
Mendengar Nama tiga raja kematian Samin terkejut tetapi rasa terkejutnya kalah oleh pandangan indah dan sikap manja dari Putri malu.
Putri malu mengetahui sikap Samin yang salah tingkah malah semakin semangat mengerjainya, dengan tangan lembut Putri malu membelai ************ Samin dengan lembut sambil menurunkan kakinya senyum lembut mematikan tersungging bersamaan suara manja keluar.
"Ooh sangat menggoda sekali senjata mu ini".
Samin baru bisa bicara setelah Putri Malu sedikit menjauh.
"Nyonya dan kedua temannya silahkan ikuti saya saya antar bertemu kakak saya juragan Bangor".
Putri malu memberikan kode pada Ki Kala Durga dan Dewi angin-angin untuk mengikutinya.
Ketiganya mengikuti Samin masuk kedalam rumah melewati ruang utama menuju ruang pribadi Bandi yang berganti nama Juragan Bangor.
"Silahkan tuan dan nyonya masuk". Setelah mengetuk pintu dua kali Samin mempersilahkan ketiganya masuk ke ruang pribadi Juragan Bangor.
Begitu masuk terlihat dua orang wanita berpakaian sangat minim sedang melayani satu orang lelaki yang tak lain juragan Bangor sendiri.
Melihat ada tamu masuk juragan Bangor langsung bicara. "Silahkan tuan dan nyonya masuk, manis kalian masuk dulu yaaa aku ada tamu istimewa".
"Tidak usah pergi nona-nona bila tidak keberatan sebelum kita bicara hal yang penting bagai mana kalau kita menghibur diri bersama-sama sambil minum-minum di sini juragan Bangor".
Mendengar ucapan yang keluar dari wajah cantik bertubuh indah mata juragan Bangor terbelalak dan langsung menjawab.
"Kenapa tidak, setalah kita bersenang-senang pikiran kita akan jernih kita bisa bicara mencari kesepakatan lebih baik".
"Boleh ya kakang Kala Durga kita bersenang-senang dulu kita sudah lama tidak melakukan perta, lihat kakak Dewi angin-angin sudah mencari musuh hiiiihiiihiiii". Putri malu meminta izin pada Ki Kala Durga.
__ADS_1
Ki Kala Durga tersenyum lalu menjawab dengan tenang. "Boleh asal Juragan Bangor mengijinkan aku bersenang-senang dengan kedua peri cantik di sampingnya dan sebagai gantinya kalian berdua melayani juragan Bangor bagai mana usulku juragan".
Tanpa pikir panjang juragan Bangor alias Bandi langsung mengiyakan dan mengeluarkan beberapa minuman dari laci mejanya.
Mereka pun berpesta seakan-akan hidup mereka akan selamanya di alam semesta ini.
Waktu pun berlalu dengan cepat kala itu siang terlah berganti malam, juragan Bangor setelah mengetahui siapa tamunya kali ini dia mengantar Ki Kala Durga dan kedua pasangannya Dewi angin-angin dan Putri malu menemui Asvaghosa.
Asvaghosa menyambut mereka dengan senang hati juragan Tarman sibuk mere bertiga karena di beritahu ketiganya bukan pendekar sembarangan mereka bertiga bisa di katakan hanya junjungan Mara Deva yang bisa mengalahkan ketiganya dengan mudah.
"Silahkan tuan Kala Durga menikmati hidangan yang sudah tersedia". Asvaghosa mempersilahkan tamunya untuk makan bersama di ruang bawah tanah
Asvaghosa mengisyaratkan pada juragan Tarman untuk mengambil satu kotak berisi koin emas.
Setelah selesai makan Ki Kala Durga memulai pembicaraan.
"Tuan Asvaghosa apakah tuan mengenal Mara Deva karena saya rasa tugas ini ada hubungannya dengan nya".
"Benar tuan Kala Durga saya adalah anak dari Junjungan Mara Deva yang kedua setelah kakak saya Deva Putta, tuan mengenal Ayah saya". Asvaghosa menjawab dengan apa adanya.
