wisesa bagai di sambar petir.


Andai Shun land tidak mengentikan serangannya minimal Ki Rangga Wisesa iga kirinya patah dan mendapati luka dalam yang serius.


Ki Rangga Wisesa meningkatkan kecepatannya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Jurus bayangan air tahap ke enam menyerang Shun land.


Tubuh Shun land bagaikan di keliling serang Ki Rangga Wisesa

__ADS_1


...****************...


__ADS_2