"Hahahaha tidak menyangka aku bertemu anak penunggang Naga yang sangat susah di temukan, tidak saya tidak mengenal ayah mu tapi hanya mendengar dari guru-guru ku saja tentangnya, terus siapa target saya sekarang ini dan apa keuntungan saya bila bisa menyelesaikan target dengan rapi".
Ki Kala Durga membicarakan tujuan pokoknya dan bertanya berapa harga imbalan bila bisa menyelesaikan tugas dengan bahasa halus.
"Tenang tuan satu kepala saya hargai 2 juta koin emas dan ini sebagi tanda perkenalan kita tapi tenang bukan terhitung dari bayaran, hanya sebagai tanda hormat saya pada tuan sebagai salah satu pendekar pembunuh kelas satu mau turun gunung dan menemui saya".
Asvaghosa menjelaskan harga panglima Antaka dengan harga yang tidak main-main di akhiri dengan menyodorkan sekotak koin emas.
__ADS_1
Ki Kala Durga menyembunyikan ke kagetnya mendengar harga target kali ini yang di luar dugaannya sangat fantastik bisa hidup sepuluh tahun tanpa bersusah-payah, ternyata harga 500.000 koin emas hanya sebuah pancingan.
Dewi angin-angin dan Putri malu saling pandang mengetahui harga sebuah target yang di luar perhitungannya
"Tuan Asvaghosa saya tidak akan menerima uang ini jika harus bergabung dengan tuan saya tidak mau ikut campur urusan lebih jauh, urusan saya hanya melaksanakan target dari tuan setelah menerima upah saya lepas tangan".
Ki Kala Durga sangat berhati-hati tidak mau sembarangan menghadapi bawahan junjungan Mara Deva yang sudah terkenal dengan kelicikannya.
"Jangan khawatir tuan Kala Durga uang itu tidak mengikat tuan hanya sebagai biaya tuan untuk mencari target, dan dua syarat yang harus tuan penuhi dalam mengeksekusi target 1. Harus bersih jangan tinggalkan jejak bila perlu menggunakan atribut perguruan lain tidak pun tidak apa-apa ke 2. Tuan harus mengirim dan menggantung kepala target di gerbang kota Sunda Pura". Asvaghosa menjelaskan syarat untuk melaksanakan tugas itu.
"Baik tuan saya terima uang ini dan syarat tuan tetapi siapa target kami". Ki Kala Durga bertanya lebih lanjut.
"Target tuan adalah panglima kerajaan Tarumanagara Antaka pendekar Syair kematian". Asvaghosa menyebutkan target.
Ki Kala Durga tertawa terbahak-bahak mendengar targetnya panglima Antaka pendekar Syair kematian seolah Asvaghosa bercanda.
"Saya kira target orang besar ternyata hanya murid si Srengga itu mudah apa tidak sekalian sama gurunya saja tuan". Ki Kala Durga berkata dengan enteng.
Asvaghosa termenung sebentar hatinya berkata 'orang ini benar-benar hampir sejaman dengan Junjungan Mara Deva'.
"Baik tuan bila tuan bisa menyingkirkan gurunya juga saya hargai dua kali lipat harga Panglima Antaka, tetapi tepat prioritasnya panglima Antaka di dahulukan". Asvaghosa memberi jawaban.
"Dewi angin-angin, Putri malu kita pergi, tuan Asvaghosa tunggu saja berita dan siapkan uang bayarannya kami pamit". Ki Kala Durga tidak banyak bicara langsung berpamitan sambil membawa kotak koin emas.
Sepeninggalan ketiga pendekar raja kematian Asvaghosa terlihat melamun hatinya berkata. "Sayang pendekar seperti itu susah untuk bergabung sayang sekali".
"Tuan Asvaghosa kenapa tuan tidak mengajak ketiganya bergabung pada kita". Juragan Tarman bertanya.
__ADS_1
"Tidak semudah itu pendekar setingkat mereka sangat tidak senang bila hidup harus di bawah perintah orang lain". Asvaghosa menjelaskan pada juragan Tarman.
_____*****_____